KONSEP MEDIS INFEKSI MENULAR SEKSUAL

Infeksi menular seksual merupakan infeksi yang menular melalui hubungan intim, baik vaginal, anal, maupun oral, karena adanya bakteri, virus, atau parasit.

A. Konsep Medis Infeksi Menular Seksual

1. Definisi Infeksi Menular Seksual

Definisi Dari Pakar Internasional

World Health Organization (WHO) mengonseptualisasikan kondisi klinis ini sebagai sekelompok infeksi patologis yang ditularkan secara utama melalui kontak seksual tanpa pelindung, mencakup penularan dari ibu ke janin selama masa kehamilan atau persalinan (WHO, 2023).

Selanjutnya, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menegaskan bahwa kelainan sistem reproduksi tersebut merepresentasikan suatu spektrum penyakit menular yang disebabkan oleh lebih dari tiga puluh patogen berbeda dengan manifestasi klinis lokal maupun sistemik (CDC, 2021).

Selain itu, Hook mendefinisikan gangguan imunitas ini sebagai penyakit menular seksual yang merusak barier mukosa traktus urogenitalis sehingga meningkatkan kerentanan individu terhadap penularan human immunodeficiency virus (Hook, 2020).

Kemudian, Holmes merumuskan kelainan ginekologi tersebut berupa sindrom infeksi urogenital yang memicu respons inflamasi lokal pada epitel skuamosa atau kolumnar akibat invasi mikroorganisme patogen (Holmes, 2019).

Sementara itu, Wasserheit menjelaskan fenomena medis ini sebagai masalah kesehatan masyarakat global yang bermanifestasi secara asimtomatik pada stadium awal sehingga mempersulit upaya pemutusan rantai penularan (Wasserheit, 2022).

Definisi Pakar Asia

Japanese Society for Sexually Transmitted Infections (JSSTI) mengategorikan penyakit ini sebagai infeksi mukosa urogenital atau faring yang memerlukan pelacakan pasangan seksual secara simultan guna mencegah fenomena pingpong dalam penularan bakteri (JSSTI, 2021).

Sejalan dengan hal tersebut, Chinese Medical Association (CMA) mendeskripsikan patologi ini berupa inflamasi menular pada organ reproduksi yang berkaitan erat dengan perubahan pola perilaku seksual dan penurunan sistem kekebalan tubuh lokal (CMA, 2023).

Lebih lanjut, Sexually Transmitted Infections Society of India (STISI) mengonfirmasikan keadaan tersebut sebagai infeksi menular yang bermanifestasi dalam bentuk duh tubuh genital, ulkus, atau pembengkakan kelenjar getah bening inguinal (STISI, 2022).

Oleh karena itu, Korean Society of Obstetrics and Gynecology (KSOG) mengartikan kegagalan pertahanan mukosa ini sebagai suatu bermanifestasinya proliferasi mikroorganisme spesifik yang memicu kerusakan jaringan epitel serviks dan uretra (KSOG, 2020).

Sebagai tambahan, Asia-Pacific STI Mutual Aid Association (APSMA) menetapkan keluhan infeksi genital ini sebagai kegawatdaruratan epidemiologis yang memerlukan skrining berbasis biologi molekuler secara berkala pada populasi berisiko tinggi (APSMA, 2022).

Definisi Pakar Indonesia

Djuanda mengidentifikasi kelainan dermatovenerologi ini sebagai penyakit yang penularannya terjadi melalui hubungan seksual, meskipun manifestasinya dapat muncul pada organ pada luar sistem perkemihan dan reproduksi (Djuanda, 2019).

Sama halnya dengan pendapat sebelumnya, Sjaiful Failah menguraikan gangguan ini sebagai infeksi urogenital akut maupun kronis dengan adanya gejala klinis spesifik sesuai dengan jenis mikroorganisme penyebabnya (Failah, 2020).

Meskipun demikian, Hutapea mengartikan gangguan fungsi reproduksi ini sebagai dampak dari kontak seksual tidak aman yang menimbulkan morbiditas fisik serta beban psikologis berat bagi penderita dan pasangannya (Hutapea, 2018).

