Toleransi Aktivitas (L.05047)

Toleransi Aktivitas (L.05047)

by

in

Toleransi Aktivitas (L.05047)

Definisi: Respon fisiologis terhadap aktivitas yang membutuhkan tenaga. Ekspektasi dari intervensi keperawatan ini adalah meningkat, yang berarti pasien menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam melakukan aktivitas fisik sehari-hari tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan atau gangguan hemodinamik.

Kriteria Hasil (SLKI)

Kriteria Hasil
Menurun
Cukup Menurun
Sedang
Cukup Meningkat
Meningkat
Frekuensi nadi
1
2
3
4
5
Saturasi oksigen
1
2
3
4
5
Kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari
1
2
3
4
5
Jarak / Kecepatan berjalan
1
2
3
4
5
Kriteria Hasil
Meningkat
Cukup Meningkat
Sedang
Cukup Menurun
Menurun
Keluhan lelah / Dispnea
1
2
3
4
5
Perasaan lemah
1
2
3
4
5
Sianosis
1
2
3
4
5

Intervensi Keperawatan Terkait (SIKI)

Berikut adalah 3 Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang berkaitan erat dengan peningkatan toleransi aktivitas, lengkap dengan komponen OTEK (Observasi, Terapeutik, Edukasi, Kolaborasi):

1. Manajemen Energi (I.05178)

Definisi: Mengidentifikasi dan mengelola penggunaan energi untuk mengatasi atau mencegah kelelahan dan mengoptimalkan fungsi tubuh.

  • Observasi:
    • Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan.
    • Monitor kelelahan fisik dan emosional.
    • Monitor pola dan jam tidur.
    • Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas.
  • Terapeutik:
    • Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis. cahaya, suara, kunjungan).
    • Lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif.
    • Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan.
    • Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan.
  • Edukasi:
    • Anjurkan tirah baring (bed rest).
    • Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap.
    • Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang.
    • Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan.
  • Kolaborasi:
    • Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan.

2. Terapi Aktivitas (I.05186)

Definisi: Memfasilitasi partisipasi dalam aktivitas fisik, kognitif, sosial, dan spiritual yang spesifik untuk meningkatkan, mempertahankan, atau memulihkan fungsi.

  • Observasi:
    • Identifikasi defisit tingkat aktivitas.
    • Identifikasi kemampuan berpartisipasi dalam aktivitas tertentu.
    • Identifikasi strategi meningkatkan partisipasi dalam aktivitas.
    • Monitor respons emosional, fisik, sosial, dan spiritual terhadap aktivitas.
  • Terapeutik:
    • Fasilitasi fokus pada kemampuan, bukan defisit yang dialami.
    • Sepakati komitmen untuk meningkatkan frekuensi dan rentang aktivitas.
    • Fasilitasi memilih aktivitas dan tetapkan tujuan aktivitas yang konsisten sesuai kemampuan fisik, psikologis, dan sosial.
    • Berikan penguatan positif atas partisipasi dalam aktivitas.
  • Edukasi:
    • Jelaskan metode aktivitas fisik sehari-hari, jika perlu.
    • Ajarkan cara melakukan aktivitas yang dipilih.
    • Anjurkan melakukan aktivitas fisik, sosial, spiritual, dan kognitif dalam menjaga fungsi dan kesehatan.
    • Anjurkan keluarga untuk terlibat dalam aktivitas, jika perlu.
  • Kolaborasi:
    • Kolaborasi dengan terapis okupasi dalam merencanakan dan memonitor program aktivitas, jika sesuai.

3. Rehabilitasi Jantung (I.02075)

Definisi: Memfasilitasi pemulihan aktivitas fisik dan psikososial yang optimal pada pasien yang mengalami gangguan kardiovaskular akut atau kronis.

  • Observasi:
    • Monitor tanda-tanda vital (frekuensi nadi, tekanan darah, saturasi oksigen) sebelum, selama, dan setelah aktivitas.
    • Monitor toleransi aktivitas (mis. adanya dispnea, nyeri dada, atau kelelahan ekstrem).
    • Identifikasi kesiapan dan motivasi pasien untuk mengikuti program rehabilitasi.
  • Terapeutik:
    • Fasilitasi aktivitas fisik bertahap sesuai dengan protokol rehabilitasi (mis. latihan berjalan, bersepeda statis).
    • Berikan dukungan emosional selama proses pemulihan.
    • Sediakan lingkungan yang aman untuk latihan fisik bebas hambatan.
  • Edukasi:
    • Ajarkan pasien dan keluarga mengenai tanda dan gejala intoleransi aktivitas yang mengharuskan penghentian latihan segera.
    • Jelaskan pentingnya modifikasi gaya hidup (mis. diet rendah garam/lemak, manajemen stres).
    • Informasikan jadwal dan durasi latihan fisik yang aman di rumah.
  • Kolaborasi:
    • Kolaborasi dengan dokter spesialis jantung untuk menentukan program latihan (FITT: Frequency, Intensity, Time, Type).
    • Kolaborasi dengan tim fisioterapi dalam pelaksanaan pemantauan beban kerja fisik.

Literatur / Referensi

  1. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
  2. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
  3. Bulechek, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., & Wagner, C. M. (2016). Nursing Interventions Classification (NIC) (7th ed.). St. Louis: Elsevier.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *