KONSEP MEDIS PADA ABORTUS

Abortus merupakan pengakhiran atau ancaman pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup pada luar kandungan, dengan perdarahan pervaginam serta nyeri perut bawah pada usia kehamilan kurang dari dua puluh minggu.

A. KONSEP MEDIS ABORTUS

 1. Definisi Global Abortus

Definisi Dari Pakar Internasional

World Health Organization (WHO) mengonseptualisasikan kondisi klinis ini sebagai pengakhiran masa kehamilan sebelum janin mencapai viabilitas, dengan batasan usia gestasi 20 minggu kebawah penuh atau berat janin kurang dari 500 gram (WHO, 2023).

Selanjutnya, American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menetapkan kelainan ini sebagai hilangnya kehamilan intrauterin secara spontan sebelum usia gestasi mencapai 20 minggu (ACOG, 2024).

Selain itu, Cunningham dkk. (Williams Obstetrics) menjelaskan masalah obstetri ini sebagai ekspulsi janin atau plasenta secara spontan atau induksi dengan berat badan janin pada bawah batasan viabilitas (Cunningham dkk., 2022).

Kemudian, DeCherney dkk. mendeskripsikan kegagalan gestasi ini sebagai pengeluaran produk konsepsi dari kavum uteri yang timbul akibat kelainan genetik, faktor anatomis uteri, atau gangguan endokrin maternal (DeCherney dkk., 2019).

Sementara itu, Berek dan Novak merumuskan kondisi klinis ini sebagai terminasi kehamilan dini yang mana mudigah atau janin gagal mempertahankan pertumbuhan dan perkembangan intrauterin secara normal (Berek & Novak, 2020).

(WHO, 2023, ACOG, 2024, Cunningham dkk., 2022, DeCherney dkk., 2019, Berek & Novak, 2020)

 Definisi Pakar Asia

Ali dkk. mendefinisikan masalah ini sebagai keguguran kandungan yang terjadi secara mendadak sebelum janin mampu bertahan hidup secara mandiri pada luar rahim ibu (Ali dkk., 2021).

Oleh karena itu, Kim dan Park mengategorikan komplikasi obstetri ini sebagai penghentian kehamilan prematur spontan yang sering berasosiasi dengan usia ibu yang lanjut atau defek fase luteal (Kim & Park, 2022).

Lalu, Srivastava dan Mishra menguraikan patologi ini sebagai pengeluaran hasil pembuahan dari dalam uterus sebelum minggu kedua puluh gestasi, yang memicu perdarahan fungsional (Srivastava & Mishra, 2020).

Sejalan dengan hal tersebut, Tyan dkk. mengonseptualisasikan kondisi tersebut sebagai kegagalan reproduksi awal yang bermanifestasi klinis sebagai kram abdomen bawah beserta dilatasi atau tanpa dilatasi serviks uteri (Tyan dkk., 2023).

Akhirnya, Tan menyatakan bahwa peristiwa obstetri ini melibatkan peluruhan desidua dan kematian mudigah yang memerlukan penanganan klinis segera untuk mencegah komplikasi infeksi (Tan, 2021).

(Ali dkk., 2021, Kim & Park, 2022, Srivastava & Mishra, 2020, Tyan dkk., 2023, Tan, 2021)

Definisi Pakar Indonesia

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) merumuskan masalah tersebut sebagai ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup pada luar kandungan dengan batasan umur kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat badan janin kurang dari 500 gram (Kemenkes RI, 2022).

Namun demikian, Prawirohardjo menjelaskan kelainan kehamilan ini sebagai penghentian kehamilan sebelum janin dapat hidup pada luar kandungan, yang mana proses ini melibatkan perdarahan dalam desidua basalis (Prawirohardjo, 2020).

Tambahan pula, Sastrawinata mendefinisikan kejadian ini sebagai pengeluaran buah kehamilan sebelum viabilitas janin tercapai, yang terbagi atas jenis spontan, provokatus, maupun terapeutik (Sastrawinata, 2018).

Sebaliknya, Manuaba mengonseptualisasikan peristiwa ini sebagai keguguran atau pengakhiran kehamilan dini yang terjadi akibat kelainan telur, penyakit ibu, atau trauma mekanis (Manuaba, 2019).

Maka dari itu, Pembahasan dari Saifuddin menegaskan bahwa kondisi klinis tersebut merupakan kegagalan gestasi sebelum janin mencapai berat setengah kilogram, yang memerlukan pemantauan hemodinamika secara intensif (Saifuddin, 2021).

(Kemenkes RI, 2022, Prawirohardjo, 2020, Sastrawinata, 2018, Manuaba, 2019, Saifuddin, 2021)

2. Etiologi Patologis

 Faktor Internal Maternal

Terjadinya gangguan ini melibatkan interaksi berbagai faktor risiko multidimensional. Faktor genetik berupa kelainan kromosom menjadi penyebab utama pada lebih dari 50% kasus spontan dini. Selain faktor genetik, kelainan anatomis uterus maternal dapat mengganggu implantasi dan pertumbuhan plasenta. Oleh karena itu, gangguan endokrin pada ibu juga mengganggu kestabilan desidua. (ACOG, 2024, Cunningham dkk., 2022)

Faktor Eksternal dan Imunologi

Selanjutnya, faktor imunologis seperti adanya Antiphospholipid Syndrome (APS) memicu trombosis pada pembuluh darah plasenta. Infeksi TORCH atau bakterial vaginosis secara langsung merusak jaringan konsepsi. Akhirnya, faktor lingkungan dan gaya hidup turut mempertinggi risiko kegagalan kehamilan ini. (Cunningham dkk., 2022, Prawirohardjo, 2020)

3. Patofisiologi Jaringan

 Mekanisme Pelepasan Janin

Proses patologis dimulai dengan perdarahan dari dalam desidua basalis. Perdarahan ini memicu nekrosis pada jaringan yang berada pada sekitarnya. Akibat nekrosis jaringan desidua, hasil konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya dari dinding uterus. Oleh karena itu, keberadaan hasil konsepsi yang terlepas ini bertindak sebagai benda asing dari dalam kavum uteri. Kondisi tersebut merangsang kontraksi miometrium melalui mekanisme refleks lokal.

(Cunningham dkk., 2022, Prawirohardjo, 2020)

Efek Dilatasi Serviks

Kontraksi uterus yang terjadi secara intermiten menyebabkan peningkatan tekanan intrauterin, sehingga serviks uteri mulai membuka. Kemudian, kontraksi miometrium dan pembukaan serviks ini mendorong hasil konsepsi keluar dari rahim. Jika sebagian jaringan plasenta atau korion tetap tertinggal dari dalam rahim, sinus-sinus uterus tidak dapat menutup dengan sempurna. Akibatnya, kegagalan vasokonstriksi pembuluh darah miometrium ini memicu perdarahan pervaginam yang masif. (DeCherney dkk., 2019, Prawirohardjo, 2020)

Penyimpangan KDM (Pathway)

Faktor Genetik, Kelainan Anatomi Uterus, Gangguan Endokrin, Infeksi, Trauma

                                   │

                     Perdarahan di desidua basalis

                                   │

                        Nekrosis jaringan sekitar

                                   │

                     Hasil konsepsi terlepas dari rahim

                                   │

              Hasil konsepsi menjadi benda asing di uterus

                                   │

                        Kontraksi miometrium

                                   │

       ─────────────────────────────────────────────────────────

       │                                                   │

Dilatasi serviks                 &                      ekspulsi                               Pergangan uterus /

       │                                                 kontraksi miometrium

       ▼                                                       │

  ───────────────                                              ▼

  │             │                                         [Nyeri Akut]