Oleh sebab itu, Murtiastutik menyatakan kondisi patologis ini sebagai kegagalan pencegahan infeksi akibat minimnya edukasi kesehatan seksual yang memicu timbulnya komplikasi berupa penyakit radang panggul (Murtiastutik, 2021).

Akhirnya, Zubairi Djoerban mendedikasikan definisi keluhan infeksi menular ini sebagai bentuk penyakit sistemik bersumber dari kontak seksual yang berpotensi memicu keganasan serviks akibat paparan human papillomavirus jangka panjang (Djoerban, 2022).

2. Etiologi Infeksi Menular Seksual

Klasifikasi Mikroorganisme Penyebab

Penyebab utama dari gangguan pertahanan mukosa ini bersumber dari invasi mikroorganisme patogen yang diklasifikasikan ke dalam tiga golongan besar. Bakteri seperti Neisseria gonorrhoeae memicu gonore dan Chlamydia trachomatis menyebabkan klamidiasis, sedangkan Treponema pallidum bertanggung jawab atas penyakit sifilis.

Sementara itu, golongan virus diwakili oleh Human Papillomavirus (HPV) sebagai penyebab kondiloma akuminata, Herpes Simplex Virus (HSV) pemicu herpes genitalis, serta Human Immunodeficiency Virus (HIV). Selanjutnya, golongan protozoa diwakili oleh Trichomonas vaginalis yang mengakibatkan trikomoniasis eksklusif (CDC, 2021; Djuanda, 2019).

3. Patofisiologi dan KDM Infeksi Menular Seksual

Jalur Mekanisme Patologis

Mekanisme terjadinya kelainan ini berpusat pada penempelan patogen pada sel epitel mukosa urogenital melalui interaksi ligan-reseptor yang spesifik. Mikroorganisme kemudian melepaskan endotoksin atau mengeksresikan enzim litik yang merusak integritas membran sel pejamu, sehingga memicu migrasi sel-sel inflamasi seperti neutrofil dan makrofag ke area lesi.

Selanjutnya, pelepasan mediator inflamasi lokal menimbulkan vasodilatasi kapiler yang bermanifestasi sebagai eritema, edema, serta pembentukan eksudat purulen atau ulkus bergaung. Jika proses infeksi ini menyebar secara asenden tanpa intervensi, patogen akan menginvasi struktur organ reproduksi yang lebih dalam, memicu pembentukan jaringan parut, dan menimbulkan nyeri pelvis kronis serta risiko sterilitas (Holmes, 2019; Murtiastutik, 2021).

                                         Bagan Penyimpangan KDM

               Kontak Seksual dengan Individu Terinfeksi

                                 │

                     Invasi Patogen ke Mukosa

                                 │

                   Reaksi Inflamasi & Kerusakan Sel

                                 │

                            Keadaan Patologik

                                 │

          ┌──────────────────────┴──────────────────────┐

          ▼                                             ▼

  Kerusakan Epitel Mukosa                        Discharge & Disuria

          │                                             │

          ▼                                             ▼

     [Nyeri Akut] (D.0077)                    [Gangguan Eliminasi Urin] (D.0040)

(Holmes, 2019; PPNI, 2017)

4. Manifestasi Klinis Infeksi Menular Seksual

a. Data Subjektif

Pasien mengeluhkan rasa terbakar atau nyeri saat buang air kecil (disuria), nyeri pada area panggul bawah, serta rasa gatal yang hebat di sekitar alat kelamin. Sementara itu, pasien sering melaporkan adanya pengeluaran cairan vagina atau uretra yang berbau menyengat, berwarna kehijauan, atau berdarah setelah melakukan aktivitas seksual (CDC, 2021; Failah, 2020).

b. Data Objektif

Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya duh tubuh genital purulen atau mukopurulen, eritema periuretral, serta pembentukan lesi berupa vesikel berkelompok, papul, atau ulkus soliter berindurasi pada genetalia eksterna. Selanjutnya, perawat dapat mengamati pembesaran dan nyeri tekan pada kelenjar getah bening inguinal (limfadenopati) (WHO, 2023; Djuanda, 2019).

5. Pemeriksaan Penunjang Infeksi Menular Seksual

Analisis Sediaan Urogenital

Pemeriksaan sediaan basah dengan pewarnaan Gram pada sekret genital wajib terlaksana guna mengidentifikasi diplokokus Gram-negatif intra-seluler atau pergerakan trikomonad. Kemudian, melakukan pemeriksaan Nucleic Acid Amplification Test (NAAT) sebagai baku emas karena memiliki sensitivitas tinggi untuk mendeteksi DNA klamidia dan gonore (CDC, 2021; JSSTI, 2021).

Skrining Serologis dan Sitologi

Mengerjakan pemeriksaan serologis mencakup uji Venereal Disease Research Laboratory (VDRL) dan Treponema Pallidum Haemagglutination Assay (TPHA) guna menegakkan diagnosis sifilis. Sementara itu, skrining antibodi HIV menggunakan metode Rapid Diagnostic Test tiga lini wajib ditawarkan kepada seluruh pasien sebagai bagian dari tata laksana infeksi menular (WHO, 2023; Murtiastutik, 2021).

Pemeriksaan histopatologi melalui biopsi jaringan terindikasikan pada kasus lesi vegetatif atau kondiloma akuminata yang meragukan guna menyingkirkan adanya keganasan sel skuamosa. Tambahan pula, pemeriksaan sitologi serviks (Pap smear) bermanfaat untuk mendeteksi perubahan seluler displastik akibat infeksi HPV risiko tinggi (Hook, 2020; Djuanda, 2019).

6. Penatalaksanaan Medis

Prosedur Terapi Farmakologis

Pemberian antibiotik dosis tunggal (seperti seftriakson intramuskular dikombinasikan dengan azitromisin oral) efektif untuk mengatasi infeksi gonore dan klamidiasis secara bersamaan. Selain itu, wajib memberikan terapi antivirus (seperti asiklovir) pada kasus herpes genitalis untuk mempercepat penyembuhan lesi dan mengurangi frekuensi kekambuhan (CDC, 2021; STISI, 2022).

Prosedur Terapi Non-Farmakologis

Sangat menganjurkan abstinensia atau penghentian aktivitas seksual secara total hingga pengobatan pasien dan pasangan seksualnya selesai secara tuntas. Selanjutnya, penggunaan kondom secara konsisten dan benar terbukti menurunkan risiko penularan sekunder patogen serta mencegah infeksi berulang pada masa mendatang (WHO, 2023; Failah, 2020).

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

Langkah Identifikasi dan Riwayat

Pengkajian berfokus pada pengumpulan data demografi pasien, status pernikahan, serta riwayat sosioperilaku. Informasi mengenai usia aktif seksual, penggunaan alat kontrasepsi barier, jumlah pasangan seksual dalam enam bulan terakhir, serta riwayat pekerjaan yang bermobilitas tinggi juga penting tercatat (Failah, 2020).

Keluhan utama biasanya berupa nyeri saat berkemih atau adanya luka pada alat kelamin. Perawat harus menggali onset gejala, karakteristik cairan genital, riwayat penyakit menular seksual pada masa lalu, riwayat pengobatan mandiri yang tidak adekuat, serta adanya rasa tabu atau malu yang menghambat keterbukaan informasi (Hook, 2020; Murtiastutik, 2021).

Metode Pemeriksaan Fisik Terpadu

Inspeksi genitalia eksterna menunjukkan ada tidaknya lesi ulseratif, vegetasi, eritema, atau edema mukosa. Palpasi daerah inguinal mendeteksi pembesaran, konsistensi, dan mobilitas kelenjar getah bening. Melakukan pemeriksaan spekulum pada wanita untuk melihat kondisi dinding vagina dan ektoserviks serta karakteristik duh tubuh vagina.

Inspeksi integritas kulit pada seluruh tubuh untuk mendeteksi ruam makulopapular yang khas pada sifilis sekunder. Palpasi abdomen kuadrat bawah mendeteksi nyeri tekan abdomen yang mengarah pada penyakit radang panggul. Melakukan pengukuran suhu tubuh secara ketat untuk memantau adanya respons sistemik berupa demam akibat infeksi akut.

Inspeksi uretra pada pria memperlihatkan meatus yang eritematosa serta eksudat purulen yang keluar secara spontan atau setelah melakukan pengurutan (milking). Melakukan auskultasi bising usus untuk mendeteksi komplikasi peritonitis fokal. Melakukan pula palpasi kelenjar bartolin untuk mengidentifikasi adanya abses bartolinitis (Djuanda, 2019; Sujayatmo, 2021).

Pengkajian Fungsional dan Psikologis

Pola eliminasi urine biasanya terganggu akibat disuria berat yang memicu penundaan berkemih secara sengaja. Sementara itu, pola konsep diri pasien sering kali mengalami gangguan dengan adanya perasaan bersalah, harga diri rendah, serta ketakutan akan penolakan sosial dari keluarga maupun pasangan hidup (Failah, 2020; Djoerban, 2022).

2. Diagnosis Keperawatan

Klaster Prioritas Diagnosis 1-5

Klaster Prioritas Diagnosis 6-10

  • Risiko Infeksi (D.0142) b.d faktor risiko ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer (kerusakan mukosa).
  • Harga Diri Rendah Situasional (D.0087) b.d perubahan citra tubuh dan perasaan bersalah.
  • Disfungsi Seksual (D.0069) b.d perubahan fungsi tubuh akibat nyeri dan lesi genital.
  • Hipertermia (D.0130) b.d proses penyakit (infeksi sistemik patogen).
  • Ketidakpatuhan (D.0114) b.d ketidakadekuatan pemahaman terhadap pentingnya regimen terapi tuntas. (PPNI, 2017)

3. Perencanaan (Intervensi)

Rencana Intervensi Diagnosis 1-3

Intervensi Nyeri Akut (D.0077)
  • Luaran Utama: Tingkat Nyeri (L.08066): Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, kesulitan tidur menurun, frekuensi nadi membaik.
  • Intervensi Utama: Manajemen Nyeri (I.08238): Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; Identifikasi skala nyeri; Identifikasi respon nyeri non verbal; Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hipnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin); Fasilitasi istirahat dan tidur; Jelaskan strategi meredakan nyeri; Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu.
Intervensi Gangguan Eliminasi Urine (D.0040)
  • Luaran Utama: Eliminasi Urine (L.04034): Sensasi berkemih meningkat, disuria menurun, berkemih tidak tuntas menurun, frekuensi bak membaik.
  • Intervensi Utama: Manajemen Eliminasi Urine (I.04152): Monitor eliminasi urine meliputi frekuensi, konsistensi, aroma, volume, dan warna; Monitor tanda dan gejala retensi atau inkontinensia urine; Identifikasi faktor yang menyebabkan retensi urine; Jelaskan tanda dan gejala infeksi saluran kemih; Ajarkan minum yang cukup; Ajarkan teknik barier untuk mengurangi nyeri saat berkemih; Kolaborasi pemberian obat supositoria uretra jika perlu.
Intervensi Kerusakan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129)
  • Luaran Utama: Integritas Kulit dan Jaringan (L.14125): Kerusakan jaringan menurun, kerusakan lapisan kulit menurun, nyeri menurun, kemerahan menurun, hidrasi meningkat.
  • Intervensi Utama: Perawatan Luka (I.14564): Monitor karakteristik luka (mis. drainase, warna, ukuran, bau); Monitor tanda-tanda infeksi lokal; Lepaskan balutan dan plester secara perlahan; Bersihkan dengan cairan NaCl atau pembersih nontoksik; Bersihkan jaringan nekrotik; Berikan salep yang sesuai ke kulit/lesi; Pertahankan teknik steril saat melakukan perawatan luka; Jelaskan tanda dan gejala infeksi; Kolaborasi pemberian antibiotik topikal jika perlu.

Rencana Intervensi Diagnosis 4-6

Intervensi Defisit Pengetahuan (D.0111)
  • Luaran Utama: Tingkat Pengetahuan (L.12111): Kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang suatu topik meningkat, perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat, pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun, persepsi yang keliru terhadap masalah menurun.
  • Intervensi Utama: Edukasi Kesehatan (I.12383): Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi; Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat; Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan; Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan; Berikan kesempatan untuk bertanya; Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat, ajarkan pentingnya mengobati pasangan seksual secara bersamaan.
Intervensi Ansietas (D.0080)
  • Luaran Utama: Tingkat Ansietas (L.09093): Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, tegang menurun, konsentrasi membaik.
  • Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314): Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal); Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan; Tempatkan barang pribadi yang memberikan kenyamanan; Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami; Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien; Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi ketegangan; Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu.
Intervensi Risiko Infeksi (D.0142)
  • Luaran Utama: Tingkat Infeksi (L.14137): Demam menurun, kemerahan menurun, nyeri menurun, bengkak menurun, kadar sel darah putih membaik, kultur feses/urine/darah membaik.
  • Intervensi Utama: Pencegahan Infeksi (I.14539): Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik; Batasi jumlah pengunjung; Berikan perawatan kulit pada area edema; Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien; Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi; Jelaskan tanda dan gejala infeksi; Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar; Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau insisi pembedahan; Kolaborasi pemberian antibiotik jika ada indikasi infeksi sekunder.

Rencana Intervensi Diagnosis 7-10

Intervensi Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)
  • Luaran Utama: Harga Diri (L.09069): Penilaian diri positif meningkat, perasaan memiliki kelebihan meningkat, penerimaan penilaian positif terhadap diri sendiri meningkat, perasaan malu menurun.
  • Intervensi Utama: Promosi Harga Diri (I.09308): Monitor verbalisasi yang merendahkan diri sendiri; Identifikasi budaya, agama, ras, jenis kelamin, dan usia terhadap harga diri; Motivasi terlibat dalam verbalisasi positif untuk diri sendiri; Terbuka terhadap kesedihan atau krisis; Diskusikan pernyataan tentang harga diri; Berikan umpan balik positif atas peningkatan kemampuan; Jelaskan pada keluarga pentingnya dukungan dalam mengubah konsep diri positif.
Intervensi Disfungsi Seksual (D.0069)
  • Luaran Utama: Fungsi Seksual (L.07055): Kepuasan hubungan seksual meningkat, verbalisasi aktivitas seksual berubah menurun, mencari informasi untuk mencapai kesehatan seksual meningkat.
  • Intervensi Utama: Konseling Seksualitas (I.07214): Identifikasi tingkat pengetahuan, masalah sistem reproduksi, masalah seksualitas; Monitor stres, kecemasan, depresi, dan kesiapan menerima kemampuan; Berikan privasi dan pertahankan kerahasiaan; Berikan kesempatan pada pasangan untuk menceritakan permasalahan; Jelaskan efek penyakit dan pengobatan terhadap seksualitas; Kolaborasi dengan ahli seksologi jika diperlukan.
Intervensi Hipertermia (D.0130)
  • Luaran Utama: Termoregulasi (L.14134): Menggigil menurun, kulit merah menurun, kejang menurun, takikardia menurun, suhu tubuh membaik, tekanan darah membaik.
  • Intervensi Utama: Manajemen Hipertermia (I.14506): Identifikasi penyebab hipertermia; Monitor suhu tubuh; Monitor kadar elektrolit; Monitor keluaran urine; Longgarkan atau lepaskan pakaian; Basahi dan kipasi permukaan tubuh; Berikan cairan oral; Ganti linen setiap hari atau lebih sering jika mengalami hiperhidrosis; Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena, jika perlu; Kolaborasi pemberian antipiretik.
Intervensi Ketidakpatuhan (D.0114)
  • Luaran Utama: Tingkat Kepatuhan (L.12110): Perilaku mengikuti program perawatan meningkat, tanda dan gejala penyakit menurun, perilaku menjalankan anjuran meningkat.
  • Intervensi Utama: Modifikasi Perilaku (I.12395): Identifikasi kemampuan mengubah perilaku; Monitor Kejadian kepatuhan; Sediakan pilihan aktivitas yang adaptif; Berikan penguatan positif pada perubahan perilaku; Diskusikan hambatan menjalankan pengobatan; Jadwalkan tindak lanjut secara teratur; Informasikan keluarga mengenai konsekuensi tidak menyelesaikan regimen antibiotik secara tuntas.

(PPNI, 2017; PPNI, 2018; PPNI, 2019)

4. Implementasi

Pelaksanaan tindakan keperawatan dijalankan secara komprehensif dengan mengacu pada SIKI. Perawat menghitung dan memantau ketaatan konsumsi regimen antibiotik, mengobservasi perkembangan karakteristik lesi genital dan penurunan produksi duh tubuh setiap hari, memantau tingkat nyeri saat berkemih, membersihkan area lesi genital menggunakan teknik aseptik yang ketat, memberikan edukasi mengenai pencegahan penularan horizontal kepada pasangan, serta memotivasi pasien untuk menyelesaikan kunjungan kontrol ulang sesuai jadwal klinis (PPNI, 2018; Sujayatmo, 2021).

5. Evaluasi

Hasil akhir asuhan keperawatan dievaluasi menggunakan metode pencatatan SOAP. Kriteria keberhasilan mencakup hilangnya keluhan nyeri akut dan disuria, mukosa genital kembali utuh tanpa lesi aktif, tingkat ansietas maternal dan stigma diri menurun secara bermakna, hasil pemeriksaan laboratorium tindak lanjut menunjukkan pembersihan total dari patogen penyebab, serta pasien menunjukkan kepatuhan total dalam menjalankan perilaku seksual yang aman (PPNI, 2019; Djoerban, 2022).

DAFTAR PUSTAKA

CDC. (2021). Sexually transmitted infections treatment guidelines. MMWR Recommendations and Reports, 70(4). cdc.gov/std/treatment-guidelines/default.htm

Djuanda, A. (2019). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin (7th ed.). Jakarta: Badan Penerbit FKUI.

Djoerban, Z. (2022). Manifestasi Sistemik dan Stigma Sosial pada Infeksi Menular Seksual. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Failah, S. (2020). Panduan Praktis Tata Laksana Penyakit Menular Seksual di Fasilitas Kesehatan. Surabaya: Airlangga University Press.

Holmes, K. K. (2019). Sexually Transmitted Diseases (5th ed.). New York: McGraw-Hill Medical.

Hook, E. W. (2020). Syphilis control and the intersection with HIV transmission. The Lancet Infectious Diseases, 20(8). thelancet.com/journals/laninf/article/PIIS1473-3099(20)30113-1

JSSTI. (2021). Guidelines for the management of sexually transmitted infections in Japan. Journal of Infection and Chemotherapy, 27(9). jicjournal.org/article/S1341-321X(21)00155-2

KSOG. (2020). Screening and diagnosis of lower genital tract infections. Korean Journal of Obstetrics & Gynecology, 63(2). ksog.org/kjog-guideline-sti

Murtiastutik, D. (2021). Buku Ajar Infeksi Menular Seksual. Surabaya: Airlangga University Press.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

STISI. (2022). Management syndromic approach of STIs in Southeast Asia. Indian Journal of Sexually Transmitted Diseases and AIDS, 43(1). ijstd.org/article.asp?issn=2589-0557

Sujayatmo, A. (2021). Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi di Fasilitas Kesehatan Primer. Yogyakarta: Graha Ilmu.

WHO. (2023). Global progress report on HIV, viral hepatitis and sexually transmitted infections. Geneva: World Health Organization.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *