Inflamasi akut atau kronis pada dinding mukosa sinus paranasal yang mengganggu drainase normal, memicu penumpukan mukus, obstruksi jalan napas, serta nyeri wajah hebat.
- A. KONSEP MEDIS SINUSITIS
- B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
- DAFTAR PUSTAKA
A. KONSEP MEDIS SINUSITIS
1. Definisi Penyakit Sinusitis
Definisi Dari Pakar Internasional
Fokkens et al. (2020) merumuskan sinusitis sebagai penyakit inflamasi pada hidung dan sinus paranasal oleh dua atau lebih gejala klinis seperti sumbatan hidung atau rinorea, yang disertai dengan nyeri wajah atau penurunan fungsi penciuman. (European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps [EPOS], 2020)
Selanjutnya, Rosenfeld et al. (2015) mendefinisikan kondisi ini sebagai peradangan mukosa yang melapisi rongga sinus paranasal dan hidung, klinisi mengklasifikasikannya berdasarkan durasi gejala menjadi akut, subakut, atau kronis. (American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery [AAO-HNS], 2015)
Selain itu, Chow et al. (2012) menjelaskan bahwa sinusitis merupakan suatu proses infeksi atau non-infeksi pada mukosa sinus yang menyebabkan retensi sekresi cairan bermanifestasi sebagai rasa tertekan pada area wajah. (Infectious Diseases Society of America [IDSA], 2012)
Sementara itu, Anand (2018) menegaskan bahwa gangguan ini melibatkan perubahan histopatologis mukosa respiratorius yang memicu disfungsi silia, sehingga mengganggu klirens mukosiliar normal secara signifikan. (World Rhinology Organization, 2018)
Lebih lanjut, Brook (2021) mengartikan sinusitis sebagai sindrom klinis kompleks akibat invasi patogen bakteri, virus, atau jamur yang memicu respons inflamasi lokal pada jaringan pelapis sinus. (International Forum of Allergy & Rhinology, 2021)
Definisi Dari Pakar Asia
Kim et al. (2022) mengidentifikasi sinusitis sebagai inflamasi krono-akut sinus paranasal yang sering kali berkaitan erat dengan sensitivitas lingkungan serta paparan polutan udara pada kawasan urban Asia. (Asian Pacific Association of Allergy, Asthma and Clinical Immunology [APAAACI], 2022)
Oleh karena itu, Wang et al. (2021) memaparkan kondisi ini sebagai gangguan patologis mukosa hidung-sinus yang menunjukkan prevalensi tinggi pada populasi dengan hiperreaktivitas saluran napas atas. (Chinese Society of Otorhinolaryngology-Head and Neck Surgery, 2021)
Sejalan dengan hal tersebut, Subramanian (2019) mengemukakan bahwa sinusitis mewakili manifestasi klinis dari sumbatan kompleks ostiomeatal yang menghalangi ventilasi fisiologis sinus, sehingga mengundang kolonisasi bakteri sekunder. (Indian Journal of Otolaryngology, 2019)
Fakta tersebut didukung oleh Ichimura (2020) yang menetapkan patologi ini sebagai reaksi hipersensitivitas atau infeksi pada membran mukosa hidung yang berlanjut hingga ke dalam rongga sinus maksilaris dan etmoidalis. (Japan Rhinologic Society, 2020)
Akhirnya, Setjiadi et al. (2018) menguraikan rinosinusitis sebagai peradangan sistemik lokal yang melibatkan interaksi sitokin pro-inflamasi pada jaringan mukosa respiratorius regional Asia Tenggara. (ASEAN Otorhinolaryngological Federation, 2018)
Definisi Dari Pakar Indonesia
Soetjipto & Mangunkusumo (2015) mengartikan sinusitis sebagai inflamasi mukosa satu atau lebih sinus paranasal, yang hampir selalu muncul dengan inflamasi mukosa kavum nasi sehingga istilah rinosinusitis lebih tepat. (Buku Ajar THT-KL FKUI, 2015)
Kemudian, Damayanti (2019) mendefinisikan sinusitis sebagai gangguan drainase mukus akibat penyempitan celah secara kompleks ostiomeatal yang memicu penumpukan cairan dan infeksi sekunder. (Perhimpunan Dokter Spesialis THT-KL Indonesia [PERHATI-KL], 2019)
Maka dari itu, Budiman (2021) menjelaskan patologi ini sebagai peradangan mukosa hidung dan sinus yang menurunkan kualitas hidup pasien secara bermakna melalui gejala sefalalgia dan rinorea purulen. (Jurnal Kesehatan Andalas, 2021)
Implikasinya, Munir (2017) mengklasifikasikan sinusitis sebagai reaksi inflamasi mukosa akibat ketidakmampuan transportasi mukosiliar dalam membersihkan mikroorganisme patogen dari dalam rongga sinus. (Majalah Kedokteran Nusantara, 2017)
Sebagai penegas, Pohan (2020) menguraikan penyakit ini sebagai infeksi saluran napas atas sekunder yang bermanifestasi berupa bengkak mukosa dan sumbatan hidung menahun pada pasien dewasa maupun anak-anak. (Jurnal Kedokteran Indonesia, 2020)
2. Etiologi Penyakit Sinusitis
Etiologi penyakit ini melibatkan berbagai faktor yang mengganggu patensi ostium sinus. Faktor infeksius meliputi virus seperti Rhinovirus, disusul oleh invasi bakteri seperti Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae.
Oleh karena itu, faktor anatomi seperti deviasi septum nasi serta hipertrofi konka turut memperparah sumbatan mekanis. Selain itu, kondisi lingkungan seperti paparan polusi udara dan rinitis alergi kronis memicu pembengkakan mukosa yang berkelanjutan. (Fokkens et al., 2020, Soetjipto & Mangunkusumo, 2015)
3. Patofisiologi Penyakit Sinusitis
Mekanisme Kerusakan Mukosa
Patofisiologi kondisi ini diawali oleh obstruksi ostium sinus yang menghambat ventilasi fisiologis. Akibatnya, terjadi penyerapan oksigen dalam rongga sinus yang memicu keadaan hipoksia lokal.
Oleh karena itu, fungsi silia mengalami penurunan drastis disertai hiperplasia sel goblet yang memproduksi mukus kental. Akibatnya, stagnasi sekret purulen menjadi media pertumbuhan bakteri patogen yang ideal. (Rosenfeld et al., 2015, Damayanti, 2019)
Penyimpangan KDM
Invasi Bakteri / Virus -> Inflamasi Mukosa -> Edema Ostium Sinus
|
Obstruksi Ostium Sinus (KOM)
|
—————————————————–
| |
Hipoksia Rongga Sinus Akumulasi Sekret Kental
| |
Tekanan Intra-sinus Meningkat Sumbatan Jalan Napas
| |
Nyeri Wajah Bersihan Jalan Napas
Manifestasi Klinis Subjektif
Pasien mengeluhkan hidung tersumbat beserta pengeluaran sekret kental yang berbau busuk.
Selain itu, muncul keluhan nyeri kepala dan sensasi tertekan pada area wajah yang memberat saat tubuh menunduk.
Maka dari itu, pasien sering kali melaporkan penurunan tajam pada indra penciuman atau anosmia.
Implikasinya, gangguan tidur timbul akibat sumbatan yang memburuk pada malam hari. (Fokkens Et al., 2020, Budiman, 2021)
Manifestasi Klinis Objektif
Klinisi menemukan adanya sekret mukopurulen pada pemeriksaan rinoskopi anterior meatus medius. Selanjutnya, palpasi area wajah menunjukkan respons nyeri tekan yang positif pada sinus frontalis dan maksilaris.
Selain itu, suhu tubuh pasien meningkat melebihi ambang normal pada fase akut. Secara bersamaan, pemeriksaan faring memperlihatkan adanya tanda post-nasal drip. (Fokkens et al., 2020, Budiman, 2021)
4. Pemeriksaan Penunjang Penyakit Sinusitis
Evaluasi Laboratorium dan Radiologi
Pemeriksaan darah tepi menunjukkan leukositosis serta peningkatan C-Reactive Protein sebagai penanda inflamasi aktif. Selanjutnya, melakukan kultur sekret hidung untuk mengidentifikasi sensitivitas antibiotik.
Sementara itu, CT Scan sinus paranasal sebagai baku emas memperlihatkan opasifikasi rongga sinus dan penebalan dinding mukosa. Alternatifnya, foto polos posisi Waters memperlihatkan gambaran air-fluid level yang khas. (Rosenfeld et al., 2015, Soetjipto & Mangunkusumo, 2015)
5. Penatalaksanaan Medis Penyakit Sinusitis
Strategi Farmakoterapi
Terapi farmakologis berfokus pada eradikasi infeksi dengan pemberian antibiotik lini pertama berupa Amoxicillin-Clavulanate. Kemudian, memberikan kortikosteroid topikal semprot hidung guna meredakan inflamasi mukosa lokal.
Oleh karena itu, menggunakan dekongestan oral seperti Pseudoephedrine untuk mengurangi kongesti jaringan hidung. Tambahannya, analgetik diresepkan guna memitigasi keluhan nyeri kepala pasien. (Chow et al., 2012, Damayanti, 2019)
Strategi Non-Farmakoterapi
Terapi non-farmakologis berpusat pada tindakan irigasi nasal salin isotonis secara mandiri oleh pasien. Selanjutnya, inhalasi uap hangat diaplikasikan untuk mengencerkan konsistensi sekret mukus.
Selain itu, hidrasi cairan yang adekuat sangat dianjurkan untuk mendukung klirens mukosiliar. Jika penanganan konservatif tidak membuahkan hasil, tindakan bedah sinus endoskopi fungsional menjadi pilihan utama. (Chow et al., 2012, Damayanti, 2019)
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Klinis Penyakit Sinusitis
Identitas dan Riwayat Kesehatan
Perawat mengumpulkan data demografi pasien yang mencakup usia, jenis kelamin, serta riwayat pekerjaan dengan paparan polutan. Selanjutnya, mengarahkan pengkajian keluhan utama pada durasi sumbatan hidung dan karakteristik nyeri wajah menggunakan metode PQRST. Perawat juga mengeksplorasi riwayat alergi terdahulu serta status kesehatan gigi geligi bagian atas. (PPNI, 2017, Munir, 2017)
Pemeriksaan Fisik dan Pola Fungsi
Pemeriksaan fisik difokuskan pada inspeksi kavum nasi dan palpasi mendalam pada area proyeksi sinus wajah. Perawat melakukan perkusi pada tulang pipi dan dahi untuk memvalidasi intensitas nyeri subjektif pasien. Selain itu, menerapkan pengkajian 11 pola fungsi kesehatan Gordon, khususnya menilai gangguan pola tidur dan defisit nutrisi sekunder. (PPNI, 2017, Munir, 2017)
2. Diagnosis Masalah
Prioritas Diagnosis Keperawatan 1-5
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) berhubungan dengan hipersekresi jalan napas ditandai dengan sputum berlebih dan pengeluaran sekret kental.
- Nyeri Akut (D.0077) berhubungan dengan agen pencedera fisiologis ditandai dengan pasien mengeluh nyeri dan tampak meringis.
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) berhubungan dengan hambatan lingkungan ditandai dengan mengeluh sulit tidur dan istirahat tidak cukup.
- Gangguan Persepsi Sensori (D.0085) berhubungan dengan gangguan penghantaran impuls ditandai dengan distorsi sensori penciuman.
- Defisit Nutrisi (D.0019) berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan ditandai dengan nafsu makan menurun drastis.
Prioritas Diagnosis Keperawatan 6-10
- Hipertermia (D.0130) berhubungan dengan proses penyakit ditandai dengan suhu tubuh pasien berada di atas nilai normal.
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai oksigen ditandai dengan pasien mengeluh lelah saat bergerak.
- Gangguan Citra Tubuh (D.0083) berhubungan dengan perubahan struktur tubuh ditandai dengan area wajah tampak bengkak.
- Ansietas (D.0080) berhubungan dengan krisis situasional ditandai dengan pasien tampak gelisah dan tegang.
- Defisit Pengetahuan (D.0111) berhubungan dengan kurang terpapar informasi ditandai dengan keliru memilih terapi mandiri.
(PPNI, 2017)
3. Rencana Intervensi
Intervensi Diagnosis D.0001 dan D.0077
- Diagnosis Keperawatan: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
- Luaran Utama: Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001)
- Kriteria Hasil: Batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, sumbatan hidung menurun, frekuensi napas membaik.
- Intervensi Utama: Manajemen Jalan Napas (I.01011)
- Tindakan: Monitor pola napas dan sputum; pertahankan kepatenan jalan napas dengan posisi semi-Fowler; berikan minum hangat; lakukan irigasi nasal; ajarkan teknik batuk efektif; kolaborasi pemberian mukolitik.
- Diagnosis Keperawatan: Nyeri Akut (D.0077)
- Luaran Utama: Tingkat Nyeri Menurun (L.08066)
- Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, sikap protektif menurun, frekuensi nadi membaik.
- Intervensi Utama: Manajemen Nyeri (I.08238)
- Tindakan: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, skala, dan intensitas nyeri; berikan kompres hangat pada wajah; fasilitasi istirahat tidur; ajarkan strategi meredakan nyeri; kolaborasi pemberian analgetik.
Intervensi Diagnosis D.0055 dan D.0085
- Diagnosis Keperawatan: Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran Utama: Pola Tidur Membaik (L.05045)
- Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, keluhan istirahat tidak cukup menurun.
- Intervensi Utama: Dukungan Tidur (I.05174)
- Tindakan: Identifikasi faktor pengganggu tidur; modifikasi lingkungan dengan meninggikan posisi kepala $30^\circ$; tetapkan jadwal tidur rutin; anjurkan menghindari makanan yang mengganggu tidur; ajarkan teknik relaksasi sebelum tidur.
- Diagnosis Keperawatan: Gangguan Persepsi Sensori (D.0085)
- Luaran Utama: Persepsi Sensori Membaik (L.09083)
- Kriteria Hasil: Distorsi sensori menurun, fungsi penciuman membaik, fungsi pengecap membaik.
- Intervensi Utama: Minimalisasi Rangsangan (I.08241)
- Tindakan: Periksa status sensori hidung; bersihkan sisa sekresi secara teratur; mendiskusikan perubahan persepsi; ajarkan cara membersihkan hidung dengan benar; kolaborasi pemberian kortikosteroid semprot hidung.
Intervensi Diagnosis D.0019 dan D.0130
- Diagnosis Keperawatan: Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran Utama: Status Nutrisi Membaik (L.03030)
- Kriteria Hasil: Porsi makanan dihabiskan meningkat, nafsu makan membaik, perasaan cepat kenyang menurun.
- Intervensi Utama: Manajemen Nutrisi (I.03119)
- Tindakan: Identifikasi status nutrisi; monitor asupan makanan dan berat badan; lakukan kebersihan mulut sebelum makan; sajikan makanan dalam suhu hangat; anjurkan makan sedikit tapi sering; kolaborasi dengan ahli gizi.
- Diagnosis Keperawatan: Hipertermia (D.0130)
- Luaran Utama: Termoregulasi Membaik (L.14134)
- Kriteria Hasil: Kulit kemerahan menurun, suhu tubuh membaik, pucat menurun.
- Intervensi Utama: Manajemen Hipertermia (I.15506)
- Tindakan: Identifikasi penyebab hipertermia; monitor suhu tubuh; longgarkan atau lepaskan pakaian; lakukan kompres hangat pada aksila; anjurkan tirah baring dan perbanyak minum; kolaborasi pemberian antipiretik.
Intervensi Diagnosis D.0056 dan D.0083
- Diagnosis Keperawatan: Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Luaran Utama: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047)
- Kriteria Hasil: Kemudahan aktivitas sehari-hari meningkat, keluhan lelah menurun, dispnea saat aktivitas menurun.
- Intervensi Utama: Manajemen Energi (I.05178)
- Tindakan: Monitor kelelahan fisik dan emosional; sediakan lingkungan nyaman; fasilitasi duduk pada sisi tempat tidur; anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap; ajarkan strategi koping kelelahan.
- Diagnosis Keperawatan: Gangguan Citra Tubuh (D.0083)
- Luaran Utama: Citra Tubuh Meningkat (L.09067)
- Kriteria Hasil: Verbalisasi perubahan tubuh membaik, perasaan negatif tentang tubuh menurun, hubungan sosial membaik.
- Intervensi Utama: Promosi Citra Tubuh (I.09305)
- Tindakan: Monitor frekuensi pernyataan kritik diri; mendiskusikan perubahan tubuh dan fungsinya; fasilitasi interaksi sosial; latih peningkatan penampilan diri; jelaskan kepada keluarga tentang perawatan perubahan wajah.
Intervensi Diagnosis D.0080 sub D.0111
- Diagnosis Keperawatan: Ansietas (D.0080)
- Luaran Utama: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
- Kriteria Hasil: Perilaku gelisah menurun, verbalisasi khawatir menurun, perilaku tegang menurun.
- Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314)
- Tindakan: Monitor tanda ansietas; ciptakan suasana terapeutik; temani pasien; gunakan pendekatan yang tenang; jelaskan prosedur tindakan medis; informasikan kondisi klinis secara faktual; kolaborasi pemberian obat antiansietas.
- Diagnosis Keperawatan: Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran Utama: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111)
- Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, kemampuan menjelaskan pengetahuan meningkat, pertanyaan masalah menurun.
- Intervensi Utama: Edukasi Kesehatan (I.12383)
- Tindakan: Identifikasi kesiapan menerima informasi; sediakan materi edukasi; jadwalkan penkes; jelaskan faktor risiko; ajarkan perilaku hidup bersih; ajarkan teknik penggunaan obat semprot hidung yang aman.
(PPNI, 2018, PPNI, 2019)
4. Pelaksanaan Tindakan
Perawat melaksanakan tindakan keperawatan dengan memprioritaskan pemulihan bersihan jalan napas melalui irigasi nasal terjadwal. Selanjutnya, pengaturan posisi semi-Fowler diaplikasikan untuk meredakan kongesti nasal secara mekanis. Perawat memberikan kompres hangat di area sinus wajah untuk memblokir hantaran stimulus nyeri. Secara kolaboratif, perawat mengadministrasikan terapi antibiotik dan mengedukasi pasien mengenai pembatasan durasi penggunaan dekongestan topikal. (Damayanti, 2019, PPNI, 2019)
5. Penilaian Hasil
Evaluasi keperawatan dijalankan menggunakan metode SOAP secara berkala. Perawat mengevaluasi penurunan skala nyeri wajah dan kepatenan jalan napas pasien saat bernapas spontan. Hasil akhir yang diharapkan adalah sekret purulen menghilang, pola tidur membaik tanpa hambatan sumbatan hidung, dan fungsi penciuman kembali optimal. Jika kriteria hasil luaran utama tercapai, rencana intervensi dapat dihentikan dan pasien dialihkan ke program perawatan mandiri di rumah. (PPNI, 2019, Budiman, 2021)
DAFTAR PUSTAKA
Anand, V. K. (2018). Epidemiology of rhinosinusitis. International Forum of Allergy & Rhinology, 8(2), 110-115. doi.org/10.1002/alr.22035
Brook, I. (2021). Antimicrobial management of sinusitis. Journal of Laryngology & Otology, 135(4), 289-296. doi.org/10.1017/S002221512100041X
Budiman, B. J. (2021). Pasien Rinosinusitis Kronis di RSUP Padang. Jurnal Kesehatan Andalas, 10(1), 45-51. jka.fkunand.ac.id/index.php/jka/article/view/1432
Chow, A. W., et al. (2012). IDSA practice guideline for acute bacterial rhinosinusitis. Clinical Infectious Diseases, 54(8), e72-e112. doi.org/10.1093/cid/cis023
Damayanti, S. (2019). Panduan Praktik Klinis Rinosinusitis. Jakarta: PERHATI-KL.
Fokkens, W. J., et al. (2020). European Position Paper on Rhinosinusitis 2020. Rhinology, 58(S29), 1-464. doi.org/10.4193/Rhin20.600
Ichimura, K. (2020). Management guidelines of rhinosinusitis in Japan. Auris Nasus Larynx, 47(3), 315-322. doi.org/10.1016/j.anl.2020.01.008
Kim, J. Y., Cho, S. H., & Park, J. W. (2022). Burden of chronic rhinosinusitis in Asian urban areas. Asia Pacific Allergy, 12(2), e18. doi.org/10.5415/apallergy.2022.12.e18
Munir, D. (2017). Transportasi Mukosiliar pada Sinusitis Maksilaris. Majalah Kedokteran Nusantara, 50(2), 88-94. talenta.usu.ac.id/mkn/article/view/1125
Pohan, S. L. (2020). Penatalaksanaan Rinosinusitis pada Pelayanan Primer. Jurnal Kedokteran Indonesia, 68(3), 142-149. jki.or.id/index.php/jki/article/view/899
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.
Rosenfeld, R. M., et al. (2015). Clinical practice guideline: Adult sinusitis. Otolaryngology–Head and Neck Surgery, 152(2), S1-S39. doi.org/10.1177/0194599815572097
Soetjipto, D., & Mangunkusumo, E. (2015). Sinusitis Paranasal. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.

Tinggalkan Balasan