HIPOTERMIA (D.0131)

HIPOTERMIA (D.0131)

by

in

DIAGNOSA HIPOTERMIA (D.0131)

A. DEFINISI 

  1. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Hipotermia merupakan kejadian di mana suhu tubuh berada di bawah rentang normal tubuh yang disebabkan oleh kegagalan termoregulasi akibat faktor lingkungan atau kondisi klinis tertentu.
  2. Brunner & Suddarth Hipotermia adalah kondisi gawat darurat medis di mana tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuan tubuh untuk memproduksinya, yang menyebabkan suhu inti tubuh turun di bawah 35°C (95°F).
  3. World Health Organization (WHO) Hipotermia didefinisikan sebagai suhu inti tubuh yang berada di bawah batas normal, yang pada neonatus dan anak diklasifikasikan menjadi stres dingin (36,0–36,4°C), hipotermia sedang (32,0–35,9°C), dan hipotermia berat (<32,0°C).
  4. International Liaison Committee on Resuscitation (ILCOR) Hipotermia adalah penurunan suhu tubuh yang signifikan secara sistemik yang dapat mengganggu fungsi kardiovaskular dan metabolisme seluler, sehingga memerlukan manajemen penghangatan kembali secara terkontrol untuk mencegah kegagalan organ primer.
  5. Potter & Perry Hipotermia adalah pengeluaran panas akibat paparan terus-menerus terhadap dingin yang melebihi kemampuan tubuh untuk menghasilkan panas, sering kali ditandai dengan penurunan kemampuan kognitif dan perubahan tanda-tanda vital sebagai respon kompensasi.

B. DEFINISI ILMIAH

Hipotermia adalah suatu kondisi kegagalan mekanisme regulasi suhu tubuh (termoregulasi) yang mengakibatkan suhu inti tubuh berada di bawah rentang normal fisiologis (<35°C atau 95°F). Secara klinis, kondisi ini mengganggu fungsi metabolik, enzimatik, dan sistem organ vital akibat pelepasan panas tubuh yang melebihi kemampuan produksi panas internal.

C. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI

Penyebab hipotermia dapat diklasifikasikan berdasarkan mekanisme patofisiologisnya:

  1. Gangguan Regulasi Pusat Kerusakan pada hipotalamus (pusat pengatur suhu) akibat trauma, tumor, atau degenerasi proses penuaan.
  2. Mekanisme Perpindahan Panas Kehilangan panas berlebih melalui konduksi (kontak langsung), konveksi (aliran udara), radiasi (pemancaran gelombang elektromagnetik), dan evaporasi (penguapan).
  3. Penurunan Produksi Panas Rendahnya laju metabolisme basal, malnutrisi, ketidakaktifan fisik, atau kondisi medis seperti hipotiroidisme.
  4. Faktor Lingkungan dan Perilaku Terpapar suhu rendah dalam waktu lama, penggunaan pakaian tipis, konsumsi alkohol yang memicu vasodilatasi perifer, serta kurangnya lemak subkutan (terutama pada neonatus dan lansia).

D. MANIFESTASI KLINIS (INDIKATOR DIAGNOSTIK)

Berdasarkan derajat keparahannya, tanda dan gejala objektif meliputi:

  1. Hipotermia Ringan (32–35°C) Kulit teraba dingin, menggigil (shivering), takipnea, takikardia, dan disartria.
  2. Hipotermia Sedang (28–32°C) Apatis, koagulopati, hipotensi, penurunan refleks, dan risiko aritmia.
  3. Hipotermia Berat (<28°C) Oliguria, edema paru, koma, hingga hilangnya refleks batang otak.

E. LUARAN KEPERAWATAN (TARGET TERAPEUTIK)

Tujuan utama intervensi adalah Termoregulasi Membaik (L.14134), dengan kriteria hasil:

  1. Suhu tubuh kembali ke rentang normal (36,5°C – 37,5°C).
  2. Menggigil menghilang.
  3. Suhu kulit membaik dan akral teraba hangat.
  4. Status hemodinamik stabil.

F. INTERVENSI KEPERAWATAN STRATEGIS

Manajemen dilakukan secara bertahap berdasarkan respons klinis pasien:

Manajemen Hipotermia (I.14507)

Observasi:

  • Monitor suhu tubuh secara kontinu dan identifikasi penyebab spesifik.

Terapeutik:

  • Menyediakan lingkungan hangat, mengganti pakaian basah dengan yang kering, serta melakukan teknik penghangatan pasif (selimut) dan aktif eksternal (radiant warmer). Pada kasus berat, dilakukan penghangatan aktif internal melalui pemberian cairan intravena hangat.

Terapi Paparan Panas (I.14586)

  • Pemberian stimulasi panas terkontrol pada jaringan untuk meningkatkan suhu lokal dan sistemik, dengan pemantauan ketat terhadap integritas kulit untuk mencegah cedera termal.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner, L. S., & Suddarth, D. S. (2018). Textbook of Medical-Surgical Nursing (14th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer.

International Liaison Committee on Resuscitation (ILCOR). (2020). Hypothermia during Cardiac Arrest: Clinical Practice Guidelines. Circulation Journal.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Potter, P. A., & Perry, A. G. (2021). Fundamentals of Nursing (10th ed.). St. Louis, MO: Elsevier.

World Health Organization (WHO). (2019). Pocket Book of Hospital Care for Children: Guidelines for the Management of Common Childhood Illnesses. Geneva: WHO Press.