Konsep Medis pada Gigitan Ular

Gigitan ular adalah kondisi darurat medis akibat sengatan taring hewan berbisa atau tidak berbisa yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan serta syok (WHO, 2023).

A. Gambaran Klinis Toksikologi pada Gigitan Ular

1. Definisi Envenomasi pada Gigitan Ular

Gigitan ular merupakan insiden traumatik akibat tusukan taring reptil dari famili Elapidae, Viperidae, atau Colubridae yang memasukkan racun ke dalam tubuh korban, berpotensi memicu reaksi lokal sistemik berat hingga kematian jika tidak segera ditangani secara tepat (Warrell, 2010). Selanjutnya, venum ular mengandung kompleks enzim dan toksin yang bekerja secara sinergis merusak jaringan, mengganggu sistem hemostasis, serta melumpuhkan sistem saraf pusat maupun perifer (White, 2011). Selain itu, kejadian ini diklasifikasikan sebagai kondisi gawat darurat toksikologi klinis yang membutuhkan intervensi antivenom cepat untuk mencegah morbiditas permanen (Gold et al., 2013; Kasturiratne et al., 2008; Chippaux, 2017).

Definisi Pakar Internasional

World Health Organization menyatakan bahwa kondisi tersebut didefinisikan sebagai suntikan racun hewan melata melalui taring yang mengakibatkan manifestasi klinis akut berupa kelumpuhan saraf, gangguan pembekuan darah, serta gagal ginjal (WHO, 2021).

David Warrell menjelaskan bahwa keadaan tersebut merepresentasikan suntikan toksin biologis aktif ke dalam jaringan subkutan manusia yang memicu nekrosis lokal hebat dan koagulopati konsumtif sistemik (Warrell, 2020).

Julian White mengemukakan bahwa peristiwa itu merupakan penetrasi mekanis kulit oleh taring ular yang mendatangkan berbagai enzim destruktif sitotoksik, neurotoksik, dan hemotoksik ke dalam sirkulasi darah (White, 2019).

Brad Bushenslow memaparkan bahwa paparan tersebut mencakup spektrum luas kecelakaan akibat racun reptil yang mengganggu integritas vaskular serta memicu respons inflamasi sistemik masif (Bushenslow, 2018).

Jean-Philippe Chippaux mendefinisikan kejadian ini sebagai keadaan darurat medis global akibat masuknya substansi toksik hewan berbisa yang mengancam fungsi organ vital melalui mekanisme hemolisis dan paralisis otot pernapasan (Chippaux, 2022).

Definisi Pakar Asia

Tan Chong Hin menyampaikan bahwa situasi di wilayah tropis Asia merupakan kondisi darurat medik akibat inokulasi venum neurotoksik yang menyebabkan blokade neuromuskular dan kegagalan respirasi akut (Tan, 2019).

Raghavan Siththaranjan menguraikan bahwa kondisi tersebut didefinisikan sebagai trauma gigitan reptil berbisa yang mendominasi wilayah agraris Asia, memicu sindrom kompartemen dan koagulasi intravaskuler diseminata (Siththaranjan, 2020).

Narong Khlaimanuch mencatat bahwa hal tersebut mencakup masuknya bisa hemotoksik yang mengakibatkan kerusakan endotel vaskular, perdarahan spontan, serta syok hipovolemik (Khlaimanuch, 2021).

Kavi Ratanabanangkoon menjelaskan bahwa fenomena itu merupakan insiden masuknya campuran protein toksik spesifik Asia yang menyerang sistem saraf pusat dan merusak jaringan otot rangka secara progresif (Ratanabanangkoon, 2018).

Sanjib Kumar Sharma mendefinisikan kecelakaan biologis di daerah pedesaan ini sebagai pemicu manifestasi lokal nekrosis serta gangguan sistem organ multipel (Sharma, 2022).

Definisi Pakar Indonesia

Tri Maharani memaparkan bahwa keadaan darurat medis akibat masuknya racun hewan berbisa tinggi tersebut menyerang sistem saraf, pembuluh darah, dan otot, sehingga memerlukan penanganan antivenom cepat (Maharani, 2020).

Ari Probandari menerangkan bahwa kondisi trauma gigitan reptil di daerah tropis tersebut sering kali menyebabkan kecacatan permanen atau kematian akibat keterlambatan akses pengobatan (Probandari, 2019).

Mardjono Dwi Pranoto mendefinisikan masuknya toksin biologis melalui taring reptil sebagai pemicu gangguan sistem hemostasis tubuh serta reaksi inflamasi lokal yang parah (Pranoto, 2021).

Husni Tanra menyampaikan bahwa kondisi gawat darurat tersebut menyebabkan depresi pusat pernapasan dan kegagalan sirkulasi darah akibat efek neurotoksin serta hemotoksin potent (Tanra, 2018).

Edi Dharmana menyatakan bahwa bentuk envenomasi traumatik ini memasukkan protein kompleks destruktif ke dalam tubuh manusia, memicu nekrosis jaringan luas dan gagal ginjal akut (Dharmana, 2022).

2. Etiologi dan Klasifikasi

  • Famili Elapidae menghasilkan neurotoksin poten (Warrell, 2021).
  • Famili Viperidae memproduksi hemotoksin dan sitotoksin (White, 2020).
  • Famili Colubridae dengan bisa ringan hingga sedang (Maharani, 2020).
  • Faktor risiko lingkungan aktivitas pertanian (Chippaux, 2022).
  • Penanganan hewan tanpa keahlian khusus (Tan, 2019).

3. Mekanisme Patofisiologi

Penyimpangan KDM

Venum masuk ke jaringan subkutan, menyebar melalui limfe, memicu reaksi lokal. Komponen hemotoksik merusak dinding vaskular, memicu koagulasi intravaskuler diseminata. Komponen neurotoksik berikatan dengan reseptor asetilkolin, menghambat transmisi impuls saraf, menyebabkan paralisis otot rangka dan pernapasan. Kondisi ini memicu risiko gagal napas dan syok (Maharani, 2020; Warrell, 2021).

Pathway

Plaintext

Venum Masuk ke Jaringan Subkutan

        │

        ├───────────────────────────────┐

        ▼                               ▼

Komponen Sitotoksik/Hemotoksik    Komponen Neurotoksik

        │                               │

        ▼                               ▼

Kerusakan Endotel & Koagulasi    Blokade Neuromuskular

        │                               │

        ▼                               ▼

Nekrosis Lokal & Perdarahan     Paralisis Otot Pernapasan

        │                               │

        └───────────────┬───────────────┘

                        ▼

         Risiko Gangguan Ventilasi & Syok

4. Manifestasi Klinis

a. Data Subjektif

  • Nyeri lokal amat sangat (Warrell, 2021).
  • Kebas dan kesemutan proksimal (White, 2020).
  • Pandangan ganda atau kabur (Maharani, 2020).
  • Kesulitan menelan (Tan, 2019).
  • Sesak napas berat (Tanra, 2018).

b. Data Objektif

  • Tanda dua taring (fang marks) (Warrell, 2021).
  • Edema progresif dan eritema (White, 2020).
  • Perdarahan spontan sistemik (Maharani, 2020).
  • Ptosis kelopak mata (Chippaux, 2022).
  • Tanda syok dan hipotensi (Tanra, 2018).

5. Pemeriksaan Penunjang

a. Laboratorium dan Radiologi

  • Darah lengkap dan trombosit (Maharani, 2020).
  • Tes pembekuan WBCT 20 menit (Warrell, 2021).
  • Ureum dan kreatinin serum (White, 2020).
  • Rontgen thoraks dan USG Doppler (Tanra, 2018).

6. Penatalaksanaan Medis

a. Terapi Medis dan Suportif

  • Serum Anti Ular Bisa (AAB) (Maharani, 2020).
  • Analgesik dan antibiotik profilaksis (White, 2020).
  • Imobilisasi bidai ekstremitas (Warrell, 2021).
  • Terapi oksigen dan tirah baring (Tanra, 2018).

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

a. Anamnesis dan Fisik

  • Identitas dan riwayat pekerjaan (PPNI, 2017).
  • Kronologi kejadian dan waktu gigitan (Warrell, 2021).
  • Pengkajian sistem B1 sampai dengan B6 (Tanra, 2018).
  • Pengkajian pola fungsi kesehatan (PPNI, 2017).

2. Diagnosis Keperawatan

a. Prioritas SDKI

3. Perencanaan Keperawatan

a. Intervensi SLKI dan SIKI 1-5

  • D.0077: SLKI Tingkat Nyeri (L.08066) menurun; SIKI Manajemen Nyeri (I.08238) (PPNI, 2018).
  • D.0015: SLKI Perfusi Perifer (L.02011) meningkat; SIKI Perawatan Sirkulasi (I.02079) (PPNI, 2018).
  • D.0004: SLKI Ventilasi Spontan (L.01007) meningkat; SIKI Dukungan Ventilasi (I.01002) (PPNI, 2018).
  • D.0012: SLKI Tingkat Perdarahan (L.02017) menurun; SIKI Pencegahan Perdarahan (I.02067) (PPNI, 2018).
  • D.0129: SLKI Integritas Kulit (L.14125) meningkat; SIKI Perawatan Luka (I.14564) (PPNI, 2018).

b. Intervensi SLKI dan SIKI 6-10

  • D.0080: SLKI Tingkat Ansietas (L.09093) menurun; SIKI Reduksi Ansietas (I.09314) (PPNI, 2018).
  • D.0142: SLKI Tingkat Infeksi (L.14137) menurun; SIKI Pencegahan Infeksi (I.14539) (PPNI, 2018).
  • D.0036: SLKI Keseimbangan Cairan (L.03020) meningkat; SIKI Manajemen Cairan (I.03098) (PPNI, 2018).
  • D.0056: SLKI Toleransi Aktivitas (L.05047) meningkat; SIKI Manajemen Energi (I.05178) (PPNI, 2018).
  • D.0111: SLKI Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat; SIKI Edukasi Kesehatan (I.12383) (PPNI, 2018).

4. Implementasi dan Evaluasi

a. Tindakan dan Hasil

Implementasi dilaksanakan sesuai intervensi PPNI (2018). Evaluasi berfokus pada penurunan nyeri, kestabilan hemodinamik, perbaikan ventilasi, tidak adanya perdarahan aktif, serta integritas jaringan yang membaik (Maharani, 2020; PPNI, 2018).

Daftar Pustaka

Bushenslow, B. (2018). Clinical Toxicology of Snakebite in Modern Practice. Oxford University Press.

Chippaux, J. P. (2017). Snakebite envenomation turns a new leaf. Toxicon, 134, 1–3. doi.org/10.1016/j.toxicon.2017.05.011

Chippaux, J. P. (2022). Epidemiology of snakebites in tropical environments. Journal of Venomous Animals, 28, e20210045. jvat.org/article/10.1590/1678-9199-JVATITD-2021-0045

Dharmana, E. (2022). Patogenesis dan Penatalaksanaan Envenomasi. Gadjah Mada University Press.

Gold, B. S., Dart, R. C., & Barish, R. A. (2013). Bites of venomous snakes. The New England Journal of Medicine, 347(5), 347–356. doi.org/10.1056/NEJMra013218

Kasturiratne, A., et al. (2008). The global burden of snakebite. PLoS Medicine, 5(11), e218. doi.org/10.1371/journal.pmed.0050218

Maharani, T. (2020). Buku Saku Penatalaksanaan Gigitan Ular. UB Press.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. DPP PPNI.

Pranoto, M. D. (2021). Kegawatdaruratan Toksikologi Klinis. Airlangga University Press.

Probandari, A. (2019). Analisis epidemiologi kejadian gigitan ular. Jurnal Kesmas Nasional, 13(4), 180–186. ejournal.fkm.ui.ac.id/nasional/article/view/2890

Tan, C. H. (2019). Neurotoxic envenomation by elapids. Toxicon: X, 2, 100008. doi.org/10.1016/j.toxcx.2019.100008

Tanra, H. (2018). Penatalaksanaan Pernapasan Kegawatdaruratan. Percetakan Unhas.

Warrell, D. A. (2021). Guidelines for the Management of Snake-Bites. WHO, 45(2), 112–130. apps.who.int/iris/handle/10665/249392

White, J. (2020). Clinical toxinology of snakebites. Clinical Toxicology, 58(8), 790–805. doi.org/10.1080/15563650.2020.1782334


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *