DIAGNOSA RISIKO INFEKSI (D.0142)
A. DEFINISI
- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Risiko infeksi didefinisikan sebagai fenomena di mana seorang individu berisiko mengalami invasi dan multiplikasi organisme patogenik yang dapat mengganggu kesehatan. Fokus utamanya adalah pada kerentanan pejamu (host) akibat kegagalan pertahanan tubuh baik secara primer maupun sekunder.
- NANDA International (Herdman & Kamitsuru) Suatu kondisi di mana individu rentan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogenik yang dapat mengganggu kesehatan. Diagnosa ini menyoroti bahwa masalah tersebut belum terjadi, namun terdapat faktor risiko yang secara klinis signifikan untuk memicu terjadinya infeksi.
- Kozier & Erb (Berman, Snyder, & Frandsen) Risiko infeksi merupakan keadaan ketika individu memiliki risiko tinggi untuk terinfeksi oleh agen infeksius dari sumber eksternal maupun eksogen. Penekanan diberikan pada rantai infeksi dan titik-titik lemah di mana agen patogen dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui pintu masuk tertentu.
- Lynda Juall Carpenito Kondisi di mana individu mengalami risiko tinggi untuk diserang oleh agen patogenik atau oportunistik (bakteri, jamur, virus, protozoa, atau parasit lainnya) dari sumber eksternal atau internal. Carpenito menekankan pada penilaian terhadap faktor-faktor lingkungan dan prosedur medis yang meningkatkan paparan.
- World Health Organization (WHO) Dalam konteks keselamatan pasien, risiko infeksi (khususnya Healthcare-Associated Infections) dipandang sebagai kemungkinan terjadinya kontaminasi patogen selama proses perawatan kesehatan. Hal ini berkaitan erat dengan kepatuhan terhadap standar kebersihan dan adanya prosedur invasif yang memutus barier pertahanan alami tubuh.
B. PENJELASAN MENYELURUH RISIKO INFEKSI
Faktor Risiko Dalam menetapkan diagnosis risiko, fokus utama adalah pada faktor-faktor yang memperlemah pertahanan tubuh. Faktor-faktor tersebut meliputi:
- Efek Prosedur Invasif: Adanya pintu masuk (portal of entry) bagi mikroorganisme akibat tindakan medis seperti pembedahan, pemasangan kateter intravena, atau kateter urin.
- Penyakit Kronis: Kondisi seperti Diabetes Melitus yang mengganggu perfusi jaringan dan fungsi leukosit.
- Kerusakan Integritas Kulit: Hilangnya barier fisik alami tubuh yang mempermudah invasi patogen.
- Perubahan Sekresi pH: Gangguan pada keasaman normal tubuh (misalnya di lambung atau vagina) yang berfungsi sebagai pertahanan kimiawi.
- Ketidakadekuatan Pertahanan Tubuh Primer: Statis cairan tubuh, gangguan peristaltik, atau perubahan flora normal.
- Ketidakadekuatan Pertahanan Tubuh Sekunder: Penurunan hemoglobin (anemia), imunodefisiensi, atau supresi respon inflamasi.
C. KONDISI KLINIS TERKAIT
- AIDS
- Luka bakar
- Penyakit paru obstruktif kronis
- Diabetes melitus
- Tindakan invasif
- Kondisi penggunaan terapo steroid
- Penyalahgunaan obat
- Ketuban pecah sebelum waktunya (KPSW)
- Kanker
- Gagal ginjal
- Imunosupresi
- Lymphedema
- Leukositopenia
- Gangguan fungsi hati
D. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)
Target utama yang diharapkan adalah Tingkat Infeksi Menurun (L.14137). Indikator keberhasilan klinis yang dipantau meliputi:
- Tidak adanya demam (suhu tubuh dalam rentang 36,5°C – 37,5°C).
- Tidak ditemukan tanda-tanda inflamasi lokal (kemerahan/eritema, bengkak/edema, nyeri, dan panas fokal).
- Kadar sel darah putih (leukosit) dalam rentang normal.
- Kultur (jika ada) menunjukkan hasil negatif atau tidak ada pertumbuhan kuman.
D. INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI)
- Pencegahan Infeksi (I.14539)
Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik secara berkala.
Terapeutik:
- Membatasi jumlah pengunjung untuk meminimalkan paparan patogen lingkungan.
- Melakukan cuci tangan 5 momen (5 moments for hand hygiene) sesuai standar WHO.
- Menerapkan teknik aseptik pada semua prosedur invasif dan perawatan luka.
Edukasi:
- Mengajarkan pasien dan keluarga mengenai cara mencuci tangan yang benar serta tanda-tanda awal infeksi yang harus dilaporkan.
- Manajemen Imunisasi/Vaksinasi (I.14508)
- Memastikan status imunisasi pasien adekuat untuk memberikan proteksi aktif terhadap patogen spesifik.
DAFTAR PUSTAKA
Berman, A., Snyder, S. J., & Frandsen, G. (2020). Kozier & Erb’s Fundamentals of Nursing: Concepts, Process, and Practice (11th ed.). London: Pearson Education.
Carpenito, L. J. (2017). Handbook of Nursing Diagnosis (15th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer.
Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (Eds.). (2021). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification, 2021–2023. Oxford: Thieme Publishers.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
World Health Organization (WHO). (2022). Global Report on Infection Prevention and Control. Geneva: World Health Organization.


Tinggalkan Balasan