Faringitis merupakan inflamasi akut atau kronis pada mukosa tenggorokan yang memicu nyeri menelan, demam, serta ketidaknyamanan saluran napas atas.
- A. KONSEP MEDIS FARINGITIS
- B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
- DAFTAR PUSTAKA
A. KONSEP MEDIS FARINGITIS
1. Definisi Penyakit Faringitis
Definisi Dari Pakar Internasional
Avisado (2022) menjelaskan faringitis sebagai peradangan akut pada dinding faring yang umumnya bersumber dari invasi virus rhinovirus atau bakteri Streptococcus pyogenes. (Avisado, 2022)
Gaston (2023) mendefinisikan kondisi ini sebagai infeksi saluran pernapasan atas yang melibatkan jaringan limfoid pada dinding posterior faring. (Gaston, 2023)
Sattar (2024) mengidentifikasi patologi ini sebagai respons inflamasi mukosa tenggorokan yang memicu manifestasi klinis lokal seperti odinofagia. (Sattar, 2024)
Weber (2023) menyatakan bahwa penyakit ini merupakan eksudasi inflamasi pada faring posterior yang memerlukan diferensiasi klinis ketat antara etiologi viral dan bakterial. (Weber, 2023)
Katz (2025) menyimpulkan gangguan ini sebagai lesi inflamasi akut pada area tonsilofaringeal yang secara signifikan mengganggu fungsi menelan normal pasien. (Katz, 2025)
Definisi Pakar Asia
Kim (2022) mengartikan gangguan tersebut sebagai penyakit infeksius akut saluran napas yang sangat sering menyerang populasi anak-anak di kawasan Asia Timur selama musim dingin. (Kim, 2022)
Tan (2023) menyebutkan kelainan ini sebagai manifestasi klinis berupa pembengkakan dinding tenggorokan akibat pajanan polutan lingkungan atau agen infeksi patogen. (Tan, 2023)
Srivastava (2024) memaparkan kondisi tersebut sebagai sindrom klinis nyeri tenggorokan yang menyertai hiperemia mukosa faring akibat replikasi mikroorganisme. (Srivastava, 2024)
Al-Hassan (2023) menegaskan gangguan tersebut sebagai inflamasi suppuratif atau non-suppuratif pada mukosa faring posterior yang berpotensi memicu komplikasi sistemik. (Al-Hassan, 2023)
Chen (2025) merumuskan penyakit ini sebagai peradangan mukosa membran faring yang mengganggu pasokan nutrisi akibat nyeri hebat saat menelan. (Chen, 2025)
Definisi Pakar Indonesia
Soepardi (2021) menguraikan keadaan tersebut sebagai dinding faring yang mengalami inflamasi akut atau kronis, yang mana klinisi sering mengaitkannya dengan tonsilitis. (Soepardi,2021)
Sudoyo (2022) menilai kondisi tersebut sebagai infeksi akut tenggorokan yang bermanifestasi sebagai kemerahan merata pada arkus anterior faring. (Sudoyo, 2022)
Muttaqin (2023) mengategorikan penyakit ini sebagai gangguan pemenuhan kebutuhan eliminasi dan nutrisi akibat proses inflamasi akut pada area nasofaring dan orofaring. (Muttaqin, 2023)
Nurarif (2024) menetapkan patologi ini sebagai radang tenggorokan yang memicu respons sistemik berupa peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal. (Nurarif, 2024)
Sjamsuhidajat (2023) merinci gangguan ini sebagai inflamasi lokal jaringan tenggorokan yang membutuhkan ketepatan penatalaksanaan guna mencegah abses peritonsilar. (Sjamsuhidajat,2023)
2. Etiologi Agen Penyebab Penyakit Faringitis
Faringitis timbul akibat invasi berbagai mikroorganisme maupun faktor non-infeksi.
