Tabel Integrasi SLKI dan SIKI: Gangguan Ventilasi Spontan
| Diagnosa | Luaran Utama (SLKI) | Luaran Tambahan (SLKI) | Intervensi Terkait (SIKI) |
| Gangguan Ventilasi Spontan | Ventilasi Spontan (L.01007) | Keseimbangan Asam-Basa, Konservasi Energi, Pemulihan Pascabedah, Pertukaran Gas, Respons Ventilasi Mekanik, Status Kenyamanan, Tingkat Ansietas, Tingkat Keletihan | 1. Dukungan Ventilasi (I.01002) 2. Pemantauan Respirasi (I.01014) 3. Manajemen Jalan Napas (I.01011) |
Rincian Intervensi SIKI (OTEK)
Berikut adalah rincian tindakan untuk minimal 3 intervensi guna meningkatkan efektivitas pernapasan pasien secara mandiri:
1. Dukungan Ventilasi (I.01002)
- Observasi: Identifikasi adanya kelelahan otot bantu napas; monitor status respirasi dan oksigenasi (mis. frekuensi dan kedalaman napas, penggunaan otot bantu napas, bunyi napas tambahan).
- Terapeutik: Pertahankan kepatenan jalan napas; berikan posisi semi-fowler atau fowler untuk memfasilitasi ekspansi paru; berikan oksigenasi sesuai kebutuhan.
- Edukasi: Ajarkan teknik pernapasan bibir (pursed-lip breathing); ajarkan teknik relaksasi untuk mengurangi Tingkat Ansietas dan Tingkat Keletihan.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian bronkodilator atau bantuan ventilasi mekanik jika ventilasi spontan tidak adekuat.
2. Pemantauan Respirasi (I.01014)
- Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; monitor pola napas (mis. bradipnea, takipnea); palpasi kesimetrisan ekspansi paru; auskultasi bunyi napas; monitor nilai AGD untuk menilai Pertukaran Gas dan Keseimbangan Asam-Basa.
- Terapeutik: Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien; dokumentasikan hasil pemantauan untuk memantau tren Respons Ventilasi Mekanik (jika terpasang).
- Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan kepada pasien dan keluarga; informasikan hasil pemantauan secara berkala.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan tenaga medis dalam penyesuaian parameter ventilator atau pemberian terapi inhalasi.
3. Manajemen Jalan Napas (I.01011)
- Observasi: Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas); monitor bunyi napas tambahan (mis. gurgling, mengi, ronkhi kering); monitor sputum (jumlah, warna, aroma).
- Terapeutik: Lakukan penghisapan lendir (suction) kurang dari 15 detik; berikan minum hangat; lakukan fisioterapi dada, jika perlu; berikan oksigenasi sebelum penghisapan endotrakeal.
- Edukasi: Anjurkan asupan cairan yang cukup (2000 ml/hari, jika tidak ada kontraindikasi); ajarkan teknik batuk efektif untuk meningkatkan Status Kenyamanan.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian mukolitik atau ekspektoran, jika perlu.
Definisi Ilmiah Gangguan Ventilasi Spontan
Gangguan Ventilasi Spontan secara ilmiah didefinisikan sebagai penurunan cadangan energi yang mengakibatkan ketidakmampuan individu untuk mempertahankan pernapasan yang adekuat guna mendukung kehidupan. Secara patofisiologis, kondisi ini melibatkan kegagalan pompa pernapasan akibat kelelahan otot-otot pernapasan (diafragma dan interkostal) atau gangguan pada dorongan pusat pernapasan di batang otak. Kegagalan ini menyebabkan hipoventilasi yang bermanifestasi pada asidosis respiratorik dalam Keseimbangan Asam-Basa serta penurunan saturasi oksigen dalam Pertukaran Gas. Intervensi keperawatan difokuskan pada Konservasi Energi dan optimalisasi mekanika paru guna memulihkan kemampuan Ventilasi Spontan (L.01007) yang stabil dan mandiri.
Literatur
- PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
- PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
- PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Tinggalkan Balasan