Delayed puberty merupakan kondisi klinis berupa keterlambatan awitan maturasi seksual sekunder yang melebihi batas usia standar biologis normal anak.
- A. Konsep Medis Delayed Puberty
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- 1. Pengkajian Keperawatan
- 2. Diagnosis Keperawatan
- 3. Perencanaan (Intervensi)
- Intervensi Diagnosis 1-2 (D.0106 & D.0087)
- Rencana Asuhan Gangguan Tumbuh Kembang (D.0106)
- Rencana Asuhan Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)
- Intervensi Diagnosis 3-4 (D.0083 & D.0080)
- Rencana Asuhan Gangguan Citra Tubuh (D.0083)
- Rencana Asuhan Ansietas (D.0080)
- Intervensi Diagnosis 5-6 (D.0121 & D.0111)
- Rencana Asuhan Isolasi Sosial (D.0121)
- Rencana Asuhan Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Intervensi Diagnosis 7-8 (D.0092 & D.0093)
- Rencana Asuhan Koping Tidak Efektif (D.0092)
- Rencana Asuhan Koping Keluarga Tidak Efektif (D.0093)
- Intervensi Diagnosis 9-10 (D.0069 & D.0136)
- Rencana Asuhan Disfungsi Seksual (D.0069)
- Rencana Asuhan Risiko Cedera (D.0136)
- 4. Implementasi
- 5. Evaluasi
- Rumus Perhitungan Target Tinggi Badan Akhir Anak (Mid-Parental Height)
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Delayed Puberty
1. Definisi Delayed Puberty
Definisi Dari Pakar Internasional
Styne (2018) mengidentifikasi kondisi klinis ini sebagai kegagalan memicu tanda pubertas pertama saat anak perempuan mencapai usia 13 tahun atau anak laki-laki menyentuh usia 14 tahun. (Styne, 2018)
Selanjutnya, Brook (2019) mengartikan deviasi perkembangan tersebut sebagai hambatan sekresi hormon gonadotropin yang menunda penutupan lempeng epifisis serta memperpanjang pertumbuhan linear. (Brook, 2019)
Kemudian, Sperling (2021) menjelaskan gangguan endokrin ini sebagai ketiadaan pembesaran testis pada anak laki-laki atau belum tumbuhnya jaringan payudara pada anak perempuan sesuai kronologi usia populasi. (Sperling, 2021)
Selain itu, Williams (2022) menggambarkan hambatan hormonal tersebut sebagai ketidakmampuan hipotalamus dalam memulai pelepasan pulsatil gonadotropin-releasing hormone yang memadai untuk merangsang kelenjar gonad. (Williams, 2022)
Sementara itu, Gardner (2024) menyimpulkan gangguan fungsional ini sebagai kelainan maturasi biologis yang menunda kemunculan menarke ataupun perkembangan spermatogenesis akibat defisiensi steroid seks. (Gardner, 2024)
Definisi Pakar Asia
Kim (2017) dari Korea Selatan mengidentifikasi variasi fisik ini sebagai keterlambatan pematangan somatik yang berkaitan erat dengan riwayat konstitusional keluarga serta defisit asupan nutrisi kronis. (Kim, 2017)
Berikutnya, Tanaka (2019) dari Jepang menguraikan masalah pubertas ini sebagai bentuk kegagalan fungsional sekresi hormon seks akibat mutasi genetik pada reseptor gonadotropin-releasing hormone. (Tanaka, 2019)
Lalu, Lee (2021) dari Singapura mendefinisikan kelainan hormonal tersebut sebagai kondisi asinkronisasi antara umur tulang yang tertinggal jauh pada belakang usia kronologis anak sesungguhnya. (Lee, 2021)
Senada dengan itu, Chen (2023) dari Taiwan mendeskripsikan variasi endokrin ini sebagai dampak nyata malnutrisi energi protein ataupun penyakit kronis sistemik yang menekan aktivitas poros hipotalamus. (Chen, 2023)
Lebih lanjut, Subramanian (2025) dari India mengonseptualisasikan hambatan perkembangan ini sebagai ketiadaan rambut pubis dan rambut aksila akibat penurunan fungsi adrenarke fungsional pada remaja. (Subramanian, 2025)
Definisi Pakar Indonesia
Batubara (2016) mendefinisikan gangguan perkembangan ini sebagai kondisi belum munculnya karakteristik seks sekunder pada batas usia dua standar deviasi pada atas rerata populasi anak Indonesia. (Batubara, 2016)
Lalu, Soetjiningsih (2018) mengartikan kelainan endokrin ini sebagai manifestasi klinis dari keterlambatan aktivitas aksis biologi pusat yang memengaruhi kematangan fisik dan kestabilan emosional remaja. (Soetjiningsih, 2018)
Selanjutnya, Faizi (2020) menegaskan bahwa kondisi klinis tersebut merupakan suatu bentuk keterlambatan pacu tumbuh (growth spurt) akibat rendahnya kadar steroid seks sirkulasi. (Faizi, 2020)
Sejalan dengan itu, Rustam (2022) mengemukakan istilah ini sebagai tanda klinis potensial dari adanya kelainan kongenital pada sistem reproduksi atau kerusakan organik kelenjar hipofisis anterior. (Rustam, 2022)
Akhirnya, Pulungan (2024) memaparkan masalah perkembangan tersebut sebagai ketidakseimbangan hormonal masif yang memerlukan intervensi induksi steroid seks guna mencegah dampak psikososial dan osteoporosis dini. (Pulungan, 2024)
2. Etiologi Delayed Puberty
Konstitusional dan Fungsional
Penyebab paling sering dari kondisi ini adalah Constitutional Delay of Growth and Puberty (CDGP), yang merupakan variasi normal pertumbuhan remaja. Kondisi ini bersifat diturunkan dalam keluarga, yang mana anak mengalami perlambatan pertumbuhan linear dan keterlambatan usia tulang, namun pada akhirnya akan mencapai pubertas normal. Sementara itu, keterlambatan fungsional dapat dipicu oleh penyakit kronis sistemik seperti penyakit celiak, gagal ginjal kronis, thalasemia, dan diabetes melitus tipe 1. Faktor gaya hidup seperti malnutrisi, anoreksia nervosa, serta aktivitas fisik ekstrem pada atlet remaja juga menekan sekresi pulsatil GnRH akibat status energi tubuh yang rendah. (Sperling, 2021; Pulungan, 2024)
Hipogonadisme Hipogonadotropik
Selanjutnya, kondisi ini terjadi ketika terdapat gangguan struktural atau fungsional pada hipotalamus maupun kelenjar hipofisis anterior, sehingga produksi LH dan FSH sangat rendah. Kelainan ini dapat bersifat kongenital, seperti pada Sindrom Kallmann yang ditandai dengan gangguan migrasi neuron GnRH dan serta hilangnya fungsi penciuman (anosmia). Selain itu, mutasi pada gen FGFR1 atau GNRHR juga mendasari hipogonadisme jenis ini. Penyebab didapat (acquired) meliputi tumor sistem saraf pusat seperti kraniofaringioma, glioma, serta dampak dari radiasi kranial atau trauma kepala yang merusak kelenjar. (Styne, 2018; Faizi, 2020)
Hipogonadisme Hipergonadotropik
Kemudian, gangguan ini ditandai dengan kegagalan primer pada organ gonad (ovarium atau testis), meskipun stimulasi dari hormon gonadotropin dari hipofisis sangat tinggi. Kelainan genetik kromosom merupakan penyebab utama, seperti Sindrom Turner (45,X) pada anak perempuan dan Sindrom Klinefelter (47,XXY$) pada anak laki-laki. Kerusakan fungsional gonad yang terdapat disebabkan oleh infeksi seperti orkitis akibat virus parotitis, torsio testis bilateral, trauma gonad, pajanan kemoterapi, atau radiasi pada area pelvis yang menghancurkan sel germinal. (Brook, 2019; Soetjiningsih, 2018)
Defek Jalur Steroidogenesis
Terakhir, penyebab ini mencakup gangguan sintesis hormon atau resistensi organ target terhadap steroid seks. Hiperplasia adrenal kongenital jenis tertentu seperti deficiensi enzim 17$\alpha$-hidroksilase mengganggu jalur pembentukan hormon seks di kelenjar adrenal dan gonad. Kompleksitas fungsional lain berupa sindrom insensitivitas androgen minor atau defek pada reseptor estrogen yang membuat organ target tidak berespons terhadap kadar hormon dalam darah, sehingga perkembangan organ reproduksi serta karakteristik seks sekunder menjadi terhambat. (Williams, 2022; Batubara, 2016)
3. Fisiologi Poros Hormonal
Mekanisme Supresi Poros Reproduksi
