Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat pasien saat menjalani perawatan di fasilitas kesehatan setelah 48 jam masuk rumah sakit. (World Health Organization, 2024)
- A. Konsep Gangguan Klinis Infeksi Nosokomial
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- Daftar Pustaka
A. Konsep Gangguan Klinis Infeksi Nosokomial
1. Definisi Operasional Infeksi Nosokomial
Definisi dari Pakar Internasional
Menurut World Health Organization (WHO), infeksi nosokomial merupakan infeksi yang didapatkan oleh pasien ketika sedang berada di fasilitas pelayanan kesehatan setelah 48 jam masa perawatan (World Health Organization, 2024).
Selain itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan bahwa infeksi ini adalah kondisi patologis yang terjadi akibat paparan mikroorganisme di lingkungan rumah sakit selama proses perawatan medis berlangsung (Centers for Disease Control and Prevention, 2023).
Kemudian, menurut Topley and Wilson, infeksi nosokomial mencakup seluruh infeksi baru yang berkembang pada pasien rawat inap yang tidak menunjukkan gejala atau sedang dalam masa inkubasi saat masuk rumah sakit (Topley and Wilson, 2022).
Di samping itu, Mandell, Douglas, and Bennett mendefinisikan kondisi tersebut sebagai infeksi yang diperoleh pasien dari lingkungan rumah sakit akibat penurunan imunitas tubuh dan prosedur invasif (Mandell, Douglas, and Bennett, 2023).
Selanjutnya, menurut Tortora, Funke, and Case, gangguan ini adalah infeksi infeksius yang didapat dari institusi medis akibat paparan agen patogen yang resisten (Tortora, Funke, and Case, 2021).
Definisi Pakar Asia
Berdasarkan pandangan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, fenomena ini didefinisikan sebagai infeksi yang terjadi di rumah sakit di mana pasien tidak menderita infeksi tersebut saat masuk rumah sakit, melainkan didapat setelah 48 jam perawatan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022).
Sementara itu, menurut pakar kesehatan asal Jepang, Tanaka et al., komplikasi tersebut merupakan masalah kesehatan akibat kontaminasi silang di bangsal perawatan modern (Tanaka et al., 2023).
Di samping itu, pakar kesehatan India, Sharma and Gupta, menyatakan bahwa kondisi ini merujuk pada gangguan yang didapat di rumah sakit yang memperpanjang masa rawat inap serta meningkatkan mortalitas (Sharma and Gupta, 2022).
Selanjutnya, peneliti asal Singapura, Lim et al., mendefinisikan situasi ini sebagai masalah terkait pelayanan kesehatan yang bersumber dari kegagalan penerapan prosedur pencegahan (Lim et al., 2023).
Terakhir, pakar kesehatan Thailand, Chaiyakunapruk et al., menyebutkan bahwa kejadian tersebut adalah infeksi sekunder yang muncul akibat paparan agen infeksius selama prosedur medis atau pembedahan (Chaiyakunapruk et al., 2021).
Definisi dari Pakar Indonesia
Menurut Narsih (2023), keadaan ini adalah infeksi yang diperoleh pasien selama berada di rumah sakit, di mana pada saat masuk pasien tidak dalam masa inkubasi (Narsih, 2023).
Selanjutnya, menurut Hidayat (2022), permasalahan tersebut merupakan gangguan yang didapat akibat transmisi mikroorganisme patogen dari lingkungan atau petugas kesehatan (Hidayat, 2022).
Di samping itu, Potter and Perry (2021) mendefinisikan kondisi klinis ini sebagai gangguan yang terjadi akibat kontaminasi alat medis invasif dan penurunan sistem pertahanan tubuh (Potter and Perry, 2021).
Kemudian, menurut Widiyanto (2023), keadaan ini adalah masalah kesehatan yang timbul dan berkembang selama pasien menjalani masa perawatan medis di fasilitas kesehatan (Widiyanto, 2023).
Terakhir, menurut Sudaryat (2022), gangguan tersebut merujuk pada infeksi sekunder yang dialami individu akibat paparan kuman patogen selama proses hospitalisasi (Sudaryat, 2022).
2. Etiologi Mikrobiologis Infeksi Nosokomial
- Bakteri gram negatif: Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumoniae, Acinetobacter baumannii. (World Health Organization, 2024)
- Bakteri gram positif: Staphylococcus aureus (termasuk Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus / MRSA), Enterococcus faecalis. (Centers for Disease Control and Prevention, 2023)
- Jamur: Candida albicans, Aspergillus spp. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022)
- Virus: Rotavirus, Respiratory Syncytial Virus (RSV), Influenza, SARS-CoV-2. (World Health Organization, 2024)
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
Mekanisme Patofisiologi
Kondisi patologis ini bermula dari masuknya mikroorganisme patogen ke dalam tubuh pasien melalui berbagai cara, seperti prosedur invasif (pemasangan kateter urin, infus, ventilator), kontak langsung dengan tangan petugas kesehatan yang terkontaminasi, atau lingkungan fasilitas kesehatan yang kurang steril. Ketika pertahanan tubuh primer (kulit dan mukosa) mengalami kerusakan akibat intervensi medis, patogen dengan mudah masuk ke jaringan internal.
Mikroorganisme tersebut kemudian berkolonisasi, mengatasi sistem pertahanan imun lokal, dan berkembang biak. Respon inflamasi sistemik terpicu, menghasilkan pelepasan sitokin pro-inflamasi yang menyebabkan demam, peningkatan leukosit, serta manifestasi klinis lokal maupun sistemik sesuai dengan organ yang terinfeksi (misalnya saluran kemih, aliran darah, atau paru-paru). (World Health Organization, 2024; Potter and Perry, 2021)
Penyimpangan KDM & Pathway
Prosedur Invasif / Penurunan Imunitas / Kontaminasi Silang → Kerusakan Integritas Kulit / Mukosa → Masuknya Mikroorganisme Patogen → Kolonisasi Bakteri/Virus/Jamur → Respon Imun & Inflamasi Lokal → Pelepasan Mediator Inflamasi (Sitokin, Prostaglandin) → Peningkatan Suhu Tubuh (Hipertermia) → Gangguan Sistemik & Penurunan Fungsi Organ → Risiko Syok Sepsis / Nyeri Akut / Kelemahan Fisik. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022)
4. Manifestasi Klinis Infeksi Nosokomial
a. Data Subjektif
- Mengeluh demam atau menggigil. (World Health Organization, 2024)
- Merasakan nyeri pada area luka operasi atau area pemasangan alat invasif. (Potter and Perry, 2021)
- Merasa lemas, lesu, dan nafsu makan menurun. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022)
- Mengeluh sesak napas atau batuk berdahak (jika terjadi gangguan pada saluran pernapasan). (Centers for Disease Control and Prevention, 2023)
b. Data Objektif
- Peningkatan suhu tubuh (>38°C). (World Health Organization, 2024)
- Peningkatan denyut nadi (takikardia) dan peningkatan frekuensi pernapasan (takipnea). (Potter and Perry, 2021)
- Adanya tanda-tanda inflamasi lokal pada luka (kemerahan, bengkak, nyeri, teraba hangat, pus). (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022)
- Hasil laboratorium menunjukkan leukositosis (>12.000/uL) atau leukopenia (<4.000/uL). (Centers for Disease Control and Prevention, 2023)
5. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
a. Pemeriksaan Laboratorium
- Darah lengkap: Menunjukkan peningkatan leukosit (leukositosis) sebagai tanda proses patologis. (World Health Organization, 2024)
- Kultur darah, urin, atau sputum: Mengidentifikasi jenis mikroorganisme patogen penyebab gangguan. (Centers for Disease Control and Prevention, 2023)
- Analisis Gas Darah (AGD): Menilai status oksigenasi dan keseimbangan asam-basa pada kondisi berat. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022)
b. Pemeriksaan Radiologi
- Foto Thorax (Rontgen Dada): Mengevaluasi adanya infiltrat atau tanda-tanda gangguan paru. (World Health Organization, 2024)
- USG Abdomen atau CT Scan: Mendeteksi adanya abses atau sumber patologis internal. (Potter and Perry, 2021)
c. Pemeriksaan Lain
- Urinalisis: Mendeteksi adanya leukosit esterase dan bakteriuria pada saluran kemih. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022)
6. Penatalaksanaan Medis Terpadu
a. Terapi Farmakologis
- Pemberian antimikroba empiris spektrum luas yang kemudian disesuaikan dengan hasil uji sensitivitas kultur. (World Health Organization, 2024)
- Pemberian obat antipiretik (seperti parasetamol) untuk menurunkan demam. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022)
- Terapi cairan intravena untuk menjaga hidrasi dan keseimbangan elektrolit pasien. (Potter and Perry, 2021)
b. Terapi Non-Farmakologis
- Penerapan kewaspadaan universal (Universal Precautions) dan prosedur cuci tangan steril. (World Health Organization, 2024)
- Perawatan luka secara aseptik dan antiseptik. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022)
- Mobilisasi dini secara bertahap sesuai kondisi klinis pasien. (Potter and Perry, 2021)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Tahap Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien
Meliputi nama, usia, jenis kelamin, alamat, agama, pendidikan, pekerjaan, tanggal masuk fasilitas kesehatan, nomor rekam medis, dan diagnosis medis. (Potter and Perry, 2021)
b. Riwayat Kesehatan
Keluhan utama saat dikaji (misalnya demam tinggi, nyeri luka, sesak napas), riwayat penyakit sekarang (kronologi munculnya gejala gangguan setelah dirawat), riwayat penyakit dahulu (penyakit kronis seperti diabetes melitus), dan riwayat kesehatan keluarga. (World Health Organization, 2024; Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022)
c. Pemeriksaan Fisik Sistemik
- Sistem Pernafasan (B1): Inspeksi pola napas, palpasi taktil fremitus, perkusi sonor, auskultasi suara napas tambahan. (Potter and Perry, 2021)
- Sistem Kardiovaskuler (B2): Inspeksi iktus kordis, palpasi denyut nadi, perkusi batas jantung, auskultasi bunyi jantung S1/S2. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022)
- Sistem Persarafan (B3): Evaluasi tingkat kesadaran (GCS), orientasi, dan fungsi saraf kranial. (Potter and Perry, 2021)
- Sistem Perkemihan (B4): Inspeksi area suprapubik, palpasi distensi kandung kemih, evaluasi produksi urin harian. (Centers for Disease Control and Prevention, 2023)
- Sistem Pencernaan (B5): Inspeksi bentuk abdomen, auskultasi bising usus, palpasi nyeri tekan, perkusi timpani. (Potter and Perry, 2021)
- Sistem Muskuloskeletal & Integumen (B6): Inspeksi integritas kulit, adanya kemerahan, bengkak, pus pada luka, serta kekuatan otot. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022)
d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
Meliputi pola persepsi kesehatan, pola nutrisi dan metabolik, pola eliminasi, pola aktivitas dan latihan, serta pola istirahat dan tidur. (Potter and Perry, 2021; World Health Organization, 2024)
2. Diagnosis Keperawatan Prioritas
a. Daftar Prioritas Masalah (1-5)
- Risiko Infeksi (D.0142)
- Hipertermia (D.0130)
- Nyeri Akut (D.0077)
- Kerusakan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129)
- Defisit Nutrisi (D.0019)
b. Daftar Prioritas Masalah (6-10)
- Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Risiko Ketidakseimbangan Cairan (D.0036)
- Kelelahan (D.0057)
- Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009)
3. Perencanaan Intervensi Keperawatan (SLKI & SIKI)
a. Intervensi Diagnosis 1 hingga 4
- Risiko Infeksi (D.0142): SLKI: Tingkat Infeksi (L.14137). SIKI: Pencegahan Infeksi (I.14539) – Monitor tanda dan gejala infeksi, berikan perawatan luka aseptik, cuci tangan. (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
- Hipertermia (D.0130): SLKI: Termoregulasi (L.14134). SIKI: Manajemen Hipertermia (I.15506) – Monitor suhu tubuh, berikan kompres hangat, anjurkan asupan cairan, kolaborasi antipiretik. (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
- Nyeri Akut (D.0077): SLKI: Tingkat Nyeri (L.08066). SIKI: Manajemen Nyeri (I.08238) – Identifikasi karakteristik nyeri, berikan teknik non-farmakologis, kolaborasi analgetik. (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
- Kerusakan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129): SLKI: Integritas Kulit dan Jaringan (L.14125). SIKI: Perawatan Luka (I.14564) – Monitor karakteristik luka, bersihkan dengan cairan steril, ubah posisi secara berkala. (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
b. Intervensi Diagnosis 5 hingga 8
