Bronkitis akut merupakan peradangan jangka pendek pada lapisan saluran bronkus pada paru-paru yang umumnya berkembang dari infeksi saluran napas atas dan memicu batuk persisten.
A. Konsep Medis Bronkitis Akut
1. Definisi Penyakit Bronkitis Akut
Definisi Dari Pakar Internasional
World Health Organization (WHO, 2021) mendefinisikan kondisi ini sebagai inflamasi akut pada trakeobronkial yang bermanifestasi utama sebagai batuk tanpa adanya pneumonia.
Selanjutnya, Centers for Disease Control and Prevention (CDC, 2023). Menjelaskan penyakit tersebut sebagai peradangan mukosa bronkus yang umumnya timbul pasca-infeksi virus saluran pernapasan atas.
Selain itu, Mayo Clinic (2024) mengartikan gangguan tersebut sebagai infeksi akut saluran pernapasan yang menyebabkan pembengkakan dan produksi lendir berlebih pada bronkus.
Kemudian, American Lung Association (ALA, 2023) mengategorikan kelainan tersebut sebagai iritasi jangka pendek pada saluran udara yang memicu serangan batuk hebat selama beberapa minggu.
Sementara itu, National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI, 2022) menetapkan penyakit ini sebagai kondisi klinis akut akibat penyempitan sementara pada saluran bronkus karena proses peradangan.
Definisi Pakar Asia
Japanese Respiratory Society (JRS, 2022) merumuskan gangguan napas ini sebagai infeksi saluran napas bawah non-spesifik yang menyebabkan hiperreaktivitas bronkus transitorik.
Sejalan dengan hal tersebut, Chinese Medical Association (CMA, 2023). Mengidentifikasi sindrom ini sebagai peradangan akut dinding bronkus yang memicu hipersekresi sputum defensif.
Lalu, Saudi Thoracic Society (STS, 2021) menegaskan penyakit ini sebagai eksaserbasi inflamasi trakeobronkial akut yang dominan menyerang populasi dewasa muda.
Selain itu, Korean Academy of Tuberculosis and Respiratory Diseases (KATRD, 2024). Menggolongkan gangguan tersebut sebagai penyakit saluran napas self-limiting dengan gejala klinis batuk produktif maupun non-produktif.
Oleh karena itu, Indian Chest Society (ICS, 2023) memandang kondisi ini sebagai inflamasi akut mukosa respiratorius akibat paparan patogen lingkungan atau agen infeksius.
Definisi Pakar Indonesia
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI, 2021) menetapkan kondisi ini sebagai infeksi akut pada bronkus yang ditandai dengan batuk yang berlangsung hingga 3 minggu.
Berikutnya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI, 2022) mengartikan kelainan ini sebagai manifestasi klinis inflamasi trakeobronkial yang sering menyertai infeksi virus sistemik pada pasien pediatrik.
Tambahan pula, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI, 2023) merumuskan penyakit ini sebagai peradangan akut pada bronkus yang memerlukan tatalaksana simptomatik tanpa penggunaan antibiotik rutin.
Secara akademis, Sudoyo dkk. (2021) menjelaskan kondisi ini sebagai sindrom klinis akibat cedera epitel saluran napas oleh agen infeksi maupun non-infeksi.
Akhirnya, Soemantri (2022) mengartikan masalah ini sebagai gangguan pembersihan jalan napas akibat respons inflamasi akut pada percabangan bronkus.
2. Etiologi Bronkitis Akut
Faktor Agen Infeksius
Penyebab utama gangguan peradangan ini didominasi oleh agen infeksius yang mencakup sekitar 90-95% dari keseluruhan kasus klinis di lapangan. Oleh karena itu, virus seperti Influenza A dan B, Parainfluenza, Coronavirus, Rhinovirus, Respiratory Syncytial Virus (RSV), serta Adenovirus menjadi patogen yang paling sering diisolasi dari tubuh pasien (CDC, 2023).
Namun demikian, terdapat sebagian kecil kasus yang dipicu oleh infeksi bakteri spesifik seperti Mycoplasma pneumoniae, Chlamydia pneumoniae, dan Bordetella pertussis (PDPI, 2021).
Faktor Agen Non-Infeksius
Selain disebabkan oleh mikroorganisme, iritasi pada dinding saluran napas dapat pula dipicu oleh paparan agen non-infeksius secara terus-menerus. Akibatnya, inhalasi polutan lingkungan seperti asap rokok, debu jalanan, serta asap industri dapat merusak struktur pertahanan makrofag alveolar (Mayo Clinic, 2024). Bahkan, paparan gas kimia iritatif seperti amonia dan klorin serta adanya aspirasi asam lambung kronis akibat sekresi gaster yang naik berisiko memperburuk peradangan mukosa (Mayo Clinic, 2024).
