RISIKO HARGA DIRI RENDAH SITUASIONAL (D.0102)

RISIKO HARGA DIRI RENDAH SITUASIONAL (D.0102)

by

in

DIAGNOSA RISIKO HARGA DIRI RENDAH SITUASIONAL (D.0102)

A. DEFINISI 

  1. PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Berisiko mengalami evaluasi atau perasaan negatif terhadap diri sendiri atau kemampuan klien sebagai respons terhadap situasi saat ini.
  2. NANDA International (North American Nursing Diagnosis Association) Rentan terhadap pengembangan persepsi negatif tentang harga diri sebagai respons terhadap situasi saat ini, yang dapat mengganggu kesehatan.
  3. Gail W. Stuart Suatu kerentanan individu dalam mengalami gangguan penilaian diri terhadap keberhargaan, diri sendiri, kapabilitas, atau keberhasilan yang terjadi secara spesifik karena adanya ancaman terhadap integritas fisik atau kegagalan dalam menjalankan peran.
  4. Mary C. Townsend Ketidakmampuan yang mungkin terjadi pada individu untuk mempertahankan evaluasi diri yang positif sebagai akibat dari stresor yang tiba-tiba, seperti kehilangan, perubahan status kesehatan, atau kegagalan fungsional yang bersifat sementara.
  5. Lynda Juall Carpenito Kondisi di mana individu berisiko mengalami transisi dari kondisi harga diri yang adaptif menjadi maladaptif, yang dipicu oleh peristiwa eksternal yang spesifik dan menuntut upaya penyesuaian kognitif serta emosional yang tinggi.

B. DEFINISI ILMIAH

Risiko harga diri rendah situasional merupakan kondisi kerentanan psikologis di mana individu berisiko mengalami evaluasi diri negatif atau perasaan tidak adekuat terhadap diri sendiri maupun kemampuannya sebagai respons terhadap situasi atau peristiwa spesifik saat ini. Secara psikologis, hal ini melibatkan fluktuasi dalam komponen harga diri (self-esteem) yang bersifat sementara namun dapat berdampak signifikan pada integritas ego jika tidak dilakukan intervensi dini.

C. FAKTOR RISIKO (ETIOLOGI)

Kondisi ini dipicu oleh berbagai stresor situasional yang mengancam konsep diri. faktor-faktor risiko tersebut meliputi:

  1. Gangguan ganbaran diri
  2. Gangguan fungsi
  3. Gangguan peran sosial
  4. Harapan tidak realistis 
  5. Kurang pemahaman terhadap situasi
  6. Penurunan kontrol terhadap lingkungan 
  7. Penyakit fisik
  8. Perilaku tidak sesuai dengan nilai setempat
  9. Kegagalan
  10. Perasaan tidak berdaya
  11. Riwayat kehilangan 
  12. Riwayat pengabaian 
  13. Riwayat penolakan 
  14. Riwayat penganiayaan (mis. Fisik, psikologis, seksual)
  15. Transisi perkembangan 

D. KONDISI KLINIS TERKAIT 

  1. Cedera traumatik.
  2. Pembedahan (operasi).
  3. Amputasi (kehilangan anggota tubuh).
  4. Luka bakar.
  5. Kanker.
  6. Penyakit terminal.
  7. Kehilangan fungsi tubuh secara mendadak (mis. Stroke, lumpuh).
  8. Perubahan fisik akibat prosedur medis (mis. stoma, penggunaan alat bantu).
  9. Keguguran atau masalah fertilitas.
  10. Kematian anggota keluarga atau orang terdekat.
  11. Kehilangan pekerjaan atau kegagalan ekonomi.
  12. Transisi tahap perkembangan (mis. pubertas, menopause).
  13. Riwayat penganiayaan atau kekerasan.

E. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)

Tujuan utama intervensi adalah mencapai Harga Diri Meningkat (L.09069) dengan kriteria hasil sebagai berikut:

  1. Peningkatan Aspek Positif Penilaian diri positif, perasaan memiliki kelebihan, dan minat mencoba hal baru menunjukkan tren peningkatan yang signifikan.
  2. Perbaikan Afektif Penurunan frekuensi perasaan malu, rasa bersalah, dan perasaan tidak mampu dalam menghadapi tantangan harian.
  3. Perbaikan Psikomotor Postur tubuh yang tegak dan kontak mata yang adekuat saat berkomunikasi menunjukkan kembalinya kepercayaan diri individu.

F. INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI)

Strategi penanganan difokuskan pada penguatan mekanisme koping dan restrukturisasi kognitif melalui pendekatan berikut:

  1. Promosi Harga Diri (I.09308)

Observasi:

Identifikasi pengaruh budaya, usia, dan gender terhadap persepsi diri serta monitor pernyataan yang merendahkan diri sendiri secara berkala.

Terapeutik:

Motivasi individu untuk terlibat dalam afirmasi positif dan menetapkan tujuan yang realistis melalui metode SMART goals serta fasilitasi lingkungan yang mendukung penerimaan diri.

Edukasi:

Latih cara berpikir positif dan teknik menghadapi kritik atau perundungan (bullying) untuk memperkuat pertahanan ego.

2. Dukungan Penampilan Peran (I.13478)

Membantu individu mengidentifikasi peran baru atau perubahan peran akibat kondisi sakit, serta memfasilitasi adaptasi terhadap transisi tersebut melalui diskusi mendalam dan teknik bermain peran (role play).

3. Promosi Kesadaran Diri (I.09311)

Mendorong eksplorasi pikiran dan perasaan untuk memahami motivasi di balik setiap perilaku serta membantu mengurangi penggunaan mekanisme pertahanan diri yang tidak sehat seperti penyangkalan (denial) terhadap realitas situasi.

DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association. (2022). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR). Washington, DC: American Psychiatric Association Publishing.

Carpenito, L. J. (2017). Handbook of Nursing Diagnosis. Philadelphia: Wolters Kluwer.

Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2018). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification 2018–2020. Oxford: Wiley-Blackwell.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Stuart, G. W. (2014). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. St. Louis, Missouri: Elsevier Health Sciences.

Townsend, M. C., & Morgan, K. I. (2017). Psychiatric Mental Health Nursing: Concepts of Care in Evidence-Based Practice. Philadelphia: F.A. Davis Company.