HEMOTORAKS KONSEP MEDIS

Hemotoraks merupakan kondisi medis darurat akibat akumulasi darah dalam rongga pleura yang dapat mengganggu ventilasi dan sirkulasi pernapasan secara signifikan.

A. KONSEP MEDIS HEMOTORAKS

1. Definisi Penyakit Hemotoraks

(Kemenkes RI, 2024, WHO, 2023)

Definisi Dari Pakar Internasional

Kemenkes RI (2024) mengutip WHO (2023) menyatakan bahwa pakar traumatology internasional mengartikan kondisi ini sebagai kehadiran darah dalam kavitas pleura dengan kadar hematokrit cairan pleura mencapai minimal 50% dari kadar darah perifer.

Selanjutnya, Kemenkes RI (2024) mengutip ATLS (2022) menegaskan bahwa American College of Surgeons memaknai fenomena ini sebagai penumpukan darah secara cepat pada rongga dada akibat trauma tumpul maupun tajam yang mengancam jiwa.

Kemudian, Kemenkes RI (2024) mengutip Broderick (2021) menjelaskan bahwa penyakit ini merupakan akumulasi cairan serosanguinus atau darah murni dalam ruang potensial antara pleura viseralis dan parietalis sehingga mekanika pernapasan normal menjadi terganggu.

Sementara itu, Kemenkes RI (2024) mengutip Porcel (2020) mengategorikan perdarahan non-traumatis sebagai efusi pleura hemoragik akibat ruptur pembuluh darah intratoraks, kelainan koagulasi, ataupun keganasan organ dada.

Akhirnya, Kemenkes RI (2024) mengutip Light (2019) mendeskripsikan gangguan ini sebagai konsekuensi dari cedera vaskular interkostal atau parenkim paru yang menyebabkan darah mengisi ruang pleura dan memicu kolaps paru anatomis.

Definisi Dari Pakar Asia

Kemenkes RI (2024) mengutip Kuon (2023) dari Jepang mendefinisikan perdarahan spontan sebagai kebocoran darah masif tiba-tiba dalam rongga pleura tanpa adanya riwayat trauma vaskular yang jelas.

selain itu, Kemenkes RI (2024) mengutip Singh (2022) selaku pakar bedah toraks India mengartikan kondisi ini sebagai komplikasi pasca-trauma dada akut yang memerlukan evakuasi segera guna mencegah syok hipovolemik.

Lalu, Kemenkes RI (2024) mengutip Kim (2021) dari Korea Selatan memaknai gangguan ini sebagai pengumpulan cairan densitas tinggi dalam kavitas pleura yang mengindikasikan adanya perdarahan aktif melalui pemeriksaan radiologi.

Selanjutnya, Kemenkes RI (2024) mengutip Lin (2020) dari Taiwan mengarakteristikkan kondisi tersebut sebagai kegawatdaruratan pleura akibat ruptur arteri mamaria interna yang memicu gangguan hemodinamik berat.

Oleh karena itu, Kemenkes RI (2024) mengutip Rahman (2019) dari Bangladesh menyebutkan fenomena ini sebagai komplikasi sekunder dari infeksi kronis paru lanjut yang merusak struktur pembuluh darah interkostal dekat dinding dada.

Definisi Dari Pakar Indonesia

Kemenkes RI (2024) secara resmi merumuskan kejadian ini sebagai penumpukan darah di rongga pleura yang umumnya terjadi pasca-trauma dada dan membutuhkan tindakan pemasangan selang dada darurat.

Berhubungan dengan hal itu, Kemenkes RI (2024) mengutip Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (2022) menetapkan penyakit ini sebagai bentuk efusi pleura eksudatif hemoragik yang secara klinis menimbulkan sesak napas akut.

Selain itu, Kemenkes RI (2024) mengutip Sjamsuhidajat (2021) menguraikan masalah ini sebagai perdarahan ke dalam rongga dada yang berasal dari dinding dada, otot interkostal, diafragma, maupun parenkim paru.

