GANGGUAN KOMUNIKASI VERBAL (D.0119)

GANGGUAN KOMUNIKASI VERBAL (D.0119)

by

in

DIAGNOSA GANGGUAN KOMUNIKASI VERBAL (D.0119)

A. Definisi 

  1. PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Definisi menurut Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) adalah penurunan, perlambatan, atau ketersediaan kemampuan untuk menerima, memproses, mengirim, dan/atau menggunakan sistem simbol.
  2. NANDA International (Herdman & Kamitsuru) Penurunan, perlambatan, atau ketiadaan kemampuan untuk menerima, memproses, mengirim, dan/atau menggunakan sistem simbol dalam berinteraksi. Diagnosa ini berfokus pada hambatan kemampuan seseorang untuk mengirimkan atau menerima pesan meskipun individu tersebut memiliki keinginan untuk berkomunikasi.
  3. Potter & Perry Suatu kondisi di mana individu mengalami kesulitan dalam menyampaikan atau menerima pesan secara verbal, yang dapat disebabkan oleh gangguan fisik, kognitif, maupun faktor psikososial. Menekankan bahwa komunikasi bukan hanya soal kata-kata, melainkan juga interpretasi simbol dan respon yang sesuai.
  4. Lynda Juall Carpenito Keadaan di mana individu mengalami, atau berisiko tinggi mengalami, hambatan dalam kemampuan untuk mengirimkan atau menerima pesan (misalnya: bicara, membaca, menulis) karena adanya gangguan fisik, psikologis, atau hambatan lingkungan.
  5. Marilynn E. Doenges Gangguan pada kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif, yang sering kali bermanifestasi sebagai kesulitan dalam artikulasi, ketidakmampuan menggunakan ekspresi wajah secara tepat, atau kesulitan dalam memahami komunikasi orang lain akibat kerusakan neurologis atau hambatan sensorik

B. DEFINISI ILMIAH

Gangguan komunikasi verbal merupakan suatu kondisi klinis yang ditandai dengan adanya penurunan, perlambatan, atau ketiadaan kemampuan fungsional untuk menerima, memproses, mengirim, dan/atau menggunakan sistem simbol dalam berinteraksi. Secara patofisiologis, kondisi ini melibatkan gangguan pada area kognitif (seperti area Broca dan Wernicke di otak), transmisi neuromuskular, atau integritas struktural organ artikulasi dan sensorik.

C. ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO

Berdasarkan tinjauan klinis, penyebab gangguan ini diklasifikasikan menjadi beberapa domain utama:

  1. Gangguan Fisiologis & Neurologis Penurunan sirkulasi serebral (misalnya pada stroke), gangguan neuromuskular, dan kelainan struktur (palatum mole/durum, muskuloskeletal).
  2. Hambatan Fisik Tindakan medis invasif seperti intubasi endotrakeal, trakeostomi, atau krikotiroidektomi yang membatasi penggunaan pita suara.
  3. Faktor Psikologis & Emosional Kondisi psikotik, gangguan konsep diri, kecemasan akut, serta hambatan emosional yang memicu mutisme selektif atau penarikan diri secara sosial.
  4. Hambatan Lingkungan & Budaya Ketidakcukupan informasi, ketiadaan pendukung sosial (significant others), hingga diskrepansi budaya dan bahasa.

D. MANIFESTASI KLINIS  (TANDA DAN GEJALA)

Tanda dan Gejala Mayor

Subjektif:

  • (Tidak tersedia)

Objektif:

  • Tidak mampu berbicara atau mendengar.
  • Menunjukkan respon tidak sesuai.

Tanda dan Gejala Minor

Subjektif:

  • (Tidak tersedia)

Objektif:

  1. Aphasia.
  2. Dysphasia.
  3. Apraxia.
  4. Dysarthria.
  5. Aphonia.
  6. Dyslalia.
  7. Plerolalia.
  8. Gagap.
  9. Sengau.
  10. Disorientasi orang, tempat, waktu.
  11. Defisit penglihatan.
  12. Delusi.
  13. Halusinasi.
  14. Ketidakmampuan menggunakan ekspresi wajah atau tubuh.
  15. Sulit menyusun kalimat.
  16. Verbalisasi tidak tepat.
  17. Sulit mengungkapkan kata-kata.
  18. Sulit memahami komunikasi.

E. KONDISI KLINIS TERKAIT 

  1. Stroke.
  2. Cedera kepala (Traumatic Brain Injury).
  3. Tumor otak.
  4. Multiple Sclerosis.
  5. Myasthenia Gravis.
  6. Penyakit Parkinson.
  7. Alzheimer’s Disease / Demensia.
  8. Cerebral Palsy.
  9. Kelainan palatum (mis. Cleft Lip/Palate).
  10. Distrofi muskular.
  11. Intubasi endotrakeal.
  12. Trakeostomi.
  13. Kehilangan pendengaran (Hearing Loss).
  14. Psikosis / Skizofrenia.
  15. Autisme.
  16. Hambatan perkembangan bahasa.

F.  LUARAN KEPERAWATAN (TARGET TERAPEUTIK)

Tujuan utama intervensi adalah Komunikasi Verbal Meningkat [L.13118], dengan kriteria hasil yang terukur:

  1. Peningkatan frekuensi dan kualitas artikulasi bicara.
  2. Peningkatan kemampuan memproses informasi auditori (mendengar).
  3. Kesesuaian antara ekspresi wajah/tubuh dengan pesan yang ingin disampaikan.

G. INTERVENSI KEPERAWATAN KOMPREHENSIF

Strategi manajemen pasien melibatkan teknik komunikasi augmentatif dan alternatif (AAC):

  1. Promosi Komunikasi: Defisit Bicara [I.13492] 

Meliputi monitoring diksi dan volume, penggunaan papan gambar/huruf, serta stimulasi proses kognitif. Pakar menyarankan penggunaan teknik “mendengar aktif” dan memberikan waktu jeda yang cukup bagi pasien untuk merespon.

  1. Promosi Komunikasi: Defisit Pendengaran [I.13493] 

Fokus pada optimalisasi visual (kontak mata, membaca bibir) dan penggunaan alat bantu dengar.

  1. Promosi Komunikasi: Defisit Visual [I.13494] 

Memanfaatkan stimulasi indra peraba dan pendengaran untuk menggantikan input visual yang hilang.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L. J. (2017). Handbook of Nursing Diagnosis. Philadelphia: Wolters Kluwer.

Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. (2019). Nurse’s Pocket Guide: Diagnoses, Prioritized Interventions and Rationales. Philadelphia: F.A. Davis Company.

Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2021). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification, 2021–2023. Oxford: Wiley-Blackwell.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Potter, P. A., Perry, A. G., Stockert, P. A., & Hall, A. M. (2021). Fundamentals of Nursing (10th ed.). St. Louis, MO: Elsevier.

World Health Organization (WHO). (2011). World Report on Disability. Geneva: World Health Organization.