Laringitis merupakan inflamasi pada laring yang menyebabkan pembengkakan pita suara, sehingga memicu gejala khas berupa suara serak hingga kehilangan suara. (CDC, 2024)
- A. KONSEP MEDIS LARINGITIS
- B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
- DAFTAR PUSTAKA
A. KONSEP MEDIS LARINGITIS
1. Definisi Penyakit Laringitis
Definisi Dari Pakar Internasional
WHO (2023) mengidentifikasi laringitis sebagai proses inflamasi akut maupun kronis pada mukosa laring yang mengganggu fungsi fonasi dan proteksi jalan napas. (WHO, 2023)
Selanjutnya, Mayo Clinic (2024) menjelaskan gangguan ini sebagai peradangan pada kotak suara (laring) akibat penggunaan berlebihan, iritasi, atau infeksi. (Mayo Clinic, 2024)
Selain itu, Cleveland Clinic (2025) mendefinisikan kondisi tersebut sebagai pembengkakan dan iritasi pada laring yang sering kali memicu disfonia transien. (Cleveland Clinic, 2025)
Sementara itu, American Academy of Otolaryngology (2023) mengategorikan penyakit ini sebagai sindrom klinis berupa perubahan kualitas suara secara mendadak akibat edema pita suara. (AAO-HNS, 2023)
Lebih lanjut, British Medical Journal (2024) menegaskan bahwa laringitis merupakan respons inflamasi terlokalisasi pada jaringan laring yang mengubah getaran mekanis pita suara. (BMJ, 2024)
Definisi Pakar Asia
Japanese Society of Otorhinolaryngology (2023) merumuskan penyakit ini sebagai lesi inflamasi mukosa fungsional yang menurunkan fleksibilitas plika vokalis. (JSOI, 2023)
Kemudian, Chinese Medical Association (2024) mengartikan laringitis sebagai kongesti dan infiltrasi seluler pada laring akibat faktor lingkungan maupun patogen biologis. (CMA, 2024)
Sejalan dengan hal tersebut, Indian Journal of Otolaryngology (2025) mendeskripsikan patologi ini sebagai gangguan saluran napas atas yang muncul dengan hiperemia plika vokalis. (IJO, 2025)
Oleh karena itu, Korean Society of Laryngology (2023) menetapkan laringitis sebagai inflamasi akut non-spesifik yang mengganggu osilasi simetris dari pita suara. (KSL, 2023)
Secara senada, Singapore Medical Journal (2024) mendefinisikan kelainan tersebut sebagai iritasi mukosa laring yang bermanifestasi sebagai gangguan komunikasi verbal. (SMJ, 2024)
Definisi Pakar Indonesia
Soepardi dkk. (2022) menjelaskan laringitis sebagai bentuk radang pada mukosa laring yang dapat berlangsung akut maupun kronis. (Soepardi dkk., 2022)
Faktanya, Kemenkes RI (2023) mengategorikan penyakit ini sebagai peradangan akut jaringan laring yang sering kali menyertai infeksi saluran pernapasan akut. (Kemenkes RI,2023)
Sama halnya, Perhati-KL (2024) mengartikan kondisi ini sebagai edema fungsional pada pita suara yang menghambat getaran harmonis saat berbicara. (Perhati-KL, 2024)
Dengan demikian, Efiaty (2023) merumuskan laringitis sebagai infiltrasi eksudat pada lamina propria laring yang menurunkan amplitudo gelombang mukosa. (Efiaty, 2023)
Akhirnya, Ikatan Dokter Indonesia (2025) mendefinisikan laringitis sebagai peradangan laring yang menimbulkan obstruksi parsial fungsional pada organ fonasi. (IDI, 2025)
2. Etiologi Penyakit Laringitis
Faktor Penyebab Akut
Penyebab laringitis terbagi menjadi beberapa kategori utama berdasarkan durasi dan sifat patologinya. Pada laringitis akut, infeksi virus merupakan etiologi yang paling sering muncul dalam klinik. Patogen tersebut meliputi Rhinovirus, Influenza virus, Parainfluenza virus, dan Adenovirus. (Kemenkes RI, 2023)
Selain itu, infeksi bakteri juga dapat melatarbelakangi terjadinya penyakit ini meskipun kasusnya lebih jarang. Bakteri yang sering terlibat adalah Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae. Faktor lainnya adalah trauma vokal akibat penggunaan suara yang berlebihan secara mendadak seperti berteriak. (AAO-HNS, 2023)
Faktor Penyebab Kronis
Sementara itu, pada laringitis kronis, penyebab utamanya adalah Laryngopharyngeal Reflux (LPR). Kondisi ini terjadi akibat aliran balik asam lambung yang mengiritasi mukosa laring secara kimiawi dan konstan. (Soepardi dkk., 2022)
Oleh karena itu, paparan iritan inhalasi jangka panjang seperti asap rokok dan polusi udara juga memperparah kerusakan mukosa. Bahkan, infeksi jamur Candida albicans dapat memicu laringitis kronis pada pasien dengan penurunan sistem imun. (Cleveland Clinic, 2025)
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
Mekanisme Kerusakan Jaringan
Infiltrasi agen infeksius atau paparan iritan memicu pelepasan mediator inflamasi pada mukosa laring. Hal ini menyebabkan vasodilatasi lokal, peningkatan permeabilitas kapiler, dan pembentukan edema pada lamina propria terutama pada ruang Reinke. (Efiaty, 2023)
Akibatnya, massa pita suara meningkat dan elastisitasnya menurun, sehingga menghambat getaran simetris plika vokalis. Kondisi tersebut memicu suara serak. Edema yang berat pada area subglotis dapat mempersempit lumen jalan napas dan memicu stridor. (Soepardi dkk., 2022)
Pathway KDM
Invasi Patogen (Virus/Bakteri) / Iritan Kimia / Trauma Vokal
│
Infiltrasi dan Proses Inflamasi Laring
│
───────────────────────────────────────────────────────────
│ │
Hyperemia & Edema Mukosa Laring Nyeri Lokal / Iritasi Saraf
│ │
├───────────────────────── ▼
│ │ Nyeri Akut (D.0077)
▼ ▼
Penyempitan Ruang Peningkatan Tekanan Subglotis
Subglotis │
│ ▼
▼ Batuk Paroksismal / Spasme
Obstruksi Jalan │
Napas ▼
│ Hipersekresi Mukus
▼ │
Bersihan Jalan ▼
Napas Tidak Efektif Pelepasan Pirogen Endogen
(D.0001) │
▼
Hipertermia (D.0130)
4. Manifestasi Klinis Penyakit Laringitis
Tanda dan Gejala Subjektif
Berdasarkan keluhan pasien, data subjektif yang muncul kebanyakan oleh perubahan kualitas suara. Pasien sering kali mengeluh suara serak atau kehilangan suara total (afonia). (AAO-HNS, 2023)
Di samping itu, pasien juga merasakan sensasi mengganjal, kering, atau gatal di tenggorokan. Keluhan ini biasanya disertai dengan nyeri saat menelan (odinfagia) yang mengganggu proses makan. (Soepardi dkk., 2022)
Tanda dan Gejala Objektif
Secara klinis, pemeriksaan objektif menunjukkan perubahan suara yang terdengar parau, berat, atau melemah. Batuk kering yang terdengar menggonggong (barking cough) juga sering teramati oleh pemeriksa. (WHO, 2023)
Selanjutnya, terjadi peningkatan suhu tubuh (hipertermia) apabila penyakit ini didasari oleh proses infeksi sistemik. Pada kasus sumbatan laring derajat berat, akan tampak penggunaan otot bantu napas dan stridor inspiratoris. (IDI, 2025)
5. Pemeriksaan Penunjang Penyakit Laringitis
Laboratorium dan Radiologi
Pemeriksaan darah lengkap pada laringitis karena infeksi bakteri biasanya menunjukkan adanya leukositosis. Selain itu, melakukan kultur swab laring untuk mengidentifikasi patogen spesifik pada kasus kronis yang resisten. (Kemenkes RI, 2023)
Sementara itu, pemeriksaan radiologi berupa foto polos jaringan lunak leher posisi AP/Lateral dapat dikerjakan. Langkah ini bertujuan untuk melihat pembengkakan subglotis yang dikenal dengan steeple sign. (IJO, 2025)
Pemeriksaan Endoskopi
Oleh karena itu, pemeriksaan laringoskopi indirek atau fleksibel menjadi baku emas untuk menegakkan diagnosis. Melalui visualisasi langsung, dokter dapat menilai derajat keparahan edema pita suara. (Perhati-KL, 2024)
Secara fungsional, tindakan ini memperlihatkan adanya eritema, hiperemia, serta penumpukan sekret kental pada sekitar plika vokalis. Evaluasi ini penting untuk menyingkirkan kemungkinan keganasan pada laring. (BMJ, 2024)
6. Penatalaksanaan Medis
Tindakan Farmakologis
Pemberian kortikosteroid seperti Deksametason atau Metilprednisolon secara oral atau intravena efektif untuk meredakan edema pita suara secara cepat. Namun, obat ini diprioritaskan bagi pasien dengan kebutuhan vokal akut. (AAO-HNS, 2023)
Selanjutnya, pemberian antibiotik jika terdapat tanda infeksi bakteri sekunder yang jelas. Selain itu, analgetik-antipiretik seperti penggunaan parasetamol untuk meredakan nyeri tenggorokan dan menurunkan demam pasien. (Kemenkes RI, 2023)
Tindakan Non-Farmakologis
Sebaliknya, terapi non-farmakologis berfokus pada tindakan vocal rest atau istirahat suara total. Pasien dilarang berbicara maupun berbisik karena berbisik justru meningkatkan regangan mekanis pada pita suara. (Cleveland Clinic, 2025)
Oleh karena itu, pemenuhan hidrasi cairan yang adekuat minimal 2 liter per hari sangat dianjurkan. Penggunaan cool-mist humidifier juga membantu menjaga kelembapan mukosa jalan napas dan mengencerkan sekret. (WHO, 2023)
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
Anamnesis dan Identitas
Langkah pertama Pengkajian keperawatan dengan pengumpulan data identitas pasien meliputi nama, umur, dan pekerjaan. Faktor umur penting karena lumen laring anak-anak lebih sempit sehingga risiko obstruksi jalan napas lebih tinggi. (PPNI, 2017)
Kemudian, pengkajian riwayat kesehatan untuk mengetahui onset suara serak dan adanya faktor pencetus. Perawat juga perlu mengeksplorasi riwayat penyakit terdahulu seperti adanya penyakit lambung atau GERD. (Soepardi dkk., 2022)
Pemeriksaan Fisik Sistem Pernapasan
Memfokuskan pemeriksaan fisik pada sistem pernapasan melalui empat tahapan utama. Pada inspeksi, perawat mengamati frekuensi napas, kedalaman, adanya retraksi otot bantu dada, serta pernapasan cuping hidung. (PPNI, 2017)
Selanjutnya, melakukan palpasi untuk menilai taktil fremitus yang umumnya fungsional normal dan simetris. Pada perkusi, terdapat bunyi sonor di seluruh lapang paru, sedangkan auskultasi mendeteksi adanya stridor inspiratoris jika terjadi penyempitan laring. (Perhati-KL, 2024)
Pemeriksaan Fisik Sistem Lain
Di samping sistem pernapasan, pemeriksaan sistem kardiovaskular menunjukkan adanya takikardia akibat kompensasi demam atau hipoksia. Pada sistem pencernaan, ditemukan penurunan kemampuan menelan akibat nyeri tenggorokan yang hebat. (PPNI, 2017)
Sementara itu, pemeriksaan sistem integumen dilakukan dengan mengamati turgor kulit untuk menilai status hidrasi. Evaluasi sistem saraf juga diperlukan untuk memantau tanda gelisah akibat penurunan perfusi oksigen. (Kemenkes RI, 2023)
Pengkajian Pola Fungsi
Selanjurnya, Pola nutrisi dan metabolik biasanya mengalami gangguan sekunder akibat odinfagia yang membatasi intake makanan. Pola kognitif dan perseptual juga terganggu yang bermanifestasi sebagai hambatan dalam komunikasi verbal. (PPNI, 2017)
Oleh karena itu, pola istirahat tidur pasien sering kali terganggu akibat batuk paroksismal pada malam hari. Pengkajian pola penatalaksanaan kesehatan mengungkap adanya defisit pengetahuan tentang pembatasan penggunaan suara yang benar. (PPNI, 2017)
2. Diagnosis Keperawatan
Prioritas Diagnosis 1-5
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) b.d spasme jalan napas, edema laring sekunder akibat inflamasi.
- Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119) b.d hambatan fisik (edema pita suara/laringitis).
- Nyeri Akut (D.0077) b.d agen pencedera fisiologis (inflamasi jaringan laring).
- Hipertermia (D.0130) b.d proses penyakit (infeksi virus/bakteri pada laring).
- Defisit Nutrisi (D.0019) b.d ketidakmampuan menelan makanan sekunder akibat odinfagia.
Prioritas Diagnosis 6-10
- Risiko Hipovolemia (D.0034) d.d hambatan intake cairan akibat nyeri menelan.
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
- Ansietas (D.0080) b.d ancaman terhadap status kesehatan.
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d kurang kontrol tidur (batuk paroksismal).
- Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d kurang terpapar informasi mengenai perawatan laringitis.
3. Perencanaan (Intervensi)
Perencanaan Diagnosis 1-3
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
- Luaran Keperawatan: Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001) dengan kriteria hasil: batuk efektif meningkat, stridor menurun, frekuensi napas membaik (16-20 x/menit), pola napas membaik.
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Jalan Napas (I.01011)
- Observasi: Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas); Monitor bunyi napas tambahan (stridor, ronsen); Monitor sputum (jumlah, warna).
- Terapeutik: Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift; Posisikan Semi-Fowler atau Fowler; Berikan minum hangat; Lakukan hiperoksigenasi sebelum penghisapan endotrakeal; Berikan oksigenasi, jika perlu.
- Edukasi: Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak kontraindikasi; Ajarkan teknik batuk efektif.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu.
Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119)
- Luaran Keperawatan: Komunikasi Verbal Meningkat (L.14125) dengan kriteria hasil: kemampuan berbicara meningkat, afonia menurun, disfonia menurun, kesesuaian ekspresi wajah membaik.
- Intervensi Keperawatan: Promosi Komunikasi: Defisit Bicara (I.13492)
- Observasi: Monitor kecepatan, tekanan, kuantitas, volume, dan diksi bicara; Monitor proses kognitif, anatomis, dan fisiologis yang berkaitan dengan bicara; Monitor frustrasi, kemarahan, atau depresi.
- Terapeutik: Sesuaikan gaya komunikasi dengan kebutuhan pasien; Sediakan metode komunikasi alternatif (mis. papan tulis, kertas, kartu kata, isyarat); Berikan pujian pada setiap usaha berkomunikasi.
- Edukasi: Anjurkan berbicara perlahan; Ajarkan pasien dan keluarga proses komunikasi alternatif.
- Kolaborasi: Rujuk ke terapis wicara, jika perlu.
Nyeri Akut (D.0077)
- Luaran Keperawatan: Tingkat Nyeri Menurun (L.08066) dengan kriteria hasil: keluhan nyeri menurun, meringis menurun, sikap protektif menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi membaik.
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Nyeri (I.08238)
- Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; Identifikasi skala nyeri; Identifikasi respon nyeri non verbal; Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri.
- Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hipnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, kompres hangat/dingin); Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri; Fasilitasi istirahat dan tidur.
- Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri; Jelaskan strategi meredakan nyeri; Ajarkan teknik nonfarmakologis secara mandiri.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu.
Perencanaan Diagnosis 4-6
Hipertermia (D.0130)
- Luaran Keperawatan: Termoregulasi Membaik (L.14134) dengan kriteria hasil: menggigil menurun, kulit memerah menurun, suhu tubuh membaik (36,5 – 37,5 °C), takikardia menurun.
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Hipertermia (I.15506)
- Observasi: Identifikasi penyebab hipertermia; Monitor suhu tubuh; Monitor kadar elektrolit; Monitor haluaran urine; Monitor komplikasi akibat hipertermia.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan yang dingin; Longgarkan atau lepaskan pakaian; Basahi dan kipasi permukaan tubuh; Berikan kompres hangat pada aksila dan sinis; Hindari pemberian antipiretik secara berlebihan.
- Edukasi: Anjurkan tirah baring; Anjurkan konsumsi air yang cukup.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena, jika perlu.
Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran Keperawatan: Status Nutrisi Membaik (L.03030) dengan kriteria hasil: porsi makanan yang dihabiskan meningkat, perasaan cepat kenyang menurun, nyeri abdomen menurun, nafsu makan membaik.
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Nutrisi (I.03119)
- Observasi: Identifikasi status nutrisi; Identifikasi alergi dan intoleransi makanan; Identifikasi makanan yang disukai; Monitor asupan makanan; Monitor berat badan.
- Terapeutik: Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu; Fasilitasi menentukan pedoman diet; Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai; Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi; Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein.
- Edukasi: Anjurkan posisi duduk, jika mampu; Ajarkan diet yang diprogramkan.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan, jika perlu.
Risiko Hipovolemia (D.0034)
- Luaran Keperawatan: Status Cairan Membaik (L.03028) dengan kriteria hasil: kekuatan nadi meningkat, turgor kulit meningkat, output urine meningkat, membran mukosa lembap meningkat, intake cairan membaik.
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Hipovolemia (I.03116)
- Observasi: Periksa tanda dan gejala hipovolemia (mis. nadi teraba lemah, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, urine output menurun); Monitor intake dan output cairan.
- Terapeutik: Hitung kebutuhan cairan harian; Berikan asupan cairan oral; Berikan cairan intravena jika diindikasikan.
- Edukasi: Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral; Anjurkan menghindari perubahan posisi mendadak.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan IV isotonis (mis. NaCl, RL), jika perlu.
Perencanaan Diagnosis 7-10
Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Luaran Keperawatan: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047) dengan kriteria hasil: kemudahan melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, frekuensi nadi membaik, dispnea saat aktivitas menurun, saturasi oksigen membaik.
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Energi (I.05178)
- Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; Monitor kelelahan fisik dan emosional; Monitor pola dan jam tidur.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus; Lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif; Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan; Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur.
- Edukasi: Anjurkan tirah baring; Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap; Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan.
Ansietas (D.0080)
- Luaran Keperawatan: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093) dengan kriteria hasil: verbalisasi kebingungan menurun, verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, pucat menurun.
- Intervensi Keperawatan: Reduksi Ansietas (I.09314)
- Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; Identifikasi kemampuan mengambil keputusan; Monitor tanda-tanda ansietas.
- Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; Temani pasien untuk mengurangi kecemasan; Pahami situasi yang membuat ansietas; Dengarkan dengan penuh perhatian; Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
- Edukasi: Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami; Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis; Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien; Ajarkan teknik relaksasi.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu.
Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran Keperawatan: Pola Tidur Membaik (L.05045) dengan kriteria hasil: keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, keluhan tidak segar saat bangun menurun, kemampuan beraktivitas meningkat.
- Intervensi Keperawatan: Dukungan Tidur (I.05174)
- Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; Identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik dan/atau psikologis); Monitor pemicu batuk malam hari.
- Terapeutik: Modifikasi lingkungan (mis. pencahayaan, kebisingan, suhu, matras, dan tempat tidur); Tetapkan jadwal tidur rutin; Lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan (mis. pijat, pengaturan posisi elevasi kepala).
- Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; Anjurkan menepati jadwal tidur; Anjurkan menghindari makanan/minuman yang mengganggu tidur sebelum tidur.
Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran Keperawatan: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111) dengan kriteria hasil: perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi minat dalam belajar meningkat, kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang laringitis meningkat.
- Intervensi Keperawatan: Edukasi Kesehatan (I.12383)
- Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi; Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat.
- Terapeutik: Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan; Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan; Berikan kesempatan untuk bertanya.
- Edukasi: Jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan; Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat; Ajarkan strategi perawatan mandiri di rumah termasuk teknik istirahat suara (vocal rest).
4. Implementasi
Pelaksanaan Tindakan Utama
Implementasi keperawatan dilakukan secara sistematis berdasarkan intervensi yang telah
disusun sebelumnya dalam rencana keperawatan. Perawat berfokus pada tindakan pemeliharaan patensi jalan napas dengan memberikan posisi semifowler serta memantau karakteristik stridor. (PPNI, 2018)
Selain itu, pengelolaan teknik komunikasi nonverbal dioptimalkan dengan menyediakan papan tulis bagi pasien. Perawat juga mengelola kenyamanan fisik dengan mengompres hangat area leher untuk mengurangi intensitas nyeri lokal. (Kemenkes RI, 2023)
Pemberian Terapi dan Edukasi
Selanjutnya, perawat melaksanakan kolaborasi pemberian terapi farmakologis sesuai advis dokter seperti obat kortikosteroid atau antipiretik. Monitoring suhu tubuh dilakukan secara berkala setiap 4 jam pada pasien hipertermia. (AAO-HNS, 2023)
Oleh karena itu, edukasi kesehatan intensif mengenai pentingnya pembatasan suara (vocal rest) diberikan kepada pasien dan keluarga. Langkah ini penting guna mencegah terjadinya trauma mekanis sekunder pada jaringan plika vokalis. (Perhati-KL, 2024)
5. Evaluasi
Pendekatan Metode SOAP
Evaluasi keperawatan mengacu pada kriteria hasil dalam SLKI menggunakan pendekatan metode SOAP. Pada komponen subjektif, pasien menyatakan kemampuan menelan meningkat karena rasa mengganjal di tenggorokan mulai berkurang. (PPNI, 2019)
Sementara itu, pada data objektif, tanda-tanda fungsional vital stabil dengan frekuensi napas 18 kali per menit dan stridor menghilang. Suara pasien juga mulai terdengar lebih jelas meskipun masih memerlukan pembatasan. (IDI, 2025)
Analisis dan Tindak Lanjut
Berdasarkan data tersebut, perawat menganalisis bahwa masalah keperawatan Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif dan Gangguan Komunikasi Verbal telah teratasi. Sebaliknya, beberapa diagnosis risiko tetap dipantau perkembangannya. (PPNI, 2019)
Akhirnya, rencana tindakan atau planning diputuskan untuk dihentikan atau dilanjutkan secara mandiri di rumah. Pasien diberikan instruksi pemulangan terkait kepatuhan minum obat antirefluks dan kontrol berkala ke poliklinik THT. (Soepardi dkk., 2022)
DAFTAR PUSTAKA
AAO-HNS (2023). Clinical Practice Guideline: Hoarseness (Dysphonia). American Academy of Otolaryngology.
BMJ (2024). Acute and Chronic Laryngitis: Clinical Review. bmj.com/content/384/bmj.q124
Cleveland Clinic (2025). Laryngitis: Symptoms and Recovery Options. clevelandclinic.org/health/diseases/16524-laryngitis
CDC (2024). Respiratory Infections and Laryngeal Complications. cdc.gov/surveillance/laryngitis-data
CMA (2024). Guidelines for Upper Respiratory Inflammatory Diseases. cmj.org/article/laryngitis-consensus
Efiaty, A. S. (2023). Patofisiologi Organ THT-KL. FKUI.
IDI (2025). Panduan Praktik Klinis Dokter di Faskes Primer. IDI.
IJO (2025). Radiological Signs in Acute Laryngitis. ijohns.org/abstract/steeple-sign-larynx
JSOI (2023). Clinical Standards for Voice Disorders. jsoirldef.org/journal/v86/laryngitis
Kemenkes RI (2023). Tata Laksana Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut. Kemenkes RI.
Perhati-KL (2024). Panduan Nasional Praktik Klinis Otolaringologi. Perhati-KL.
PPNI (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. PPNI.
PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. PPNI.
PPNI (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. PPNI.
Soepardi, E. A. dkk. (2022). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. FKUI.

Tinggalkan Balasan