Pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) atau GeneXpert MTB/RIF merupakan metode deteksi berbasis molekuler berbasis Real-Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) automatik. Pemeriksaan ini digunakan untuk mendeteksi DNA Mycobacterium tuberculosis sekaligus mengidentifikasi mutasi gen rpoB yang menandakan resistensi terhadap Rifampisin.
Daftar Isi
Interpretasi Hasil Pemeriksaan TCM
Hasil Pemeriksaan | Makna Klinis / Kategori | Tindakan Lanjut |
MTB Not Detected | Normal / Negatif (DNA M. tuberculosis tidak terdeteksi) | Lakukan evaluasi klinis ulang atau pemeriksaan penunjang lain jika gejala persisten. |
MTB Detected, Rif Sensitivity | Positif TB, Sensitif Rifampisin | Memulai pengobatan OAT (Obat Anti-Tuberkulosis) Lini Pertama. |
MTB Detected, Rif Resistance | Positif TB, Resistif Rifampisin (TB-RO) | Rujukan untuk penanganan TB Resistan Obat (OAT Lini Kedua). |
MTB Detected, Rif Indeterminate | Positif TB, Hasil resistensi Rifampisin tidak dapat disimpulkan | Lakukan pemeriksaan ulang TCM dengan spesimen baru. |
Invalid / Error / No Result | Kegagalan teknis alat atau sampel | Lakukan pengambilan spesimen ulang dan tes ulang. |
Indikasi Pemeriksaan
- Terduga Tuberkulosis Paru (gejala batuk kronis ≥2 minggu, demam, keringat malam, penurunan berat badan).
- Pasien terduga TB Resistan Obat (TB-RO) atau riwayat pengobatan TB gagal/mangkir.
- Pasien terduga TB Ekstra Paru (spesimen cairan serebrospinal, kelenjar getah bening, jaringan).
- Pasien dengan koinfeksi HIV/AIDS yang menunjukkan gejala respiratori.
- Anak dengan terduga TB yang sulit mengalirkan spesimen sputum baku.
Prioritas Diagnosis Keperawatan (SDKI)
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
- Penyebab: Hipersekresi jalan napas, akumulasi eksudat mukus di alveolus/bronkus akibat reaksi inflamasi M. tuberculosis.
- Kriteria Utama: Batuk tidak efektif, sputum berlebih/kental, ronki pada auskultasi, dispnea.
- Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)
- Penyebab: Perubahan membran alveolus-kapiler akibat kerusakan jaringan paru dan pembentukan granuloma/kavitasi.
- Kriteria Utama: PPO2/PCO2 abnormal, dispnea, takikardia, sianosis, atau pola napas abnormal.
- Defisit Nutrisi (D.0019)
- Penyebab: Peningkatan laju metabolisme basal (katabolisme infeksi kronis), anoreksia, atau mual.
- Kriteria Utama: Berat badan menurun minimal 10% di bawah rentang ideal, nafsu makan menurun, bising usus hiperaktif.
- Risiko Infeksi (D.0142)
- Faktor Risiko: Penyakit kronis (infeksi spesifik TB), penurunan pertahanan tubuh primer/sekunder.
Daftar Pustaka
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tatalaksana Tuberkulosis. Jakarta: Kemenkes RI.
- World Health Organization. (2021). WHO Operational Handbook on Tuberculosis. Module 3: Diagnosis – Rapid Diagnostics for Tuberculosis Detection. Geneva: World Health Organization.
- Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