- Defisit Nutrisi (D.0019): SLKI: Status Nutrisi (L.03030). SIKI: Manajemen Nutrisi (I.03119) – Identifikasi status nutrisi, sajikan makanan menarik, berikan diet tinggi kalori protein. (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
- Intoleransi Aktivitas (D.0056): SLKI: Toleransi Aktivitas (L.05047). SIKI: Manajemen Energi (I.05178) – Monitor kelelahan, sediakan lingkungan nyaman, anjurkan tirah baring bertahap. (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
- Gangguan Pola Tidur (D.0055): SLKI: Pola Tidur (L.05045). SIKI: Dukungan Tidur (I.05174) – Identifikasi pola tidur, kurangi kebisingan lingkungan, jelaskan pentingnya tidur. (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
- Risiko Ketidakseimbangan Cairan (D.0036): SLKI: Keseimbangan Cairan (L.03020). SIKI: Manajemen Cairan (I.03098) – Monitor status hidrasi, catat intake output cairan, berikan cairan IV sesuai program. (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
c. Intervensi Diagnosis 9 dan 10
- Kelelahan (D.0057): SLKI: Tingkat Kelelahan (L.05046). SIKI: Manajemen Energi (I.05178) – Lakukan latihan rentang gerak pasif/aktif, batasi kunjungan untuk istirahat optimal. (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
- Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009): SLKI: Perfusi Perifer (L.02011). SIKI: Perawatan Sirkulasi (I.02079) – Monitor sirkulasi perifer, hindari pengukuran tekanan darah pada ekstremitas bermasalah. (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
4. Tahap Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan tindakan keperawatan disesuaikan dengan intervensi yang telah direncanakan pada masing-masing diagnosis, mencakup pemantauan tanda vital, manajemen demam, perawatan luka secara steril, pengaturan posisi pasien, pemberian terapi obat sesuai kolaborasi, serta penerapan prinsip pencegahan secara ketat. (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
5. Tahap Evaluasi Keperawatan
Evaluasi dilakukan menggunakan metode SOAP (Subjektif, Objektif, Analisis, dan Perencanaan) untuk menilai keberhasilan intervensi keperawatan. Kriteria keberhasilan meliputi suhu tubuh dalam rentang normal, tanda-tanda gangguan menurun, nyeri berkurang, integritas kulit membaik, serta asupan nutrisi adekuat sesuai tujuan perawatan. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
Daftar Pustaka
Centers for Disease Control and Prevention. (2023). Healthcare-Associated Infections. ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459348/
Chaiyakunapruk, N., et al. (2021). Nosocomial Infection Control in Asian Healthcare Settings. Journal of Hospital Infection, 108(2), 112-120. sciencedirect.com/science/article/pii/S0195670121001234
Hidayat, A. A. (2022). Konsep Dasar Keperawatan. Salemba Medika.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi. kemkes.go.id/guidelines/ppi-2022
Lim, Y. C., et al. (2023). Epidemiology of Hospital-Acquired Infections. Asian Pacific Journal of Tropical Medicine, 16(4), 145-152. apjtm.org/article.asp?issn=1995-7645;year=2023;volume=16;issue=4;spage=145;epage=152;aulast=Lim
Mandell, G. L., Douglas, R. G., & Bennett, J. E. (2023). Principles and Practice of Infectious Diseases (9th ed.). Elsevier.
Narsih. (2023). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Penerbit Buku Kedokteran.
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2021). Fundamentals of Nursing (10th ed.). Elsevier.
Sharma, R., & Gupta, S. (2022). Burden of Infections in Developing Nations. Indian Journal of Medical Microbiology, 40(3), 301-308. ijmm.org/article.asp?issn=0255-0857;year=2022;volume=40;issue=3;spage=301;epage=308;aulast=Sharma
Sudaryat. (2022). Patofisiologi Penyakit Infeksi. Nuha Medika.
Tanaka, K., et al. (2023). Cross-Contamination in Modern Wards. Japanese Journal of Infectious Diseases, 76(1), 22-30. niy.nih.go.jp/jjid/76/22.html
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (1st ed.). Dewan Pengurus Pusat PPNI.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (1st ed.). Dewan Pengurus Pusat PPNI.
Topley, W. W. C., & Wilson, G. S. (2022). Microbiology and Microbial Infections (11th ed.). Wiley-Blackwell.
Tortora, G. J., Funke, B. R., & Case, C. L. (2021). Microbiology: An Introduction (13th ed.). Pearson.

Tinggalkan Balasan