DIAGNOSA ISOLASI SOSIAL (D.0121)
A. DEFINISI
- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Keadaan di mana individu mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Individu mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain.
- NANDA International Kesepian yang dialami oleh individu dan dirasakan sebagai hal yang dipaksakan oleh orang lain serta sebagai keadaan negatif yang mengancam. Hal ini merupakan respons subjektif terhadap keadaan yang tidak diinginkan, bukan sekadar keadaan sendirian.
- Gail W. Stuart Suatu gangguan hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial. Stuart memandangnya sebagai spektrum respons sosial yang tidak adaptif.
- Mary C. Townsend Suatu kondisi di mana individu menarik diri dari masyarakat dan lingkungan sekitarnya, yang sering kali merupakan mekanisme pertahanan untuk menghindari kecemasan atau penolakan, sehingga menghasilkan isolasi fisik maupun emosional.
- Keliat & Akemat Pengalaman kesendirian seorang individu yang diterima dari orang lain dan sebagai keadaan negatif atau mengancam bagi diri sendiri. Hal ini ditandai dengan upaya menghindari interaksi dengan orang lain agar tidak terjadi konflik atau cedera psikologis lebih lanjut.
B. ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO
Berbagai faktor dapat memicu terjadinya isolasi sosial, antara lain:
- Faktor Perkembangan: Adanya hambatan atau keterlambatan dalam mencapai tugas perkembangan sosial pada masa kanak-kanak atau remaja.
- Perubahan Status Mental: Penurunan fungsi kognitif atau gangguan afektif yang menghambat kemampuan komunikasi (misalnya pada kasus skizofrenia atau depresi berat).
- Ketidakadekuatan Sumber Daya Personal: Kurangnya keterampilan sosial, pengendalian diri yang buruk, atau proses berduka yang tidak tuntas (disfungsi berduka).
- Faktor Eksternal: Perubahan penampilan fisik yang signifikan atau ketidaksesuaian nilai-nilai pribadi dengan norma-norma yang berlaku di lingkungan masyarakat.
C. INDIKATOR KLINIS (TANDA DAN GEJALA)
Penegakan diagnosis ini didasarkan pada data yang ditemukan selama pengkajian:
- Data Subjektif: Pasien menyatakan merasa ingin sendirian, merasa tidak aman atau cemas berada di tempat umum, serta merasa tidak memiliki tujuan dalam interaksi sosial.
- Data Objektif: Adanya perilaku menarik diri, tidak berminat atau menolak untuk berinteraksi dengan orang lain maupun lingkungan sekitar, serta kontak mata yang kurang saat diajak berkomunikasi.
D. KONDISI KLINIS TERKAIT
- Skizofrenia.
- Gangguan Depresi Mayor.
- Gangguan Kepribadian (mis. Antisosial, Menghindar, Skizoid, Skizotipal).
- Gangguan Spektrum Autisme (Autism Spectrum Disorder).
- Gangguan Ansietas Sosial.
- Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).
- Demensia / Penyakit Alzheimer.
- Retardasi Mental.
- Penyalahgunaan Zat atau Alkohol.
- Kondisi Terminal (Penyakit stadium lanjut).
- Penyakit Kronis yang menyebabkan perubahan penampilan fisik (mis. kusta, luka bakar luas).
- Gangguan Pendengaran atau Bicara yang berat.
- Kehilangan anggota tubuh (Amputasi).
- Proses Berduka yang tidak tuntas.
E. LUARAN KEPERAWATAN
Berdasarkan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), tujuan utama intervensi adalah mencapai Keterlibatan Sosial Meningkat (L.13116). Kriteria keberhasilan meliputi:
- Peningkatan minat dalam berinteraksi dengan orang lain.
- Penurunan verbalisasi perasaan isolasi dan ketidakamanan di tempat umum.
- Pengurangan perilaku menarik diri secara signifikan.
F. INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI)
Langkah-langkah sistematis yang diambil untuk mengatasi isolasi sosial meliputi:
- Promosi Sosialisasi (I.13498):
- Observasi: Mengidentifikasi hambatan fisik maupun psikologis dalam berinteraksi.
- Terapeutik: Memotivasi keterlibatan dalam hubungan sosial secara bertahap dan memberikan umpan balik positif terhadap setiap kemajuan interaksi.
- Edukasi: Melatih keterampilan komunikasi melalui teknik role play (bermain peran) dan menganjurkan partisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan.
- Terapi Aktivitas (I.01026):
- Memfasilitasi pemilihan aktivitas kelompok yang tidak kompetitif untuk membangun kepercayaan diri.
- Melibatkan keluarga dalam mendukung partisipasi pasien dalam rutinitas harian dan sosial.
DAFTAR PUSTAKA
American Psychiatric Association (APA). (2022). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR). Washington, DC: American Psychiatric Publishing.
Carpenito, L. J. (2017). Handbook of Nursing Diagnosis. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Keliat, B. A., & Akemat. (2014). Keperawatan Jiwa: Terapi Aktivitas Kelompok. Jakarta: EGC.
NANDA International. (2021). Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2021-2023. Oxford: Wiley-Blackwell.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Stuart, G. W. (2014). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. St. Louis, Missouri: Elsevier Mosby.
Townsend, M. C., & Morgan, K. I. (2017). Psychiatric Mental Health Nursing: Concepts of Care in Evidence-Based Practice. Philadelphia: F.A. Davis Company.


Tinggalkan Balasan