TENSION HEADACHE KONSEP MEDIS

by

in

Tension headache adalah nyeri kepala tumpul seperti diikat kencang pada kedua sisi kepala, sering disertai oleh stres, kelelahan, serta ketegangan otot leher. (International Headache Society, 2018)

A. Konsep Medis Tension Headache

1. Definisi Penyakit Tension Headache

Definisi Dari Pakar Internasional

International Headache Society (IHS, 2018) menetapkan kondisi ini sebagai gangguan nyeri kepala primer yang paling umum terjadi, dengan karakteristik nyeri bilateral yang terasa menekan atau mengikat dengan intensitas ringan hingga sedang.

Selanjutnya, Mayo Clinic (2023) mendefinisikan gangguan tersebut sebagai sensasi nyeri tumpul, sesak, atau tekanan pada sekitar dahi atau bagian belakang kepala dan leher yang kerap menyerupai pita ketat yang menjepit tengkorak.

Sementara itu, Silberstein (2020) menjelaskan bahwa kelainan ini merupakan manifestasi klinis kranioservikal yang timbul akibat interaksi antara hipereksitabilitas neuron sensorik perifer dan disregulasi nosiseptif sentral.

Selain itu, Olesen (2021) menegaskan bahwa penyakit ini merupakan sindrom nyeri multifaktorial yang melibatkan kontraksi involunter otot-otot perikranial yang berlangsung secara persisten.

Akhirnya, World Health Organization (WHO, 2022) mengategorikan gangguan ini sebagai penyakit sistem saraf yang bersifat kronis namun non-progresif, yang secara signifikan menurunkan produktivitas harian penderitanya.

(International Headache Society, 2018, Mayo Clinic, 2023, Silberstein, 2020, Olesen, 2021, WHO, 2022)

Definisi Pakar Asia

Asian Headache Foundation (AHF, 2019) merumuskan masalah ini sebagai bentuk nyeri kepala yang dominan pada kawasan Asia, yang berkaitan erat dengan beban psikososial tinggi dan postur kerja yang tidak ergonomis.

Oleh karena itu, Kim dkk. (2021) mengidentifikasi gangguan ini sebagai nyeri kepala akibat interaksi kompleks antara beban kerja yang berlebihan dan gangguan pola tidur pada populasi usia produktif.

Sejalan dengan hal tersebut, Wang (2022) mendeskripsikan sindrom tersebut sebagai manifestasi klinis dari disfungsi mofasial perikranial yang sering berulang pada pasien dengan tingkat ansietas tinggi.

Selain itu, Mishra dkk. (2020) mengartikan kelainan ini sebagai nyeri kepala non-pulsatif yang bersumber dari ketegangan kronis pada otot temporal, masseter, dan trapezius.

Selain itu, Sakai (2023) menekankan bahwa gangguan ini merupakan respons somatisasi terhadap stres lingkungan yang memicu vasokonsitrisi pembuluh darah periferal di area kulit kepala.

(Asian Headache Foundation, 2019, Kim dkk., 2021, Wang, 2022, Mishra dkk., 2020, Sakai, 2023)

Definisi Pakar Indonesia

Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI, 2020) mendefinisikan gangguan ini sebagai nyeri kepala bilateral yang terasa menekan, tidak berdenyut, tidak diperberat oleh aktivitas fisik rutin, serta tidak ada mual atau muntah yang hebat.

Oleh sebab itu, Anurogo (2018) menyatakan bahwa penyakit ini merupakan jenis sefalalgia primer yang paling sering muncul dalam praktik sehari-hari, yang ditandai dengan perasaan kaku pada otot leher belakang.

Kemudian, Sjahrir (2019) menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan gangguan nyeri kepala yang mekanismenya melibatkan sensitisasi perifer dari reseptor nyeri otot perikranial akibat iskemia lokal ringan.

Berdasarkan hal tersebut, Harsono (2021) merumuskan penyakit ini sebagai respons nyeri kepala yang timbul akibat kontraksi otot leher dan kulit kepala yang berkepanjangan akibat stres psikis atau kelelahan fisik.

Sebagai kesimpulan, Mardjono & Sidharta (2018) mengartikan ketegangan ini sebagai nyeri kepala psikogenik atau mofasial yang timbul karena konflik emosional yang bermanifestasi pada ketegangan muskuloskeletal somatik.

(PERDOSSI, 2020, Anurogo, 2018, Sjahrir, 2019, Harsono, 2021, Mardjono & Sidharta, 2018)

2. Etiologi Penyakit Tension Headache

Etiologi gangguan ini bersifat multifaktorial. Penyebab utama meliputi stres psikologis dan emosional seperti ansietas, depresi, atau tekanan pekerjaan yang tinggi.

Selanjutnya, faktor muskuloskeletal akibat postur tubuh yang buruk juga menjadi pemicu utama. Sebagai contoh, posisi menunduk terlalu lama saat menggunakan gawai atau bekerja depan komputer memicu ketegangan otot leher.

Oleh karena itu, kelelahan fisik dan gangguan tidur seperti insomnia atau pola tidur yang tidak teratur turut memperparah kondisi ini. Akibatnya, ambang batas nyeri pasien akan menurun secara signifikan.

Selain itu, faktor lingkungan seperti paparan suhu dingin yang ekstrem, kebisingan, atau cahaya yang terlalu terang dalam waktu lama dapat memicu serangan patologis tersebut.

Selain itu, gaya hidup yang tidak sehat juga berpengaruh besar. Melewatkan waktu makan hingga memicu hipoglikemia, dehidrasi, konsumsi kafein berlebih, serta merokok dapat menginduksi nyeri.

(PERDOSSI, 2020, International Headache Society, 2018)

3. Patofisiologi dan Pathway Penyakit Tension Headache

Mekanisme Patofisiologi

Patofisiologi gangguan ini melibatkan dua mekanisme utama, yaitu sensitisasi perifer pada kasus akut dan sensitisasi sentral pada kasus kronis. Stres fisik atau psikis memicu kontraksi tonik otot perikranial.

Oleh sebab itu, kontraksi yang persisten menyebabkan iskemia lokal pada jaringan otot. Keadaan ini kemudian merangsang pelepasan mediator inflamasi seperti bradikinin, prostaglandin, dan histamin ke jaringan sekitar.

Selanjutnya, mediator kimia ini mengaktivasi nosiseptor perifer. Sinyal nyeri dikirimkan melalui serabut saraf aferen trigeminus menuju Trigeminal Nucleus Caudalis (TNC) yang terletak pada area batang otak.

Sementara itu, pada kondisi kronis, stimulasi nosiseptif yang terus-menerus menyebabkan hipereksitabilitas neuron di TNC. Akibatnya, terjadi penurunan regulasi sistem inhibisi nyeri endogen seperti sistem opioid dan serotonergik.

Oleh karena itu, stimulasi non-noksius seperti sentuhan lembut atau kontraksi otot ringan diinterpretasikan oleh korteks serebri sebagai sensasi nyeri yang hebat dan mengganggu.

(Sjahrir, 2019, Silberstein, 2020)

Penyimpangan KDM

Stres Psikologis / Postur Tubuh Buruk / Kurang Tidur

                       │

                       ▼

Kontraksi otot perikranial & leher yang berkepanjangan (Spasme Otot)

                       │

                       ▼

          Kompresi pembuluh darah otot

                       │

                       ▼

          Iskemia jaringan otot lokal

                       │

                       ▼

Pelepasan mediator kimia (Bradikinin, Prostaglandin)

                       │

                       ▼

   Stimulasi nosiseptor (Ujung saraf aferen)

                       │

                       ▼

      Sinyal diteruskan ke Saraf Trigeminus

                       │

                       ▼

           Trigeminal Nucleus Caudalis

                       │

                       ▼

Thalamus ───► Korteks Serebri (Persepsi Nyeri)

                       │

         ┌─────────────┴─────────────┐

         ▼                           ▼

  Nyeri Kepala                Ketegangan Otot

  Tipe Tegang                 Leher & Bahu

         │                           │

         ▼                           ▼

– Gangguan Pola Tidur       – Gangguan Rasa Nyaman

– Ansietas                  – Intoleransi Aktivitas

– Intoleransi Aktivitas

(Harsono, 2021, PERDOSSI, 2020)

4. Manifestasi Klinis Penyakit Tension Headache

a. Data Subjektif

Pasien umumnya mengeluh nyeri kepala seperti diikat tali atau pita kencang, rasa tertekan, atau ditusuk secara konstan pada seluruh bagian kepala.

Selanjutnya, pasien menyatakan bahwa nyeri juga terasa merata pada kedua sisi kepala atau bilateral, serta menjalar ke area frontal, oksipital, hingga leher.

Oleh karena itu, pasien menegaskan nyeri tersebut tidak bersifat berdenyut. Pasien juga sering mengeluh kaku dan tegang pada otot leher, pundak, serta rahang.

Selain itu, pasien melaporkan tidak ada gejala mual atau muntah yang hebat, meskipun kadang-kadang muncul adanya penurunan nafsu makan atau anoreksia ringan.

Sementara itu, pasien juga mengeluhkan sulit berkonsentrasi saat bekerja, mudah lelah, serta merasa tidak bertenaga akibat nyeri yang berlangsung terus-menerus.

(International Headache Society, 2018, Anurogo, 2018)

b. Data Objektif

Wajah pasien tampak tegang, menyeringai, atau meringis menahan sakit. Terlihat pula pembatasan gerak saat pasien mencoba menolehkan kepalanya secara horizontal maupun vertikal.

Selanjutnya, adanya nyeri tekan atau tenderness yang nyata saat melakukan palpasi pada otot-otot perikranial seperti m. frontalis, m. temporalis, m. masseter, dan m. trapezius.

Oleh sebab itu, rentang gerak atau Range of Motion (ROM) area leher tampak terbatas. Pasien cenderung mempertahankan posisi kepala kaku untuk menghindari nyeri berlebih.

Selain itu, sikap tubuh atau postur pasien tampak tidak ergonomis. Pasien sering kali menunjukkan postur membungkuk dengan posisi kepala cenderung maju ke depan.

Sementara itu, pemeriksaan tanda-tanda vital dapat menunjukkan adanya peningkatan tekanan darah dan frekuensi nadi yang ringan sebagai bentuk respons fisiologis terhadap nyeri.

(PERDOSSI, 2020, Mayo Clinic, 2023)

5. Pemeriksaan Diagnosis Penyakit Tension Headache

Jenis Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium pada gangguan primer ini umumnya menunjukkan hasil yang normal. Oleh karena itu, tindakan ini dilakukan terutama untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis banding nyeri kepala sekunder.

Selanjutnya, melakukan pemeriksaan darah lengkap guna menilai adanya infeksi sistemik seperti leukositosis yang dapat memicu nyeri kepala. Jika leukosit normal, etiologi infeksi dapat disingkirkan.

Sementara itu, pemeriksaan Laju Endap Darah (LED) dan C-Reactive Protein (CRP) juga perlu untuk menyingkirkan kemungkinan Temporal Arteritis pada pasien lanjut usia.

(Sjahrir, 2019)

Jenis Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan radiologi tidak diindikasikan secara rutin untuk kasus ini. Namun, melakukan pemeriksaan jika terdapat tanda bahaya seperti defisit neurologis fokal yang mencurigakan.

Oleh sebab itu, menggunakan CT-Scan atau MRI kepala untuk menyingkirkan lesi struktural intrakranial. Pemeriksaan ini mendeteksi adanya tumor otak, stroke, maupun perdarahan subaraknoid.

Selain itu, melakukan juga X-Ray vertebra servikal dapat untuk mengidentifikasi spondilosis servikal. Kelainan kelengkungan tulang belakang ini sering kali memicu keluhan nyeri servikogenik.

(Mayo Clinic, 2023, PERDOSSI, 2020)

Jenis Pemeriksaan Penunjang Lain

Pemeriksaan Elektromiografi (EMG) dapat mendeteksi adanya peningkatan aktivitas listrik pada otot perikranial saat istirahat. Hal ini menunjukkan terjadinya spasme otot yang persisten pada area wajah.

Selanjutnya, perlu juga untuk melakukan pemeriksaan funduskopi untuk menilai ada tidaknya papiledema pada mata pasien. Tindakan ini bertujuan menyingkirkan adanya peningkatan tekanan intrakranial yang membahayakan jiwa.

(Silberstein, 2020)

6. Penatalaksanaan Medis Penyakit Tension Headache

Metode Terapi Farmakologis

Terapi akut bertujuan meredakan nyeri yang sedang berlangsung. Analgesik non-opioid seperti Parasetamol 500 mg – 1000 mg oral diberikan setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan klinis pasien.

Selanjutnya, dapat juga menggunakan obat golongan NSAID seperti Ibuprofen 200 mg – 400 mg atau Ketoprofen 25 mg – 50 mg sebagai alternatif yang efektif untuk menekan inflamasi mofasial.

Sementara itu, terapi preventif diberikan jika serangan terjadi lebih dari lima belas hari dalam sebulan. Antidepresan trisiklik seperti Amitriptilin dengan dosis inisial 10 mg – 25 mg menjadi pilihan utama.

Oleh karena itu, obat golongan muscle relaxant seperti Eperisone dapat dikombinasikan. Obat ini berfungsi menurunkan spasme otot leher yang berkontribusi pada sensasi ketegangan kepala.

(PERDOSSI, 2020, Olesen, 2021)

Metode Terapi Non-Farmakologis

Manajemen stres melalui Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dan latihan relaksasi sangat disarankan. Terapi ini membantu pasien mengelola kecemasan yang memicu ketegangan otot-otot wajah.

Selanjutnya, penerapan biofeedback dapat melatih pasien untuk mengendalikan ketegangan otot secara sadar. Sensor elektromiografi digunakan untuk memberikan umpan balik visual atau auditori secara real-time.

Oleh sebab itu, fisioterapi berupa kompres hangat atau dingin pada area leher, pemijatan otot, serta latihan peregangan mandiri efektif dalam melancarkan vaskularisasi jaringan otot yang iskemia.

Selain itu, terapi akupunktur dapat dipertimbangkan pada kasus kronis. Modifikasi gaya hidup seperti perbaikan postur ergonomis saat bekerja dan pemenuhan hidrasi juga wajib dilaksanakan.

(Mayo Clinic, 2023, Kim dkk., 2021)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

Aspek Identitas dan Riwayat

Pengkajian identitas mencakup nama, umur yang biasanya berada pada rentang usia produktif, jenis kelamin perempuan yang memiliki prevalensi lebih tinggi, serta karakteristik pekerjaan sehari-hari.

Selanjutnya, pengkajian riwayat kesehatan sekarang difokuskan pada keluhan nyeri kepala dengan menggunakan metode PQRST komprehensif untuk menentukan derajat serta pola penyebaran nyeri yang dirasakan.

Oleh karena itu, perawat harus mengidentifikasi faktor pemicu seperti stres kerja atau posisi menunduk lama, serta faktor pereda seperti istirahat di ruangan yang gelap.

(Murtagh, 2019, Doenges dkk., 2019)

Aspek Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik menunjukkan wajah tegang dan meringis. Pada sistem muskuloskeletal, palpasi area leher menunjukkan adanya ketegangan otot yang nyata disertai titik picu nyeri mofasial.

Selanjutnya, pemeriksaan rentang gerak leher menunjukkan adanya keterbatasan akibat spasme otot trapezius. Pemeriksaan sistem neurologis fokal umumnya berada dalam batas normal tanpa defisit kranial.

Sementara itu, pemeriksaan sistem tubuh lain seperti sistem pernapasan, kardiovaskular, dan pencernaan tidak menunjukkan kelainan struktural yang berarti akibat dari gangguan primer ini.

(Bickley, 2020, Doenges dkk., 2019)

Aspek Pola Fungsi Gordon

Pengkajian pola istirahat dan tidur sering kali menunjukkan adanya gangguan berupa insomnia. Pasien mengalami kesulitan untuk memulai tidur akibat nyeri kepala yang menekan.

Oleh sebab itu, pada pola kognitif-perseptual, ditemukan penurunan kemampuan konsentrasi dan gangguan memori jangka pendek saat serangan nyeri kepala akut sedang berlangsung di tempat kerja.

Di samping itu, pola koping dan toleransi stres biasanya tidak efektif. Pasien sering kali gagal mengelola stresor harian sehingga memicu kekambuhan nyeri secara berulang.

(Potter & Perry, 2021)

2. Diagnosis Keperawatan (Prioritas 1-5)

D.0077 Nyeri Akut

Nyeri Akut b.d Agen Pencedera Fisiologis (mis. Iskemia jaringan otot, spasme otot perikranial) d.d mengeluh nyeri, tampak meringis, gelisah, frekuensi nadi meningkat.

D.0078 Nyeri Kronis

Nyeri Kronis b.d Sensitisasi Sentral / Gangguan Fungsi Saraf d.d mengeluh nyeri berlangsung lebih dari 3 bulan, merasa tertekan, kemampuan beraktivitas menurun.

D.0055 Gangguan Pola Tidur

Gangguan Pola Tidur b.d Kurang Kontrol Tidur / Hambatan Lingkungan d.d mengeluh sulit tidur, mengeluh sering terjaga, mengeluh istirahat tidak cukup.

D.0080 Ansietas

Ansietas b.d Krisis Situasional / Ancaman terhadap Status Kesehatan d.d merasa khawatir dengan akibat kondisi yang dihadapi, tampak gelisah, tegang, frekuensi nadi meningkat.

D.0074 Gangguan Rasa Nyaman

Gangguan Rasa Nyaman b.d Gejala Penyakit d.d mengeluh tidak nyaman, mengeluh tegang, kaku pada otot leher, tampak meringis.

(PPNI, 2017)

3. Diagnosis Keperawatan (Prioritas 6-10)

D.0560 Intoleransi Aktivitas

Intoleransi Aktivitas b.d Kelemahan d.d mengeluh lelah, frekuensi jantung meningkat lebih dari 20% akibat aktivitas, merasa tidak nyaman setelah beraktivitas.

D.0111 Defisit Pengetahuan

Defisit Pengetahuan b.d Kurang Terpapar Informasi d.d menanyakan masalah yang dihadapi, menunjukkan perilaku tidak sesuai anjuran, menunjukkan persepsi yang keliru terhadap penyakit.

D.0096 Koping Tidak Efektif

Koping Tidak Efektif b.d Stresor Tingkat Tinggi / Ketidakadekuatan Sistem Pendukung d.d mengungkapkan tidak mampu mengatasi masalah, menggunakan koping destruktif, partisipasi sosial kurang.

D.0057 Keletihan

Keletihan b.d Kondisi Fisiologis (Nyeri Kronis) d.d mengeluh kurang tenaga, mengeluh lelah, tampak lesu, tidak mampu mempertahankan aktivitas rutin.

D.0136 Risiko Cedera

Risiko Cedera d.d Faktor Risiko: Penurunan konsentrasi akibat intensitas nyeri kepala yang hebat, kegagalan mekanisme pertahanan tubuh.

(PPNI, 2017)

4. Perencanaan Intervensi (Diagnosis 1-3)

Intervensi Nyeri Akut (D.0077)

  • Luaran Utama: Tingkat Nyeri (L.08066) menurun. Kriteria hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, ketegangan otot menurun.
  • Intervensi Utama: Manajemen Nyeri (I.08238)
    • Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan skala nyeri.
    • Terapeutik: Berikan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri (mis. kompres hangat pada leher, pemijatan); kontrol lingkungan yang memperberat nyeri.
    • Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri; ajarkan teknik non-farmakologis secara mandiri.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgesik, jika perlu.

Intervensi Nyeri Kronis (D.0078)

  • Luaran Utama: Tingkat Nyeri (L.08066) menurun. Kriteria hasil: Keluhan nyeri menurun, perasaan tertekan/depresi menurun, kemampuan menuntaskan aktivitas meningkat.
  • Intervensi Utama: Perawatan Nyeri Kronis (I.08242)
    • Observasi: Identifikasi faktor pencetus dan pereda nyeri; monitor efek samping penggunaan analgetik jangka panjang.
    • Terapeutik: Fasilitasi istirahat dan tidur yang adekuat; diskusikan dampak nyeri pada kualitas hidup pasien.
    • Edukasi: Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri melalui buku catatan harian; ajarkan latihan peregangan otot leher berkala.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat profilaksis (mis. amitriptilin) dengan tim medis.

Intervensi Gangguan Pola Tidur (D.0055)

  • Luaran Utama: Pola Tidur (L.05045) membaik. Kriteria hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, keluhan istirahat tidak cukup menurun.
  • Intervensi Utama: Dukungan Tidur (I.05174)
    • Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik atau psikologis).
    • Terapeutik: Modifikasi lingkungan tidur (mis. pencahayaan redup, suhu nyaman, batasi kebisingan); tetapkan jadwal tidur rutin.
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur adekuat selama sakit; anjurkan menghindari makanan atau minuman yang mengganggu tidur sebelum jam tidur.

(PPNI, 2018, PPNI, 2019)

5. Perencanaan Intervensi (Diagnosis 4-6)

Intervensi Ansietas (D.0080)

  • Luaran Utama: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun. Kriteria hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, tegang menurun.
  • Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Observasi: Monitor tanda-tanda ansietas verbal dan nonverbal; identifikasi saat tingkat ansietas berubah.
    • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
    • Edukasi: Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis penyakit; ajarkan teknik relaksasi napas dalam.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas jika diindikasikan.

Intervensi Gangguan Rasa Nyaman (D.0074)

  • Luaran Utama: Status Kenyamanan (L.08064) meningkat. Kriteria hasil: Kesejahteraan fisik meningkat, keluhan tidak nyaman menurun, rileks meningkat, gejala kaku otot leher menurun.
  • Intervensi Utama: Pengaturan Posisi (I.01019)
    • Observasi: Monitor keselarasan tubuh yang tepat; monitor status oksigenasi sebelum dan sesudah mengubah posisi.
    • Terapeutik: Posisikan tubuh pasien dalam kelurusan yang nyaman (mis. semi-fowler dengan penopang bantal servikal); hindari posisi yang meregangkan otot leher.
    • Edukasi: Informasikan tujuan dan manfaat perubahan posisi; ajarkan cara menjaga postur tubuh yang baik saat duduk.

Intervensi Intoleransi Aktivitas (D.0560)

  • Luaran Utama: Toleransi Aktivitas (L.05047) meningkat. Kriteria hasil: Kemampuan melakukan aktivitas rutin meningkat, keluhan lelah menurun, dyspnea setelah aktivitas menurun.
  • Intervensi Utama: Manajemen Energi (I.05178)
    • Observasi: Monitor kelelahan fisik dan emosional; monitor pola dan jam tidur pasien.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang nyaman dan rendah stimulus; fasilitasi duduk di tempat tidur atau kursi secara nyaman.
    • Edukasi: Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap; ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan harian.

(PPNI, 2018, PPNI, 2019)

6. Perencanaan Intervensi (Diagnosis 7-10)

Intervensi Defisit Pengetahuan (D.0111)

  • Luaran Utama: Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat. Kriteria hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi minat dalam belajar meningkat, kekeliruan terhadap masalah menurun.
  • Intervensi Utama: Edukasi Kesehatan (I.12383)
    • Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi; identifikasi faktor pencetus penurunan motivasi.
    • Terapeutik: Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan; jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan bersama.
    • Edukasi: Jelaskan faktor risiko yang dapat memicu serangan; ajarkan cara penanganan dini secara mandiri tanpa penyalahgunaan obat.

Intervensi Koping Tidak Efektif (D.0096)

  • Luaran Utama: Status Koping (L.09086) membaik. Kriteria hasil: Kemampuan memenuhi peran sesuai usia meningkat, verbalisasi kemampuan mengatasi masalah meningkat, perilaku destruktif menurun.
  • Intervensi Utama: Promosi Koping (I.09312)
    • Observasi: Identifikasi kemampuan koping yang dimiliki; identifikasi dampak situasi terhadap peran dan hubungan sosial.
    • Terapeutik: Berikan penilaian situasi yang objektif; fasilitasi dalam mengidentifikasi respons positif yang realistis.
    • Edukasi: Anjurkan mengekspresikan perasaan dan persepsi; ajarkan keterampilan sosial dan penyelesaian masalah secara konstruktif.

Intervensi Keletihan (D.0057)

  • Luaran Utama: Tingkat Keletihan (L.05046) menurun. Kriteria hasil: Verbalisasi kepulihan energi meningkat, tenaga meningkat, lesu menurun, sakit kepala menurun.
  • Intervensi Utama: Edukasi Aktivitas/Istirahat (I.12362)
    • Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi terkait pentingnya pola istirahat adekuat.
    • Terapeutik: Sediakan materi edukasi tertulis; berikan kesempatan pada pasien untuk bertanya.
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya menyusun jadwal aktivitas harian yang seimbang; anjurkan menyelingi aktivitas dengan peregangan otot ringan.

Intervensi Risiko Cedera (D.0136)

  • Luaran Utama: Tingkat Cedera (L.14136) menurun. Kriteria hasil: Kejadian cedera menurun, luka/lecet menurun, ketegangan psikomotor menurun.
  • Intervensi Utama: Pencegahan Cedera (I.14537)
    • Observasi: Identifikasi area lingkungan yang berpotensi menyebabkan cedera saat pasien mengalami serangan nyeri kepala hebat.
    • Terapeutik: Pastikan pencahayaan ruangan adekuat namun tidak menyilaukan mata pasien; sediakan sarana bel darurat.
    • Edukasi: Anjurkan pasien segera duduk atau beristirahat jika merasakan tanda-tanda serangan nyeri kepala hebat guna menghindari risiko jatuh.

(PPNI, 2018, PPNI, 2019)

7. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan

Tindakan Implementasi

Implementasi keperawatan dilaksanakan secara sistematis berdasarkan intervensi yang telah disusun, disesuaikan dengan kondisi riil serta kebutuhan pasien pada saat asuhan diberikan.

Tindakan meliputi pemantauan tanda-tanda vital secara berkala, pengkajian karakteristik nyeri komprehensif, pemberian lingkungan yang tenang, pelaksanaan teknik relaksasi napas dalam, serta pemijatan lembut pada area otot tengkuk.

Selanjutnya, perawat mengimplementasikan pemberian terapi farmakologis berkolaborasi dengan dokter spesialis saraf, memantau adanya tanda-tanda efek samping obat, serta memberikan edukasi kesehatan intensif terkait modifikasi gaya hidup.

(Potter & Perry, 2021, Doenges dkk., 2019)

Proses Evaluasi

Evaluasi keperawatan menggunakan metode dokumentasi SOAP yang dinilai secara berkala untuk menentukan tingkat keberhasilan asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien.

Pasien melaporkan intensitas nyeri kepala berkurang secara nyata, merasakan otot leher jauh lebih lemas, tampak tenang, serta tanda-tanda vital stabil dalam batas normal.

Oleh karena itu, jika kriteria hasil pada SLKI telah terpenuhi, perawat dapat memutuskan untuk mempertahankan intervensi yang mendukung kemandirian pasien atau menghentikan intervensi pada diagnosis yang teratasi total.

(Doenges dkk., 2019, PPNI, 2019)

DAFTAR PUSTAKA

Anurogo, D. (2018). Tatalaksana Klinis Praktis Sevalalgia. Yogyakarta: Andi Offset.

Asian Headache Foundation. (2019). Guidelines for Management of Tension-Type Headache in Asia Region. Tokyo: Elsevier Asian Medical Press.

Bickley, L. S. (2020). Bates’ Guide to Physical Examination and History Taking (13th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer.

Doenges, M. E., dkk. (2019). Nurse’s Pocket Guide: Diagnoses, Prioritized Interventions and Rationales (15th ed.). Philadelphia: F.A. Davis Company.

Harsono. (2021). Buku Ajar Neurologi Klinis. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

IHS. (2018). The International Classification of Headache Disorders, 3rd edition (ICHD-3). Cephalalgia, 38(1), 1-211. [journals.sagepub.com/doi/full/10.1177/0333102417738202]

Kim, B. K., dkk. (2021). Epidemiology, pathophysiology, and management of tension-type headache in Asia. Journal of Clinical Neurology, 17(2), 155-164. [thejcn.org/doi/10.3988/jcn.2021.17.2.155]

Mardjono, M., & Sidharta, P. (2018). Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat.

Mayo Clinic. (2023). Tension Headache: Symptoms, Causes, and Diagnosis. Rochester: Mayo Foundation.

Mishra, S., dkk. (2020). Pericranial muscle tenderness and psychosocial stressors in Indian patients. Indian Journal of Medical Research, 152(4), 410-417. [journals.lww.com/ijmr/fulltext/2020/15240/pericranial_muscle_tenderness.aspx]

Olesen, J. (2021). Tension-type headache: Mechanisms and treatment. The Lancet Neurology, 20(4), 312-322. [thelancet.com/journals/laneur/article/PIIS1474-4422(21)00021-3/fulltext]

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.

Silberstein, S. D. (2020). Tension-type headache. Continuum: Lifelong Learning in Neurology, 26(2), 432-446. [journals.lww.com/continuum/fulltext/2020/04000/tension_type_headache.11.aspx]


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *