Sleep apnea merupakan gangguan tidur serius ketika pernapasan seseorang terhenti berulang kali secara periodik saat tidur, sehingga organ tubuh kekurangan oksigen.
- A. KONSEP MEDIS SLEEP APNEA
- B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
- DAFTAR PUSTAKA
A. KONSEP MEDIS SLEEP APNEA
1. Definisi Penyakit Sleep Apnea
Definisi Dari Pakar Internasional
Selanjutnya, American Academy of Sleep Medicine (AASM, 2023) menjelaskan sleep apnea sebagai gangguan tidur dengan interupsi pernapasan berulang akibat kolapsnya saluran napas secara total atau sebagian selama tidur.
Di sisi lain, Mayo Clinic (2024) mendefinisikan kondisi ini sebagai gangguan tidur berpotensi serius yang menyebabkan pernapasan berhenti dan mulai kembali secara berulang-ulang saat seseorang tertidur.
Kemudian, National Institutes of Health (NIH, 2024) menggambarkan gangguan ini sebagai masalah medis umum yang mengganggu pola napas normal, penderita mengalami satu atau lebih jeda napas atau napas dangkal saat tidur.
Sementara itu, World Health Organization (WHO, 2022) mengategorikan sleep apnea sebagai penyakit kronis pada sistem pernapasan yang menyebabkan henti napas sementara pada malam hari, sehingga menurunkan kualitas hidup penderita secara signifikan.
Lebih lanjut, Kryger & Roth (2022) menegaskan bahwa sindrom ini melibatkan obstruksi jalan napas atas yang bermanifestasi sebagai penurunan saturasi oksigen arteri dan terjaganya penderita secara berulang.
(AASM 2023, Mayo Clinic 2024, NIH 2024, WHO 2022, Kryger & Roth 2022)
Definisi Pakar Asia
Mengenai perspektif regional, Asian Society of Sleep Medicine (ASSM, 2022) merumuskan sleep apnea sebagai kelainan ventilasi tidur yang prevalensinya meningkat tajam Asia akibat faktor kraniofasial spesifik dan obesitas.
Selaras dengan hal tersebut, Japanese Sleep Research Society (JSRS, 2023) menyatakan gangguan ini sebagai restriksi aliran udara episodik selama tidur yang memicu hipoksia intermiten dan mengaktivasi sistem saraf simpatis secara berlebihan.
Sejalan dengan itu, Indian Sleep Disorders Association (ISDA, 2024) mengartikan kondisi ini sebagai penyumbatan jalan napas atas yang berulang kali menghalangi masuknya oksigen ke paru-paru penderita sepanjang malam.
Hubungan ini diperjelas oleh Singapore Sleep Society (SSS, 2023) yang menjelaskan sleep apnea sebagai kolaps struktural jaringan lunak tenggorokan saat tidur yang memicu dengkur keras dan kantuk berlebih pada siang hari.
Sedangkan Malaysian Society of Sleep Medicine (MSSM, 2024) mendefinisikan kelainan ini sebagai manifestasi klinis dari kegagalan otot dilator jalan napas atas untuk mempertahankan patensi saluran napas selama fase tidur tertentu.
(ASSM 2022, JSRS 2023, ISDA 2024, SSS 2023, MSSM 2024)
Definisi Pakar Indonesia
Ditinjau dari konteks nasional, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI, 2021). Menetapkan sleep apnea sebagai henti napas saat tidur yang berlangsung selama 10 detik atau lebih, dengan frekuensi kejadian melebihi 5 kali per jam.
Oleh karena itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI, 2022) mengartikan penyakit ini sebagai sindrom klinis yang timbul akibat sumbatan jalan napas atas saat tidur, sehingga menimbulkan gangguan pertukaran gas dan fragmentasi tidur.
Fakta ini diperkuat oleh Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes, 2024) yang menjelaskan kondisi ini sebagai gangguan tidur yang membuat penderitanya berhenti bernapas sejenak beberapa kali, yang dapat memicu komplikasi kardiovaskular jika tidak tertangani.
Secara spesifik, Sutanto (2023) menyimpulkan sleep apnea sebagai kegagalan mekanis sistem pernapasan saat tidur yang ditandai dengan penurunan aliran udara hingga hilangnya aliran udara total.
Akhirnya, Budiono (2022) mengidentifikasi gangguan ini sebagai disfungsi neurologis dan struktural terintegrasi yang mengganggu ritme sirkadian akibat hipoksia jaringan serebral berulang.
(PDPI 2021, IDI 2022, Kemenkes 2024, Sutanto 2023, Budiono 2022)
2. Etiologi Penyakit Sleep Apnea
Faktor Risiko Struktural dan Anatomi
Berdasarkan penyebabnya, kondisi ini muncul oleh penyempitan saluran napas atas akibat hipertrofi tonsil, makroglosia (lidah besar), palatum mole yang panjang, atau bentuk rahang bawah yang kecil (mikrognatia).
Faktor Obesitas dan Lingkungan
Selain itu, penumpukan lemak pada sekitar leher (lingkar leher > 40 cm) meningkatkan tekanan mekanis pada dinding saluran napas atas sehingga memicu kolaps.
Disfungsi Neurologis dan Gaya Hidup
Sebaliknya, terdapat pula kegagalan batang otak dalam mengirimkan sinyal ke otot pernapasan, serta pengaruh konsumsi alkohol, obat penenang, dan merokok yang merelaksasikan otot tenggorokan secara berlebihan.
(Kryger & Roth 2022, PDPI 2021)
3. Patofisiologi Penyakit Sleep Apnea
Mekanisme Kolaps Saluran Napas
Secara patofisiologis, transisi dari fase terjaga ke fase tidur menyebabkan penurunan alami pada tonus otot-otot dilator faring. Akibatnya, pada individu dengan faktor risiko struktural, penurunan tonus ini mengakibatkan dinding saluran napas atas kolaps sepenuhnya atau sebagian saat inspirasi. Oleh karena itu, terjadi obstruksi mekanis yang menghentikan aliran udara ke paru-paru meskipun otot dada tetap berusaha bernapas.
Dampak Hipoksia Berkala
Dampaknya, henti napas ini memicu hipoksia (penurunan $O_2$ darah) dan hiperkapnia (peningkatan $CO_2$ darah). Perubahan kimia darah ini merangsang kemoreseptor yang kemudian mengaktifkan sistem saraf simpatis secara masif. Akibatnya, tubuh mengalami kondisi stres yang memaksa otak untuk terbangun sejenak guna mengembalikan tonus otot jalan napas. Proses kolaps ini terjadi berulang kali hingga ratusan kali dalam satu malam, sehingga menyebabkan fragmentasi tidur yang parah.
Penyimpangan KDM (Pathway)
Plaintext
Faktor Risiko (Obesitas, Hipertrofi Tonsil, Kerusakan Batang Otak)
│
▼
Penurunan Tonus Otot Faring Saat Tidur
│
▼
Kolaps Jalan Napas Atas (Obstruksi)
│
┌───────────────────┴───────────────────┐
▼ ▼
Aliran Udara Terhenti (Apnea) Kerja Napas Meningkat
│ │
▼ ▼
Hipoksia & Hiperkapnia Usaha Napas Kuat / Tersedak
│ │
├───────────────────────────────────────┤
▼ ▼
Aktivasi Saraf Simpatis Micro-Arousal (Terbangun Berulang)
│ │
▼ ▼
Vasokonstriksi & Hipertensi Fragmentasi & Kualitas Tidur Buruk
│ │
▼ ▼
[Risiko Penurunan Curah Jantung] [Gangguan Pola Tidur] / [Keletihan]
(AASM 2023, Sutanto 2023)
4. Manifestasi Klinis Penyakit Sleep Apnea
a. Data Subjektif
Mengenai aspek klinis, pasien umumnya mengeluhkan rasa kantuk yang luar biasa di siang hari. Selain itu, pasien merasa lelah, lesu, dan tidak segar saat bangun tidur. Lebih lanjut, pasien mengeluhkan sering terbangun pada malam hari dengan sensasi tercekik atau tersedak. Terakhir, pasien sering melaporkan sakit kepala pada pagi hari serta penurunan konsentrasi yang signifikan.
b. Data Objektif
Sebaliknya, pemeriksaan klinis menunjukkan tanda mengorok dengan suara yang sangat keras dan intermiten. Tambahan pula, Indeks Massa Tubuh (IMT) menunjukkan obesitas (> 30 kg/m²) dengan lingkar leher yang besar. Secara anatomis, pemeriksaan visual mengonfirmasi adanya pembesaran tonsil atau skor Mallampati kelas III atau IV, dengan peningkatan tekanan darah sistemik.
(Mayo Clinic 2024, IDI 2022)
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Berkaitan dengan data penunjang, pemeriksaan analisa gas darah menunjukkan adanya hipoksia dan hiperkapnia kronis. Konsekuensinya, pemeriksaan darah lengkap sering kali menemukan adanya polisitemia sekunder sebagai kompensasi tubuh. Selain itu, melakukan pemeriksaan profil lipid untuk menilai sindrom metabolik komorbid.
b. Pemeriksaan Radiologi
Melalui pendekatan radiologis, menggunakan sefalometri radiografis untuk mengukur dimensi jalan napas atas dan posisi tulang hioid. Sementara itu, pemeriksaan CT-Scan atau MRI leher memberikan visualisasi 3D potongan melintang untuk memetakan lokasi spesifik penyempitan jaringan lunak pada area faring.
c. Pemeriksaan Lain
Sebagai pemeriksaan baku emas, polisomnografi (PSG) mengukur Apnea-Hypopnea Index (AHI) dengan rumus:
AHI = (Jumlah Apnea + Jumlah Hipopnea) / Total Waktu Tidur (Jam)
Melalui rumus ini, derajat keparahan diklasifikasikan menjadi normal (< 5), ringan (5-15), sedang (15-30), dan berat (> 30). Selanjutnya, menggunakan oksimetri nadi nokturnal untuk merekam desaturasi berkala.
(AASM 2023, PDPI 2021)
6. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi Farmakologis
Meskipun tidak ada obat spesifik untuk menyembuhkan kolaps mekanis, pemberian stimulan sistem saraf pusat seperti modafinil digunakan untuk mengatasi kantuk ekstrem pada siang hari. Tambahannya, kortikosteroid intranasal diberikan untuk mengurangi inflamasi dan kongesti hidung. Sebaliknya, obat depresan sistem saraf pusat harus dihentikan total karena memperparah kolaps faring.
b. Terapi Non-Farmakologis
Untuk mengatasi sumbatan secara mekanis, penggunaan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) bertindak sebagai penyangga pneumatik jalan napas. Selain itu, menggunakan Oral Appliance untuk mendorong rahang bawah ke depan. Langkah ini didukung oleh terapi posisi tidur miring, manajemen penurunan berat badan, serta tindakan bedah rekonstruksi uvulopalatopharyngoplasty.
(NIH 2024, Kemenkes 2024)
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien
Mengenai sediaan data, pengkajian mencakup nama, umur (umumnya > 40 tahun), jenis kelamin (mayoritas laki-laki), serta pekerjaan yang membutuhkan kewaspadaan tinggi seperti pengemudi.
b. Riwayat Kesehatan
Dalam hal ini, keluhan utama berfokus pada hipersomnolensi dan dengkur keras. Riwayat penyakit sekarang mengeksplorasi durasi fragmentasi tidur, sedangkan riwayat penyakit dahulu mencari komorbiditas seperti hipertensi dan stroke.
c. Pemeriksaan Fisik
- Sistem Pernapasan:
- Inspeksi: Terlihat usaha napas tambahan, penggunaan otot interkostal saat tidur, frekuensi napas tidak teratur, visualisasi area orofaring menunjukkan skor Mallampati III atau IV, tonsil membesar.
- Palpasi: Taktil fremitus normal, tidak ada deviasi trakea.
- Perkusi: Sonor di seluruh lapang paru.
- Auskultasi: Terdapat suara napas tambahan berupa dengkur yang keras dan intermiten saat tidur, stridor inspiratoris ringan saat fase kolaps, suara napas vesikuler normal saat terjaga.
- Sistem Kardiovaskular:
- Inspeksi: Iktus kordis tidak terlihat.
- Palpasi: Iktus kordis teraba di ICS V midklavikula kiri, nadi perifer kuat dan sering takikardia reaktif setelah fase apnea.
- Perkusi: Batas jantung normal (tidak ada kardiomegali, kecuali jika sudah komplikasi).
- Auskultasi: Bunyi jantung S1 dan S2 tunggal, tekanan darah sering meningkat signifikan (hipertensi).
- Sistem Persarafan, Pencernaan, dan Integumen:
Pemeriksan sistem persarafan menunjukkan penurunan konsentrasi dan kelelahan kronis. Pada sistem pencernaan, ditemukan obesitas sentral dengan abdomen membuncit. Pada pemeriksaan integumen, tampak sianosis sirkumoral dan diaforesis nokturnal selama fase apnea memanjang.
d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
Berdasarkan pola Gordon, terjadi disfungsi pada pola istirahat akibat fragmentasi tidur. Selain itu, pola eliminasi terganggu ditandai dengan nokturia, serta pola nutrisi menunjukkan asupan kalori berlebih yang berkontribusi pada obesitas.
(Budiono 2022, Sutanto 2023)
2. Diagnosis Keperawatan Berdasarkan Prioritas
Prioritas 1 Sampai 5
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d Hambatan Lingkungan (Obstruksi Jalan Napas Atas, Dengkur).
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) b.d Disfungsi Neuromuskular / Kolaps Jaringan Faring.
- Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) b.d Ketidakseimbangan Ventilasi-Perfusi (Apnea Nokturnal).
- Keletihan (D.0057) b.d Gangguan Tidur Sekunder Akibat Fragmentasi Tidur.
- Risiko Penurunan Curah Jantung (D.0011) d.d Perubahan Afterload / Hipertensi Pulmonal Akibat Hipoksia.
Prioritas 6 Sampai 10
- Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d Kurang Terpapar Informasi Mengenai Penggunaan Terapi CPAP.
- Ansietas (D.0080) b.d Ancaman Terhadap Konsep Diri / Ketakutan Tercekik Saat Tidur.
- Obesitas (D.0030) b.d Disfungsi Pola Makan / Kurang Aktivitas Fisik.
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d Ketidakseimbangan Antara Suplai Dan Kebutuhan Oksigen.
- Risiko Cedera (D.0136) d.d Hipoksia Jaringan Serebral / Mengantuk Saat Mengemudi Siang Hari.
(PPNI 2017)
3. Perencanaan Keperawatan (Intervensi)
Rencana Intervensi Diagnosis 1 dan 2
- Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran Utama: Pola Tidur Membaik (L.05045)
- Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, keluhan tidak segar setelah tidur menurun, keluhan kantuk siang hari menurun.
- Intervensi Utama: Dukungan Tidur (I.05174)
- Tindakan: Observasi pola aktivitas dan tidur; Identifikasi faktor pengganggu tidur; Modifikasi lingkungan (atur pencahayaan, batasi kebisingan); Fasilitasi mempertahankan posisi tidur miring; Jelaskan pentingnya tidur cukup; Ajarkan sleep hygiene; Kolaborasi penentuan dosis tekanan alat CPAP.
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
- Luaran Utama: Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001)
- Kriteria Hasil: Mengorok/snoring menurun, frekuensi napas membaik, pola napas membaik, gelisah menurun.
- Intervensi Utama: Manajemen Jalan Napas (I.01011)
- Tindakan: Monitor pola napas; Monitor bunyi napas tambahan; Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift; Posisikan semi-Fowler atau Fowler; Ajarkan teknik batuk efektif; Kolaborasi pemasangan oral airway atau penggunaan mandibular advancement device.
Rencana Intervensi Diagnosis 3 dan 4
- Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)
- Luaran Utama: Pertukaran Gas Meningkat (L.01003)
- Kriteria Hasil: Dispnea menurun, PCO2 membaik, PO2 membaik, sianosis membaik, gelisah menurun.
- Intervensi Utama: Pemantauan Respirasi (I.01014)
- Tindakan: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; Monitor adanya jeda apnea nokturnal; Monitor nilai AGD dan saturasi oksigen via oksimetri nadi berkala; Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi klinis; Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan.
- Keletihan (D.0057)
- Luaran Utama: Tingkat Keletihan Menurun (L.05046)
- Kriteria Hasil: Verbalisasi kepulihan energi meningkat, tenaga meningkat, keluhan lelah menurun, sakit kepala pagi hari menurun.
- Intervensi Utama: Manajemen Energi (I.05178)
- Tindakan: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan keletihan; Monitor pola dan jam tidur; Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus selama jam istirahat; Lakukan latihan rentang gerak pasif/aktif; Anjurkan tirah baring secara proporsional; Anjurkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan.
Rencana Intervensi Diagnosis 5 dan 6
- Risiko Penurunan Curah Jantung (D.0011)
- Luaran Utama: Curah Jantung Meningkat (L.02008)
- Kriteria Hasil: Tekanan darah membaik, turgor kulit membaik, CRT kurang dari 2 detik, tidak ada distensi vena jugularis.
- Intervensi Utama: Perawatan Jantung (I.02075)
- Tindakan: Monitor tekanan darah secara rutin; Monitor adanya tanda-tanda gagal jantung kanan sekunder akibat hipertensi pulmonal; Posisikan pasien nyaman; Berikan terapi oksigen sesuai indikasi medis saat terjaga atau gunakan CPAP saat tidur.
- Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran Utama: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111)
- Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi minat belajar meningkat, kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang penyakit meningkat.
- Intervensi Utama: Edukasi Kesehatan (I.12383)
- Tindakan: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi; Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan; Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan; Ajarkan cara pemasangan, pembersihan, dan modifikasi masker CPAP di rumah secara mandiri.
Rencana Intervensi Diagnosis 7 dan 8
- Anxietas (D.0080)
- Luaran Utama: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
- Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, ketegangan otot menurun.
- Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314)
- Tindakan: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; Monitor tanda-tanda ansietas; Temani pasien untuk mengurangi kecemasan; Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan; Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis.
- Obesitas (D.0030)
- Luaran Utama: Berat Badan Membaik (L.03018)
- Kriteria Hasil: Indeks Massa Tumuh (IMT) membaik mendekati rentang normal (18.5 – 24.9 kg/m²), lingkar leher mengecil.
- Intervensi Utama: Manajemen Berat Badan (I.03112)
- Tindakan: Identifikasi kondisi medis yang mempengaruhi berat badan; Hitung berat badan ideal; Fasilitasi membuat jadwal olahraga mingguan; Kembangkan rencana makan yang sehat secara terperinci; Ajarkan modifikasi perilaku makan untuk menghindari asupan kalori berlebih di malam hari.
Rencana Intervensi Diagnosis 9 dan 10
- Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Luaran Utama: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047)
- Kriteria Hasil: Kemampuan melakukan aktivitas harian meningkat, keluhan lelah menurun, dispnea setelah aktivitas menurun.
- Intervensi Utama: Manajemen Rehabilitasi (I.05186)
- Tindakan: Monitor toleransi kardiorespirasi terhadap aktivitas; Berikan bantuan aktivitas fisik esensial sesuai kebutuhan pasien; Ajarkan pasien menyusun jadwal aktivitas dengan periode istirahat yang seimbang.
- Risiko Cedera (D.0136)
- Luaran Utama: Tingkat Cedera Menurun (L.14136)
- Kriteria Hasil: Kejadian cedera menurun, luka/lecet menurun, ketegangan fisik menurun.
- Intervensi Utama: Pencegahan Cedera (I.14537)
- Tindakan: Identifikasi area lingkungan yang berpotensi menyebabkan bahaya fisik akibat rasa kantuk; Sediakan sarana pengaman lingkungan rumah pasien; Larang keras pasien mengemudikan kendaraan bermotor jarak jauh sendirian sebelum terapi CPAP stabil.
(PPNI 2018, PPNI 2019)
4. Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan Tindakan Kolaboratif dan Mandiri
Tindakan keperawatan dilaksanakan secara terintegrasi berdasarkan perencanaan. Perawat melakukan pemantauan pola pernapasan dan tingkat desaturasi oksigen nokturnal menggunakan oksimetri nadi. Selanjutnya, perawat memposisikan pasien tidur miring serta memasang penahan bantal guna mencegah posisi supinasi yang memperparah kolaps saluran napas. Perawat juga memasang, menyetel, dan memantau kenyamanan serta kepatenan tekanan alat CPAP sesuai rekomendasi medis. Terakhir, perawat memberikan edukasi komprehensif mengenai sleep hygiene dan melakukan konseling manajemen berat badan.
(Sutanto 2023, PPNI 2019)
5. Evaluasi Keperawatan
Penilaian Hasil Asuhan Keperawatan
Evaluasi asuhan keperawatan dinilai secara berkala menggunakan metode SOAP. Pada aspek subjektif, pasien melaporkan tidak lagi terbangun dengan sensasi tercekik dan rasa kantuk di siang hari menurun drastis. Secara objektif, hasil pemeriksaan tidur menunjukkan nilai AHI <
5 per jam, grafik saturasi oksigen nokturnal stabil di atas 95%, dan tekanan darah berada dalam batas normal. Berdasarkan analisis, masalah keperawatan seperti gangguan pola tidur dan bersihan jalan napas tidak efektif dinyatakan teratasi, sehingga perencanaan dilanjutkan untuk pemeliharaan kepatuhan terapi CPAP di rumah.
(Budiono 2022, PPNI 2018)
DAFTAR PUSTAKA
American Academy of Sleep Medicine. (2023). International Classification of Sleep Disorders (3rd ed., rsv.). American Academy of Sleep Medicine.
ASSM. (2022). Sleep Apnea Prevalence and Clinical Manifestations in Asian Populations. Asian Sleep Journal, 11(2), 85-94. asj.org/article/view/2022-11-2
Budiono, T. (2022). Neurologi Tidur dan Disfungsi Sirkadian dalam Praktik Klinis. Penerbit Universitas Indonesia.
ISDA. (2024). Comprehensive Guidelines for Managing Obstructive Sleep Apnea in South Asia. Indian Journal of Sleep Medicine, 19(1), 12-25. ijsm.in/article/2024-19-1-12
Kementerian Kesehatan RI. (2024). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Tata Laksana Gangguan Napas Saat Tidur. Kemenkes RI.
Kryger, M. H., & Roth, T. (2022). Principles and Practice of Sleep Medicine (7th ed.). Elsevier.
MSSM. (2024). Upper Airway Dynamics and Neuromuscular Control in Sleep-Disordered Breathing. Malaysian Medical Journal, 79(3), 301-310. mmj.org.my/mmj-2024-v79n3-301
Mayo Clinic. (2024). Sleep Apnea: Diagnosis, Complications, and Advanced Treatments. Mayo Clinic Press.
National Institutes of Health. (2024). What Is Sleep Apnea?. NHLBI-NIH. nhlbi.nih.gov/health/sleep-apnea
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. (2021). Konsensus Obstructive Sleep Apnea (OSA): Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. PDPI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (1st ed.). DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (1st ed.). DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (1st ed.). DPP PPNI.
Singapore Sleep Society. (2023). Anatomical Risk Factors and Oral Appliance Therapy in Obstructive Sleep Apnea. Singapore Medical Journal, 64(5), 289-297. smj.org.sg/smj-2023-64-289
Sutanto, A. (2023). Patofisiologi Sistem Respirasi dan Integrasi Asuhan Keperawatan. Salemba Medika.

Tinggalkan Balasan