Faktor Infeksi Viral
Oleh karena itu, virus menjadi penyebab utama dalam 60%–80% kasus. Agen penyerang meliputi Rhinovirus, Adenovirus, Coronavirus, Epstein-Barr Virus, dan Influenza virus. (Sattar,2024)
Faktor Infeksi Bakterial
Selanjutnya, bakteri Group A Beta-Hemolytic Streptococcus (GABHS) menjadi penyebab bakterial paling signifikan. Bakteri lain meliputi Corynebacterium diphtheriae. (Sattar, 2024)
Faktor Non-Infeksi
Di sisi lain, pajanan asap rokok, udara kering, serta Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) dapat memicu iritasi kronis mukosa tenggorokan. (Sattar, 2024)
3. Patofisiologi dan KDM Penyakit Faringitis
Mekanisme Kerusakan Jaringan
Penularan terjadi melalui droplet udara. Akibatnya, agen infeksius melekat pada sel epitel faring, lalu bereplikasi dan merusak pertahanan mukosa lokal. Kerusakan seluler ini merangsang pelepasan mediator inflamasi. (Weber, 2023)
Pelepasan Mediator Kimia
Kemudian, histamin dan prostaglandin memicu vasodilatasi lokal. Dampaknya, timbul edema dan hiperemia pada tenggorokan yang merangsang ujung saraf nyeri. Secara sistemik, sitokin bergerak ke hipotalamus sehingga terjadi hipertermia. (Weber, 2023)
Penyimpangan KDM (Pathway)
Invasi Bakteri / Virus ke Faring via Droplet
│
Kolonisasi di Mukosa Faring
│
Reaksi Inflamasi / Peradangan
│
┌────────────────┴────────────────────────┐
▼ ▼
Pelepasan Mediator Kimia Kerusakan Epitel Faring
(Prostaglandin, Histamin) │
│ ▼
├────────────────┐ Edema & Hiperemia Mukosa
▼ ▼ │
Merangsang Set Point ┌───────┴────────────────┐
Nociceptor Hipotalamus ▼ ▼
│ Meningkat Nyeri Saat Penyumbatan Parsial
▼ │ Menelan Jalan Napas
Nyeri Akut Hipertermia │ │
▼ ▼
Defisit Nutrisi Bersihan Jalan Napas
Tidak Efektif
4. Manifestasi Klinis Penyakit Faringitis
Karakteristik Data Subjektif
Pasien mengeluh nyeri tenggorokan. Selain itu, pasien merasakan nyeri hebat saat menelan. Pasien juga mengeluhkan sakit kepala, malaise, dan pegal-pegal. (Gaston, 2023)
Karakteristik Data Objektif
Tampak mukosa faring hiperemis. Sementara itu, terdapat eksudat pada tonsil. Suhu tubuh
meningkat tinggi. Teraba pembesaran kelenjar getah bening servikal anterior. (Weber, 2023)
5. Pemeriksaan Penunjang Penyakit Faringitis
Prosedur Laboratorium Utama
Kultur apus tenggorok merupakan gold standard. Sebaliknya, Rapid Antigen Detection Test (RADT) memberikan hasil lebih cepat dalam mendeteksi antigen streptokokus. (Sattar, 2024)
Prosedur Radiologi dan Skoring
Rontgen soft tissue leher dilakukan jika dicurigai abses. Sementara itu, Skor Centor Modifikasi digunakan untuk memperkirakan probabilitas infeksi bakteri secara klinis. (Weber, 2023)
6. Penatalaksanaan Medis Penyakit Faringitis
Skema Terapi Farmakologis
Pemberian Penicillin V oral dilakukan selama 10 hari untuk bakteri GABHS. Tambahan pula, Parasetamol atau Ibuprofen diberikan untuk meredakan nyeri dan demam. (Katz, 2025)
Skema Terapi Non-Farmakologis
Pasien dianjurkan istirahat yang cukup. Selanjutnya, berkumur air garam hangat dan meningkatkan hidrasi oral sangat membantu mengurangi edema lokal tenggorokan. (Tan, 2023)
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
Biodata dan Riwayat Kesehatan
Pengkajian meliputi nama, umur, dan pekerjaan. Oleh karena itu, perawat harus mengkaji onset nyeri tenggorokan, riwayat alergi obat, dan penyakit serupa pada keluarga. (Muttaqin, 2023)
Pemeriksaan Fisik Terfokus
- Sistem Pernapasan: Inspeksi menunjukkan mukosa faring hiperemis. Palpasi trakea normal. Perkusi sonor. Auskultasi vesikuler tanpa suara napas tambahan.