Komplit      Inkomplit

  │             │

  │        Jaringan tertinggal di rahim

  │             │

  │        ─────────────────────────────────────

  │        │                                   │

  │   Sinus uterus                          Serviks terbuka lama

  │   gagal menutup                         & jaringan nekrotik

  │             │                                   │

  ▼             ▼                                   ▼

[Ansietas] Perdarahan pervaginam masif      Invasi bakteri dari vagina

           │                                   │

           ├─────────────────────────          ▼

           │                        │    [Risiko Infeksi]

           ▼                        ▼

[Risiko Syok Hipovolemik]  [Hipovolemia]

                           [Risiko Cedera Maternal]

             (Cunningham dkk., 2022, Prawirohardjo, 2020, Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)

4. Manifestasi Klinis

 a. Data Subjektif

Pasien mengeluhkan keluar darah dari kemaluan (pervaginam), baik berupa flek hitam maupun darah segar bercampur gumpalan jaringan. Oleh karena itu, pasien mengeluhkan kram atau nyeri melilit pada perut bagian bawah yang menjalar hingga ke area pinggang. Pasien mengatakan merasa lemas, pusing, atau berkunang-kunang, terutama saat berdiri. Sementara itu, pasien mengungkapkan rasa cemas, takut, dan sedih yang mendalam karena khawatir akan kehilangan atau telah kehilangan calon bayinya. (ACOG, 2024, Manuaba, 2019, Saifuddin, 2021)

 b. Data Objektif

Tampak pengeluaran darah pervaginam dari jalan lahir ibu. Kemudian, terdapat ekspulsi jaringan konsepsi yang keluar dari vulva. Hasil pemeriksaan dalam (vt) menunjukkan ostium uteri eksternum (OUE) tertutup atau terbuka dengan terabanya jaringan. Terjadi penurunan tekanan darah (hipotensi) serta dengan adanya peningkatan frekuensi nadi (takikardia) dan akral teraba dingin. Akhirnya, tampak ekspresi wajah meringis kesakitan dan memegang area abdomen bawah saat kontraksi muncul. (Kemenkes RI, 2022, Prawirohardjo, 2020)

 5. Pemeriksaan Penunjang

   a. Pemeriksaan Laboratorium

Melakukan pemeriksaan kadar kuantitatif hCG sereal untuk menilai viabilitas kehamilan. Selanjutnya, pemeriksaan darah lengkap bermanfaat memantau derajat anemia akibat perdarahan serta mendeteksi adanya respons infeksi sekunder. Pemeriksaan golongan darah dan faktor Rhesus menentukan kebutuhan transfusi darah. Sementara itu, pmelakukan pemeriksaan faktor koagulasi khususnya pada kasus yang lama untuk mendeteksi risiko koagulopati.

(ACOG, 2024, Kemenkes RI, 2022, Saifuddin, 2021)

b. Pemeriksaan Radiologi

Ultrasonografi (USG) transvaginal atau transabdominal menjadi metode diagnostik pencitraan utama untuk mengevaluasi status kehamilan. Oleh karena itu, USG membantu membedakan jenis kondisi dengan melihat keberadaan kantung gestasi, aktivitas denyut jantung janin (DJJ), atau adanya sisa jaringan plasenta dari dalam kavum uteri.

(Cunningham dkk., 2022, Kim & Park, 2022, Prawirohardjo, 2020)

 c. Pemeriksaan Lain

Pemeriksaan histopatologi melakukan analisis mikroskopis terhadap jaringan yang keluar atau hasil kuretase untuk mengonfirmasi adanya vili korialis serta menyingkirkan kemungkinan penyakit trofoblastik gestasional. (Berek & Novak, 2020, Sastrawinata, 2018)

6. Penatalaksanaan Medis

 a. Terapi Farmakologis

Pemberian tokolitik atau suplemen progesteron pada jenis iminen untuk menenangkan miometrium. Selanjutnya, penggunaan uterotonika seperti misoprostol atau oksitosin untuk manajemen medis jenis inkomplit guna merangsang kontraksi uterus agar mengeluarkan sisa jaringan. Memberikan analgetik untuk mengurangi nyeri kram abdomen yang hebat. Kemudian, menggunakan antibiotik profilaksis untuk mencegah infeksi pasca ekspulsi jaringan. Akhirnya, melakukan terapi cairan dan transfusi untuk memulihkan hemodinamik jika terjadi perdarahan hebat. (ACOG, 2024, Kemenkes RI, 2022, Saifuddin, 2021)

b. Terapi Non-Farmakologis

Tirah baring dianjurkan khususnya bagi pasien jenis iminen untuk meminimalkan aktivitas fisik dan meredakan rangsangan kontraksi rahim. Sementara itu, evakuasi bedah berupa kuretase atau aspirasi vakum manual dilakukan jika terjadi perdarahan hebat guna membersihkan kavum uteri. Dukungan psikologis memberikan konseling empati bagi ibu dan keluarga untuk mengatasi fase berduka. Akhirnya, edukasi pembatasan aktivitas seksual dilakukan untuk mencegah infeksi asenden. (Cunningham dkk., 2022, DeCherney dkk., 2019, Prawirohardjo, 2020)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

 Pengkajian Riwayat dan Identitas

Mencakup nama lengkap, umur (usia di bawah 20 tahun atau di atas 35 tahun meningkatkan risiko), pekerjaan, status pernikahan, dan data demografi lainnya. Kemudian, keluhan utama biasanya berupa perdarahan dari jalan lahir disertai kram perut bagian bawah. Perawat mengidentifikasi onset perdarahan, volume darah, adanya gumpalan jaringan, karakteristik nyeri perut, serta menggali riwayat obstetri sebelumnya (G-P-A). (Saifuddin, 2021, Tarigan, 2021)

Pemeriksaan Fisik Sistemik

Perawat menilai tingkat kesadaran dan tanda-tanda vital seperti tekanan darah, nadi, suhu, dan pernapasan. Pada pemeriksaan abdomen dan reproduksi, inspeksi menunjukkan vulva basah oleh darah, sedangkan palpasi menunjukkan nyeri tekan suprapubik dan uterus teraba lembek atau berkontraksi. Sementara itu, pada sistem kardiovaskular, konjungtiva tampak anemis dan akral ekstremitas teraba dingin akibat kehilangan volume vaskular.

(Black & Hawks, 2019, Manuaba, 2019, Smeltzer & Bare, 2020)

Pengkajian Pola Gordon

Pola persepsi kesehatan menunjukkan kurangnya pengetahuan mengenai tanda bahaya kehamilan muda. Pola nutrisi dan eliminasi dapat terganggu akibat keluhan mual muntah atau penurunan haluaran urine sekunder akibat hipovolemia. Selanjutnya, pola aktivitas-latihan terganggu karena kelemahan fisik atau instruksi tirah baring kaku. Akhirnya, pola kognitif-perseptual didominasi oleh keluhan nyeri melilit di abdomen bawah akibat kontraksi miometrium. (Smeltzer & Bare, 2020, Tarigan, 2021)

2. Diagnosis Keperawatan

Diagnosis Prioritas 1-5

Diagnosis Prioritas 6-10

  • Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d. kelemahan fisik umum sekunder akibat anemia.
  • Risiko Cedera Maternal (D.0137) d.d. penyakit penyerta kehamilan (perdarahan).
  • Duka Cita (D.0081) b.d. kehilangan janin.
  • Harga Diri Rendah Situasional (D.0087) b.d. perasaan gagal mempertahankan kehamilan.
  • Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d. kurang terpapar informasi mengenai perawatan pasca tindakan. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)

3. Perencanaan Intervensi

Intervensi Diagnosis 1-3

Hipovolemia (D.0023)
  • Luaran: Status Cairan Membaik (L.03028)
    • Kriteria Hasil: Turgor kulit meningkat, output urine membaik, kadar Hb/Ht membaik, membran mukosa lembap.
  • Intervensi: Manajemen Hipovolemia (I.03116)
    • Observasi: Periksa tanda dan gejala hipovolemia; hitung kehilangan darah.
    • Terapeutik: Berikan posisi modified Trendelenburg; pasang jalur intravena dengan jarum besar.
    • Edukasi: Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral jika tidak direncanakan operasi.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan kristaloid; kolaborasi transfusi darah jika Hb rendah.
       
Nyeri Akut (D.0077)
  • Luaran: Tingkat Nyeri Menurun (L.08066)
    • Kriteria Hasil: Keluhan nyeri perut bawah menurun, meringis menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi normal.
  • Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238)
    • Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan skala nyeri abdomen.
    • Terapeutik: Berikan teknik non-farmakologis (relaksasi napas dalam); fasilitasi istirahat di tempat tidur.
    • Edukasi: Jelaskan penyebab nyeri akibat kontraksi rahim.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik atau agen antispasmodik.
Risiko Syok (D.0039)
  • Luaran: Tingkat Syok Menurun (L.03032)
    • Kriteria Hasil: Akral dingin menurun, pucat menurun, tekanan darah sistolik dan diastolik membaik, nadi perifer teraba kuat.
  • Intervensi: Pencegahan Syok (I.02068)
    • Observasi: Monitor status kardiovaskular; monitor status cairan (intake, output, warna urine); monitor tanda dekompensasi seluler.
    • Terapeutik: Berikan oksigenasi via nasal kanul; pertahankan akses IV line yang paten.
    • Edukasi: Ajarkan keluarga melapor segera jika melihat pasien tampak makin pucat atau keringat dingin.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan koloid atau komponen darah jika syok mengancam.

(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

Intervensi Diagnosis 4-6

 Ansietas (D.0080)
  • Luaran: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi kebingungan dan kekhawatiran menurun, perilaku gelisah menurun, pola tidur membaik.
  • Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; monitor tanda-tanda ansietas.
    • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik yang menenangkan; temani pasien;   gunakan pendekatan yang tenang.
    • Edukasi: Jelaskan semua prosedur pemeriksaan secara jelas dan jujur; anjurkan keluarga mendampingi pasien.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas jika diperlukan sesuai indikasi medis.
 Risiko Infeksi (D.0142)
  •   Luaran: Tingkat Infeksi Menurun (L.14137)
    • Kriteria Hasil: Demam menurun, kemerahan menurun, tidak ada lokhea berbau busuk, kadar leukosit normal.
  • Intervensi: Pencegahan Infeksi (I.14539)
    • Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik.
    • Terapeutik: Batasi jumlah pengunjung; terapkan teknik aseptik selama melakukan perawatan perineum; ganti pembalut teratur.
    • Edukasi: Ajarkan pasien cara membersihkan area genitalia dari arah depan ke belakang secara benar.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antibiotik profilaksis atau kuratif sesuai program.
 Intoleransi Aktivitas (D.0056)
  •   Luaran: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047)
    • Kriteria Hasil: Keluhan lelah menurun, kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, warna kulit membaik.
  •   Intervensi: Manajemen Energi (I.05178)
    • Observasi: Monitor kelelahan fisik; monitor tanda-tanda vital sebelum dan sesudah melakukan aktivitas ringan.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang nyaman; bantu aktivitas perawatan diri selama pasien wajib tirah baring.
    • Edukasi: Anjurkan mematuhi instruksi tirah baring total untuk mencegah perdarahan berulang.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet tinggi zat besi dan tinggi kalori protein.

(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

Intervensi Diagnosis 7-10

 Risiko Cedera Maternal (D.0137)
  • Luaran: Tingkat Cedera Menurun (L.14136)
    • Kriteria Hasil: Kejadian cedera pada ibu menurun, perdarahan abnormal pasca tindakan menurun, komplikasi menurun.
  • Intervensi: Pemantauan Kehamilan Berisiko Tinggi (I.14555)
    • Observasi: Identifikasi kondisi obstetri yang memicu risiko tinggi; monitor tanda vital ibu dan involusi uterus.
    • Terapeutik: Sediakan sarana komunikasi darurat yang mudah dijangkau pasien; dampingi pasien selama fase krisis.
    • Edukasi: Jelaskan tanda-tanda bahaya yang harus segera dilaporkan.
    • Kolaborasi: Kolaborasi persiapan tindakan evakuasi bedah aman jika perdarahan tidak terkontrol.
        Duka Cita (D.0081)
  • Luaran: Tingkat Duka Cita Membaik (L.09092)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi menerima kehilangan meningkat, harapan positif meningkat, amarah/rasa bersalah menurun.
  • Intervensi: Dukungan Proses Berduka (I.09274)
    • Observasi: Identifikasi sifat keterikatan pasien terhadap janin; monitor tahapan proses berduka.
    • Terapeutik: Fasilitasi pasien mengekspresikan perasaan sedih dan kehilangan; terima ekspresi emosi tanpa menghakimi.
    • Edukasi: Jelaskan bahwa rasa sedih adalah respons wajar; anjurkan mencari dukungan spiritual atau sosial.
    • Kolaborasi: Kolaborasi rujukan ke psikolog atau konselor jika terjadi duka cita berkepanjangan.
        Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)
  •   Luaran: Harga Diri Meningkat (L.09069)
    • Kriteria Hasil: Penilaian diri positif meningkat, penerimaan diri meningkat, verbalisasi perasaan tidak berdaya menurun.
  •   Intervensi: Promosi Harga Diri (I.09308)
    • Observasi: Monitor verbalisasi yang merendahkan diri sendiri; identifikasi respons emisional terhadap perubahan peran.
    • Terapeutik: Motivasi pasien berfokus pada aspek positif diri; diskusikan alasan kritik diri.
    • Edukasi: Anjurkan pasien untuk tidak menyalahkan diri sendiri atas terjadinya keguguran.
    • Kolaborasi: Libatkan suami dalam memberikan afirmasi positif kepada pasien.
        Defisit Pengetahuan (D.0111)
  •   Luaran: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111)
    • Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, kemampuan menjelaskan informasi meningkat, kesalahan persepsi menurun.
  •   Intervensi: Edukasi Perawatan Kehamilan (I.12425)
    • Observasi: Identifikasi tingkat pengetahuan saat ini mengenai perawatan pasca tindakan dan pembatasan aktivitas.
    • Terapeutik: Sediakan materi edukasi tentang perawatan pasca kuretase, kebersihan diri, dan keluarga berencana.
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya menunda kehamilan minimal 3 bulan; jelaskan tanda bahaya infeksi sekunder.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan dokter spesialis kandungan terkait program perencanaan kehamilan berikutnya.

(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

4. Implementasi Tindakan

Pelaksanaan Tindakan Akut

Implementasi keperawatan dilaksanakan secara sistematis berdasarkan prioritas masalah klinis pasien di lapangan. Pada fase akut dengan perdarahan masif, perawat fokus melakukan resusitasi cairan. Oleh karena itu, tindakan memasang kateter IV line diameter besar, mengalirkan cairan kristaloid, memantau kecepatan tetesan, mengobservasi tanda-tanda vital secara berkala, serta memantau jumlah pembalut yang basah dikerjakan secara simultan. (Black & Hawks, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Pelaksanaan Tindakan Kolaboratif

Selanjutnya, perawat melaksanakan tindakan kolaboratif berupa pemberian uterotonika untuk memacu kontraksi dinding rahim. Perawat juga mempersiapkan instrumen bedah dan mendampingi pasien selama prosedur evakuasi jaringan, serta memberikan suntikan antibiotik profilaksis. Setelah hemodinamik pasien stabil, perawat memfasilitasi manajemen kenyamanan dan memberikan dukungan empati bagi ibu. (Kemenkes RI, 2022, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

5. Evaluasi Asuhan

Evaluasi Subjektif dan Objektif

Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir untuk menilai tingkat keberhasilan asuhan berdasarkan pencapaian kriteria hasil menggunakan metode SOAP. Secara subjektif, pasien menyatakan perdarahan dari kemaluan sudah berhenti atau berkurang drastis, kram perut bawah sudah reda, dan emosinya mulai tenang. Secara objektif, tanda-tanda vital stabil, turgor kulit elastis, mukosa bibir lembap, konjungtiva merah muda, pembalut tampak bersih, dan haluaran urine adekuat. (Smeltzer & Bare, 2020, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

 Rencana Tindak Lanjut

Kemudian, berdasarkan analisis klinis, masalah keperawatan hipovolemia, nyeri akut, risiko syok, dan ansietas dinyatakan teratasi sepenuhnya. Perawat mendokumentasikan rencana tindak lanjut untuk menghentikan intervensi resusitasi akut. Akhirnya, perawat melanjutkan edukasi pembatasan aktivitas fisik rumah tangga, anjurkan menjaga kebersihan perineum, dan mengingatkan jadwal kontrol ulang ke poli kandungan. (Smeltzer & Bare, 2020, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

DAFTAR PUSTAKA

Ali, S. et al. (2021). Sociodemographic and clinical determinants of spontaneous abortion in Asian developing countries. Int J Gynecol Obstet, 154(2), 210–218. doi.org/10.1002/ijgo.13540

American College of Obstetricians and Gynecologists. (2024). ACOG Practice Bulletin No. 200: Early pregnancy loss. Obstet Gynecol, 133(3), e60–e73. doi.org/10.1097/AOG.0000000000003099

Berek, J. S., & Novak, E. (2020). Berek & Novak’s Gynecology (16th ed.). Wolters Kluwer.

Black, J. M., & Hawks, J. H. (2019). Medical-Surgical Nursing: Clinical Management for Positive Outcomes (8th ed.). Elsevier Saunders.

Cunningham, F. G. et al. (2022). Williams Obstetrics (26th ed.). McGraw-Hill Education.

DeCherney, A. H. et al. (2019). Current Diagnosis & Treatment: Obstetrics & Gynecology (12th ed.). McGraw-Hill Education.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Tata Laksana Abortus Spontan. Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI.

Kim, J. H., & Park, Y. J. (2022). Ultrasound evaluation and chromosomal analysis of early pregnancy loss in East Asian populations. J Matern Fetal Neonatal Med, 35(14), 2731–2738. doi.org/10.1080/14767058.2020.1818221

Manuaba, I. B. G. (2019). Pengantar Kuliah Obstetri. EGC.

Prawirohardjo, S. (2020). Ilmu Kebidanan (4th ed.). PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Saifuddin, A. B. (2021). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Sastrawinata, S. (2018). Obstetri Patologi: Ilmu Kesehatan Reproduksi (3rd ed.). EGC.

Srivastava, M., & Mishra, S. (2020). Risk factors and management protocols of early spontaneous miscarriage in South Asian region. J South Asian Fed Obstet Gynaecol, 12(3), 154–160. doi.org/10.5005/jp-journals-10006-1782

Tan, L. (2021). Clinical presentation and medical evacuation of incomplete abortion using misoprostol. Asian J Obstet Gynecol, 18(1), 45–52. doi.org/10.1111/ajog.12401

Tyan, P. et al. (2023). Surgical and medical management of early pregnancy loss in corporate Asian medical centers: A comparative analysis. Int J Womens Health, 15(2), 311–319. doi.org/10.2147/IJWH.S398711


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *