Tabel Nilai Normal Pemeriksaan BTA Sputum
Nilai hasil pemeriksaan BTA (Basil Tahan Asam) umumnya dilaporkan berdasarkan skala IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung Disease):
Hasil Pemeriksaan | Interprestasi / Nilai | Keterangan Visual (Mikroskopis) |
Negatif | Normal | Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang |
Scanty | Positif (Tuliskan jumlah) | Ditemukan 1–9 BTA dalam 100 lapang pandang |
1+ | Positif 1 | Ditemukan 10–99 BTA dalam 100 lapang pandang |
2+ | Positif 2 | Ditemukan 1–10 BTA per 1 lapang pandang (minimal 50 lapang pandang) |
3+ | Positif 3 | Ditemukan >10 BTA per 1 lapang pandang (minimal 20 lapang pandang) |
Definisi
Pemeriksaan Bakteriologis BTA (Basil Tahan Asam) Sputum adalah prosedur laboratorium mikrobiologi untuk mendeteksi keberadaan bakteri gram positif berbentuk batang yang memiliki dinding sel kaya asam lemak (seperti Mycobacterium tuberculosis). Bakteri ini mempertahankan pewarnaan khusus (Ziehl-Neelsen) dan tidak luntur saat dibilas dengan larutan asam-alkohol.
Indikasi Pemeriksaan
Pemeriksaan ini diindikasikan pada pasien dengan kondisi atau gejala sebagai berikut:
- Batuk berdahak persisten selama 2 minggu atau lebih.
- Gejala sistemik khas tuberkulosis: demam sumeng berulang, keringat malam tanpa aktivitas fisik, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, dan penurunan nafsu makan (anoreksia).
- Batuk darah (hemoptisis) atau nyeri dada saat bernapas.
- Evaluasi berkala efektivitas pengobatan OAT (Obat Anti-Tuberkulosis).
- Screening kontak erat pada pasien TB paru terkonfirmasi.
Jenis Diagnosis Medis Terkait
Beberapa diagnosis medis utama yang dikonfirmasi atau dipantau melalui pemeriksaan ini mencakup:
- Tuberkulosis Paru (TB Paru)
- Tuberkulosis Resistan Obat (TB-RO / TB-MDR)
- Infeksi Non-Tuberculous Mycobacteria (NTM)
- Pneumonia Bakterialis dengan kecurigaan komplikasi koinfeksi BTA
Diagnosis Keperawatan (SDKI) Berdasarkan Prioritas
Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), berikut adalah diagnosis keperawatan yang relevan diurutkan dari prioritas utama:
A. Prioritas 1: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
- Kategori: Respirasi
- Penyebab (Etiologi): Hipersekresi jalan napas, proses infeksi, eksudat dalam alveoli.
- Gejala & Tanda Mayor: Batuk tidak efektif, tidak mampu batuk, sputum berlebih, mengi/wheezing dan/or ronkhi kering.
B. Prioritas 2: Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)
- Kategori: Respirasi
- Penyebab (Etiologi): Perubahan membran alveolus-kapiler, akumulasi sekret di parenkim paru.
- Gejala & Tanda Mayor: Dyspnea, PCO2 meningkat/menurun, PO2 menurun, takikardia, pH arteri meningkat/menurun, bunyi napas tambahan.
C. Prioritas 3: Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
- Kategori: Respirasi
- Penyebab (Etiologi): Hambatan upaya napas (misal: nyeri saat bernapas), penurunan energi/kelelahan otot pernapasan.
- Gejala & Tanda Mayor: Dyspnea, penggunaan otot bantu pernapasan, fase eksprasi memanjang, pola napas abnormal (misal: takipnea).
D. Prioritas 4: Defisit Nutrisi (D.0019)
- Kategori: Nutrisi dan Cairan
- Penyebab (Etiologi): Peningkatan kebutuhan metabolisme akibat proses infeksi kronis, hipertermia, anoreksia.
- Gejala & Tanda Mayor: Berat badan menurun minimal 10% di bawah rentang ideal, cepat kenyang setelah makan, kram/nyeri abdomen.
E. Prioritas 5: Risiko Infeksi (D.0142)
- Kategori: Keamanan dan Perlindungan
- Faktor Risiko: Ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer (penurunan kerja silia, akumulasi sekret), penyakit kronis (TB).
