Konsep Medis pada Tetanus

Tetanus merupakan penyakit infeksi akut sistem saraf yang dipicu eksotoksin kuman Clostridium tetani, dicirikan oleh kejang otot yang kaku dan menyakitkan.

A. Konsep Medis Tetanus

1. Definisi Tetanus

Definisi Dari Pakar Internasional

Pakar kesehatan internasional mendefinisikan tetanus sebagai gangguan neurologis non-komunikabel yang terjadi akibat inokulasi spora Clostridium tetani ke dalam jaringan tubuh yang rusak (World Health Organization [WHO], 2023).

Selanjutnya, peneliti saraf mengartikan kondisi ini sebagai sindrom klinis spastik yang timbul akibat blockade neuro-peptida inhibisi oleh racun tetanospasmin (Centers for Disease Control and Prevention [CDC], 2022).

Selain itu, ahli penyakit infeksi menggambarkan infeksi ini sebagai toksoinfeksi akut dengan rigiditas otot menyeluruh dan krisis spasme paroksismal (European Centre for Disease Prevention and Control [ECDC], 2021).

Sementara itu, spesialis perawatan intensif menyebut patologi ini sebagai kondisi darurat medis yang memicu kegagalan otonom dan spasme laring yang mengancam jiwa (UpToDate, 2023).

Kemudian, epidemiolog global mengategorikan penyakit ini sebagai infeksi bakteri anaerob gram positif yang dapat dicegah melalui imunisasi aktif secara menyeluruh (Pan American Health Organization [PAHO], 2020).

(WHO, 2023, CDC, 2022, ECDC, 2021, UpToDate, 2023, PAHO, 2020)

Definisi Dari Pakar Asia

Peneliti infeksi Asia Tenggara merumuskan sindrom ini sebagai penyakit infeksius akut yang disebabkan oleh kontaminasi luka terbuka oleh basil anaerob pembentuk spora (Ministry of Health Singapore, 2021).

Selain itu, pakar neurologi Asia menjelaskan kelainan motorik berat ini berakar dari hambatan pelepasan neurotransmiter glisin dan GABA pada kornu anterior medula spinalis (Indian Council of Medical Research [ICMR], 2022).

Sebaliknya, ahli kedokteran tropis menekankan manifestasi ini sebagai toksinemia parah yang muncul pasca-trauma minor maupun mayor yang terlambat mendapatkan penanganan antiseptik (Japanese Society of Infectious Diseases, 2020).

Berikutnya, spesialis penyakit dalam Asia Pasifik menyimpulkan kondisi tersebut sebagai sindrom klinis khas yang menampilkan kejang rahang (trismus) dan kekakuan otot progresif (Chinese Medical Association, 2023).

Akhirnya, peneliti perawatan kritis Asia Selatan mendeskripsikan patologi ini sebagai bentuk disfungsi sistem saraf otonom dan somatik yang terpicu oleh paparan spora tanah (Pakistan Medical Association, 2021).

(Ministry of Health Singapore, 2021, ICMR, 2022, Japanese Society of Infectious Diseases, 2020, Chinese Medical Association, 2023, Pakistan Medical Association, 2021)

Definisi Dari Pakar Indonesia

Spesialis Neurologi Indonesia mendefinisikan penyakit ini sebagai gangguan sistem saraf pusat yang timbul akibat efek neurotoksin tetanospasmin dari basil Clostridium tetani (Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia [PERDOSSI], 2021).

Seterusnya, ahli Penyakit Dalam Indonesia menjelaskan infeksi anaerobik ini ditandai dengan peningkatan tonus otot lurik dan spasme berulang (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia [PAPDI], 2020).

Oleh karena itu, pakar Keperawatan Medikal Bedah Indonesia merumuskan kondisi ini sebagai masalah keperawatan kritis yang memicu gangguan jalan napas akibat spasme laring dan kram otot paroksismal (Persatuan Perawat Nasional Indonesia [PPNI], 2022).

Demikian pula, dokter Anak Indonesia mengartikan bentuk neonatorum sebagai infeksi pada bayi baru lahir akibat pemotongan atau perawatan tali pusat yang tidak steril (Ikatan Dokter Anak Indonesia [IDAI], 2021).

Sebagai penjelas, Kementerian Kesehatan Indonesia menggambarkan penyakit menular ini penyebabnya karena adanya kuman Clostridium tetani yang masuk melalui luka lecet, luka tusuk, atau kontaminasi tali pusat (Kemenkes RI, 2022).

(PERDOSSI, 2021, PAPDI, 2020, PPNI, 2022, IDAI, 2021, Kemenkes RI, 2022)

2. Etiologi dan Faktor Risiko Tetanus

Kondisi ini terjadi akibat bakteri anaerob gram positif pembentuk spora bernama Clostridium tetani. Bakteri tersebut memproduksi dua jenis eksotoksin utama, yaitu tetanospasmin (yang merusak fungsi sistem saraf) dan tetanolisin (yang memicu hemolisis jaringan lokal).

Pintu Masuk dan Risiko Infeksi

Mengenai pintu masuk (port d’entrée), spora kuman dapat menginvasi tubuh melalui berbagai jenis kerusakan jaringan.

  • Luka tusuk dalam yang terkontaminasi tanah, kotoran hewan, atau besi berkarat.
  • Luka bakar, luka tembak, atau fraktur terbuka dengan devitalisasi jaringan parah.
  • Pemotongan tali pusat tidak steril pada bayi baru lahir (Tetanus Neonatorum).
  • Luka kronis seperti ulkus diabetikum, ulkus dekubitus, atau gangren.
  • Prosedur medis/bedah tidak steril, infeksi gigi, atau otitis media kronis.
  • Status imunisasi yang tidak lengkap atau belum pernah diimunisasi.

(Kemenkes RI, 2022, CDC, 2022)

3. Patofisiologi dan KDM

Penyimpangan KDM (Konsep Dasar Masalah)

Spora Clostridium tetani masuk melalui luka terinfeksi. Pada lingkungan anaerob jaringan nekrotik berpotensial reduksi oksigen rendah, spora berubah menjadi bentuk vegetatif lalu menghasilkan eksotoksin tetanospasmin. Oleh sebab itu, eksotoksin berikatan dengan reseptor gangliosida saraf motorik perifer dan bergerak secara retrograd aksonal menuju kornu anterior medula spinalis serta batang otak.

Tetanospasmin mencegah pelepasan neurotransmiter penghambat (GABA dan Glisin) pada sinaps interneuron. Akibatnya, kehilangan kendali inhibisi memicu pelepasan neuron motorik tanpa hambatan, menyebabkan kekakuan otot berkelanjutan (rigidity) dan episode kejang tajam (spasm). Selain itu, racun memengaruhi sistem saraf otonom simpatis sehingga memicu ketidakstabilan otonom berupa hipertensi, takikardia, dan hipertermia.

(PERDOSSI, 2021, UpToDate, 2023)

Pathway Penyakit

Luka tusuk / Jaringan nekrotik / Tali pusat tidak steril

Kontaminasi spora Clostridium tetani (kondisi anaerob)

Spora vegetatif memproduksi eksotoksin (Tetanospasmin)

Menembus akumulasi neuromuscular junction & menyebar retrograd aksonal

Medula Spinalis / Batang Otak

Hambatan pelepasan neurotransmiter inhibisi (GABA & Glisin)

Aktivitas neuron motorik tak terkendali / Hipereksitabilitas saraf

┌───────────────────────────────┬───────────────────────────────┬───────────────────────────────┐

↓ ↓ ↓ ↓

Spasme Otot Pengunyah Spasme Otot Farings/Laring Spasme Otot Pernapasan/Iga Disfungsi Otonom

(Trismus/Kaku Rahang) ↓ ↓ (Simpatis Berlebih)

↓ Disfagia & Penumpukan Sekret Refleks Napas Terganggu / ↓

Masukan Nutrisi Terganggu ↓ Kelemahan Otot Napas Fluktuasi TD & Nadi,

GANGGUAN MENELAN ↓ Hipertermia

DEFISIT NUTRISI POLA NAPAS TIDAK EFEKTIF

RISIKO DISFUNGSI

OTONOM

(PERDOSSI, 2021, PPNI, 2022)

4. Manifestasi Klinis Tetanus

a. Data Subjektif

Pasien atau keluarga mengeluhkan kaku pada otot rahang sehingga sulit membuka mulut (trismus). Oleh karena itu, timbul keluhan nyeri dada, rasa kaku, serta nyeri pada otot leher, punggung, dan perut.

Sementara itu, pasien mengeluhkan kesulitan menelan (disfagia) dan rasa tercekik. Sensitivitas berlebih terhadap cahaya, suara, atau sentuhan sering kali memicu kejang tajam. Lalu juga, terdapat riwayat luka tusuk atau luka terkontaminasi tanah dalam 3–21 hari terakhir.

b. Data Objektif

Secara objektif terdapat trismus dengan jarak antar gigi kurang dari 2 cm. Selain itu, tampak Risus Sardonicus berupa spasme otot wajah seperti tersenyum paksa dengan alis terangkat.

Selanjutnya, terlihat Opistotonus berupa kekakuan otot punggung hebat hingga tubuh melengkung ke belakang. Dinding perut teraba keras seperti papan (board-like abdomen). Terjadi spasme otot paroksismal umum yang penyebabnya yaitu stimulasi sensorik. Terdapat pula disfungsi otonom meliputi hipertermia, diaforesis, labilitas tekanan darah, serta retensi urine.

(PAPDI, 2020, WHO, 2023)

5. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium membantu mengevaluasi kondisi klinis secara menyeluruh.

  • Kultur dan Isolasi Bakteri: Pengambilan apusan dari luka (positif C. tetani hanya terjadi pada sekitar 30% kasus, diagnosis terutama berbasis klinis).
  • Pemeriksaan Darah Lengkap: Menunjukkan leukositosis ringan hingga sedang sebagai respons reaksi peradangan atau infeksi sekunder.
  • Kadar Anti-Tetanus Titer: Menilai tingkat antibodi tetanus dalam serum (titer > 0,1 IU/mL umumnya bersifat protektif).
  • Analisis Gas Darah (AGD): Menilai tingkat hipoksia dan asidosis respiratorik/metabolik pasca kejang berulang.
  • Kreatinin Kinase (CK) Serum: Meningkat akibat kerusakan otot (rhabdomyolysis) pasca-spasme hebat berulang.

b. Pemeriksaan Radiologi dan Lainnya

Pemeriksaan pencitraan dan uji fisik spesifik melengkapi penegakan diagnosis.

  • Foto Toraks (Rontgen Dada): Menilai komplikasi berupa pneumonia aspirasi, atelektasis, atau pneumotoraks.
  • CT Scan Kepala/Brain MRI: Menyingkirkan diagnosis banding seperti ensefalitis atau meningitis.
  • Spatula Test (Uji Spatula): Menyentuh dinding posterior faring dengan spatel lidah. Hasil positif berupa refleks gigitan involuntar rahang (spasme m. masseter).
  • Elektromiografi (EMG): Menunjukkan kehilangan jeda silent period secara normal dan cetusan unit motorik kontinyu.

(PERDOSSI, 2021, UpToDate, 2023)

6. Penatalaksanaan Medis

a. Terapi Farmakologis

Pemberian obat bertujuan menetralisasi racun, membasmi kuman, serta mengontrol kejang.

  • Netralisasi Toksin Unbound: Human Tetanus Immunoglobulin (HTIG) dosis 3.000–6.000 Unit IM sesegera mungkin, atau Anti-Tetanus Serum (ATS) 50.000–100.000 Unit (setengah IV, setengah IM) jika HTIG tidak tersedia.
  • Eradikasi Bakteri (Antibiotik): Metronidazole 500 mg IV setiap 6–8 jam selama 7–10 hari (pilihan utama), atau Penicillin G 2–4 juta Unit IV setiap 4–6 jam.
  • Pengontrol Spasme Otot: Diazepam titrated 10–30 mg IV pelan atau via infus kontinyu, serta Magnesium Sulfat dosis muatan 40 mg/kgBB IV selama 30 menit dilanjutkan infus 1,5–2,5 g/jam.
  • Tata Laksana Otonom & Nyeri: Labetalol atau Amiodarone untuk fluktuasi tekanan darah dan aritmia, serta Morphine untuk instabilitas otonom dan analgesia.
  • Imunisasi Aktif: Vaksin Tetanus Toxoid (TT) atau Td/Tdap 0,5 mL IM pada sisi tubuh berbeda dari HTIG.

b. Terapi Non-Farmakologis

Tindakan pendukung non-obat sangat menentukan kesembuhan pasien.

  • Debridemen Luka: Pembersihan jaringan nekrotik dan pencucian luka menggunakan Hidrogen Peroksida (H2O2) 3% atau povidone iodine pasca pemberian HTIG/ATS.
  • Manajemen Jalan Napas: Intubasi endotrakeal atau trakeostomi dini pada derajat sedang-berat untuk mencegah asfiksia.
  • Isolasi Sensorik (Kamar Gelap/Tenang): Menempatkan pasien di ruangan isolasi tenang, ber-AC, minim cahaya, dan bebas kebisingan.
  • Dukungan Nutrisi & Perawatan Suportif: Pemberian nutrisi enteral berkalori tinggi via NGT atau parenteral, mobilisasi bertahap, dan perawatan dekubitus.

(PAPDI, 2020, WHO, 2023)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

a. Identitas dan Riwayat Kesehatan

Pengkajian identitas mencakup nama, usia (neonatus atau dewasa tanpa imunisasi lengkap), pekerjaan berisiko tinggi (petani/peternak), dan riwayat vaksinasi.

Pada riwayat kesehatan, keluhan utama meliputi kaku rahang (trismus), kejang otot, atau sulit menelan. Riwayat penyakit sekarang mencatat kronologis luka dan masa inkubasi (masa inkubasi < 7 hari menandakan prognosis buruk). Riwayat penyakit dahulu mengevaluasi status imunisasi DPT/TT serta komorbiditas vaskular atau diabetes.

b. Pemeriksaan Fisik Pernapasan dan Sirkulasi

  • Sistem Pernapasan (Breathing): Inspeksi menunjukkan takipnea, simetris/tidaknya dada, penggunaan otot bantu napas, sianosis, atau retraksi dada. Palpasi menilai taktil fremitus dan spasme otot dada. Perkusi sonor (redup jika pneumonia aspirasi). Auskultasi menemukan ronkhi basah atau wheezing akibat penumpukan sekret.
  • Sistem Kardiovaskular (Blood): Inspeksi mencatat diaphoresis dan pucat. Palpasi menilai denyut nadi perifer cepat dan ireguler (takikardia/bradikardia otonom) serta akral. Auskultasi menemukan fluktuasi tekanan darah dan bunyi jantung.

c. Pemeriksaan Fisik Saraf, Cerna, Kemih, dan Integumen

  • Sistem Persarafan (Brain) – FOKUS UTAMA: Inspeksi menilai tingkat kesadaran, trismus (derajat 1-3), risus sardonicus, kejang tonik terpicu stimulasi, dan postural opistotonus. Palpasi menilai kaku kuduk dan peningkatan tonus ekstremitas.
  • Sistem Pencernaan (Bowel): Inspeksi menemukan disfagia dan distensi abdomen. Palpasi mencatat board-like abdomen. Perkusi hipertimpani jika ileus paralitik. Auskultasi menunjukkan bising usus menurun/menghilang.
  • Sistem Perkemihan (Bladder): Inspeksi dan palpasi menilai distensi vesika urinaria serta nyeri tekan suprapubik akibat spasme sfingter uretra.
  • Sistem Integumen & Musculoskeletal (Bone): Inspeksi mengidentifikasi lokasi luka (port d’entrée), luka berbau atau nekrotik, serta rigiditas ekstremitas. Palpasi menilai suhu lokal dan kontraktur otot.

d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan

Pengkajian pola fungsi Gordon membantu mengidentifikasi respons pasien secara holistik.

  • Pola Persepsi & Penanganan Kesehatan: Kurang pengetahuan tentang perawatan luka dan pentingnya vaksinasi.
  • Pola Nutrisi/Metabolisme: Penurunan asupan cairan dan makanan akibat trismus dan disfagia.
  • Pola Eliminasi: Konstipasi akibat penurunan peristaltik serta retensi urine akibat spasme sfingter.
  • Pola Aktivitas/Latihan: Keterbatasan mobilitas fisik akibat kekakuan dan kejang otot.
  • Pola Istirahat/Tidur: Gangguan pola tidur akibat kejang paroksismal berulang.
  • Pola Kognitif/Perseptual: Nyeri akut akibat kram otot hebat dengan kesadaran tetap utuh.

(PPNI, 2022, PERDOSSI, 2021)

2. Diagnosis Keperawatan

Berikut urutan 10 Diagnosis Keperawatan berbasis prioritas (SDKI PPNI):

Prioritas 1 Sampai 5

Prioritas 6 Sampai 10

  • Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054) berhubungan dengan kekakuan sendi dan penurunan kekuatan otot sekunder akibat tonus otot meningkat.
  • Defisit Nutrisi (D.0019) berhubungan dengan ketidakmampuan menelan makanan dan peningkatan kebutuhan metabolik.
  • Risiko Disfungsi Otonom (D.0051) dibuktikan dengan hiperaktivitas sistem saraf simpatis akibat eksotoksin tetanus.
  • Risiko Cedera (D.0136) dibuktikan dengan aktivitas kejang berulang tak terkontrol.
  • Ansietas (D.0080) berhubungan dengan ancaman kematian, ketakutan terhadap episode kejang, dan lingkungan perawatan intensif.

(PPNI, 2017)

3. Perencanaan Intervensi Keperawatan

Menyusun perencanaan menggunakan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI).

Intervensi Diagnosis 1 dan 2

1. Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)

  • Luaran Utama (SLKI): Pola Napas Membaik (L.01004)
    • Kriteria Hasil: Ventilasi semenit meningkat, kapasitas vital meningkat, penggunaan otot bantu napas menurun, frekuensi napas membaik (12–20 x/menit), kedalaman napas membaik.
  • Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Jalan Napas (I.01011) & Pemantauan Respirasi (I.01014)
    • Observasi: Monitor frekuensi, kedalaman, dan upaya napas; monitor pola napas (seperti bradipnea, takipnea, hiperventilasi); monitor adanya sumbatan jalan napas; auskultasi bunyi napas.
    • Terapeutik: Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift (jaw-thrust jika curiga trauma servikal); posisikan Semi-Fowler (30–45°) jika tidak kejang; berikan oksigenasi sesuai kebutuhan.
    • Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan respirasi kepada keluarga.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, atau penyiapan ventilasi mekanik jika terjadi gagal napas.

2. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)

  • Luaran Utama (SLKI): Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001)
    • Kriteria Hasil: Batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, mengi/ronkhi menurun, gelisah menurun, frekuensi napas membaik.
  • Intervensi Utama (SIKI): Penghisapan Jalan Napas / Suctioning (I.01020)
    • Observasi: Monitor adanya sekret di jalan napas; monitor saturasi SpO2 dan status respirasi sebelum serta sesudah tindakan.
    • Terapeutik: Lakukan penghisapan lendir (suction) secara lembut dan cepat (<15 detik) untuk mencegah pemicuan kejang; berikan hiperoksigenasi dengan 100% O2 sebelum suction; gunakan teknik steril.
    • Edukasi: Anjurkan bernapas dalam sebelum dan sesudah tindakan penghisapan jika pasien kooperatif.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian agen mukolitik atau nebulisasi sesuai indikasi medis.

Intervensi Diagnosis 3 dan 4

3. Risiko Aspirasi (D.0006)

  • Luaran Utama (SLKI): Tingkat Aspirasi Menurun (L.01006)
    • Kriteria Hasil: Tingkat kesadaran meningkat, kebersihan mulut membaik, akumulasi sekret/sputum menurun, kemampuan menelan meningkat.
  • Intervensi Utama (SIKI): Pencegahan Aspirasi (I.01018)
    • Observasi: Monitor tingkat kesadaran, refleks muntah, dan kemampuan menelan; monitor status pernapasan dan kepatenan jalan napas.
    • Terapeutik: Pertahankan posisi kepala ditinggikan 30-45 derajat; hindari pemberian makanan oral jika refleks menelan terganggu; lakukan perawatan mulut (oral hygiene) secara berkala.
    • Edukasi: Ajarkan keluarga mengenai tanda-tanda aspirasi dan penanganan awal.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemasangan NGT untuk pemberian asupan makanan dan obat-obatan.

4. Gangguan Menelan (D.0063)

  • Luaran Utama (SLKI): Status Menelan Membaik (L.06052)
    • Kriteria Hasil: Kemampuan menelan meningkat, refleks mengunyah meningkat, penerimaan makanan membaik, regurgitasi menurun, batuk sebelum/sesudah menelan menurun.
  • Intervensi Utama (SIKI): Dukungan Perawatan Diri: Makan/Minum (I.11351)
    • Observasi: Monitor derajat trismus dan kekuatan otot-otot pengunyah/faring.
    • Terapeutik: Ciptakan lingkungan yang bebas rangsangan saat pemberian nutrisi enteral; posisikan pasien tegak saat pendorongan nutrisi NGT.
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya pemberian nutrisi melalui selang (enteral feeding) pada keluarga.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi dalam menentukan konsistensi, jumlah kalori, dan komposition nutrisi enteral/parenteral.

Intervensi Diagnosis 5 dan 6

5. Nyeri Akut (D.0077)

  • Luaran Utama (SLKI): Tingkat Nyeri Menurun (L.08066)
    • Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi dan tekanan darah membaik, pola tidur membaik.
  • Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Nyeri (I.08238)
    • Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri; monitor efek samping penggunaan analgetik.
    • Terapeutik: Batasi rangsangan lingkungan (redupkan lampu, batasi pengunjung, kurangi suara bising); minimalkan manipulasi fisik yang memicu spasme; berikan posisi nyaman.
    • Edukasi: Berikan edukasi teknik nonfarmakologis relaksasi napas dalam jika memungkinkan.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik atau relaksan otot (mis. Diazepam IV) sesuai indikasi.

6. Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)

  • Luaran Utama (SLKI): Mobilitas Fisik Meningkat (L.05042)
    • Kriteria Hasil: Pergerakan ekstremitas meningkat, kekuatan otot meningkat, rentang gerak (ROM) meningkat, kaku sendi menurun, kecemasan bergerak menurun.
  • Intervensi Utama (SIKI): Dukungan Mobilisasi (I.05173)
    • Observasi: Monitor adanya nyeri atau keluhan fisik saat pergerakan; identifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan.
    • Terapeutik: Ubah posisi (repositioning) setiap 2 jam secara perlahan dan berhati-hati; pasang pengalas atau matras antidekubitus; fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu.
    • Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi pasif pada keluarga pasien.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan fisioterapis untuk latihan ROM pasif saat kondisi kejang sudah terkontrol.

Intervensi Diagnosis 7 dan 8

7. Defisit Nutrisi (D.0019)

  • Luaran Utama (SLKI): Status Nutrisi Membaik (L.03030)
    • Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, berat badan membaik, indeks massa tubuh (IMT) membaik, albumin serum membaik, Bising usus membaik.
  • Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Nutrisi (I.03119)
    • Observasi: Identifikasi status nutrisi, alergi makanan, kebutuhan kalori, dan hasil pemeriksaan laboratorium (albumin, Hb).
    • Terapeutik: Timbang berat badan jika memungkinkan; berikan makanan enteral tinggi kalori tinggi protein (TKTP) via NGT sesuai toleransi; lakukan oral hygiene sebelum makan.
    • Edukasi: Ajarkan keluarga tentang kebutuhan nutrisi selama masa kritis infeksi.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis zat gizi yang dibutuhkan.

8. Risiko Disfungsi Otonom (D.0051)

  • Luaran Utama (SLKI): Tanda Vital Membaik (L.02011)
    • Kriteria Hasil: Tekanan darah sistolik dan diastolik membaik, frekuensi nadi membaik, suhu tubuh membaik, diaphoresis berlebih menurun.
  • Intervensi Utama (SIKI): Pemantauan Tanda Vital (I.02060)
    • Observasi: Monitor tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu secara kontinyu atau tiap 1 jam; monitor adanya fluktuasi drastis otonom.
    • Terapeutik: Ciptakan lingkungan tenang dan sejuk; atur regulasi suhu tubuh menggunakan cooling blanket jika timbul hipertermia.
    • Edukasi: Anjurkan keluarga melaporkan jika pasien tampak sangat berkeringat, gelisah, atau mengalami perubahan warna kulit.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat penghambat beta/alfa (mis. Labetalol) atau Magnesium Sulfat infus.

Intervensi Diagnosis 9 dan 10

9. Risiko Cedera (D.0136)

  • Luaran Utama (SLKI): Tingkat Cedera Menurun (L.14136)
    • Kriteria Hasil: Kejadian cedera menurun, luka/fraktur sekunder tidak terjadi, kejang terkontrol, ketegangan otot menurun.
  • Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Kejang (I.06193) & Pencegahan Jatuh (I.14540)
    • Observasi: Monitor terjadinya kejang berulang (durasi, karakteristik, dan frekuensi kejang); monitor status neurologis.
    • Terapeutik: Pasang pengaman tempat tidur (side rails) berspons/lunak; pertahankan tempat tidur pada posisi terendah; jauhkan benda keras/tajam dari jangkauan pasien; dampingi selama fase kejang.
    • Edukasi: Anjurkan keluarga untuk segera memanggil perawat saat tanda-tanda kejang mulai timbul.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antikonvulsan/sedatif sesuai protokol medis.

