Waham (Diagnosis Keperawatan)
Definisi: Waham merupakan keyakinan salah yang didasarkan pada kesimpulan yang tidak benar tentang realitas eksternal dan dipertahankan dengan kuat meskipun terdapat bukti yang berlawanan. Secara klinis, kondisi ini mencerminkan gangguan proses pikir yang signifikan, di mana individu kehilangan kemampuan untuk membedakan antara imajinasi internal dan kenyataan objektif, sering kali disertai dengan disorientasi atau disfungsi kognitif lainnya.
Luaran Utama dan Tambahan (SLKI)
Sesuai dengan Hierarki Nomenklatur Ilmiah, berikut adalah klasifikasi luaran yang berkaitan dengan diagnosis Waham:
Jenis Luaran | Nama Luaran |
Luaran Utama | Status Orientasi (L.09088) |
Luaran Tambahan | Kontrol Pikir (L.09076) |
Orientasi Kognitif (L.09081) | |
Psikospiritual (L.09085) | |
Status Kognitif (L.09079) | |
Status Spiritual (L.09087) | |
Tingkat Agitasi (L.09072) | |
Tingkat Berduka (L.09075) | |
Tingkat Depresi (L.09077) |
Intervensi Keperawatan Terkait (SIKI)
Berikut adalah 3 Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang berkaitan erat dengan manajemen waham:
1. Manajemen Waham (I.09295)
Definisi: Mengidentifikasi dan mengelola gangguan isi pikir (waham) melalui pendekatan terapeutik dan lingkungan yang aman.
- Observasi:
- Monitor waham (mis. isi, intensitas, durasi, dan frekuensi).
- Monitor perilaku yang sesuai dengan waham.
- Monitor efek samping obat antipsikotik.
- Terapeutik:
- Bina hubungan saling percaya (therapeutic nurse-patient relationship).
- Tunjukkan penerimaan secara non-judgmental terhadap keyakinan pasien tanpa mendukungnya.
- Gunakan teknik komunikasi terapeutik yang berorientasi pada realitas.
- Edukasi:
- Jelaskan diagnosis dan rencana pengobatan kepada pasien dan keluarga.
- Ajarkan cara mengidentifikasi pemicu waham.
- Kolaborasi:
- Kolaborasi pemberian obat antipsikotik, jika perlu.
2. Orientasi Realitas (I.09299)
Definisi: Memfasilitasi kemampuan pasien untuk mengenali diri sendiri, waktu, tempat, dan orang di sekitarnya guna memperbaiki disorientasi.
- Observasi:
- Monitor perubahan orientasi kognitif.
- Identifikasi faktor penyebab disorientasi.
- Terapeutik:
- Gunakan tanda-tanda yang jelas (mis. jam, kalender, papan nama).
- Libatkan dalam aktivitas kelompok untuk meningkatkan stimulasi kognitif.
- Edukasi:
- Anjurkan keluarga untuk memberikan stimulasi orientasi yang konsisten di rumah.
- Kolaborasi:
- Kolaborasi dengan tim medis untuk penyesuaian regimen terapi.
3. Latihan Kognitif (I.09271)
Definisi: Melatih kemampuan berpikir dan memori untuk meningkatkan fungsi kognitif pasien.
- Observasi:
- Identifikasi tingkat kemampuan kognitif saat ini.
- Monitor tingkat kelelahan saat melakukan latihan.
- Terapeutik:
- Berikan tugas sederhana yang dapat diselesaikan pasien.
- Berikan umpan balik positif terhadap keberhasilan tugas.
- Edukasi:
- Ajarkan teknik memori (mis. mnemonics, pencatatan harian).
- Kolaborasi:
- Kolaborasi dengan okupasi terapis dalam penyusunan program rehabilitasi kognitif.
Literatur
- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Tinggalkan Balasan