DIAGNOSA RISIKO KETIDAKBERDAYAAN (D.0103)
A. DEFINISI
- PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Berisiko mengalami kerentanan terhadap persepsi bahwa tindakan seseorang tidak akan secara signifikan mempengaruhi hasil; suatu kurang kontrol terhadap situasi atau kejadian yang dialami.
- NANDA International Rentan terhadap pengalaman kehilangan kontrol atas suatu situasi, termasuk persepsi bahwa tindakan seseorang tidak secara signifikan memengaruhi hasil, yang dapat mengganggu kesehatan.
- Lynda Juall Carpenito Suatu kondisi di mana individu berisiko mengalami perasaan kurang kendali terhadap situasi atau kejadian yang mempengaruhi pandangan mereka terhadap diri sendiri dan masa depan, yang sering kali dipicu oleh perubahan gaya hidup atau kondisi fisik yang membatasi otonomi.
- Gail W. Stuart Sebuah respons maladaptif yang potensial terjadi ketika seseorang merasa tidak memiliki sumber daya internal atau eksternal yang cukup untuk mengontrol stresor, sehingga menimbulkan kerentanan terhadap perasaan tidak mampu mengubah arah kehidupan atau keputusan kesehatan.
- Moorhead et al. (Nursing Outcomes Classification) Potensi terjadinya gangguan dalam persepsi kontrol diri yang diakibatkan oleh kurangnya keterlibatan dalam pengambilan keputusan atau keterbatasan fisik, di mana individu merasa bahwa perilakunya tidak akan menghasilkan hasil yang diinginkan secara mandiri.
B. FAKTOR RISIKO
Penentuan diagnosis risiko ini didasarkan pada keberadaan faktor-faktor yang dapat memicu hilangnya rasa kendali individu, antara lain:
- Kondisi Klinis & Terapi:
- Menderita penyakit kronis, progresif, atau terminal (misalnya: gagal ginjal kronis, kanker, atau HIV/AIDS).
- Menjalani program pengobatan yang kompleks, jangka panjang, dan membatasi ruang gerak.
- Adanya gangguan fisik yang membatasi aktivitas harian secara signifikan.
- Psikologis & Riwayat Personal:
- Riwayat kegagalan yang berulang dalam mencapai tujuan hidup.
- Kurangnya pengetahuan mengenai kondisi penyakit atau sistem pelayanan kesehatan.
- Ketidakadekuatan mekanisme koping di masa lalu (seperti riwayat depresi).
3. Lingkungan & Interpersonal:
- Hilangnya privasi dan kontrol atas rutinitas harian akibat hospitalisasi atau institusionalisasi.
- Kurangnya dukungan sosial dari keluarga atau lingkungan sekitar.
- Adanya penyalahgunaan kekuasaan dari pihak lain atau hubungan interpersonal yang kasar.
C. KONDISI KLINIS TERKAIT
- Penyakit kronis (mis. Diabetes Melitus, Arthritis Rheumatoid).
- Penyakit progresif (mis. Multiple Sclerosis, Penyakit Parkinson, Kanker).
- Gagal ginjal terminal (menjalani dialisis jangka panjang).
- Kondisi pasca Stroke (kelumpuhan atau afasia).
- Cedera tulang belakang (paraplegia atau tetraplegia).
- Gagal jantung kongestif kronis.
- Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) berat.
- Penyalahgunaan zat atau ketergantungan obat.
- Gangguan jiwa (mis. Depresi, Skizofrenia).
- Kondisi hospitalisasi jangka panjang.
- Kebutuhan perawatan intensif (ICU).
- Cacat fisik permanen.
- Gangguan penglihatan atau pendengaran berat.
- Penyakit terminal (stadium akhir)
D. PERSPEKTIF PAKAR KEPERAWATAN
Pakar keperawatan jiwa, Stuart (2013), menekankan bahwa ketidakberdayaan sering kali muncul sebagai akibat dari ketidakseimbangan antara sumber daya individu dengan tuntutan lingkungan (stresor). Sementara itu, Carpenito (2017) membedakan ketidakberdayaan menjadi dua jenis: situasional (terkait kejadian spesifik singkat) dan trait powerlessness (sifat menetap yang mempengaruhi gaya hidup). Pada diagnosis risiko, fokus utama perawat adalah mencegah transisi dari perasaan “berisiko” menjadi kondisi ketidakberdayaan yang aktual melalui penguatan otonomi pasien.
E. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)
Setelah dilakukan intervensi, diharapkan Keberdayaan Meningkat (L.09071) dengan kriteria hasil:
- Pernyataan mampu melakukan aktivitas atau mencapai tujuan meningkat.
- Partisipasi dalam pengambilan keputusan mengenai perawatan meningkat.
- Perasaan rendah diri dan keputusasaan menurun.
F. INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI)
Intervensi utama berfokus pada Promosi Harapan (I.09307) dan Promosi Koping (I.09312):
Observasi:
Identifikasi area di mana pasien masih memiliki kendali diri.
Terapeutik:
Melibatkan pasien dalam setiap pengambilan keputusan medis, memberikan pujian atas keberhasilan kecil, dan menciptakan lingkungan yang mendukung privasi.
Edukasi:
Melatih teknik koping yang adaptif, seperti afirmasi positif dan pengenalan kemampuan diri yang masih ada.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, L. J. (2017). Handbook of Nursing Diagnosis. 15th Edition. Philadelphia: Wolters Kluwer Health.
Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (2018). Nursing Outcomes Classification (NOC): Measurement of Health Outcomes. 6th Edition. St. Louis: Elsevier.
NANDA International. (2021). Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2021-2023. 12th Edition. Edited by T. Heather Herdman, et al. Oxford: Wiley-Blackwell.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Stuart, G. W. (2013). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. 10th Edition. St. Louis: Elsevier Mosby.


Tinggalkan Balasan