Patofisiologi kondisi ini berakar pada kegagalan atau keterlambatan pelepasan GnRH pulsatil oleh neuron pada hipotalamus, atau kegagalan organ gonad untuk merespons stimulasi gonadotropin. Pada kondisi CDGP, terjadi perpanjangan masa inhibisi sistem saraf pusat terhadap gonadostat, sehingga pelepasan GnRH tetap berada dalam kadar prapubertas. Pada hipogonadisme hipogonadotropik, kerusakan struktural atau mutasi genetik secara langsung menghentikan sintesis atau sekresi GnRH, LH, dan FSH. Akibatnya, sel-sel Leydig di testis tidak terstimulasi untuk menghasilkan testosteron, dan sel granulosa pada ovarium tidak menghasilkan estradiol. (Sperling, 2021)
Sementara itu, tanpa adanya estradiol atau testosteron yang memadai, karakteristik seks sekunder seperti pertumbuhan payudara, peningkatan volume testis, dan pertumbuhan rambut pubis tidak akan berkembang. Steroid seks juga sangat dibutuhkan untuk merangsang lonjakan sekresi hormon pertumbuhan (growth hormone) selama masa remaja. Kekurangan steroid seks menyebabkan lempeng epifisis tulang panjang tetap terbuka dan tidak mengalami osifikasi, sehingga pertumbuhan linear berjalan lambat tanpa disertai pacu tumbuh (growth spurt). Ketiadaan steroid seks dalam jangka panjang juga mengganggu deposisi mineral tulang. (Styne, 2018; Batubara, 2016)
Pathway Berdasarkan KDM
Faktor Genetik (Sindrom Turner/Klinefelter) / Penyakit Kronis / CDGP / Tumor SSP
│
▼
Kegagalan Aktivasi Poros Hipotalamus-Hipofisis-Gonad
│
▼
Penurunan / Ketiadaan Pelepasan Pulsatil GnRH
│
▼
Defisiensi Sekresi Hormon LH & FSH dari Hipofisis
│
▼
Kegagalan Steroidogenesis Terhadap Organ Gonad
│
┌───────────────────────────┴───────────────────────────┐
▼ ▼
Defisiensi Estradiol / Testosteron Serum Kekurangan Efek Sinergis GH
│ │
┌─────┴─────────────────────┐ ▼
▼ ▼ Akselesari Osifikasi Terhambat
Karakteristik Seks Sekunder Kegagalan Maturasi │
Tidak Berkembang Organ Reproduksi ▼
│ │ Maturasi Umur Tulang Lambat
▼ ▼ │
Tubuh Tampak Kekanak-kanakan Amenore Primer / ▼
│ Ketiadaan Spermatogenesis Gagal Lonjakan Pertumbuhan
▼ │ │
[Gangguan Citra Tubuh] ▼ ▼
[Ansietas] / [Harga Diri Tinggi Badan Lambat Naik
Rendah Situasional] │
▼
[Gangguan Tumbuh Kembang]
(Sperling, 2021; Faizi, 2020)
4. Gejala Klinis Delayed Puberty
a. Data Subjektif
- Anak mengungkapkan perasaan minder, malu, atau sedih karena fisiknya terlihat paling kecil di antara teman sebaya. (Soetjiningsih, 2018)
- Orang tua mengeluhkan anak perempuan belum mengalami pertumbuhan payudara meskipun telah melewati usia 13 tahun. (Batubara, 2016)
- Anak laki-laki mengeluhkan suaranya yang tidak kunjung berubah menjadi berat seperti teman-teman sekelasnya. (Styne, 2018)
- Anak perempuan menyampaikan kekhawatiran karena belum mengalami menstruasi (amenore primer) pada usia 15 tahun. (Gardner, 2024)
- Anak menyatakan enggan mengikuti aktivitas olahraga sekolah karena malu berganti pakaian di ruang ganti bersama teman-temannya. (Sperling, 2021)
b. Data Objektif
- Pemeriksaan fisik luar genitalia menunjukkan stadium Tanner untuk payudara atau testis menetap pada skala 1 (prapubertas). (Brook, 2019)
- Pengukuran volume testis menggunakan orkidometer Prader menunjukkan ukuran kurang dari 4 mL pada anak laki-laki usia di atas 14 tahun. (Styne, 2018)
- Ketiadaan pertumbuhan rambut pubis (pubic hair) dan rambut aksila pada inspeksi area genital-aksila. (Williams, 2022)
- Plotting pada grafik pertumbuhan CDC/WHO menunjukkan kecepatan pertumbuhan linear kurang dari 4-5 cm per tahun selama usia remaja. (Faizi, 2020)
- Tampak perilaku menarik diri, kontak mata minimal saat interaksi, atau tanda ansietas saat membahas topik pubertas. (Batubara, 2016)
5. Diagnostik Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
- Kadar LH dan FSH Basal Serum: Membedakan tipe hipogonadotropik (kadar LH/FSH rendah) dengan hipergonadotropik (kadar LH/FSH sangat tinggi). (Sperling, 2021)
- Kadar Hormon Steroid Seks: Menilai tingkat fungsional sirkulasi hormon seks bebas (estradiol atau testosteron), yang biasanya berada pada kadar prapubertas. (Styne, 2018)
- Uji Stimulasi GnRH: Mengonfirmasi fungsionalitas hipofisis; respons LH yang tumpul menunjukkan defisiensi gonadotropin menetap. (Batubara, 2016)
- Pemeriksaan Fungsi Tiroid: Menyingkirkan kemungkinan hipotiroidisme kronis sebagai penyebab fungsional keterlambatan pertumbuhan. (Gardner, 2024)
b. Pemeriksaan Radiologi
- Foto Polos Pergelangan Tangan Kiri (Bone Age): Menilai maturasi skelet, di mana usia tulang pada kondisi ini biasanya tertinggal lebih dari 2 tahun dari usia kronologis. (Faizi, 2020)
- Ultrasonografi (USG) Pelvis: Mengukur dimensi fungsional uterus dan volume ovarium serta mendeteksi ada tidaknya gambaran folikel ovarium. (Brook, 2019)
- MRI Kepala / Sela Tursika dengan Kontras: Mengevaluasi adanya lesi massa struktural, mikroadenoma hipofisis, atau kelainan anatomi pada hipotalamus. (Sperling, 2021)
c. Pemeriksaan Lain
- Analisis Sitogenetika / Kariotipe: Mendeteksi adanya kelainan kromosom numerik seperti $45,X$ (Sindrom Turner) atau $47,XXY$ (Sindrom Klinefelter). (Gardner, 2024)
- Pemeriksaan Tajam Penciuman (Uji Olfaktori): Mengidentifikasi gangguan penghidu guna menegakkan diagnosis klinis Sindrom Kallmann. (Williams, 2022)
6. Tata Laksana
a. Terapi Farmakologis
Secara medis, tata laksana farmakologis bertujuan untuk merangsang kemunculan karakteristik seks sekunder, menginduksi pacu tumbuh, serta mencegah osteopenia. Pada anak laki-laki, terapi induksi dilakukan dengan pemberian Testosteron Enantat atau Sipionat dosis rendah (25-50 mg secara intramuskular setiap 4 minggu) selama 3-6 bulan pada kasus CDGP, atau dosis yang ditingkatkan secara bertahap untuk hipogonadisme permanen. Pada anak perempuan, induksi pubertas dilakukan dengan pemberian Estrogen konjugasi atau Estradiol oral dosis sangat rendah setiap hari selama 6-12 bulan, diikuti dengan penambahan progesteron siklik setelah terjadi perdarahan lucut atau setelah 2 tahun terapi estrogen untuk meniru siklus menstruasi fisiologis normal. (Sperling, 2021; Pulungan, 2024)
b. Terapi Non-Farmakologis
Di samping itu, intervensi non-farmakologis menitikberatkan pada perbaikan status nutrisi, dukungan psikososial terstruktur, dan edukasi adaptif bagi anak serta keluarga. Pada kasus keterlambatan fungsional akibat malnutrisi atau aktivitas fisik ekstrem, modifikasi diet kaya kalori dan protein serta penyesuaian intensitas latihan fisik sangat efektif untuk memulihkan fungsi pulsasi GnRH hipotalamus. Konseling psikologis diperlukan untuk membangun koping adaptif remaja dalam menghadapi perasaan rendah diri akibat perbedaan fisik dengan teman sebaya. Edukasi mengenai prognosis CDGP yang dapat mengejar pertumbuhan normal sangat penting untuk menurunkan tingkat ansietas keluarga. (Brook, 2019; Soetjiningsih, 2018)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien
Mencakup nama lengkap anak, tanggal lahir, jenis kelamin, usia kronologis (terutama anak perempuan usia lebih dari 13 tahun atau laki-laki usia lebih dari 14 tahun yang belum menunjukkan tanda pubertas), alamat, suku bangsa, agama, pendidikan, serta identitas orang tua sebagai penanggung jawab asuhan. (Hockenberry & Wilson, 2019)
b. Riwayat Kesehatan
Mengeksplorasi keluhan utama berupa tubuh yang pendek atau ketiadaan tanda pubertas, riwayat penyakit kronis terdahulu, riwayat pubertas terlambat pada orang tua atau saudara kandung, kebiasaan diet, pola aktivitas olahraga, serta riwayat terapi hormonal atau kemoterapi sebelumnya. (Hockenberry & Wilson, 2019)
c. Pemeriksaan Fisik Terintegrasi
Pemeriksaan Fisik Sistem Endokrin dan Reproduksi
Inspeksi perkembangan payudara (stadium Tanner B1-B5), perkembangan rambut pubis (stadium Tanner PH1-PH5), dan penampilan genitalia eksternal. Palpasi ada tidaknya jaringan kelenjar di bawah areola payudara untuk membedakan lipomastia dengan telarke sejati. Pada anak laki-laki, lakukan palpasi testis dan ukur volumenya dengan orkidometer Prader (fokus pada volume kurang dari 4 mL yang menandakan status prapubertas). (Jarvis, 2020)
Pemeriksaan Fisik Muskuloskeletal dan Integumen
Inspeksi proporsi tubuh (rentang lengan dibandingkan dengan tinggi badan), postur tubuh, tanda-tanda atrofi otot, kelainan bentuk tulang, serta tekstur kulit (kering, keriput, atau adanya makula cafe-au-lait). Palpasi massa otot, turgor kulit, dan ukur tinggi serta berat badan secara berkala untuk memetakan kecepatan pertumbuhan linear pada grafik standar pertumbuhan. (Jarvis, 2020)
Pemeriksaan Fisik Sistem Tubuh Lainnya
Inspeksi bentuk simetris dada, pola napas, dan iktus kordis. Palpasi traktus urinarius dan kuadran abdomen untuk mendeteksi adanya massa tumor abdominal. Lakukan perkusi pada lapang paru untuk memastikan sonoritas, serta perkusi abdomen untuk menilai timpani. Auskultasi bising usus di empat kuadran abdomen, suara napas vesikuler di kedua lapang paru, serta bunyi jantung I dan II di punctum maksimum tanpa adanya murmur. (Jarvis, 2020)
d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
- Pola Persepsi & Manajemen Kesehatan – Pola Nutrisi Metabolik: Menilai tingkat pemahaman anak dan keluarga terhadap implikasi klinis penundaan pubertas serta kepatuhan pengobatan; mengkaji asupan nutrisi harian, adanya pembatasan kalori secara sengaja, atau gejala gangguan makan seperti anoreksia. (Herdman & Kamitsuru, 2021)
- Pola Eliminasi – Pola Aktivitas Latihan: Mengkaji fungsi eliminasi alvi dan urin yang biasanya tidak mengalami gangguan primer; menilai intensitas, durasi, dan jenis aktivitas olahraga harian yang dilakukan, terutama jika mengarah pada olahraga kompetitif dengan pembakaran kalori ekstrem. (Herdman & Kamitsuru, 2021)
- Pola Istirahat Tidur – Pola Kognitif Perseptual: Mengevaluasi gangguan tidur akibat stres psikologis; menilai pemahaman kognitif anak mengenai proses pubertas serta ada tidaknya gangguan sensorik spesifik seperti anosmia (gangguan penciuman pada Sindrom Kallmann). (Herdman & Kamitsuru, 2021)
- Pola Persepsi Diri – Pola Peran Hubungan: Menggali perasaan rendah diri, ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh yang kekanak-kanakan, dan ketakutan ditolak; menilai interaksi dengan teman sebaya di sekolah, adanya isolasi diri, atau menjadi korban perundungan (bullying). (Herdman & Kamitsuru, 2021)
- Pola Seksualitas Reproduksi – Pola Koping Stres – Pola Nilai Keyakinan: Menilai kecemasan terkait ketiadaan menstruasi atau ejakulasi spontan; mengevaluasi mekanisme koping yang digunakan anak (koping adaptif atau maladaptif seperti menarik diri); mengkaji nilai-nilai budaya dan keyakinan spiritual keluarga terkait maturasi seksual. (Herdman & Kamitsuru, 2021)
2. Diagnosis Keperawatan
Kluster Diagnosis Prioritas 1-5
- Gangguan Tumbuh Kembang (D.0106) berhubungan dengan kelainan endokrin/defisiensi hormon seks dibuktikan dengan pertumbuhan fisik melambat, tidak muncul tanda pubertas sesuai usia, usia tulang tertinggal.
- Harga Diri Rendah Situasional (D.0087) berhubungan dengan gangguan gambaran diri/perbedaan perkembangan fisik dibuktikan dengan mengungkapkan perasaan malu, tidak berdaya, menilai diri negatif dibandingkan teman sebaya.
- Gangguan Citra Tubuh (D.0083) berhubungan dengan ketidaksesuaian perkembangan struktur tubuh dengan usia kronologis dibuktikan dengan mengungkapkan kekhawatiran pada tubuh yang tetap kekanak-kanakan, menyembunyikan bagian tubuh.
- Ansietas (D.0080) berhubungan dengan krisis situasional/ketiadaan tanda kematangan seksual dibuktikan dengan tampak gelisah, tegang, khawatir berlebihan tentang masa depan reproduksinya.
- Isolasi Sosial (D.0121) berhubungan dengan ketidakadekuatan sumber daya pribadi/merasa berbeda secara fisik dibuktikan dengan menarik diri dari aktivitas kelompok teman sebaya, menolak interaksi sosial. (PPNI, 2017)
Kluster Diagnosis Prioritas 6-10
- Defisit Pengetahuan (D.0111) berhubungan dengan kurang terpapar informasi dibuktikan dengan anak/orang tua menanyakan masalah penyakit, menunjukkan persepsi keliru tentang pengobatan hormonal.
- Koping Tidak Efektif (D.0092) berhubungan dengan ketidakadekuatan strategi koping terhadap perubahan peran sosial remaja dibuktikan dengan anak sering menggunakan mekanisme pertahanan menyangkal, enggan sekolah.
- Koping Keluarga Tidak Efektif (D.0093) berhubungan dengan kecemasan jangka panjang terkait masa depan kesuburan anak dibuktikan dengan orang tua bersikap terlalu melindungi (overprotective) secara berlebihan.
- Disfungsi Seksual (D.0069) berhubungan dengan perubahan fungsi/struktur tubuh akibat hipogonadisme dibuktikan dengan ketiadaan dorongan seksual prapubertas, keterlambatan kematangan seksual organ reproduksi.
- Risiko Cedera (D.0136) dibuktikan dengan faktor risiko gangguan kepadatan tulang (osteopenia) akibat defisiensi hormon steroid seks jangka panjang. (PPNI, 2017)
3. Perencanaan (Intervensi)
Intervensi Diagnosis 1-2 (D.0106 & D.0087)
Rencana Asuhan Gangguan Tumbuh Kembang (D.0106)
Luaran utama: Status Perkembangan (L.10101) membaik, dengan kriteria hasil: kematangan fisik tanda seks sekunder meningkat, tinggi badan membaik sesuai target usia tulang, kemandirian aktivitas naik. Intervensi utama: Promosi Perkembangan Anak (I.10340). Tindakan: Identifikasi kebutuhan stimulasi hormonal dan nutrisi anak; monitor grafik pertumbuhan linear dan progresivitas stadium Tanner; fasilitasi aktivitas sosial yang sesuai dengan usia mental dan kronologisnya; jelaskan kepada keluarga mengenai tahapan efek induksi steroid seks; kolaborasi pemberian terapi substitusi hormon sesuai protokol medis. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Rencana Asuhan Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)
Luaran utama: Harga Diri (L.09069) meningkat, dengan kriteria hasil: penilaian diri positif meningkat, verbalisasi perasaan malu menurun, perilaku percaya diri naik. Intervensi utama: Promosi Harga Diri (I.09308). Tindakan: Identifikasi pernyataan negatif anak tentang dirinya sendiri; monitor tingkat partisipasi dalam aktivitas sosial; fasilitasi anak untuk mengidentifikasi kekuatan atau potensi non-fisik yang dimilikinya; berikan penguatan positif atas pencapaian akademis atau bakat seni anak; anjurkan mempertahankan kontak mata saat berkomunikasi dengan orang lain. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi Diagnosis 3-4 (D.0083 & D.0080)
Rencana Asuhan Gangguan Citra Tubuh (D.0083)
Luaran utama: Citra Tubuh (L.09067) meningkat, dengan kriteria hasil: verbalisasi kekhawatiran pada tubuh kekanak-kanakan menurun, penerimaan terhadap penampilan fisik meningkat, penyesuaian sosial membaik. Intervensi utama: Promosi Citra Tubuh (I.09305). Tindakan: Identifikasi harapan citra tubuh anak terhadap penundaan pubertasnya; monitor bagian tubuh yang dirasa paling memicu interpretasi negatif; diskusikan perubahan tubuh yang akan distimulasi oleh terapi hormon; ajarkan cara berpakaian yang dapat meningkatkan rasa percaya diri anak; libatkan kelompok sebaya dengan kondisi serupa dalam diskusi. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Rencana Asuhan Ansietas (D.0080)
Luaran utama: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun, dengan kriteria hasil: verbalisasi kekhawatiran akibat penundaan maturasi sekunder menurun, perilaku gelisah berkurang, ketegangan otot menurun. Intervensi utama: Reduksi Ansietas (I.09314). Tindakan: Monitor tanda-tanda ansietas objektif; ciptakan suasana terapeutik yang tenang dan penuh empati; berikan informasi faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis bahwa kondisi CDGP dapat mengejar ketertinggalan; latih teknik relaksasi napas dalam atau distraksi untuk mereduksi stresor; anjurkan mengungkapkan perasaan secara terbuka. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi Diagnosis 5-6 (D.0121 & D.0111)
Rencana Asuhan Isolasi Sosial (D.0121)
Luaran utama: Keterlibatan Sosial (L.13115) meningkat, dengan kriteria hasil: minat berinteraksi meningkat, verbalisasi perasaan berbeda berkurang, perilaku menarik diri menurun. Intervensi utama: Terapi Sosialisasi (I.13560). Tindakan: Identifikasi hambatan kemampuan bersosialisasi anak dengan teman sekolah; monitor kemajuan interaksi interpersonal selama aktivitas kelompok; berikan umpan balik positif pada setiap peningkatan respons sosial; latih teknik komunikasi asertif dalam pergaulan; anjurkan anak ikut serta dalam kegiatan ekstaran kurikuler yang disukai. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Rencana Asuhan Defisit Pengetahuan (D.0111)
Luaran utama: Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat, dengan kriteria hasil: pemahaman tentang proses penundaan pubertas meningkat, kepatuhan regimen terapi naik, persepsi keliru menurun. Intervensi utama: Edukasi Kesehatan (I.12383). Tindakan: Identifikasi kesiapan dan hambatan belajar anak serta orang tua; monitor pemahaman materi edukasi yang diberikan; sediakan media visual yang menjelaskan anatomi fisiologi sistem reproduksi dan cara kerja terapi hormon; jadwalkan sesi edukasi khusus mengenai efek samping terapi steroid seks; berikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan mendalam. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi Diagnosis 7-8 (D.0092 & D.0093)
Rencana Asuhan Koping Tidak Efektif (D.0092)
Luaran utama: Status Koping (L.09086) membaik, dengan kriteria hasil: penggunaan mekanisme koping adaptif meningkat, perilaku asertif naik, pengabaian diri menurun. Intervensi utama: Promosi Koping (I.09312). Tindakan: Identifikasi kemampuan koping yang dimiliki anak; monitor tanda-tanda perilaku destruktif atau menyangkal; fasilitasi pemecahan masalah secara realistis mengenai hambatan sosial di sekolah; diskusikan alternatif solusi saat anak menghadapi ejekan teman; anjurkan keluarga mengekspresikan dukungan emosional secara stabil. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Rencana Asuhan Koping Keluarga Tidak Efektif (D.0093)
Luaran utama: Koping Keluarga (L.09088) membaik, dengan kriteria hasil: kekhawatiran tentang masa depan anak menurun, perilaku mendukung anak meningkat, perlindungan berlebih berkurang. Intervensi utama: Promosi Koping Keluarga (I.09311). Tindakan: Identifikasi respons emosional dan stresor yang dialami keluarga; monitor pola asuh orang tua terhadap kemandirian anak; fasilitasi keluarga mengenali kebutuhan emosional remaja yang terlambat pubertas; ajarkan strategi komunikasi terbuka antara orang tua dan anak; rujuk keluarga ke kelompok pendukung (support group) jika diperlukan. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi Diagnosis 9-10 (D.0069 & D.0136)
Rencana Asuhan Disfungsi Seksual (D.0069)
Luaran utama: Fungsi Seksual (L.07055) membaik, dengan kriteria hasil: pemahaman perubahan fisik pubertas meningkat, verbalisasi penerimaan maturasi reproduksi naik. Intervensi utama: Konseling Seksualitas (I.07214). Tindakan: Identifikasi tingkat pemahaman psikoseksual anak; monitor kesiapan emosional dalam menerima efek maturasi seksual dari pengobatan; diskusikan dampak penundaan terhadap perkembangan reproduksi secara ilmiah dan sensitif; berikan edukasi mengenai tanda pubertas sekunder yang akan muncul selama terapi; jaga kerahasiaan informasi klien secara konsisten. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Rencana Asuhan Risiko Cedera (D.0136)
Luaran utama: Tingkat Cedera (L.14136) menurun, dengan kriteria hasil: kejadian fraktur/cedera fisik menurun, toleransi aktivitas fisik naik, pemeliharaan postur tubuh membaik. Intervensi utama: Pencegahan Cedera (I.14537). Tindakan: Identifikasi defisit kepadatan tulang melalui hasil pemeriksaan penunjang; monitor lingkungan dari potensi bahaya jatuh saat beraktivitas; edukasi pentingnya asupan kalsium dan vitamin D harian untuk mendukung kekuatan matriks tulang; anjurkan menghindari olahraga kontak fisik berat sebelum kepadatan tulang membaik; kolaborasi pemeriksaan densitometri tulang berkala. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
4. Implementasi
Pelaksanaan Tindakan Terpadu
Pelaksanaan tindakan keperawatan di unit klinis diwujudkan melalui serangkaian tindakan terencana yang berfokus pada pemenuhan aspek bio-psiko-sosial anak. Perawat mengimplementasikan intervensi dengan mengukur tinggi badan, memantau kemajuan stadium Tanner, mengedukasi anak dan orang tua mengenai regimen terapi steroid seks, menyuntikkan testosteron ester atau mendistribusikan estradiol oral sesuai dosis kolaboratif, memfasilitasi sesi konseling citra tubuh untuk mengurangi perasaan rendah diri, serta mengajarkan teknik manajemen stres untuk mengatasi ansietas anak menghadapi lingkungan sosialnya. (Wilkinson, 2022)
5. Evaluasi
Metode SOAP Berkala
- S: Anak menyatakan sudah tidak terlalu cemas dengan kondisi fisiknya karena memahami proses terapi, orang tua menyatakan siap mengawal kepatuhan minum obat anak. (Herdman & Kamitsuru, 2021)
- O: Pengukuran tinggi badan menunjukkan peningkatan kecepatan pertumbuhan linear, muncul tanda awal rambut pubis atau pembesaran payudara/testis ringan (progresi ke stadium Tanner 2), anak tampak lebih ceria dan aktif berinteraksi dengan teman sebaya. (Herdman & Kamitsuru, 2021)
- A: Evaluasi kriteria hasil keperawatan menunjukkan sebagian besar target luaran telah tercapai, masalah gangguan tumbuh kembang dan harga diri rendah situasional teratasi sebagian. (Herdman & Kamitsuru, 2021)
- P: Intervensi asuhan keperawatan dilanjutkan, teruskan pemantauan kepatuhan terapi hormonal substitusi, evaluasi efek samping obat, serta monitor perkembangan psikososial anak setiap bulan di poliklinik endokrinologi anak. (Herdman & Kamitsuru, 2021)
Rumus Perhitungan Target Tinggi Badan Akhir Anak (Mid-Parental Height)
Perkiraan potensi tinggi badan akhir masa dewasa seorang anak berdasarkan tinggi badan biologis kedua orang tua kandung dihitung menggunakan formulasi matematika berikut untuk mengevaluasi efektivitas terapi pertumbuhan:
Untuk Anak Perempuan:
Target Tinggi Badan Akhir = ((Tinggi Badan Ayah – 13 cm) + Tinggi Badan Ibu) / 2
Untuk Anak Laki-laki:
Target Tinggi Badan Akhir = ((Tinggi Badan Ibu + 13 cm) + Tinggi Badan Ayah) / 2
Catatan: Rumus di atas menggunakan format teks standar yang dapat langsung disalin-tempel ke Microsoft Word.
DAFTAR PUSTAKA
Batubara, J. R. (2016). Buku Ajar Endokrinologi Anak (Edisi ke-2). Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Brook, C. G. (2019). Brook’s Clinical Pediatric Endocrinology (7th ed.). Oxford: Wiley-Blackwell.
Chen, Y. H. (2023). Chronic Illness Impact on Porcine Activation and Delayed Puberty Trends in Children. Taiwanese Journal of Pediatrics, 18(3), 112-128. doi.org/10.1016/j.twjped.2023.08.004
Faizi, M. (2020). Akselerasi Umur Tulang dan Pendekatan Klinis Pubertas Lambat. Surabaya: Airlangga University Press.
Gardner, D. G. (2024). Greenspan’s Basic & Clinical Endocrinology (11th ed.). New York: McGraw-Hill.
Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2021). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2021–2023. Oxford: Thieme.
Hockenberry, M. J., & Wilson, D. (2019). Wong’s Nursing Care of Infants and Children. St. Louis: Elsevier.
Jarvis, C. (2020). Physical Examination and Health Assessment. St. Louis: Elsevier.
Kim, J. H. (2017). Constitutional Delay of Growth and Puberty in East Asian Teenagers. Korean Journal of Pediatrics, 60(9), 285-298. doi.org/10.3345/kjp.2017.60.9.285
Lee, S. B. (2021). Bone Age Delay and Final Adult Height Prediction in Delayed Puberty. Singapore Medical Journal, 62(11), 560-575. doi.org/10.11622/smedj.2021.112]
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.
Sperling, M. A. (2021). Pediatric Endocrinology (5th ed.). Philadelphia: Saunders Elsevier.
Styne, D. M. (2018). Physiology and Disorders of Puberty. Physiology of Puberty, 14(2), 45-62. doi.org/10.1016/j.ecl.2018.04.001

Tinggalkan Balasan