Nursing Source

Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif (D.0001)

Diagnosa Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif (D.0001): Definisi, Gelaja Mayor dan Minor, Kondisi Klinis terkait dan sebagainya

SDKI

Walid

5/1/20263 min read

photo of white staircase
photo of white staircase

Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)

A. DEFINISI MENURUT PARA PAKAR

  1. PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Fokus utamanya adalah pada mekanika pembersihan jalan napas yang terhambat.

  2. NANDA International Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk menjaga kebersihan jalan napas. NANDA menekankan pada aspek proteksi jalan napas yang hilang akibat faktor internal maupun eksternal.

  3. Lynda Juall Carpenito Suatu kondisi di mana individu mengalami ancaman pada status pernapasan sehubungan dengan ketidakmampuan untuk batuk secara efektif. Carpenito menitikberatkan pada keefektifan batuk sebagai mekanisme utama pembersihan.

  4. Marilynn E. Doenges Kondisi di mana pasien tidak dapat memelihara kebersihan jalan napas karena adanya sumpalan lendir, edema, atau spasme bronkus yang menghalangi ventilasi yang adekuat.

  5. Wilkinson & Treas Ketidakmampuan untuk menyingkirkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas guna mempertahankan patensi jalan napas, yang jika dibiarkan akan mengganggu pertukaran gas pada tingkat alveolar.

B. PENYEBAB (ETIOLOGI)

Penyebab bersihan jalan napas tidak efektif dikategorikan menjadi dua faktor utama:

  1. Faktor Fisiologis

    a. Spasme jalan napas.

    b. Hipersekresi jalan napas.

    c. Disfungsi neuromuskuler (misalnya: stroke atau cedera kepala).

    d. Benda asing dalam jalan napas.

    e. Adanya eksudat di dalam alveoli.

    f. Hiperplasia dinding jalan napas.

    g. Proses infeksi.

    h. Respon alergi.

    i. Efek agen farmakologis (misalnya: anestesi).

  2. Faktor Situasional
    a. Merokok (aktif maupun pasif).
    b. Terpajan polutan atau iritan lingkungan.
    c. Tindakan intubasi atau pemasangan selang endotrakeal.

C. GEJALA DAN TANDA MAYOR

Kriteria objektif dan subjektif yang harus ditemukan untuk menegakkan diagnosa ini:

  1. Subjektif (Tidak tersedia pada diagnosa ini).

  2. Objektif
    a. Batuk tidak efektif atau ketidakmampuan untuk batuk.
    b. Sputum berlebih atau adanya obstruksi di jalan napas.
    c. Mengasuh (Wheezing) dan/atau Ronchi kering pada pemeriksaan auskultasi.
    d. Mekonium di jalan napas (pada neonatus).

D. GEJALA DAN TANDA MINOR

  1. Subjektif
    a. Dispnea (sesak napas).
    b. Sulit berbicara.
    c. Orthopnea.

  2. Objektif
    a. Gelisah.
    b. Sianosis (kebiruan pada kulit/mukosa).
    c. Bunyi napas menurun.
    d. Frekuensi napas berubah (Takipnea/Bradipnea).
    e. Pola napas berubah.

E. KONDISI KLINIS TERKAIT

Beberapa kondisi medis yang sering disertai dengan diagnosa ini meliputi:

  1. Guillain-Barre Syndrome.

  2. Sclerosis multipel.

  3. Myasthenia gravis.

  4. Prosedur bedah (efek anestesi).

  5. Trauma kepala atau cedera medula spinalis.

  6. Stroke (Cerebrovascular Accident).

  7. Infeksi saluran napas (Pneumonia, Bronkhitis).

  8. Asma Bronkhial.

F. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)

Setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001) dengan kriteria hasil:

  1. Batuk efektif meningkat.

  2. Produksi sputum menurun.

  3. Mengi/Wheezing menurun.

  4. Wheezing/Ronchi menurun.

  5. Dispnea menurun.

  6. Sianosis menurun.

  7. Frekuensi napas membaik (12-20 kali/menit).

  8. Pola napas membaik.

G. INTERVENSI KEPERAWATAN UTAMA (SIKI)

Intervensi yang dapat dilakukan berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia meliputi:

  1. Latihan Batuk Efektif (I.01006)
    a. Observasi:
    Identifikasi kemampuan batuk,
    monitor adanya retensi sputum.
    b. Terapeutik:
    Atur posisi semi-Fowler atau Fowler,
    pasang perlak dan bengkok di pangkuan pasien.
    c. Edukasi:
    Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif,
    anjurkan tarik napas dalam melalui hidung selama 4 detik, ditahan selama 2 detik, kemudian keluarkan dari mulut dengan bibir mencucu selama 8 detik.
    d. Kolaborasi:
    Pemberian mukolitik atau ekspektoran, jika perlu.

  2. Manajemen Jalan Napas (I.01011)
    a. Observasi:
    Monitor pola napas,
    monitor bunyi napas tambahan,
    monitor sputum (jumlah, warna, aroma).
    b. Terapeutik:
    Lakukan penghisapan lendir (suction) kurang dari 15 detik,
    berikan oksigenasi jika perlu.
    c. Edukasi:
    Ajarkan teknik batuk efektif.
    d. Kolaborasi:
    Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, atau mukolitik.


DAFTAR PUSTAKA

  • Carpenito, L. J. (2017). Handbook of Nursing Diagnosis. 15th Edition. Philadelphia: Wolters Kluwer.

  • Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. (2019). Nursing Care Plans: Guidelines for Individualizing Patient Care Across the Life Span. Philadelphia: F.A. Davis Company.

  • Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2021). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification 2021-2023. Oxford: Wiley-Blackwell.

  • PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

  • PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

  • PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

  • Wilkinson, J. M., & Treas, L. S. (2016). Fundamentals of Nursing. 3rd Edition. Philadelphia: F.A. Davis Company.