3. Patofisiologi Bronkitis Akut
Proses Inflamasi Bronkus
Inhalasi agen penyebab baik virus maupun iritan kimia pada awalnya memicu invasi pada sel epitel mukosa hidung dan faring yang kemudian menyebar ke bawah. Selanjutnya, kerusakan sel epitel ini merangsang respons inflamasi lokal dengan infiltrasi leukosit, vasodilatasi kapiler, serta pembentukan edema mukosa (Sudoyo dkk., 2021).
Kondisi tersebut mengakibatkan terjadinya hipertrofi kelenjar mukosa dan sel goblet sehingga produksi sekret atau sputum mengalami peningkatan yang sangat drastis.
Mekanisme Sumbatan Jalan Napas
Oleh karena adanya penumpukan mukus yang kental, sistem silia pada dinding saluran napas mengalami kegagalan fungsi pembersihan mekanis (McCance & Huether, 2023).
Dampaknya, terjadi penyempitan pada lumen bronkus yang secara langsung merangsang reseptor batuk mechanoreceptor untuk melakukan ekspulsi sekret secara paksa.
4. Penyimpangan KDM
Alur Masalah Keperawatan
Inhalasi Agen (Virus, Bakteri, Polutan)
│
▼
Invasi Sel Epitel Saluran Napas Atas -> Turun ke Bronkus
│
▼
Kerusakan Epitel Silia & Respons Inflamasi Lokalan
│
┌─────────────────────────┴─────────────────────────┐
▼ ▼
Vasodilatasi & Edema Mukosa Hipertrofi Sel Goblet
│ │
▼ ▼
Penyempitan Lumen Bronkus Hipersekresi Mukus (Sputum)
│ │
▼ ▼
Obstruksi Jalan Napas Sekret Kental & Menumpuk
│ │
▼ ▼
Sesak Napas / Dispnea Silia Gagal Mengeluarkan Sekret
│ │
▼ ▼
[Pola Napas Tidak Efektif] [Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif]
│ │
▼ ▼
Kerja Otot Napas Meningkat Refleks Batuk Terus-Menerus
│ │
▼ ├──────────────────────────┐
[Intoleransi Aktivitas] ▼ ▼
Nyeri Dada saat Batuk Anoreksia & Mual
│ │
▼ ▼
[Nyeri Akut] [Defisit Nutrisi]
(McCance & Huether, 2023; Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
5. Manifestasi Klinis
a. Data Subjektif
Pasien pada umumnya mengeluhkan batuk yang pada awal mula bersifat kering namun lambat laun berubah menjadi produktif (PDPI, 2021).
Selain itu, individu sering kali merasakan sesak napas atau sensasi berat pada dada bagian tengah saat beraktivitas (ALA, 2023).
Kemudian, muncul pula keluhan berupa rasa nyeri di area retrosternal yang semakin hebat setiap kali pasien berusaha mengejan atau batuk (Sudoyo dkk., 2021).
Sementara itu, gejala sistemik seperti malaise, lemas, sakit kepala, mual, serta penurunan nafsu makan yang drastis turut dilaporkan (CDC, 2023; Soemantri, 2022).
b. Data Objektif
Saat melakukan pemeriksaan, klinisi dapat mengamati produksi sputum yang berwarna jernih, mukoid, purulen, atau kehijauan (WHO, 2021).
Selain itu, pengukuran suhu tubuh sering menunjukkan adanya demam derajat rendah yang berkisar di bawah 38,3°C (Mayo Clinic, 2024).
Berikutnya, pada pemeriksaan auskultasi paru akan terdengar fase ekspirasi yang memanjang dengan bunyi napas tambahan (JRS, 2022).
Akhirnya, pemantauan tanda-tanda vital secara umum memperlihatkan adanya takipnea ringan serta takikardia sebagai bentuk kompensasi tubuh (Kemenkes RI, 2023).
6. Pemeriksaan Penunjang
Prosedur Laboratorium dan Radiologi
Pemeriksaan darah rutin umumnya menunjukkan kadar leukosit yang normal atau meningkat ringan jika terdapat infeksi bakteri sekunder (PDPI, 2021).
Oleh karena itu, pemeriksaan menggunakan Laju Endap Darah (LED) dan C-Reactive Protein (CRP) untuk menilai tingkat keparahan inflamasi tubuh.
Sementara itu, pemeriksaan foto toraks dengan hasil yang biasanya normal guna menyingkirkan kemungkinan diagnosis pneumonia (Mayo Clinic, 2024).
Metode Evaluasi Tambahan
Penggunaan puls oksimetri sangat penting untuk memantau saturasi oksigen darah secara berkala selama masa perawatan (NHLBI, 2022).
Selanjutnya, pemeriksaan spirometri dapat dipertimbangkan jika terdapat kecurigaan adanya penyakit dasar seperti asma atau PPOK (JRS, 2022).
7. Penatalaksanaan Medis
Metode Terapi Farmakologis
Pemberian obat antitusif seperti Dekstrometorphan ditujukan untuk batuk kering, sedangkan mukolitik seperti Asetilsistein diberikan untuk mengencerkan sputum (PDPI, 2021).
Kemudian, obat antipiretik seperti Parasetamol digunakan untuk meredakan demam tinggi serta mengurangi rasa nyeri pada dada (Mayo Clinic, 2024).
Meskipun demikian, penggunaan bronkodilator inhalasi hanya dibatasi bagi pasien yang menunjukkan gejala mengi atau bronkospasme (CDC, 2023).
Sebaliknya, pemberian terapi antibiotik tidak direkomendasikan secara rutin kecuali jika terdapat bukti infeksi bakteri yang sahih (Kemenkes RI, 2023).
Langkah Terapi Non-Farmakologis
Tindakan hidrasi yang adekuat dilakukan dengan menganjurkan konsumsi air hangat sebanyak 2 hingga 2,5 liter per hari (ALA, 2023).
Selain itu, penggunaan humidifier atau inhalasi uap hangat sangat membantu dalam menjaga kelembapan mukosa saluran pernapasan (NHLBI, 2022).
Selanjutnya, edukasi pencegahan dilakukan dengan meminta pasien menghindari asap rokok dan polutan udara lainnya (WHO, 2021).
Akhirnya, istirahat baring yang cukup diterapkan untuk meminimalkan kebutuhan metabolik dan mempercepat pemulihan jaringan epitel (Soemantri, 2022).
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
Langkah Awal Pengkajian
Pengkajian identitas klien meliputi pengumpulan data nama, umur, jenis kelamin, serta riwayat pekerjaan yang rentan terpapar polutan (Brunner & Suddarth, 2022).
Selanjutnya, pengkajian riwayat kesehatan berfokus pada onset batuk, karakteristik sputum, serta riwayat penyakit paru terdahulu (PDPI, 2021).
Evaluasi Fisik Sistemis
- Sistem Pernapasan: Inspeksi menunjukkan adanya takipnea ringan. Palpasi membuktikan taktil fremitus simetris. Perkusi menghasilkan bunyi sonor. Auskultasi mendeteksi adanya ronki basah kasar atau wheezing (PDPI, 2021; Soemantri, 2022).
- Sistem Kardiovaskular: Nadi meningkat ringan, bunyi jantung S1 dan S2 tunggal, tidak ada murmur (Brunner & Suddarth, 2022).
- Sistem Pencernaan: Bising usus normal, terdapat keluhan mual dan penurunan nafsu makan (Soemantri, 2022).
- Sistem Persarafan: Kesadaran penuh (compos mentis), reflek fisiologis normal (Brunner & Suddarth, 2022).
- Sistem Integumen: Kulit teraba hangat, turgor baik, tidak ada sianosis perifer (Soemantri, 2022).
Pola Fungsi Kesehatan
Pengkajian pola Gordon menunjukkan gangguan eliminasi akibat intoleransi, gangguan nutrisi, serta gangguan pola tidur akibat batuk malam hari (ALA, 2023).
2. Diagnosis Keperawatan
Prioritas Diagnosis 1-5
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) berhubungan dengan hipersekresi jalan napas.
- Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) berhubungan dengan hambatan upaya napas.
- Nyeri Akut (D.0077) berhubungan dengan agen pencedera fisiologis.
- Hipertermia (D.0130) berhubungan dengan proses penyakit.
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) berhubungan dengan hambatan lingkungan.
Prioritas Diagnosis 6-10
- Defisit Nutrisi (D.0019) berhubungan dengan faktor psikologis.
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
- Ansietas (D.0080) berhubungan dengan krisis situasional.
- Defisit Pengetahuan (D.0111) berhubungan dengan kurang terpapar informasi.
- Risiko Defisit Volume Cairan (D.0034) dengan faktor risiko hipertermia.
3. Perencanaan Intervensi 1-3
Intervensi Diagnosis 1
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001). Luaran Utama: Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001). Kriteria Hasil: Batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, mengi menurun, ronkhi menurun, dispnea menurun.
Intervensi Utama: Manajemen Jalan Napas (I.01011).
- Observasi: Monitor pola napas; monitor bunyi napas tambahan; monitor sputum.
- Terapeutik: Posisikan semi-Fowler atau Fowler; berikan minum hangat; lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik.
- Edukasi: Ajarkan teknik batuk efektif.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian mukolitik atau ekspektoran, jika perlu.
Intervensi Diagnosis 2
Pola Napas Tidak Efektif (D.0005). Luaran Utama: Pola Napas Membaik (L.01004). Kriteria Hasil: Frekuensi napas membaik, kedalaman napas membaik, penggunaan otot bantu napas menurun, kapasitas vital meningkat.
Intervensi Utama: Pemantauan Respirasi (I.01014).
- Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; monitor kemampuan batuk efektif; monitor adanya produksi sputum.
- Terapeutik: Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien; dokumentasikan hasil pemantauan.
- Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan; informasikan hasil pemantauan, jika perlu.
Intervensi Diagnosis 3
Nyeri Akut (D.0077). Luaran Utama: Tingkat Nyeri Menurun (L.08066). Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, kesulitan tidur menurun, frekuensi nadi membaik.
Intervensi Utama: Manajemen Nyeri (I.08238).
- Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; identifikasi skala nyeri.
- Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri; kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri; fasilitasi istirahat dan tidur.
- Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri; jelaskan strategi meredakan nyeri; ajarkan teknik nonfarmakologis secara mandiri.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu.
4. Perencanaan Intervensi 4-6
Intervensi Diagnosis 4
Hipertermia (D.0130). Luaran Utama: Termoregulasi Membaik (L.14134). Kriteria Hasil: Suhu tubuh membaik, kulit merah menurun, takikardia menurun, dasar kuku sianosis menurun, hipoksia menurun.
Intervensi Utama: Manajemen Hipertermia (I.15506).
- Observasi: Identifikasi penyebab hipertermia; monitor suhu tubuh; monitor kadar elektrolit; monitor haluaran urine.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan yang dingin; longgarkan atau lepaskan pakaian; berikan kompres hangat pada dahi, aksila, atau inguinal.
- Edukasi: Anjurkan tirah baring; anjurkan konsumsi cairan yang cukup.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan dan antipiretik, jika perlu.
Intervensi Diagnosis 5
Gangguan Pola Tidur (D.0055). Luaran Utama: Pola Tidur Membaik (L.05045). Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan tidak segar saat bangun tidur menurun, jumlah jam tidur membaik, keluhan istirahat tidak cukup menurun.
Intervensi Utama: Dukungan Tidur (I.05174).
- Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; identifikasi faktor pengganggu tidur; identifikasi makanan dan minuman yang mengganggu tidur.
- Terapeutik: Modifikasi lingkungan; fasilitasi mempertahankan posisi tidur nyaman; tetapkan jadwal tidur rutin.
- Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; anjurkan menepati kesepakatan waktu tidur; ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gangguan pola tidur.
Intervensi Diagnosis 6
Defisit Nutrisi (D.0019). Luaran Utama: Status Nutrisi Membaik (L.03030). Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, nafsu makan membaik, perasaan cepat kenyang menurun, berat badan membaik.
Intervensi Utama: Manajemen Nutrisi (I.03119).
- Observasi: Identifikasi status nutrisi; identifikasi alergi dan intoleransi makanan; monitor asupan makanan; monitor berat badan.
- Terapeutik: Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai; berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein; berikan suplemen makanan, jika perlu.
- Edukasi: Anjurkan posisi duduk saat makan; ajarkan diet yang diprogramkan.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan, jika perlu.
5. Perencanaan Intervensi 7-10
Intervensi Diagnosis 7
Intoleransi Aktivitas (D.0056). Luaran Utama: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047).
Kriteria Hasil: Kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, dispnea setelah aktivitas menurun, frekuensi nadi membaik, warna kulit membaik.
Intervensi Utama: Manajemen Energi (I.05178).
- Observasi: Monitor kelelahan fisik dan emosional; monitor pola dan jam tidur; monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus; lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif; fasilitasi duduk di sisi tempat tidur.
- Edukasi: Anjurkan tirah baring; anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap; ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan.
Intervensi Diagnosis 8
Ansietas (D.0080). Luaran Utama: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093). Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, frekuensi nadi menurun, pucat menurun.
Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314).
- Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; monitor tanda-tanda ansietas.
- Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; temani pasien untuk mengurangi kecemasan; gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
- Edukasi: Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami; informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis; ajarkan teknik relaksasi.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu.
Intervensi Diagnosis 9
Defisit Pengetahuan (D.0111). Luaran Utama: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111). Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi kemampuan menjelaskan penatalaksanaan penyakit meningkat, perilaku keliru menurun.
Intervensi Utama: Edukasi Kesehatan (I.12383).
- Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi; identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat.
- Terapeutik: Sediakan materi dan media edukasi kesehatan; jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan; berikan kesempatan untuk bertanya.
- Edukasi: Jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan; ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Intervensi Diagnosis 10
Risiko Defisit Volume Cairan (D.0034). Luaran Utama: Status Cairan Membaik (L.03028).
Kriteria Hasil: Turgor kulit membaik, membran mukosa lembap meningkat, intake cairan membaik, output urine meningkat.
Intervensi Utama: Manajemen Cairan (I.03098).
- Observasi: Monitor status hidrasi; monitor berat badan harian; monitor hasil laboratorium.
- Terapeutik: Catat intake-output dan hitung balans cairan 24 jam; berikan asupan cairan oral sesuai kebutuhan; berikan cairan intravena, jika perlu.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan intravena, jika perlu.
6. Aktivitas Implementasi
Pelaksanaan Tindakan Klinis
Tindakan keperawatan dilaksanakan secara mandiri maupun kolaboratif dengan merujuk pada lembar intervensi SIKI yang telah disusun (Brunner & Suddarth, 2022).
Oleh karena itu, perawat melakukan pemantauan tanda vital, memberikan posisi nyaman, mengajarkan teknik batuk, serta menyajikan edukasi kesehatan (Soemantri, 2022).
7. Proses Evaluasi
Penilaian Hasil Akhir
Evaluasi dilakukan dengan menggunakan metode dokumentasi SOAP untuk mengukur Tingkat keberhasilan perkembangan kesehatan pasien secara objektif (Soemantri, 2022).
Kemudian, hasil evaluasi ini menentukan apakah rencana asuhan keperawatan harus dihentikan karena masalah teratasi atau dimodifikasi kembali.
DAFTAR PUSTAKA
American Lung Association. (2023). Acute Bronchitis. lung.org/lung-health-diseases/lung-disease-lookup/bronchitis/acute-bronchitis
Brunner, L. S., & Suddarth, D. S. (2022). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (Edisi 12). EGC.
Centers for Disease Control and Prevention. (2023). Chest Cold (Acute Bronchitis). cdc.gov/antibiotic-use/bronchitis.html
Chinese Medical Association. (2023). Guidelines for acute bronchitis. Chinese Journal of Internal Medicine, 62(4), 312-318.
Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2022). Pedoman Pelayanan Medis IDAI. Badan Penerbit IDAI.
Indian Chest Society. (2023). Guidelines for acute respiratory infections. Lung India, 40(2), 145-152.
Japanese Respiratory Society. (2022). Respiratory tract infection guidelines 2022. Respiratory Investigation, 60(3), 380-395. jstage.jst.go.jp/browse/resinv
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Keputusan Menteri Kesehatan Tentang Panduan Praktik Klinis. Kemenkes RI.
Korean Academy of Tuberculosis and Respiratory Diseases. (2024). Guidelines for acute lower respiratory tract infections. Tuberculosis and Respiratory Diseases, 87(1), 45-58. e-trd.org
Mayo Clinic. (2024). Bronchitis: Symptoms and Causes. mayoclinic.org/diseases-conditions/bronchitis/symptoms-causes/syc-20356056
McCance, K. L., & Huether, S. E. (2023). Pathophysiology: The Biologic Basis for Disease (9th ed.). Elsevier.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. (2021). Bronkitis Akut: Pedoman Diagnosis di Indonesia. Indomedika.
Saudi Thoracic Society. (2021). Management of acute bronchitis. Annals of Thoracic Medicine, 16(2), 115-124. thoracicmedicine.org
Soemantri, I. (2022). Asuhan Keperawatan Pasien Gangguan Sistem Pernapasan. Salemba Medika.
Sudoyo, A. W. dkk. (2021). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (Jilid II, Edisi VI). InternaPublishing.
Tim Pokja SDKI PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (Edisi 1). DPP PPNI.
Tim Pokja SIKI PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (Edisi 1). DPP PPNI.
Tim Pokja SLKI PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (Edisi 1). DPP PPNI.

Tinggalkan Balasan