Status Nutrisi (L.03030)

Status Nutrisi (L.03030)

by

in

I. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

Status Nutrisi (L.03030)

Definisi: Keadekuatan asupan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme.

  • Ekspektasi: Membaik

Tabel Kriteria Hasil Luaran Keperawatan

Kriteria Hasil
Menurun (1)
Cukup Menurun (2)
Sedang (3)
Cukup Meningkat (4)
Meningkat (5)
Porsi makanan yang dihabiskan
1
2
3
4
5
Kekuatan otot pengunyah
1
2
3
4
5
Kekuatan otot menelan
1
2
3
4
5
Serum albumin
1
2
3
4
5
Verbalisasi keinginan untuk meningkatkan nutrisi
1
2
3
4
5
Pengetahuan tentang pilihan makanan sehat
1
2
3
4
5
Pengetahuan tentang pilihan minuman sehat
1
2
3
4
5
Pengetahuan tentang standar asupan nutrisi
1
2
3
4
5
Penyiapan & penyimpanan makanan yang aman
1
2
3
4
5
Penyiapan & penyimpanan minuman yang aman
1
2
3
4
5
Sikap terhadap makanan/minuman sesuai tujuan kesehatan
1
2
3
4
5
Kriteria Hasil
Meningkat (1)
Cukup Meningkat (2)
Sedang (3)
Cukup Menurun (4)
Menurun (5)
Perasaan cepat kenyang
1
2
3
4
5
Nyeri abdomen
1
2
3
4
5
Sariawan
1
2
3
4
5
Rambut rontok
1
2
3
4
5
Diare
1
2
3
4
5
Kriteria Hasil
Memburuk (1)
Cukup Memburuk (2)
Sedang (3)
Cukup Membaik (4)
Membaik (5)
Berat badan
1
2
3
4
5
Indeks Massa Tubuh (IMT)
1
2
3
4
5
Frekuensi makan
1
2
3
4
5
Nafsu makan
1
2
3
4
5
Bising usus
1
2
3
4
5
Tebal lipatan kulit trisep
1
2
3
4
5
Membran mukosa
1
2
3
4
5

II. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)

1. Manajemen Nutrisi (I.03119)

Definisi: Mengidentifikasi dan mengelola asupan nutrisi yang seimbang.

  • Observasi (O):
    • Identifikasi status nutrisi (mis. berat badan, IMT, tebal lipatan kulit trisep).
    • Identifikasi alergi dan intoleransi makanan.
    • Identifikasi makanan yang disukai pasien.
    • Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrien.
    • Monitor asupan makanan (porsi makanan yang dihabiskan).
    • Monitor berat badan secara berkala.
    • Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (mis. serum albumin, hemoglobin, transferin).
  • Terapeutik (T):
    • Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu (untuk mengatasi sariawan dan meningkatkan nafsu makan).
    • Fasilitasi menentukan pedoman diet (mis. piramida makanan, porsi piring makanku).
    • Sajikan makanan secara menarik dan pada suhu yang sesuai agar merangsang nafsu makan.
    • Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi, atau modifikasi konsistensi jika mengalami diare.
    • Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein (TKTP).
  • Edukasi (E):
    • Ajarkan diet yang diprogramkan secara klinis kepada pasien/keluarga.
    • Ajarkan penyiapan dan penyimpanan makanan serta minuman yang aman untuk mencegah kontaminasi.
    • Anjurkan posisi duduk tegak saat makan, jika mampu (untuk memfasilitasi kekuatan otot pengunyah dan otot menelan).
  • Kolaborasi (K):
    • Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan secara spesifik.

2. Promosi Berat Badan (I.03136)

Definisi: Memfasilitasi peningkatan berat badan yang aman dan efektif.

  • Observasi (O):
    • Identifikasi kemungkinan penyebab berat badan kurang (mis. penyakit kronis, gangguan menelan, nyeri abdomen, faktor sosioekonomi).
    • Monitor adanya mual, muntah, atau perasaan cepat kenyang.
    • Monitor jumlah kalori yang dikonsumsi sehari-hari (food diary).
  • Terapeutik (T):
    • Sediakan makanan yang padat energi dan protein tinggi.
    • Berikan suplemen makanan tambahan berkualitas, jika perlu.
    • Berikan pujian dan penguatan positif pada pasien atau keluarga atas peningkatan porsi makanan yang dihabiskan.
  • Edukasi (E):
    • Jelaskan jenis makanan yang bergizi tinggi namun tetap terjangkau secara ekonomi.
    • Ajarkan strategi meningkatkan asupan nutrisi (mis. makan sedikit tapi sering untuk mengatasi keluhan perasaan cepat kenyang).
  • Kolaborasi (K):
    • Kolaborasi dengan dokter atau tim medis untuk pemberian komponen nutrisi enteral atau parenteral jika indikasi klinis terpenuhi.

3. Pemantauan Nutrisi (I.03123)

Definisi: Mengumpulkan dan menganalisis data yang berkaitan dengan asupan dan status nutrisi.

  • Observasi (O):
    • Monitor kecenderungan turun atau naiknya berat badan pasien.
    • Monitor ukuran antropometrik (IMT, tebal lipatan kulit trisep, lingkar lengan atas).
    • Monitor adanya sariawan, rambut rontok, dan degradasi membran mukosa.
    • Monitor pola menyusu, kemampuan menelan, serta kekuatan otot pengunyah.
    • Monitor bising usus dan frekuensi buang air besar untuk mendeteksi tanda-tanda diare atau malabsorpsi.
  • Terapeutik (T):
    • Timbang berat badan pada waktu yang konsisten (mis. pagi hari sebelum makan dengan pakaian minimal).
    • Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi klinis dan tingkat keparahan malnutrisi pasien.
    • Dokumentasikan hasil pemantauan secara terstruktur untuk mengevaluasi kriteria hasil pada SLKI.
  • Edukasi (E):
    • Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan nutrisi kepada pasien serta pihak keluarga.
    • Informasikan hasil pemantauan secara berkala guna meningkatkan verbalisasi keinginan pasien untuk memperbaiki nutrisinya.
  • Kolaborasi (K):
    • Kolaborasi dengan tim medis untuk melaporkan hasil pemantauan jika terdapat penurunan status nutrisi drastis agar segera dilakukan intervensi farmakologis penunjang.

III. Literatur / Referensi

  1. Persatuan Perawat Nasional Indonesia / PPNI (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
  2. Persatuan Perawat Nasional Indonesia / PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
  3. Brunner, L. S., & Suddarth, D. S. (2018). Textbook of Medical-Surgical Nursing, 14th Edition. Philadelphia: Wolters Kluwer. (Referensi pendukung ilmiah untuk efektivitas asupan metabolik dan pengelolaan status nutrisi klinis).

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *