KETIDAKNYAMANAN PASCA PARTUM (D.0075)

KETIDAKNYAMANAN PASCA PARTUM (D.0075)

by

in

DIAGNOSA KETIDAKNYAMANAN PASCA PARTUM (D.0075)

A. DEFINISI

  1. PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Perasaan kurang nyaman yang berhubungan dengan kondisi fisik, psikologis, lingkungan dan sosial setelah proses persalinan. Definisi ini menjadi standar nasional dalam menegakkan diagnosa keperawatan di Indonesia.
  2. Lowdermilk, Perry, & Cashion Suatu periode transisi fisik dan psikologis yang ditandai dengan sensasi nyeri akibat involusi uterus (afterpains), trauma pada jaringan perineum, serta ketegangan pada payudara akibat dimulainya proses laktasi.
  3. Reeder, Martin, & Koniak-Griffin Suatu respon biopsikososial yang bersifat holistik terhadap trauma lahir dan perubahan fisiologis mendadak. Pakar ini menekankan bahwa kenyamanan bukan sekadar hilangnya nyeri, melainkan pencapaian kesejahteraan emosional ibu dalam peran barunya.
  4. World Health Organization (WHO) Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan pada periode postnatal yang dapat menghambat interaksi awal antara ibu dan bayi serta mempengaruhi proses pemulihan kesehatan ibu secara menyeluruh.
  5. Doenges, Moorhouse, & Murr Kondisi ketidaknyamanan yang spesifik pada masa nifas, seringkali dimanifestasikan melalui kelelahan yang ekstrem, nyeri perineum, dan kontraksi rahim yang diperlukan untuk mencegah perdarahan namun menimbulkan sensasi nyeri yang signifikan.

B. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI

Penyebab ketidaknyamanan ini bersifat multifaktorial, meliputi:

  1. Trauma Jaringan Perineum: Kerusakan integritas kulit dan otot selama fase pengeluaran janin, baik melalui episiotomi maupun laserasi spontan.
  2. Involusi Uterus (Afterpains): Kontraksi ritmik uterus untuk kembali ke ukuran semula dan mencegah perdarahan postpartum, yang sering kali dirasakan lebih intens pada multipara.
  3. Engorgement (Pembengkakan) Payudara: Peningkatan vaskularitas dan akumulasi air susu pada alveoli payudara yang memicu rasa tegang dan nyeri.
  4. Faktor Psikososial: Kurangnya dukungan sosial (keluarga/tenaga kesehatan) dan pengaruh budaya yang dapat mempengaruhi ambang persepsi nyeri individu.

C. KRITERIA KLINIS (INDIKATOR DIAGNOSTIK)

Penegakan diagnosis dilakukan berdasarkan     temuan    klinis sebagai berikut:

Data Subjektif:

  • Pasien melaporkan perasaan tidak nyaman atau nyeri pada area spesifik     (perineum, uterus, atau payudara).

Data Objektif:

  • Respon perilaku: Tampak meringis atau gelisah.
  • Temuan fisik: Adanya kontraksi uterus yang teraba keras, luka pada area episiotomi/perineum, serta distensi atau edema pada jaringan payudara.

D. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)

Intervensi diarahkan untuk mencapai Status Kenyamanan Pasca Partum Meningkat (L.07061) dengan kriteria hasil:

  • Keluhan tidak nyaman secara verbal menurun.
  • Ekspresi wajah meringis berkurang hingga hilang.
  • Proses penyembuhan luka episiotomi berjalan optimal.
  • Nyeri akibat kontraksi uterus dan pembengkakan payudara terkendali.

E. INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI)

Strategi penatalaksanaan melibatkan pendekatan farmakologis dan non-farmakologis:

  1. Manajemen Nyeri (I.08238):
  • Melakukan asesmen nyeri secara holistik (PQRST).
  • Memfasilitasi teknik non-farmakologis seperti kompres dingin pada perineum (untuk mengurangi edema) atau kompres hangat pada payudara.
  • Edukasi mengenai strategi koping terhadap nyeri pasca bersalin.
  1. Terapi Relaksasi (I.09326):
  • Implementasi teknik napas dalam atau imajinasi terbimbing untuk menurunkan ketegangan otot dan kecemasan, yang secara tidak langsung menurunkan persepsi nyeri.

F. TINJAUAN PAKAR TAMBAHAN

Menurut literatur keperawatan maternitas (Reeder, et al.), perawatan pasca partum harus fokus pada “Kenyamanan Holistik” yang mencakup aspek fisik dan emosional. Kelelahan maternal (maternal fatigue) sering kali memperberat persepsi ketidaknyamanan, sehingga manajemen istahat menjadi komponen krusial dalam pemulihan jaringan. World Health Organization (WHO) juga menekankan pentingnya perawatan perineum yang higienis dan dukungan menyusui dini untuk mencegah komplikasi yang dapat memperparah ketidaknyamanan.

G. KONDISI KLINIS TERKAIT

  1. Episiotomi
  2. Laserasi Perineum
  3. Involusi Uterus
  4. Post Partum Blues
  5. Pembengkakan Payudara (Engorgement)
  6. Mastitis
  7. Infeksi Saluran Kemih (ISK)
  8. Konstipasi Pasca Partum
  9. Hemoroid
  10. Seksio Sesarea (SC)

H. TANDA DAN GEJALA MAYOR

Subjektif 

  • Menegluh tidak nyaman

Obektif 

  • Tanda meringis
  • Terdapat kontraksi uterus
  • Luka epiotomi 
  • Payudara bengkak

G. TANDA DAN GEJALA MINOR 

Subjektif

  • Mengeluh sulit tidur.
  • Mengeluh lelah.
  • Mengeluh haus.
  • Mengeluh merasa dingin/kepanasan.

Objektif 

  • Tekana datah meningkat 
  • Frekuensi nadi meningkat
  • Berkeingat berlebihan 
  • menangis/merintih
  • Haemorroid 

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. (2019). Nursing Care Plans: Guidelines for Individualizing Patient Care Across the Life Span. Philadelphia: F.A. Davis Company.

Lowdermilk, D. L., Perry, S. E., Cashion, K., Alden, K. R., & Olshansky, E. F. (2019). Maternity & Women’s Health Care (12th ed.). St. Louis, Missouri: Elsevier.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Reeder, S. J., Martin, L. L., & Koniak-Griffin, D. (2011). Maternity Nursing: Family, Newborn, and Women’s Health Care (18th ed.). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

World Health Organization (WHO). (2022). WHO recommendations on maternal and newborn care for a positive postnatal experience. Geneva: World Health Organization.