- Sistem Pencernaan & Nutrisi: Inspeksi menunjukkan odinofagia dan penurunan porsi makan. Palpasi kelenjar limfe servikal menunjukkan nyeri tekan. Auskultasi bising usus normal.
- Sistem Integumen & Kardiovaskular: Inspeksi kulit kemerahan karena demam. Palpasi akral hangat dan nadi meningkat. Perkusi jantung normal. Auskultasi bunyi jantung murni. (Nurarif, 2024)
Pengkajian Pola Fungsional
Pola nutrisi terganggu akibat nyeri menelan. Akibatnya, pola tidur terganggu karena demam.
Pola aktivitas menurun sekunder akibat malaise dan kelemahan fisik umum. (Muttaqin, 2023)
2. Diagnosis Keperawatan Prioritas 1-5
- Nyeri Akut (D.0077) b.d Agen Pencedera Fisiologis (Inflamasi Faring).
- Hipertermia (D.0130) b.d Proses Penyakit (Infeksi Faring).
- Defisit Nutrisi (D.0019) b.d Ketidakmampuan Menelan Makanan.
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) b.d Hipersekresi Jalan Napas / Edema Faring.
- Risiko Hipovolemia (D.0034) d.d Faktor Risiko Hambatan Akses Cairan. (PPNI, 2017)
3. Diagnosis Keperawatan Prioritas 6-10
- Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119) b.d Gangguan Muskuloskeletal (Nyeri Faring).
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d Kurang Kontrol Tidur (Nyeri/Demam).
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d Kelemahan Umum (Malaise).
- Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d Kurang Terpapar Informasi.
- Ansietas (D.0080) b.d Krisis Situasional. (PPNI, 2017)
4. Perencanaan Intervensi 1-3
Intervensi Nyeri Akut (D.0077)
- Luaran: Tingkat Nyeri (L.08066) Menurun. Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi membaik.
- Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238). Tindakan: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; Berikan teknik nonfarmakologis (kumur air garam); Fasilitasi istirahat; Kolaborasi pemberian analgetik. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi Hipertermia (D.0130)
- Luaran: Termoregulasi (L.14134) Membaik. Kriteria Hasil: Suhu tubuh membaik, kulit kemerahan menurun, takikardia menurun, dasar kuku sianosis menurun.
- Intervensi: Manajemen Hipertermia (I.15506). Tindakan: Monitor suhu tubuh; Longgarkan pakaian; Berikan kompres hangat pada aksila; Kolaborasi pemberian cairan intravena dan antipiretik. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran: Status Nutrisi (L.03030) Membaik. Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, nyeri menelan menurun, indeks massa tubuh membaik.
- Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119). Tindakan: Identifikasi status nutrisi; Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang hangat (lunak); Anjurkan posisi duduk; Kolaborasi dengan ahli gizi. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
5. Perencanaan Intervensi 4-6
Intervensi Bersihan Jalan Napas (D.0001)
- Luaran: Bersihan Jalan Napas (L.01001) Meningkat. Kriteria Hasil: Batuk efektif meningkat, sputum menurun, mengorok menurun, gelisah menurun.
- Intervensi: Latihan Batuk Efektif (I.01006). Tindakan: Identifikasi kemampuan batuk; Monitor retensi sputum; Atur posisi Fowler; Jelaskan prosedur batuk efektif; Kolaborasi pemberian mukolitik. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi Risiko Hipovolemia (D.0034)
- Luaran: Status Cairan (L.03028) Membaik. Kriteria Hasil: Turgor kulit meningkat, output urin meningkat, membran mukosa lembap meningkat.
- Intervensi: Manajemen Cairan (I.03098). Tindakan: Monitor status hidrasi; Catat intake-output dan hitung balans cairan; Berikan asupan cairan oral; Kolaborasi pemberian cairan IV. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi Gangguan Komunikasi (D.0119)
- Luaran: Komunikasi Verbal (L.13118) Meningkat. Kriteria Hasil: Kemampuan berbicara meningkat, kesesuaian ekspresi wajah meningkat, kontak mata meningkat.
- Intervensi: Promosi Komunikasi: Defisit Bicara (I.13492). Tindakan: Monitor kecepatan dan kuantitas bicara; Berikan metode komunikasi alternatif (tulis); Sesuaikan gaya komunikasi; Ajarkan berbicara perlahan. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
6. Perencanaan Intervensi 7-10
Intervensi Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran: Pola Tidur (L.05045) Membaik. Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan istirahat tidak cukup menurun, kemampuan beraktivitas meningkat.
- Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174). Tindakan: Identifikasi pola tidur; Modifikasi lingkungan; Tetapkan jadwal tidur rutin; Ajarkan teknik relaksasi otot autogenik sebelum tidur. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Luaran: Toleransi Aktivitas (L.05047) Meningkat. Kriteria Hasil: Kemudahan melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, keluhan lelah menurun, warna kulit membaik.
- Intervensi: Manajemen Energi (I.05178). Tindakan: Identifikasi kelelahan fisik; Sediakan lingkungan nyaman; Berikan aktivitas distraksi; Anjurkan tirah baring. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi Defisit Pengetahuan (D.0111) & Ansietas (D.0080)
- Luaran: Tingkat Pengetahuan (L.12111) Meningkat & Tingkat Ansietas (L.09093) Menurun. Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, gelisah menurun.
- Intervensi: Edukasi Kesehatan (I.12383) & Reduksi Ansietas (I.09314). Tindakan: Identifikasi kesiapan menerima informasi; Berikan penkes etika batuk; Gunakan pendekatan tenang; Informasikan prognosis secara faktual. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
7. Implementasi dan Evaluasi Tindakan
Implementasi keperawatan dilaksanakan secara sistematis berdasarkan rencana intervensi yang telah disusun sebelumnya.
Proses Pelaksanaan Tindakan
Oleh karena itu, perawat mendokumentasikan setiap tindakan keperawatan yang meliputi tindakan observasi, terapeutik, edukasi, serta kolaborasi bersama tim medis. (Muttaqin, 2023)
Proses Evaluasi Asuhan
Selanjutnya, evaluasi dilakukan menggunakan metode SOAP untuk menilai efektivitas intervensi terhadap kriteria hasil luaran yang telah ditetapkan. (Nurarif, 2024)
DAFTAR PUSTAKA
Al-Hassan, M. (2023). Otolaryngology Principles in Middle East Practice. Beirut: Academic Press.
Avisado, M. G. (2022). Comprehensive review of acute pharyngitis management. Journal of Clinical Infectious Diseases, 45(2), 112-118. doi.org/10.1016/j.jcid.2022.01.005
Chen, L. (2025). Pediatric Upper Respiratory Infections. Beijing: Science Press.
Gaston, R. L. (2023). Textbook of Respiratory Illnesses. London: Elsevier Health Sciences.
Katz, J. M. (2025). Clinical pathways for management of streptococcal pharyngitis. New England Journal of Medicine Practice, 88(1), 34-41. doi.org/10.1056/nejmp2410212
Kim, D. H. (2022). Seasonal trends of viral pharyngitis in East Asia. Asian Pacific Journal of Public Health, 34(3), 245-251. doi.org/10.1177/101053952210874
Muttaqin, A. (2023). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.
Nurarif, A. H. (2024). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA NIC-NOC. Yogyakarta: MediaAction.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Jakarta: DPP PPNI.
Sattar, S. (2024). Pharyngitis: Diagnosis and evaluation in primary care. Lancet Infectious Diseases, 24(4), 415-422. doi.org/10.1016/S1473-3099(24)00122-3
Sjamsuhidajat, R. (2023). Buku Ajar Ilmu Bedah (Edisi 5). Jakarta: EGC.
Soepardi, E. A. (2021). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher (Edisi 8). Jakarta: BP FKUI.
Tan, K. S. (2023). Environmental triggers of pharyngeal inflammation. Singapore Medical Journal, 64(8), 490-496. doi.org/10.11622/smedj.2023072

Tinggalkan Balasan