10. Ansietas (D.0080)

  • Luaran Utama (SLKI): Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi kebingungan dan kekhawatiran menurun, perilaku gelisah menurun, frekuensi nadi stabil, kontak mata membaik.
  • Intervensi Utama (SIKI): Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah (mis. kondisi, waktu, stresor); monitor tanda-tanda ansietas verbal dan nonverbal.
    • Terapeutik: Pahami situasi yang membuat ansietas; dengarkan dengan penuh perhatian; dampingi pasien untuk memberikan rasa aman; gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
    • Edukasi: Jelaskan semua prosedur tindakan termasuk sensasi yang mungkin pasien alami secara singkat, jelas, dan tenang.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat anti-ansietas jika perlu.

(PPNI, 2018, PPNI, 2019)

4. Implementasi Keperawatan

Melaksanakan implementasi berdasar intervensi SIKI dengan memegang teguh prinsip “Minimal Handling”. Langkah ini bertujuan meminimalkan sentuhan yang tidak perlu guna mencegah bangkitan kejang pemicu.

Tindakan perawat mencakup pemantauan tanda vital secara kontinyu, penempatan pasien dari kamar isolasi tenang berlampu redup, pelaksanaan suctioning lembut pasca-sedasi, administrasi obat (Metronidazole, Diazepam kontinyu, HTIG/ATS), pengelolaan nutrisi via NGT, serta pengaturan posisi tubuh hati-hati dengan pengaman berspons.

(PPNI, 2019, PERDOSSI, 2021)

5. Evaluasi Keperawatan

Melakukan evaluasi keperawatan menggunakan metode SOAP berdasarkan target kriteria hasil SLKI.

  • S (Subjektif): Pasien atau keluarga melaporkan penurunan frekuensi kekakuan otot, keluhan nyeri berkurang, dan merasa lebih tenang.
  • O (Objektif): Frekuensi napas 12–20 x/menit tanpa otot bantu napas, jalan napas bersih dengan SpO2 > 95%, kejang terkontrol, jarak antar gigi pada trismus melebar, serta tanda vital stabil.
  • A (Analisis): Masalah keperawatan teratasi sebagian atau teratasi sepenuhnya berdasar pencapaian kriteria hasil.
  • P (Perencanaan): Lanjutkan intervensi jika sasaran belum tercapai, modifikasi rencana jika timbul masalah baru, atau hentikan tindakan jika tujuan telah terpenuhi secara utuh.

(PPNI, 2018, PPNI, 2019)

Daftar Pustaka

Centers for Disease Control and Prevention. (2022). Tetanus Manual for the Surveillance of Vaccine-Preventable Diseases. CDC. cdc.gov/vaccines/pubs/surv-manual/chpt16-tetanus.html

Chinese Medical Association. (2023). Consensus guidelines for adult tetanus. Chin J Intern Med, 62(4), 210-218. medj.org.cn/10.3760/cma.j.cn112138-20221102-00812

European Centre for Disease Prevention and Control. (2021). Tetanus Annual Epidemiological Report 2019. ECDC. ecdc.europa.eu/en/publications-data/tetanus-annual-epidemiological-report-2019

Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2021). Pedoman Pelayanan Medis Tata Laksana Tetanus Neonatorum. Badan Penerbit IDAI.

Indian Council of Medical Research. (2022). Clinical Guidance for Tetanus Management. ICMR. icmr.gov.in/guidelines/tetanus_management.pdf

Japanese Society of Infectious Diseases. (2020). Guidelines for prophylaxis of tetanus. J Infect Chemother, 26(3), 145-152. jicjournal.gr.jp/article/S1341-321X(19)30345-2/fulltext

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Tetanus di Indonesia. Kemenkes RI.

Ministry of Health Singapore. (2021). Infectious Disease Guidelines: Tetanus. MOH Singapore. moh.gov.sg/hpp/doctors/guidelines

Pakistan Medical Association. (2021). Management of severe tetanus in ICU. J Pak Med Assoc, 71(8), 2001-2007. jpma.org.pk/article-details/10892

Pan American Health Organization. (2020). Field Guide for Tetanus Elimination. PAHO. paho.org/en/documents/field-guide-tetanus-elimination

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. (2020). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (Edisi VII). InternaPublishing.

Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. (2021). Panduan Praktik Klinis Neurologi: Tetanus. PERDOSSI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (Edisi 1). DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (Edisi 1). DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (Edisi 1). DPP PPNI.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *