Intellectual Disability merupakan gangguan perkembangan saraf karena adanya keterbatasan fungsi intelektual serta perilaku adaptif sejak usia dini.
- A. Konsep Medis Intellectual Disability
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- Daftar Pustaka
A. Konsep Medis Intellectual Disability
1. Definisi Intellectual Disability
Definisi Dari Pakar Internasional
Selanjutnya, American Psychiatric Association (APA) (2022) menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan gangguan perkembangan saraf yang diawali pada masa perkembangan dan mencakup defisit fungsi intelektual serta fungsi adaptif dalam domain konseptual, sosial, dan praktis.
Selain itu, World Health Organization (WHO) (2021) mengartikan disabilitas intelektual sebagai kondisi terhentinya atau tidak lengkapnya perkembangan mental, dengan hambatan keterampilan selama masa perkembangan sehingga memengaruhi tingkat kecerdasan secara menyeluruh.
Sebagai tambahan, American Association on Intellectual and Developmental Disabilities (AAIDD) (2021) mengidentifikasi kondisi ini sebagai keterbatasan signifikan pada fungsi intelektual dan perilaku adaptif yang meliputi keterampilan adaptif konseptual, sosial, serta praktis sebelum usia 22 tahun.
Sementara itu, Schalock et al. (2020) menegaskan bahwa keterbatasan tersebut memencarkan kendala pada pemahaman komprehensif, penalaran logis, pemecahan masalah, dan pembelajaran akademis yang timbul selama periode formatif anak.
Akhirnya, Sadock, Sadock, & Ruiz (2019) mendeskripsikan keterbelakangan fungsi mental ini sebagai keberadaan nilai IQ di bawah 70 serta dengan hambatan nyata pada kemampuan adaptasi sosial dasar.
(American Psychiatric Association, 2022, World Health Organization, 2021, AAIDD, 2021, Schalock et al., 2020, Sadock et al., 2019)
Definisi Pakar Asia
Kemudian, Park & Kim (2021) menyarangkan bahwa disabilitas intelektual pada kawasan Asia merupakan fenomena kompleks yang melibatkan hambatan perkembangan kognitif bawaan serta kegagalan pencapaian kemandirian fungsional harian.
Sejalan dengan hal tersebut, Chen & Liu (2020) menyimpulkan bahwa kondisi ini mencerminkan gangguan kapasitas belajar abstrak dan adaptasi sosio-kultural yang muncul akibat disfungsi neurologis pada masa kanak-kanak.
Berikutnya, Srivastava & Kumar (2019) mendefinisikan kelainan tersebut sebagai ketidakmampuan individu untuk memenuhi standar perkembangan dan sosio-budaya dalam hal kemandirian pribadi serta tanggung jawab sosial.
Selain itu, Wong & Lam (2018) menyatakan bahwa kelainan intelektual mencakup disabilitas fungsi pemrosesan informasi dan kognisi eksekutif yang membatasi kemampuan anak dalam berinteraksi secara efektif pada lingkungannya.
Lebih lanjut, Tanaka & Sato (2017) menjelaskan bahwa keterbatasan mental ini bersumber dari kegagalan perkembangan struktur otak yang berdampak langsung pada penurunan kapasitas intelektual serta keterampilan hidup praktis.
(Park & Kim, 2021, Chen & Liu, 2020, Srivastava & Kumar, 2019, Wong & Lam, 2018, Tanaka & Sato, 2017)
Definisi Pakar Indonesia
Sebaliknya, Soetjiningsih & Ranuh (2020) mengungkapkan bahwa disabilitas intelektual (retardasi mental) merupakan keadaan dengan fungsi intelektual dari bawah rata-rata yang bermula sebelum usia 18 tahun serta hambatan perilaku adaptif.
Oleh karena itu, Mansjoer et al. (2019) menandaskan bahwa kondisi ini menunjukkan kelemahan inteligensi umum yang signifikan sehingga menimbulkan kendala belajar dan penyesuaian sosial sepanjang tumbuh kembang.
Seterusnya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) (2021) merumuskan disabilitas intelektual sebagai disfungsi sistem saraf pusat yang mengakibatkan gangguan kapasitas kognitif umum serta hambatan adaptasi fungsi harian anak.
Dengan demikian, Yudha & Pratiwi (2022) menyebutkan bahwa retardasi mental dengan skor tes IQ di bawah rata-rata populasi umum yang berkorelasi langsung dengan keterlambatan semua aspek perkembangan anak.
Ringkasnya, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) (2022) mengategorikan kondisi ini sebagai kelainan perkembangan mental anak yang membatasi kemampuan berkomunikasi, merawat diri, dan berinteraksi sosial.
(Soetjiningsih & Ranuh, 2020, Mansjoer et al., 2019, IDAI, 2021, Yudha & Pratiwi, 2022, Kemenkes RI, 2022)
2. Etiologi Intellectual Disability
Mengenai penyebabnya, faktor etiologi terbagi menjadi beberapa fase perkembangan:
- Faktor Prenatal:
- Kelainan Genetik/Kromosom: Sindrom Down (Trisomi 21), Sindrom Fragile X, Sindrom Klinefelter, Sindrom Turner, Phenylketonuria (PKU).
- Infeksi Maternal: Infeksi TORCH (Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes Simplex), Sifilis kongenital, HIV.
- Paparan Teratogen: Konsumsi alkohol masa kehamilan (Fetal Alcohol Syndrome), merokok, paparan radiasi, atau obat-obatan teratogenik.
- Gizi dan Metabolik Ibu: Malnutrisi berat pada ibu hamil, hipotiroidisme maternal, atau diabetes gestasional tak terkontrol.
- Faktor Perinatal:
- Asfiksia Neonatorum: Hipoksia berat saat persalinan yang menyebabkan enselopati iskemik hipoksik.
- Trauma Lahir: Kerusakan jaringan otak akibat penggunaan ekstraksi vakum/forsep atau persalinan kaset.
- Prematuritas dan BBLR: Berat Badan Lahir Sangat Rendah (<1500 gram) serta prematuritas ekstrem.
- Kernikterus: Hyperbilirubinemia berat yang menembus sawar darah otak.
- Faktor Postnatal:
- Infeksi CNS: Meningitis bakterialis, ensefalitis, atau abses otak pada masa bayi/anak.
- Trauma Kepala: Cedera otak traumatis (Traumatic Brain Injury) akibat kecelakaan atau kekerasan anak.
- Toksin Lingkungan: Keracunan logam berat seperti timbal (Pb) atau merkuri (Hg).
- Deprivasi Psikososial: Kurangnya stimulasi psikologis dan edukatif pada masa awal tumbuh kembang.
(Soetjiningsih & Ranuh, 2020, Sadock et al., 2019, IDAI, 2021)
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
Secara patofisiologis, gangguan ini berpusat pada kegagalan perkembangan normal jaringan serebral atau kerusakan struktural/metabolik pada sistem saraf pusat (SSP). Faktor etiologi mengganggu proses neurogenesis, migrasi neuronal, sinaptogenesis, serta mielinisasi pada korteks serebri.
Akibatnya, terjadi penurunan jumlah sinapsis dan kerusakan dendrit yang berdampak pada penurunan kecepatan hantaran impuls saraf. Hal ini memicu penurunan kapasitas pengolahan informasi, gangguan fungsi eksekutif, serta hambatan memori.
Penyimpangan KDM & Pathway
Plaintext
Faktor Prenatal (Genetik/TORCH) / Perinatal (Asfiksia) / Postnatal (Infeksi/Trauma)
│
▼
Disfungsi / Kerusakan Network Neuronal Serebral
│
▼
Penurunan Jumlah Sinaps & Kerusakan Neurotransmiter
│
▼
Gangguan Perkembangan Sistem Saraf Pusat
│
┌──────────────────────┴──────────────────────┐
▼ ▼
Keterbatasan Fungsi Intelektual Hambatan Perilaku Adaptif
│ │
┌────────────┴────────────┐ ┌─────────────┴─────────────┐
▼ ▼ ▼ ▼
Penurunan Kognitif Penurunan Otomotor Keterbatasan Komunikasi Keterbatasan Merawat
& Keterampilan Belajar & Fungsi Motorik & Interaksi Sosial Diri & Kemandirian
│ │ │ │
▼ ▼ ▼ ▼
[Gangguan Memori / [Gangguan Tumbuh [Gangguan Komunikasi [Defisit Perawatan
Defisit Pengetahuan] Kembang] Verbal] Diri]
(APA, 2022, Soetjiningsih & Ranuh, 2020, Sadock et al., 2019)
4. Manifestasi Klinis Intellectual Disability
a. Data Subjektif
- Orang tua melaporkan anak lambat dalam mencapai tahapan perkembangan (developmental milestones) seperti duduk, merangkak, berjalan, atau berbicara.
- Orang tua menyampaikan anak kesulitan memahami instruksi sederhana atau mengingat perintah bertahap.
- Keluarga mengeluhkan anak mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan teman sebaya.
- Laporan bahwa anak belum mampu mandi, berpakaian, atau makan sendiri sesuai usianya.
b. Data Objektif
- Skor IQ pada tes psikometrik terstandar di bawah 70 (Ringan: 50–69, Sedang: 35–49, Berat: 20–34, Sangat Berat: <20).
- Keterlambatan kemampuan bahasa ekspresif dan reseptif secara bermakna.
- Keterlambatan motorik kasar dan halus saat pemeriksaan perkembangan fisik.
- Adanya dismorfisme fisik (misalnya epicanthal folds, simian crease pada Sindrom Down).
- Hambatan nyata pada uji fungsi adaptif (Vineland Adaptive Behavior Scales).
(APA, 2022, AAIDD, 2021, IDAI, 2021)
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
- Analisis Kromosom / Karyotyping: Mengidentifikasi potensi sindrom genetik seperti Trisomi 21 atau mutasi Fragile X.
- Skrining Metabolik Neonatus: Mengukur kadar asam amino plasma dan asam organik urin untuk menyingkirkan Phenylketonuria (PKU).
- Pemeriksaan Fungsi Tiroid (TSH dan Free T4): Menilai kemungkinan hipotiroidisme kongenital.
- Pemeriksaan Kadar Logam Berat: Mengetahui toksisitas timbal (Pb) dalam darah.
b. Pemeriksaan Radiologi
- Magnetic Resonance Imaging (MRI) Kepala: Mengidentifikasi malformasi struktural otak, porensefali, agenesis korpus kalosum, atau atrofi serebral.
- CT-Scan Kepala: Menilai adanya kalsifikasi intrakranial (seperti pada TORCH) atau hidrosefalus.
c. Pemeriksaan Lain
- Tes Inteligensi Terstandar: Stanford-Binet Intelligence Scales atau Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) untuk menentukan IQ.
- Vineland Adaptive Behavior Scales (VABS): Menilai perilaku adaptif dalam komunikasi dan kehidupan sehari-hari.
- Elektroensefalografi (EEG): Menilai aktivitas listrik otak jika dicurigai ada kejang/epilepsi komorbid.
- Audiometri dan Pemeriksaan Visus: Menyingkirkan gangguan pendengaran atau penglihatan.
(Sadock et al., 2019, IDAI, 2021, Kemenkes RI, 2022)
6. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi Farmakologis
- Pengobatan Komorbiditas Psikiatrik/Perilaku:
- Antipsikotik (Aripiprazol/Risperidon): Mengurangi iritabilitas dan agresi.
- Stimulan (Metilfenidat) / Atomoksetin: Diberikan apabila disertai komorbiditas ADHD.
- SSRI (Fluoksetin/Sertralin): Mengatasi komorbiditas kecemasan berat.
- Antikonvulsan: Asam Valproat atau Levetirasetam jika terdapat komorbid kejang/epilepsi.
b. Terapi Non-Farmakologis
- Terapi Okupasi dan Perilaku: Melatih kemampuan aktivitas kehidupan sehari-hari (Activities of Daily Living / ADL).
- Terapi Wicara dan Bahasa: Meningkatkan kemampuan komunikasi verbal dan nonverbal.
- Pendidikan Inklusif/Khusus (SLB): Program Pembelajaran Individual (PPI) yang disesuaikan dengan kapasitas kognitif.
- Fisioterapi: Memperbaiki tonus otot dan koordinasi motorik kasar.
- Intervensi Dini dan Pelatihan Orang Tua: Edukasi keluarga untuk stimulasi secara konsisten di rumah.
(APA, 2022, Soetjiningsih & Ranuh, 2020, IDAI, 2021)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien
Meliputi nama, usia, jenis kelamin, nama orang tua/penanggung jawab, tingkat pendidikan orang
tua, pekerjaan, dan status sosial ekonomi.
b. Riwayat Kesehatan
- Keluhan Utama: Keterlambatan bicara, kesulitan belajar, belum bisa merawat diri sendiri, atau gangguan perilaku.
- Riwayat Kesehatan Sekarang: Omset munculnya keterlambatan perkembangan, pola komunikasi, interaksi sosial, dan respons terhadap rangsangan.
- Riwayat Kesehatan Dahulu: Riwayat kehamilan ibu (infeksi TORCH, pemakaian obat), proses persalinan (asfiksia, APGAR score), kejang masa bayi, atau trauma kepala.
- Riwayat Kesehatan Keluarga: Riwayat keluarga dengan keterlambatan mental, penyakit genetik, atau kelainan bawaan.
c. Pemeriksaan Fisik
- Sistem Saraf Pusat / Sistem Neurosensori (Fokus Utama):
- Inspeksi: Ukuran lingkar kepala (mikrosefali atau hidrosefalus), bentuk kranium, gerakan involunter, ketidakmampuan mengikuti arah cahaya.
- Palpasi: Fontanel (pada bayi), reflek primitif, tonus otot (hipotonia/hipertonia).
- Perkusi: Refleks fisiologis (patella, bisep, trisep) dan refleks patologis (Babinski).
- Auskultasi: Bising pembuluh darah kranial (cranial bruit).
- Sistem Respirasi:
- Inspeksi: Bentuk dada, frekuensi napas, simetris/tidaknya gerakan dinding dada.
- Palpasi: Taktil fremitus teraba simetris.
- Perkusi: Sonor di seluruh lapang paru.
- Auskultasi: Suara napas vesikuler, tidak ada suara napas tambahan.
- Sistem Kardiovaskular:
- Inspeksi: Iktus kordis tidak tampak, tidak ada sianosis.
- Palpasi: Iktus kordis teraba di ICS V midklavikula kiri, CRT <2 detik.
- Perkusi: Batas jantung dalam rentang normal.
- Auskultasi: Bunyi jantung I dan II murni regular, tidak ada murmur.
- Sistem Pencernaan & Nutrisi:
- Inspeksi: Status gizi, refleks menelan dan mengunyah.
- Palpasi: Abdomen supel, tidak teraba organomegali.
- Perkusi: Timpani pada empat kuadran abdomen.
- Auskultasi: Bising usus normal (5–35x/menit).
- Sistem Muskuloskeletal & Integumen:
- Inspeksi: Postur tubuh, deformitas tulang, kekuatan otot, ciri dismorfik kulit.
- Palpasi: Kekuatan dan tonus otot, turgor kulit.
- Sistem Perkemihan & Reproduksi:
- Inspeksi: Kebersihan area genitalia, evaluasi kebiasaan toilet training.
- Palpasi: Kandung kemih tidak distensi.
d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan (Gordon)
- Pola Persepsi & Penanganan Kesehatan: Kurangnya pemahaman pasien mengenai kesehatan.
- Pola Nutrisi & Metabolik: Kesulitan mengunyah/menelan pada kasus berat.
- Pola Eliminasi: Keterlambatan pengontrolan sfingter (inkontinensia).
- Pola Aktivitas & Latihan: Keterbatasan mobilitas fisik atau kemandirian aktivitas harian (ADL).
- Pola Istirahat & Tidur: Sering mengalami gangguan pola tidur.
- Pola Kognitif & Perseptual: Penurunan daya ingat, kesulitan konsentrasi, keterbatasan daya nalar.
- Pola Persepsi Diri / Konsep Diri: Risiko rendah diri pada tingkat intelektual ringan.
- Pola Peran & Hubungan: Hambatan interaksi sosial, isolasi sosial.
- Pola Seksualitas & Reproduksi: Kebutuhan edukasi seksual khusus seiring bertambahnya usia pubertas.
- Pola Koping & Toleransi Stres: Keterbatasan mekanisme koping, tantrum saat frustrasi.
- Pola Nilai & Kepercayaan: Keterlibatan keluarga dalam membimbing nilai-nilai.
(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Soetjiningsih & Ranuh, 2020)
2. Diagnosis Keperawatan
Urutan Prioritas SDKI
- Gangguan Tumbuh Kembang (D.0106) berhubungan dengan efek ketidakmampuan fisik/intelektual, disfungsi sistem saraf pusat.
- Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119) berhubungan dengan penurunan kognitif, hambatan pendengaran/neurologis.
- Defisit Perawatan Diri (D.0109) berhubungan dengan gangguan kognitif, keterbatasan fungsi adaptif.
- Gangguan Interaksi Sosial (D.0118) berhubungan dengan hambatan perkembangan kognitif, hambatan komunikasi.
- Defisit Pengetahuan (D.0111) berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kurang terpapar informasi.
- Risiko Cedera (D.0136) dibuktikan dengan ketidakmampuan mengambil keputusan keselamatan, hambatan fungsi kognitif.
- Gangguan Memori (D.0062) berhubungan dengan kerusakan sel serebral.
- Inkontinensia Feses (D.0041) berhubungan dengan ketidakmampuan mengontrol sfingter anal akibat disfungsi neurologis/kognitif.
- Ansietas Orang Tua / Keluarga (D.0080) berhubungan dengan krisis situasional, kekhawatiran terhadap masa depan anak.
- Koping Keluarga Tidak Efektif (D.0096) berhubungan dengan beban pengasuhan kronis, kurangnya sistem pendukung.
(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
3. Perencanaan Intervensi (SLKI & SIKI)
Rencana Intervensi Diagnosis 1 s.d. 3
1. Gangguan Tumbuh Kembang (D.0106)
- SLKI (Status Perkembangan L.10101): Keterampilan/perilaku sesuai usia meningkat, kemampuan melakukan perawatan diri meningkat, respon sosial meningkat.
- SIKI (Promosi Perkembangan Anak I.10340):
- Observasi: Identifikasi pencapaian tugas perkembangan anak; identifikasi kebutuhan khusus anak.
- Terapeutik: Fasilitasi anak berinteraksi dengan sebaya; dukung anak mengekspresikan diri; berikan mainan yang sesuai dengan usia perkembangannya.
- Edukasi: Jelaskan pada orang tua/pengasuh tentang milestones perkembangan anak; anjurkan orang tua berinteraksi secara konsisten.
- Kolaborasi: Rujuk ke tim interdisiplin (terapis okupasi, wicara, psikolog).
2. Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119)
- SLKI (Komunikasi Verbal L.13118): Kemampuan berbicara meningkat, kemampuan mendengar dan memahami pesan meningkat, penggunaan isyarat/nonverbal meningkat.
- SIKI (Promosi Komunikasi: Defisit Bicara I.13492):
- Observasi: Monitor kecepatan, tekanan, kuantitas, dan kelancaran bicara; monitor proses kognitif dan bahasa.
- Terapeutik: Gunakan bahasa sederhana dan kalimat pendek; gunakan media gambar atau papan komunikasi jika perlu; berikan waktu ekstra bagi anak untuk merespons.
- Edukasi: Anjurkan keluarga berbicara perlahan dan tatap mata anak.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan terapis wicara.
3. Defisit Perawatan Diri (D.0109)
- SLKI (Perawatan Diri L.11103): Kemampuan mandi, mengenakan pakaian, makan, dan Toileting meningkat.
- SIKI (Dukungan Perawatan Diri I.11348):
- Observasi: Monitor tingkat kemandirian anak dalam melakukan aktivitas perawatan diri harian.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan yang aman dan mudah dijangkau; bantu aktivitas perawatan diri sesuai tingkat keterbatasan.
- Edukasi: Ajarkan strategi instruksi bertahap (step-by-step) dalam merawat diri; latih keluarga cara mendukung kemandirian anak.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan terapis okupasi.
Rencana Intervensi Diagnosis 4 s.d. 6
4. Gangguan Interaksi Sosial (D.0118)
- SLKI (Interaksi Sosial L.13115): Perasaan nyaman dengan situasi sosial meningkat, responsif pada orang lain meningkat, perilaku sesuai usia meningkat.
- SIKI (Modifikasi Perilaku Keterampilan Sosial I.13484):
- Observasi: Identifikasi hambatan dalam berinteraksi dengan orang lain.
- Terapeutik: Berikan umpan balik positif atas keberhasilan interaksi sosial; motivasi keterlibatan dalam kegiatan kelompok bermain.
- Edukasi: Anjurkan memperluas interaksi secara bertahap; latih teknik sosialisasi yang dapat diterima.
5. Defisit Pengetahuan (D.0111)
- SLKI (Tingkat Pengetahuan L.12111): Perilaku sesuai anjuran meningkat, kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang kondisi medis meningkat.
- SIKI (Edukasi Kesehatan I.12383):
- Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan keluarga menerima informasi.
- Terapeutik: Gunakan materi edukasi visual dan bahasa Indonesia yang mudah dipahami.
- Edukasi: Jelaskan etiologi, perjalanan penyakit, serta strategi pengasuhan anak.
6. Risiko Cedera (D.0136)
- SLKI (Tingkat Cedera L.14136): Kejadian cedera menurun, toleransi terhadap aktivitas aman meningkat.
- SIKI (Pencegahan Cedera I.14537):
- Observasi: Identifikasi area bahaya di lingkungan rumah atau tempat bermain.
- Terapeutik: Sediakan alat pelindung diri jika ada perilaku mencederai diri; modifikasi lingkungan bebas bahaya.
- Edukasi: Jelaskan pada keluarga pentingnya pengawasan berkelanjutan.
Rencana Intervensi Diagnosis 7 s.d. 10
7. Gangguan Memori (D.0062)
- SLKI (Memori L.09079): Kemampuan mengingat informasi faktual meningkat, kemampuan melakukan aktivitas terstruktur meningkat.
- SIKI (Latihan Memori I.06188):
- Observasi: Identifikasi masalah memori yang dialami.
- Terapeutik: Gunakan pengingat visual (jadwal bergambar); stimulasi memori dengan aktivitas pengulangan tugas harian secara konsisten.
- Edukasi: Latih keluarga memberikan rutinitas harian yang terstruktur.
8. Inkontinensia Feses (D.0041)
- SLKI (Kontinensia Feses L.04035): Pengontrolan pengeluaran feses meningkat, frekuensi defekasi membaik.
- SIKI (Latihan Eliminasi Feses / Toilet Training I.04163):
- Observasi: Monitor pola defekasi anak harian.
- Terapeutik: Jadwalkan waktu defekasi secara teratur setelah makan; berikan pujian saat anak menggunakan pispot/toilet dengan tepat.
- Edukasi: Anjurkan keluarga konsisten dalam penerapan toilet training harian.
9. Ansietas Orang Tua / Keluarga (D.0080)
- SLKI (Tingkat Ansietas L.09093): Verbalisasi kebingungan dan kekhawatiran menurun, perilaku gelisah menurun.
- SIKI (Reduksi Ansietas I.09314):
- Observasi: Monitor tanda-tanda ansietas pada orang tua secara verbal dan nonverbal.
- Terapeutik: Dengarkan masalah keluarga dengan penuh empati; fasilitasi pertemuan dengan kelompok pendukung (support group).
- Edukasi: Informasikan mengenai prognosis realistis dan potensi perkembangan anak secara terukur.
10. Koping Keluarga Tidak Efektif (D.0096)
- SLKI (Status Koping Keluarga L.09088): Kemampuan keluarga mengatasi masalah meningkat, komunikasi antar anggota keluarga meningkat.
- SIKI (Dukungan Koping Keluarga I.09260):
- Observasi: Identifikasi respon emosional keluarga terhadap kondisi anak.
- Terapeutik: Fasilitasi pembagian peran dalam keluarga untuk mencegah kecapekan pengasuhan (caregiver burnout).
- Edukasi: Informasikan sistem pendukung komunitas atau lembaga rehabilitasi terdekat.
(Tim Pokja SLKI PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)
4. Implementasi
Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana intervensi berbasis SIKI yang telah ditetapkan secara sistematis. Pelaksanaan menekankan pada intervensi stimulasi perkembangan, peningkatan kemampuan perawatan diri, modifikasi perilaku adaptif, edukasi serta dukungan emosional bagi keluarga, serta pencegahan cedera fisik.
(Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)
5. Evaluasi
Evaluasi dilakukan menggunakan pendekatan SOAP (Subjektif, Objektif, Analisis, Perencanaan) berdasarkan Kriteria Hasil pada SLKI:
- S (Subjektif): Keluhan keluarga mengenai kemampuan anak dalam berkomunikasi, merawat diri, dan sosialisasi.
- O (Objektif): Hasil observasi status perkembangan anak, pengontrolan eliminasi, skor tes adaptif, dan respons keamanan fisik.
- A (Analisis): Penilaian apakah masalah keperawatan teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi.
- P (Perencanaan): Tindakan keberlanjutan intervensi, modifikasi langkah, atau terminasi jika kriteria telah terpenuhi.
(Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
Daftar Pustaka
AAIDD. (2021). Intellectual Disability: Definition, Diagnosis, Classification, and Systems of Supports (12th ed.). American Association on Intellectual and Developmental Disabilities.
American Psychiatric Association. (2022). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR) (5th ed.). American Psychiatric Association Publishing.
Chen, X., & Liu, Y. (2020). Neurodevelopmental outcomes in Asian children. Journal of Intellectual & Developmental Disability, 45(2), 112–120. tandfonline.com/doi/full/10.1080/13668250.2019.1682341
Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2021). Pedoman Pelayanan Medis: Tumbuh Kembang Anak. Badan Penerbit IDAI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak Disabilitas. Kemenkes RI.
Mansjoer, A., et al. (2019). Kapita Selekta Kedokteran (Edisi 4). Media Aesculapius.
125.208.136.189
Park, J. H., & Kim, S. W. (2021). Intellectual disability trajectories in East Asia. Asian Journal of Psychiatry, 58, 102601. sciencedirect.com/science/article/pii/S187620182100052X
Sadock, B. J., Sadock, V. A., & Ruiz, P. (2019). Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry (11th ed.). Wolters Kluwer.
Schalock, R. L., et al. (2020). Intellectual disability definition and supports. American Journal on Intellectual and Developmental Disabilities, 125(6), 467–474. meridian.allenpress.com/ajidd/article/125/6/467/446210
Soetjiningsih, & Ranuh, I. G. N. G. (2020). Tumbuh Kembang Anak (Edisi 2). EGC.
Srivastava, A. K., & Kumar, M. (2019). Adaptive functional deficits in children. Journal of Pediatric Neurosciences, 14(3), 145–152. journals.lww.com/jpn/fulltext/2019/14030/00004
Tanaka, H., & Sato, M. (2017). Brain abnormalities in children with intellectual disabilities. Brain and Development, 39(8), 654–661. sciencedirect.com/science/article/pii/S038776041730089X
Tim Pokja SDKI PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (Edisi 1). DPP PPNI.
Tim Pokja SIKI PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (Edisi 1). DPP PPNI.
Tim Pokja SLKI PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (Edisi 1). DPP PPNI.
125.208.136.189

Tinggalkan Balasan