DIAGNOSA RISIKO HIPOTERMIA (D.0140)
A. DEFINISI
- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Berisiko mengalami penurunan suhu tubuh inti di bawah rentang normal fisiologis (36,5°C atau 97,7°F) yang disebabkan oleh kegagalan mekanisme termoregulasi untuk mengompensasi stres dingin.
- NANDA International Rentan terhadap kegagalan termoregulasi yang dapat mengakibatkan suhu tubuh inti di bawah rentang normal diurnal karena faktor eksternal, kondisi individu, atau terapi medis yang sedang dijalani.
- Kozier & Erb (Berman, Snyder, & Frandsen) Suatu kondisi kerentanan klinis di mana individu tidak mampu mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal, sering kali diperburuk oleh faktor usia (sangat muda atau sangat tua) serta lingkungan yang mempercepat kehilangan panas melalui proses fisik.
- Wong (Hockenberry & Wilson) Kondisi risiko tinggi pada populasi pediatrik, khususnya neonatus, akibat ketidakmatangan sistem saraf pusat dalam mengatur suhu dan kurangnya jaringan lemak subkutan (lemak coklat) untuk produksi panas metabolik.
- World Health Organization (WHO) Keadaan bahaya potensial di mana suhu tubuh inti turun di bawah 36,5°C melalui mekanisme konduksi, konveksi, radiasi, dan evaporasi, yang jika tidak dimitigasi dapat menyebabkan gangguan metabolik sistemik hingga kematian.
B. TINJAUAN ILMIAH RISIKO HIPOTERMIA
Risiko hipotermia adalah kondisi kerentanan individu terhadap kegagalan mekanisme regulasi suhu tubuh (termoregulasi) yang berpotensi menyebabkan suhu inti tubuh turun di bawah rentang fisiologis normal (<36,5°C atau 97,7°F). Secara klinis, kondisi ini sering dikaitkan dengan ketidakseimbangan antara produksi panas tubuh, konservasi panas, dan kehilangan panas ke lingkungan.
C. ANALISIS FAKTOR RISIKO
Kejadian hipotermia dipengaruhi oleh berbagai variabel yang mengganggu homeostasis termal:
- Faktor Biologis & Usia Neonatus (terutama bayi prematur dan BBLR) memiliki rasio luas permukaan tubuh terhadap berat badan yang besar, serta lansia dengan penurunan laju metabolisme basal.
- Mekanisme Perpindahan Panas Risiko meningkat melalui proses konduksi (kontak langsung dengan benda dingin), konveksi (aliran udara), evaporasi (penguapan cairan dari kulit/paru), dan radiasi.
- Kondisi Klinis Trauma, kerusakan hipotalamus sebagai pusat regulasi suhu, malnutrisi, dan efek agen farmakologis (misalnya anestesi yang menekan refleks menggigil).
- Lingkungan & Perilaku Paparan suhu lingkungan rendah, penggunaan pakaian yang tidak memadai, serta imobilitas berkepanjangan.
D. KONDISI KLINIS TERKAIT
- Berat badan ekstrem
- Dehidrasi
- Kurang mobilitas fisik
E. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)
Fokus utama adalah mencapai Termoregulasi Membaik (L.14134) dengan kriteria hasil sebagai berikut:
- Suhu tubuh tetap berada dalam rentang 36,5°C – 37,5°C.
- Tidak terdapat respon menggigil (shivering).
- Suhu kulit perifer teraba hangat dan warna kulit tidak pucat/sianosis.
E. STRATEGI INTERVENSI KLINIS (SIKI)
Intervensi dirancang berdasarkan prinsip konservasi energi dan pemulihan panas:
Manajemen Hipotermia (I.14507)
- Identifikasi: Melakukan pemantauan suhu inti secara berkala dan mengidentifikasi penyebab spesifik (misalnya paparan lingkungan atau kondisi medis).
- Penghangatan Pasif: Penggunaan selimut isolasi, menutup kepala (terutama pada bayi), dan mengganti linen yang basah.
- Penghangatan Aktif Eksternal: Penggunaan radiant warmer, lampu pemanas, atau pemberian kompres hangat pada area aksila dan selangkangan.
- Penghangatan Aktif Internal: Kolaborasi pemberian cairan intravena yang telah dihangatkan atau pemberian oksigen yang dilembabkan dan hangat.
Regulasi Temperatur (I.14578)
- Proteksi Neonatus: Implementasi Perawatan Metode Kanguru (PMK), penggunaan inkubator dengan kelembapan optimal (>50%), dan penggunaan topi bayi untuk meminimalkan kehilangan panas radiasi dari kepala.
- Kontrol Lingkungan: Mengatur suhu ruangan agar tetap stabil dan menghindari penempatan pasien di dekat sumber aliran udara dingin (jendela atau pendingin ruangan).
DAFTAR PUSTAKA
Berman, A., Snyder, S., & Frandsen, G. (2016). Kozier & Erb’s Fundamentals of Nursing: Concepts, Process, and Practice. Edinburgh: Pearson Education.
Hockenberry, M. J., & Wilson, D. (2018). Wong’s Nursing Care of Infants and Children. St. Louis, Missouri: Elsevier.
Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2018). NANDA-I Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2018-2020. Oxford: Wiley-Blackwell.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
World Health Organization (WHO). (2018). Thermal Protection of the Newborn: A Practical Guide. Geneva: World Health Organization.


Tinggalkan Balasan