Secara serupa, Kemenkes RI (2024) mengutip Alsagaff (2020) memaparkan gangguan ini sebagai kondisi restriktif paru akut di mana darah menduduki ruang mekanis, sehingga paru-paru kehilangan kemampuan untuk mengembang sempurna.

Sebagai penutup, Kemenkes RI (2024) mengutip Muttaqin (2019) mendefinisikan keadaan ini sebagai penimbunan darah di kavitas pleura yang berisiko memicu syok hemoragik masif serta gagal napas akut akibat kolaps alveoli.

2. Etiologi Penyakit Hemotoraks

(Kemenkes RI, 2024, Sjamsuhidajat, 2021)

Faktor Trauma Dada

Faktor penyebab utama gangguan ini yaitu trauma tumpul dada akibat kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari ketinggian yang memicu fraktur kosta, sehingga fragmen tulang merobek arteri interkostal. Sebaliknya, trauma tajam dada akibat luka tusuk atau luka tembak secara langsung menembus dinding dada dan merusak pembuluh darah besar seperti aorta atau arteri mamaria interna.

Faktor Non-Trauma dan Iatrogenik

Selain akibat cedera fisik, tindakan medis atau iatrogenik seperti komplikasi pemasangan kateter vena sentral, biopsi pleura, maupun operasi kardiotoraks dapat memicu perdarahan serupa. Sementara itu, kejadian spontan non-traumatik dapat disebabkan oleh keganasan kanker paru, penggunaan obat antikoagulan dosis tinggi, penyakit hemofilia, serta ruptur aneurisma aorta torakalis.

3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM

(Sjamsuhidajat, 2021, Muttaqin, 2019)

Mekanisme Kerusakan Pleura

Ketika terjadi robekan pembuluh darah di toraks, darah mengalir cepat ke rongga pleura yang bertekanan negatif. Akibat akumulasi darah tersebut, tekanan intrapleura berubah menjadi positif, sehingga memaksa paru-paru mengalami kolaps kompresif atau atelektasis.

Dampak Hemodinamik

Akibat atelektasis, luas permukaan ventilasi menurun drastis sehingga memicu hipoksia berat. Secara simultan, kehilangan darah masif ke dalam rongga dada menurunkan volume intravaskular, mengurangi aliran balik vena, menggeser mediastinum, dan akhirnya memicu syok hipovolemik.

Pathway Keperawatan

Berikut adalah alur penyimpangan KDM:

  • Trauma/Non-Trauma ──► Robekan Vaskular ──► Darah masuk Pleura.
  • Akumulasi Darah ──► Tekanan positif intrapleura ──► Ekspansi paru menurun ──► Pola Napas Tidak Efektif (D.0005).
  • Perdarahan Masif ──► Volume intravaskular menurun ──► Hipovolemia (D.0023) ──► Penurunan Curah Jantung (D.0008).

4. Manifestasi Klinis Hemotoraks

(PDPI, 2022, ATLS, 2022)

a. Data Subjektif

Oleh karena paru mengalami kolaps, pasien mengeluhkan sesak napas akut dan progresif. Pasien juga mengeluhkan nyeri dada tajam terlokalisasi yang semakin hebat saat bernapas dalam, serta mengeluhkan pusing dan lemas akibat tanda awal syok.

b. Data Objektif Sistemik

Berdasarkan hasil pemeriksaan, tanda klinis menunjukkan takipnea, takikardia, hipotensi, dan sianosis periferal. Dada yang sakit tampak tertinggal saat bernapas, accompanied dengan deviasi trakea menjauhi area perdarahan masif.

c. Data Objektif Lokalisasi Toraks

Saat malakukan pemeriksaan fisik dada, perawat menemukan traktus fremitus taktil menurun pada area perdarahan. Selanjutnya, suara perkusi menunjukkan redup hingga pekak, disertai penurunan atau hilangnya suara napas vesikuler melalui auskultasi.

5. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik

(Broderick, 2021, Kim, 2021)

a. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan Analisa Gas Darah menunjukkan hipoksemia (PaO2​<80 mm Hg) dan asidosis. Kadar hemoglobin serta hematokrit darah menurun drastis, sementara hematokrit cairan pleura bernilai ≥50% dari kadar darah perifer.

b. Pemeriksaan Radiologi dan Lainnya

Foto toraks erektus memperlihatkan perselubungan putih homogen yang menutupi sudut kostofrenikus. CT-Scan toraks memastikan lokasi perdarahan aktif, sedangkan ultrasonografi eFAST mendeteksi cairan rongga pleura secara cepat pada ruang darurat.

6. Penatalaksanaan Hemotoraks Secara Medis

(ATLS, 2022, Sjamsuhidajat, 2021)

a. Terapi Farmakologis

Sebagai langkah awal, tim medis memberikan oksigen aliran tinggi via Non-Rebreathing Mask atau ventilator. Selanjutnya, resusitasi cairan kristaloid hangat diberikan bersama transfusi darah, bersamaan pemberian analgetik opioid serta antibiotik spektrum luas.

b. Terapi Non-Farmakologis

Tindakan utama dilakukan melalui pemasangan Chest Tube atau WSD ukuran 28-32 French guna mengevakuasi darah. Jika drainase awal >1500 mL atau perdarahan kontinu >200 mL/jam selama 3 jam, maka torakotomi emergensi harus segera dilakukan.

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Kondisi Hemotoraks

(Muttaqin, 2019, PDPI, 2022)

a. Identitas dan Riwayat Kesehatan

Perawat mengidentifikasi nama, umur, dan mekanisme trauma pasien. Keluhan utama berfokus pada sesak napas hebat dan nyeri dada pleuritik, beserta riwayat penggunaan obat antikoagulan atau penyakit paru kronis sebelumnya.

b. Pemeriksaan Fisik Terfokus

Pemeriksaan fisik berfokus penuh pada sistem pernapasan dan kardiovaskular. Inspeksi dada menunjukkan pergerakan asimetris, palpasi membuktikan penurunan fremitus taktil, perkusi menghasilkan suara pekak, dan auskultasi mengonfirmasi hilangnya suara napas vesikuler pada area cedera.

c. Pemeriksaan Sistem Tubuh Lain

Sistem persarafan menunjukkan penurunan kesadaran akibat hipoksia jaringan otak. Sistem perkemihan mendeteksi oliguria akibat penurunan perfusi ginjal, sedangkan pemeriksaan integumen mendapati akral dingin, pucat, diaphoresis, disertai adanya jejas pada dinding toraks.

d. Pengkajian Pola Fungsi

Pola aktivitas-latihan terganggu total sekunder akibat distres pernapasan berat. Pola eliminasi mengalami penurunan output urine akibat hipovolemia, sementara pola kenyamanan terganggu akibat nyeri akut pasca-trauma maupun akibat insersi selang dada.

2. Diagnosis Keperawatan (D.0001 – D.0077) (PPNI, 2017)

D. 0005 Pola Napas Tidak Efektif

  1. Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) berhubungan dengan hambatan upaya napas dibuktikan dengan dispnea, penggunaan otot bantu napas, fase ekspirasi memanjang, pola napas abnormal, dan ekskursi dada asimetris.

D.0003 Gangguan Pertukaran Gas

  1. Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) berhubungan dengan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi dibuktikan dengan dispnea, PCO2​ meningkat/menurun, PO2​ menurun, takikardia, pH arteri abnormal, dan sianosis.

D.0008 Penurunan Curah Jantung

  1. Penurunan Curah Jantung (D.0008) berhubungan dengan perubahan dalam aliran balik vena dibuktikan dengan perubahan tekanan darah, penurunan nadi perifer, oliguria, akral dingin, dan perubahan posisi mediastinum.

D.0023 Hipovolemia

  1. Hipovolemia (D.0023) berhubungan dengan kehilangan cairan aktif dibuktikan dengan frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, turgor kulit menurun, volume urine menurun, dan hematokrit meningkat/menurun.

D.0077 Nyeri Akut

  1. Nyeri Akut (D.0077) berhubungan dengan agen pencedera fisik dibuktikan dengan mengeluh nyeri, tampak meringis, bersikap protektif, gelisah, frekuensi nadi meningkat, dan pola napas berubah.

3. Diagnosis Keperawatan (D.0004 – D.0142) (PPNI, 2017)

D.0004 Gangguan Ventilasi Spontan

  1. Gangguan Ventilasi Spontan (D.0004) berhubungan dengan kelelahan otot pernapasan dibuktikan dengan dispnea, penggunaan otot bantu napas meningkat, volume tidal menurun, dan PCO2​ meningkat.

D.0009 Perfusi Perifer Tidak Efektif

  1. Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009) berhubungan dengan penurunan aliran darah arteri dibuktikan dengan pengisian kapiler >3 detik, nadi perifer menurun atau tidak teraba, akral dingin, dan warna kulit pucat.

D.0080 Ansietas

  1. Ansietas (D.0080) berhubungan dengan ancaman terhadap kematian dibuktikan dengan merasa bingung, merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi, tampak gelisah, tampak tegang, dan frekuensi nadi meningkat.

D.0560 Intoleransi Aktivitas

  1. Intoleransi Aktivitas (D.0560) berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen dibuktikan dengan mengeluh lelah, frekuensi jantung meningkat >20% akibat aktivitas, dispnea saat/setelah aktivitas, dan merasa lemah.

D.0142 Risiko Infeksi

  1. Risiko Infeksi (D.0142) ditandai dengan faktor risiko efek prosedur invasif berupa tindakan insersi kateter toraks dan alat drainase dada (WSD).

4. Perencanaan Intervensi (Fokus Respirasi & Jantung)

(PPNI, 2019, PPNI, 2018)

Perencanaan Pola Napas (D.0005)

  • Luaran: Pola Napas Membaik (L.01004). Kriteria: Dispnea menurun, frekuensi napas membaik (16−20 x/menit).
  • Intervensi: Manajemen Jalan Napas (I.01011). Observasi pola napas; Terapeutik: Posisikan Semi-Fowler; Edukasi: Teknik batuk efektif.

Perencanaan Pertukaran Gas (D.0003)

  • Luaran: Pertukaran Gas Meningkat (L.01003). Kriteria: PO2​ membaik (80−100 mm Hg), Sianosis menurun.
  • Intervensi: Pemantauan Respirasi (I.01014). Observasi AGD dan ekspansi paru; Terapeutik: Atur interval pemantauan.

Perencanaan Curah Jantung (D.0008)

  • Luaran: Curah Jantung Meningkat (L.02008). Kriteria: Nadi teraba kuat, Tekanan darah normal.
  • Intervensi: Perawatan Jantung Akut (I.02075). Observasi EKG; Terapeutik: Tirah baring penuh; Kolaborasi: Terapi inotropik.

5. Perencanaan Intervensi (Fokus Cairan & Nyeri)

(PPNI, 2019, PPNI, 2018)

Perencanaan Hipovolemia (D.0023)

  • Luaran: Status Cairan Membaik (L.03028). Kriteria: Turgor kulit meningkat, Output urine membaik.
  • Intervensi: Manajemen Hipovolemia (I.03116). Observasi intake-output; Terapeutik: Akses IV dua jalur; Kolaborasi: Transfusi darah.

Perencanaan Nyeri Akut (D.0077)

  • Luaran: Tingkat Nyeri Menurun (L.08066). Kriteria: Keluhan nyeri menurun, Meringis menurun.
  • Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238). Observasi PQRST nyeri; Terapeutik: Teknik non-farmakologis; Kolaborasi: Analgetik opioid.

Perencanaan Ventilasi Spontan (D.0004)

  • Luaran: Ventilasi Spontan Meningkat (L.01007). Kriteria: Volume tidal meningkat, PCO2​ membaik.
  • Intervensi: Dukungan Ventilasi (I.01002). Observasi kelelahan otot napas; Terapeutik: Siapkan intubasi jika perlu.

6. Perencanaan Intervensi (Fokus Sirkulasi & Psikososial)

(PPNI, 2019, PPNI, 2018)

Perencanaan Perfusi Perifer (D.0009)

  • Luaran: Perfusi Perifer Meningkat (L.02011). Kriteria: Akral hangat, CRT membaik (<2 detik).
  • Intervensi: Perawatan Sirkulasi (I.02079). Observasi sirkulasi perifer; Terapeutik: Perawatan luka steril.

Perencanaan Ansietas (D.0080)

  • Luaran: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093). Kriteria: Gelisah menurun, Verbalisasi khawatir menurun.
  • Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314). Terapeutik: Temani pasien; Edukasi: Teknik relaksasi.

Perencanaan Aktivitas & Risiko Infeksi (D.0560 & D.0142)

  • L.05047 & L.14137: Kriteria: Frekuensi nadi aktivitas membaik; Demam menurun.
  • I.05178 & I.01024: Terapeutik: Manajemen energi dan perawatan botol WSD steril.

7. Implementasi dan Evaluasi

(PPNI, 2018, PPNI, 2019)

Tahap Pelaksanaan

Perawat melaksanakan implementasi keperawatan berdasarkan rincian intervensi yang telah diorganisasikan sebelumnya. Tindakan operasional dijalankan secara simultan, mencakup pengaturan posisi Fowler, resusitasi cairan, dan pemantauan selang dada secara steril.

Tahap Penilaian SOAP

Evaluasi keperawatan dilaksanakan dengan menerapkan metode perkembangan SOAP secara berkala:

  • S (Subjektif): Keluhan sesak dan nyeri berkurang.
  • O (Objektif): Tanda vital stabil, suara napas vesikuler terdengar kembali, undulasi WSD aktif.
  • A (Asesmen): Masalah teratasi atau teratasi sebagian.
  • P (Planning): Lanjutkan intervensi pemantauan drainase dada.

DAFTAR PUSTAKA

Alsagaff, H. (2020). Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Airlangga University Press.

Broderick, S. R. (2021). Hemothorax: Etiology, diagnosis, and management. Thoracic Surgery Clinics, 31(1), 25-33. sciencedirect.com/science/article/pii/S105233592030078X

Committee on Trauma, American College of Surgeons. (2022). Advanced Trauma Life Support (ATLS) Student Course Manual. ACS.

Kemenkes RI. (2024). Panduan Praktik Klinis Bidang Paru dan Kegawatdaruratan Toraks. Kemenkes RI.

Kim, M. S., & Kim, J. N. (2021). CT evaluation of acute hemothorax: High-density fluid sign. Korean Journal of Radiology, 22(4). kjronline.org/doi/10.3348/kjr.2020.0452

Kuon, T., & Sato, Y. (2023). Spontaneous hemothorax from a ruptured apical vascular adhesion. Respiratory Medicine Case Reports, 42. sciencedirect.com/science/article/pii/S221300712300015X

Light, R. W. (2019). Pleural Diseases. Lippincott Williams & Wilkins.

Lin, H. L., & Huang, W. Y. (2020). Internal mammary artery injury presenting as massive hemothorax. Journal of Acute Medicine, 10(2). jam.org.tw/article/doi/10.6311/JFM.202006_10(2).0004

Muttaqin, A. (2019). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Salemba Medika.

PDPI. (2022). Pedoman Diagnosis dan Tatalaksana Efusi Pleura dan Hemotoraks di Indonesia. PDPI.

Porcel, J. M. (2020). Nontraumatic hemothorax: Etiology and management. Chest, 157(5). journal.chestnet.org/article/S0012-3692(19)34467-1/fulltext

PPNI. (2017). SDKI. DPP PPNI.

PPNI. (2018). SIKI. DPP PPNI.

PPNI. (2019). SLKI. DPP PPNI.

Sjamsuhidajat, R. (2021). Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *