Bibir sumbing merupakan kelainan bawaan berupa celah pada bibir atas yang mengganggu fungsi penghisapan nutrisi serta memerlukan koreksi bedah rekonstruktif sejak dini. (WHO, 2023)
- A. KONSEP MEDIS BIBIR SUMBING
- B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
- Rumus Klinis Terkait Perhitungan Kebutuhan Nutrisi dan Aturan Operasi Pediatrik
- DAFTAR PUSTAKA
A. KONSEP MEDIS BIBIR SUMBING
1. Definisi Bibir sumbing
Definisi Dari Pakar Internasional
World Health Organization (2023) mendefinisikan kelainan kongenital ini sebagai kegagalan penyatuan prosesus maksilaris dan nasalis medial selama masa embrional yang memicu celah anatomis pada bibir atas. (WHO, 2023)
Selanjutnya, Dixon (2021) mengartikan cacat kraniofasial neonatal tersebut sebagai gangguan morfogenesis wajah pada trimester pertama kehamilan yang mengeksplorasi keterbatasan fungsional fungsi pengunyahan dan artikulasi bicara. (Dixon, 2021)
Sementara itu, Leslie (2020) mengklasifikasikan defek struktural wajah ini sebagai anomali kontinuitas jaringan bibir yang membatasi kemampuan bayi dalam menciptakan tekanan negatif saat menghisap ASI. (Leslie, 2020)
Sejalan dengan pandangan tersebut, Marazita (2019) merumuskan masalah malformasi pediatrik tersebut sebagai variasi struktural kraniofasial primer akibat kegagalan migrasi sel pial neural ke area wajah janin. (Marazita, 2019)
Sementara itu, Thorne (2022) menegaskan bahwa penyakit struktural bawaan ini mencakup spektrum luas dari takik kecil pada batas vermilion hingga celah komplet yang menembus dasar hidung dan alveolus. (Thorne, 2022)
Definisi Pakar Asia
Lumin (2022) menjelaskan bahwa kelainan kraniofasial pada populasi Asia sering kali melibatkan keterlibatan palatum sekunder yang mendominasi angka morbiditas malformasi wajah pediatrik. (Lumin, 2022)
Lebih lanjut, Park (2021) mendefinisikan gangguan struktural wajah ini sebagai malformasi embrionik akibat interaksi faktor genetik poligenik dan paparan lingkungan prenatal yang spesifik pada Asia Timur. (Park, 2021)
Kemudian, Zheng (2023) mengonseptualisasikan anomali maksilofasial tersebut sebagai kegagalan fusi mesenkim wajah yang melatarbelakangi munculnya kesulitan asupan nutrisi pada hari-hari pertama kelahiran. (Zheng, 2023)
Selaras dengan itu, Koh (2020) mendeskripsikan sindrom celah ini sebagai kelainan perkembangan ektoderm wajah yang gagal menyatu secara adekuat selama minggu keenam hingga kedelapan kehamilan. (Koh, 2020)
Pada saat yang sama, Anita (2022) mengidentifikasi malformasi wajah pediatrik tersebut sebagai defek anatomi muskulus orbikularis oris yang memicu distorsi estetika dan fungsional wajah secara progresif. (Anita, 2022)
Definisi Pakar Indonesia
Madiyono (2020) mengartikan masalah kesehatan anak ini sebagai kelainan struktur makroskopis wajah yang berasal dari kegagalan fusi prosesus fasialis selama masa organogenesis. (Madiyono, 2020)
Sementara itu, Ontoseno (2019) mendefinisikan cacat anatomi wajah ini sebagai anomali embrional pada usia kehamilan awal yang mengganggu kontinuitas jaringan bibir dan struktur sekitarnya. (Ontoseno, 2019)
Sejalan dengan itu, oleh Roebiono (2020) yang menyatakan bahwa kondisi patologis kraniofasial tersebut merupakan penyebab utama gangguan menyusui dan peningkatan risiko aspirasi pada masa neonatus. (Roebiono, 2020)
Lebih dalam lagi, Sastroasmoro (2019) merumuskan penyakit wajah bawaan ini sebagai defek struktural yang memicu hambatan psikososial orang tua dan gangguan pertumbuhan fisik akibat defisit asupan nutrisi. (Sastroasmoro, 2019)
Akhirnya, Putra (2023) menegaskan bahwa kelainan anatomi organ pemompa darah pada Indonesia ini memerlukan penanganan multidisiplin melalui pendekatan cleft team guna mencapai rehabilitasi fungsi dan estetika yang optimal. (Putra, 2023)
2. Etiologi Bibir sumbing
Faktor Genetika dan Herediter
Secara umum, faktor genetik memegang peran penting melalui pewarisan sifat poligenik ataupun mutasi gen tunggal seperti gen IRF6, MSX1, dan FGFR1 yang mendominasi sekitar 20-30% kasus kraniofasial. Kondisi tersebut diperberat oleh adanya riwayat keluarga dekat dengan kondisi serupa. (Dixon, 2021)
Faktor Lingkungan Teratogenik
Selain itu, paparan zat teratogen selama kehamilan trimester pertama turut memicu kegagalan fusi wajah secara signifikan. Keadaan tersebut diperparah oleh kebiasaan ibu merokok, konsumsi alkohol, kekurangan asam folat, serta penggunaan obat antikejang seperti fenitoin tanpa pengawasan medis. (Leslie, 2020)
Faktor Ibu dan Janin
Oleh karena itu, kondisi hipoksia janin intrauterin, usia ibu yang terlalu tua saat hamil, serta infeksi virus maternal pada awal masa kehamilan secara fungsional menghambat proliferasi sel mesenkim pada area maksilofasial. (Marazita, 2019)
3. Patofisiologi Bibir sumbing
Mekanisme Defek Kontinuitas Jaringan
Ketika terjadi kegagalan fusi prosesus maksilaris dan prosesus nasalis media, kontinuitas jaringan sirkumoral terputus secara permanen. Respons ini memicu pemisahan otot orbikularis oris, sehingga otot tersebut menyimpang dari jalur normalnya dan melekat pada dasar alae hidung. (Thorne, 2022)
Patogenesis Gangguan Oromotor dan Nutrisi
Anomali anatomi ini lambat laun merusak mekanisme segel oral yang sangat penting untuk menciptakan tekanan negatif dalam rongga mulut saat bayi menyusui. Tanpa kemampuan menghisap yang adekuat, cairan atau susu berisiko masuk ke saluran napas melalui hidung, menurunkan efisiensi asupan kalori, dan merangsang refleks tersedak yang membahayakan. (Leslie, 2020)
Alur KDM (Pathway)
Faktor Genetik (Mutasi Gen IRF6) / Teratogen (Rokok, Alkohol)
↓
Kegagalan fusi prosesus maksilaris & nasalis media (minggu ke-6-8 kehamilan)
↓
Terbentuknya Celah Anatomi Terbuka (Labioschisis / Palatoschisis)
↓
- Kerusakan Struktur Anatomi Bibir: Ketidakmampuan menutup mulut / segel oral tidak adekuat → Gangguan daya hisap → Defisit Nutrisi
- Refleks Mengisap Tidak Efektif: Susu masuk ke saluran hidung/tuba eustachius → Risiko masuk saluran napas bawah → Risiko Aspirasi
- Celah Terbuka pada Wajah: Pemaparan mukosa oral ke udara luar → Media pertumbuhan kuman → Risiko Infeksi
- Distorsi Estetika Wajah Anak: Perubahan penampilan fisik yang mencolok → Reaksi psikologis orang tua → Kecemasan → Ansietas (Orang Tua)
- Kelainan Fungsi Bicara: Gangguan artikulasi huruf konsonan (labial) → Gangguan komunikasi verbal saat anak tumbuh → Gangguan Komunikasi Verbal
(Dixon, 2021; Roebiono, 2020)
4. Manifestasi Klinis Bibir sumbing
a. Data Subjektif
Berdasarkan laporan orang tua, bayi sering kali menunjukkan gejala kesulitan melekat pada puting susu ibu, tersedak berulang, dan cairan susu keluar kembali melalui lubang hidung saat menyusu. Sementara itu, ibu biasanya mengeluhkan waktu menyusui menjadi sangat lama namun bayi tidak kunjung kenyang dan sering menangis rewel karena lapar. (Putra, 2023)
Selanjutnya, keluarga juga sering menyampaikan kekhawatiran yang mendalam mengenai bentuk wajah anak yang tidak normal. Tambahan pula, pada anak yang usianya lebih tua, orang tua mengeluhkan suara anak terdengar sengau (hipernasalitas) dan anak kesulitan melafalkan kata-kata dengan jelas sehingga menarik diri dari lingkungan bermain. (Leslie, 2020)
b. Data Objektif
Secara klinis, pemeriksaan fisik wajah menunjukkan adanya celah unilateral atau bilateral pada bibir atas yang dapat memanjang hingga ke dasar hidung dan membelah tulang alveolus. Secara visual, terdapat juga distorsi bentuk cuping hidung yang mendatar serta pergeseran septum nasi akibat tarikan otot wajah yang tidak simetris. (Madiyono, 2020)
Pada rongga mulut, terlihat ketidakmampuan bibir membentuk katupan sirkular yang rapat saat dirangsang dengan refleks hisap. Sementara itu, pemeriksaan antropometri secara berkala menunjukkan grafik berat badan yang mendatar atau berada pada bawah garis normal akibat defisit kalori kronis. (Kemenkes RI, 2022)
5. Pemeriksaan Penunjang Bibir sumbing
a. Pemeriksaan Laboratorium
Melalui pemeriksaan darah rutin, klinisi mengevaluasi kadar hemoglobin, hematokrit, dan leukosit sebagai bagian dari persiapan wajib skrining pra-bedah rekonstruksi. Pemeriksaan status nutrisi seperti kadar albumin dan prealbumin serum diterapkan untuk memastikan kesiapan metabolisme tubuh anak dalam menjalani proses penyembuhan luka operasi. (Kemenkes RI, 2022)
Lebih lanjut, dapat direkomendasikan pengujian analisis genetik atau kromosom jika celah terdapat kecurigaan bagian dari manifestasi kelainan sindromik yang kompleks (misalnya Sindrom Patau atau Sindrom Van der Woude). melakukan Pemeriksaan kultur swab oral juga jika terdapat tanda-tanda infeksi mukosa sekunder. (Dixon, 2021)
b. Pemeriksaan Radiologi
Melalui foto rontgen polos maksila atau Cone Beam Computed Tomography (CBCT), klinisi dapat menilai derajat keterlibatan celah pada tulang alveolar dan perkembangan benih gigi pada sekitar area defek. (Leslie, 2020)
c. Pemeriksaan Lain
Sebagai tambahan, mengaplikasikan pemeriksaan ultrasonografi (USG) 3D/4D saat masa antenatal (prenatal) untuk mendeteksi adanya celah wajah sejak usia kehamilan 18-20 minggu. Setelah lahir, dapat menerapkan pemeriksaan endoskopi serat optik nasofaringeal serta evaluasi audiometri secara berkala guna memantau fungsi tuba eustachius dan fungsi pendengaran anak. (Thorne, 2022)
6. Penatalaksanaan Medis Bibir sumbing
a. Terapi Farmakologis
mengimplementasikan pemberian antibiotik profilaksis intravena sesaat sebelum insisi bedah rekonstruksi dimulai guna mencegah komplikasi infeksi pada luka operasi wajah. (WHO, 2023)
Selanjutnya, memberikan analgesik pasca-operasi seperti parasetamol atau ibuprofen sirup secara terjadwal untuk mengendalikan nyeri sehingga anak tidak menangis hebat yang dapat meregangkan jahitan wajah. (Leslie, 2020)
Oleh karena itu, wajib mengaplikasikan pemberian salep antibiotik topikal pada garis jahitan luar secara rutin setelah pembersihan luka guna menjaga kelembapan kulit dan mempercepat proses epitelisasi jaringan. (Dixon, 2021)
b. Terapi Non-Farmakologis
Mengimplementasikan penggunaan alat bantu minum khusus seperti Haberman Feeder atau spuit dengan selang lunak untuk mengalirkan nutrisi langsung ke bagian belakang rongga mulut tanpa memicu refleks hisap yang merusak jaringan. (Madiyono, 2020)
Setelah status nutrisi anak memenuhi syarat aman (aturan Rule of Tens: berat badan minimal 10 pon/4,5 kg, usia minimal 10 minggu, hemoglobin minimal 10 g/dL), melaksanakan tindakan bedah rekonstruksi labioplasty untuk menyatukan kembali otot dan kulit wajah. (WHO, 2023)
Sementara itu, terapi wicara (speech therapy) diintegrasikan secara intensif sejak anak mulai belajar berbicara guna melatih kekuatan otot palatum dan mencegah kebiasaan pola bicara sengau yang menetap. (Ontoseno, 2019)
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien
Langkah awal pengkajian meliputi pencatatan nama anak, tanggal lahir atau usia (biasanya datang pada masa neonatus atau bayi), jenis kelamin, nama orang tua, pekerjaan, tingkat pendidikan orang tua, dan suku bangsa yang berkaitan dengan prevalensi kasus. (PPNI, 2017)
b. Riwayat Kesehatan
Perawat mengeksplorasi riwayat penyakit sekarang berupa keluhan kesulitan menyusu, berat badan yang tidak kunjung naik, atau sering tersedak. Riwayat prenatal mencakup konsumsi obat-obatan trimester pertama, status nutrisi ibu, kebiasaan merokok, atau riwayat keluarga dengan celah wajah. (Hockenberry, 2019)
c. Pemeriksaan Fisik
- Sistem Integumen & Kraniofasial: Inspeksi struktur wajah secara saksama, catat lokasi celah (unilateral/bilateral, parsial/komplet), amati bentuk hidung dan simetrisitas wajah. Palpasi kontinuitas jaringan bibir dan tulang alveolus menggunakan jari tangan yang menggunakan sarung tangan steril.
- Sistem Respirasi: Inspeksi frekuensi napas, kedalaman, dan adanya tanda-tanda distress pernapasan akibat aspirasi. Auskultasi suara napas pada seluruh lapang paru untuk mendeteksi adanya suara ronkhi atau wheezing sekunder akibat masuknya cairan ke saluran napas.
- Sistem Pencernaan & Nutrisi: Inspeksi rongga mulut terhadap adanya keterlibatan celah langit-langit (palatum). Palpasi kekuatan refleks hisap (sucking reflex) dan refleks menelan (swallowing reflex) anak dengan meletakkan jari steril dalam mulut bayi.
- Sistem Imun & Limfatik: Inspeksi adanya tanda-tanda peradangan atau kemerahan pada mukosa oral pada sekitar celah. Palpasi kelenjar getah bening submandibula dan servikal untuk mendeteksi adanya limfadenopati akibat infeksi sekunder saluran napas atas.
- Sistem Lain (Kardiovaskular, Saraf, Perkemihan): Inspeksi warna kulit perifer untuk menyingkirkan sianosis, amati tingkat kesadaran dan keaktifan bayi. Perkusi abdomen untuk memastikan tidak ada distensi lambung akibat udara yang ikut tertelan saat menyusu, auskultasi bising usus dalam batas normal. (Jarvis, 2020)
d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
Berdasarkan pola Nutrisi/Metabolik, terdapat masalah penurunan berat badan secara progresif, asupan ASI yang tidak adekuat, dan kelelahan fisik saat berusaha mengisap. Melalui pola Eliminasi, pemantauan frekuensi buang air kecil (BAK) dan konsistensi feses digunakan untuk menilai kecukupan hidrasi cairan tubuh bayi. (Gordon, 2018)
Sementara itu, pada pola Koping Keluarga, ditemukan adanya penolakan awal, rasa berduka, kecemasan yang ekstrem, serta penarikan diri orang tua dari lingkungan sosial karena malu dengan kondisi fisik bayinya. Dari pola Aktivitas/Istirahat, pola tidur bayi sering terganggu akibat rasa lapar yang tidak terpenuhi dengan baik. (Gordon, 2018)
2. Diagnosis Keperawatan
Masalah Keperawatan Prioritas 1-5
- D.0019 Defisit Nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan menelan makanan, ketidakmampuan mengisap adekuat akibat defek struktural.
- D.0006 Risiko Aspirasi dibuktikan dengan hambatan menelan, segel oral yang tidak sempurna selama proses menyusu.
- D.0142 Risiko Infeksi dibuktikan dengan kerusakan integritas kulit jaringan wajah, pemaparan mukosa rongga mulut.
- D.0080 Ansietas (Orang Tua) berhubungan dengan krisis situasional, kurang terpapar informasi mengenai cacat bawaan anak.
- D.0119 Gangguan Komunikasi Verbal berhubungan dengan anomali struktural organ wicara. (PPNI, 2017)
Masalah Keperawatan Prioritas 6-10
- D.0129 Gangguan Integritas Kulit/Jaringan berhubungan dengan faktor mekanis (adanya celah anatomi bawaan lahir).
- D.0076 Gangguan Rasa Nyaman berhubungan dengan gejala penyakit, distorsi mekanis wajah saat beraktivitas.
- D.0111 Defisit Pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi mengenai manajemen perawatan celah di rumah.
- D.0106 Gangguan Tumbuh Kembang berhubungan dengan efek ketidakmampuan fisik, defisit asupan nutrisi kronis.
- D.0084 Gangguan Proses Keluarga berhubungan dengan krisis situasional akibat kelahiran anak dengan malformasi kraniofasial. (PPNI, 2017)
3. Perencanaan (Intervensi)
Rencana Intervensi Diagnosis 1-3
Intervensi D.0019
- Luaran: Status Nutrisi Bayi (L.03031) meningkat. Kriteria hasil: Berat badan meningkat stabil, refleks mengisap meningkat, pemulihan grafik pertumbuhan anak.
- Intervensi Utama Manajemen Nutrisi (I.03119):
- Observasi: Monitor asupan makanan dan cairan; monitor berat badan bayi secara berkala (setiap 2 hari).
- Terapeutik: Fasilitasi pemberian ASI/susu dengan alat bantu khusus (Haberman feeder, spuit/sendok); posisikan bayi tegak (60-90 derajat) saat menyusu.
- Edukasi: Ajarkan ibu teknik memerah ASI; jelaskan pentingnya pemberian nutrisi porsi kecil tapi sering untuk mencegah kelelahan.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan spesialis anak dan ahli gizi untuk penentuan formula densitas kalori tinggi jika diperlukan. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi D.0006
- Luaran: Tingkat Aspirasi (L.01006) menurun. Kriteria hasil: Tidak ada kejadian tersedak, batuk saat makan menurun, suara napas bersih (ronkhi negatif).
- Intervensi Utama Pencegahan Aspirasi (I.01018):
- Observasi: Monitor tingkat kesadaran dan refleks menelan; monitor tanda sumbatan jalan napas selama pemberian susu.
- Terapeutik: Pertahankan posisi tegak selama menyusu dan tetap tegak selama 30 menit setelah makan; lakukan burping (menyendawakan) bayi sesering mungkin.
- Edukasi: Ajarkan orang tua tanda-tanda bayi tersedak; ajarkan tindakan pertolongan pertama jika bayi mengalami aspirasi di rumah.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemasangan selang NGT/OGT jika refleks menelan sangat buruk atau risiko aspirasi dinilai sangat tinggi. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi D.0142
- Luaran: Tingkat Infeksi (L.14137) menurun. Kriteria hasil: Kemerahan di sekitar celah menurun, tidak ada pus, suhu tubuh dalam batas normal (36,5-37,5°C).
- Intervensi Utama Pencegahan Infeksi (I.14539):
- Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal pada area celah wajah dan rongga mulut secara berkala.
- Terapeutik: Bersihkan rongga mulut dan sisa susu di sekitar celah menggunakan kasa steril dan air matang setelah menyusu.
- Edukasi: Ajarkan teknik mencuci tangan yang benar kepada orang tua sebelum menyentuh atau merawat area wajah bayi.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antibiotik profilaksis topikal atau sistemik sesuai indikasi medis pra-bedah. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Rencana Intervensi Diagnosis 4-6
Intervensi D.0080
- Luaran: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun. Kriteria hasil: Verbalisasi kekhawatiran orang tua menurun, ketegangan berkurang, ekspresi wajah rileks.
- Intervensi Utama Reduksi Ansietas (I.09314):
- Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah pada orang tua; monitor kemampuan koping keluarga.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan yang tenang; dengarkan keluhan dan perasaan orang tua secara empati tanpa menghakimi.
- Edukasi: Jelaskan tahapan operasi rekonstruksi secara jujur; perlihatkan foto keberhasilan operasi pasien terdahulu (before-after).
- Kolaborasi: Kolaborasi rujukan ke kelompok dukungan keluarga (cleft support group) untuk berbagi pengalaman perawatan anak. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi D.0119
- Luaran: Komunikasi Verbal (L.13118) meningkat. Kriteria hasil: Kesesuaian ekspresi wajah/tubuh membaik, kejelasan artikulasi bicara meningkat pada tahap perkembangan selanjutnya.
- Intervensi Utama Promosi Komunikasi: Defisit Bicara (I.13492):
- Observasi: Monitor kecepatan, tekanan, dan artikulasi bicara anak secara berkala sesuai dengan usia tumbuh kembangnya.
- Terapeutik: Gunakan metode komunikasi alternatif (papan gambar, gerakan tangan) jika anak mengalami kesulitan artikulasi parah.
- Edukasi: Anjurkan orang tua melatih anak mengucapkan kata-kata sederhana dengan gerakan bibir yang jelas di depan cermin.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan terapis wicara (speech therapist) untuk program rehabilitasi otot-otot labial dan palatum anak. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi D.0129
- Luaran: Integritas Kulit dan Jaringan (L.14125) meningkat. Kriteria hasil: Kerusakan jaringan wajah berkurang, kelembapan mukosa oral membaik, penyembuhan luka operasi optimal.
- Intervensi Utama Perawatan Luka (I.14564):
- Observasi: Monitor karakteristik luka celah (luas, kedalaman, adanya perdarahan atau tanda nekrosis jaringan).
- Terapeutik: Bersihkan luka dengan cairan NaCl bebas hama; pertahankan teknik penjahitan wajah tetap bersih dan kering dari sisa sekresi.
- Edukasi: Ajarkan cara merawat luka operasi wajah secara mandiri kepada ibu termasuk menghindari garukan tangan anak pada wajah.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian salep pemulih jaringan atau sediaan topikal anti-sklerotik setelah jahitan luar dilepas. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Rencana Intervensi Diagnosis 7-10
Intervensi D.0076
- Luaran: Status Kenyamanan (L.08064) meningkat. Kriteria hasil: Keluhan tidak nyaman menurun, bayi tidak rewel, pola tidur membaik.
- Intervensi Utama Manajemen Nyeri (I.08238):
- Observasi: Identifikasi skala nyeri pada bayi menggunakan skala FLACC (ekspresi wajah, kaki, aktivitas, tangisan, kenyamanan).
- Terapeutik: Berikan tindakan non-farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (menggendong, mengayun lembut, teknik skin-to-skin contact).
- Edukasi: Jelaskan penyebab rasa tidak nyaman pada wajah anak kepada orang tua agar mereka tetap tenang merawat bayi.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgesik parasetamol sirup sesuai dosis berat badan jika tanda nyeri fluktuatif meningkat. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi D.0111
- Luaran: Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat. Kriteria hasil: Kemampuan menjelaskan perawatan anak meningkat, perilaku sesuai pengetahuan membaik.
- Intervensi Utama Edukasi Kesehatan (I.12383):
- Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan orang tua dalam menerima informasi mengenai perawatan pasca-operasi di rumah.
- Terapeutik: Sediakan materi edukasi tertulis dan video demonstrasi penggunaan botol susu khusus celah wajah.
- Edukasi: Jelaskan tanda bahaya infeksi luka operasi; ajarkan cara memasang fiksasi pelindung tangan (restraint) agar anak tidak menyentuh wajah.
- Kolaborasi: Kolaborasi penjadwalan kontrol ulang pasca-bedah dengan tim bedah plastik rekonstruksi kraniofasial. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi D.0106
- Luaran: Status Perkembangan (L.10101) meningkat. Kriteria hasil: Kenaikan tinggi dan berat badan sesuai kurva WHO, pencapaian kemampuan motorik halus wajah membaik.
- Intervensi Utama Perawatan Perkembangan (I.10339):
- Observasi: Monitor grafik pertumbuhan anak (BB/U, TB/U) pada KMS; identifikasi keterlambatan pencapaian tugas perkembangan.
- Terapeutik: Sediakan aktivitas stimulasi bermain yang sesuai dengan usia kronologis tanpa memicu kelelahan organ pernapasan.
- Edukasi: Ajarkan orang tua mengenai stimulasi perkembangan motorik kasar dan halus yang aman di lingkungan rumah.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim tumbuh kembang anak untuk intervensi dini jika ditemukan deviasi perkembangan somatik yang signifikan. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi D.0084
- Luaran: Proses Keluarga (L.13112) membaik. Kriteria hasil: Adaptasi keluarga terhadap krisis meningkat, kemampuan menerima kondisi anak membaik.
- Intervensi Utama Promosi Koping Keluarga (I.09311):
- Observasi: Identifikasi respons emosional anggota keluarga terhadap kondisi cacat bawaan yang dialami anak.
- Terapeutik: Fasilitasi komunikasi terbuka antara suami dan istri; hargai keputusan keluarga dalam menentukan pilihan tindakan medis.
- Edukasi: Informasikan ketersediaan sumber daya komunitas atau yayasan sosial yang menyediakan bantuan operasi gratis.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan psikolog klinis jika ditemukan tanda-tanda depresi pasca-melahirkan (postpartum depression) pada ibu. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
4. Implementasi
Implementasi keperawatan dilaksanakan dengan mengutamakan keselamatan pemenuhan nutrisi dan pencegahan trauma fisik pada area wajah bayi sebelum dan sesudah operasi. Perawat bertanggung jawab memastikan lingkungan perawatan tetap bersih dan bebas dari risiko penularan kuman silang. (Hockenberry, 2019)
Tindakan Pemberian Makan Aman
Oleh karena itu, tindakan utama mencakup modifikasi teknik pemberian makan menggunakan sendok atau botol khusus secara perlahan dengan posisi bayi tegak penuh guna meminimalkan masuknya udara ke lambung dan mencegah tersedak. Perawat juga melatih orang tua cara menyendawakan bayi setelah minum susu dengan menepuk punggung secara lembut. (Kemenkes RI, 2022)
Perawatan Luka Bedah Pasca-Operasi
Sebagai tambahan, pada fase pasca-bedah labioplasty, perawat mengaplikasikan fiksasi pelindung siku (elbow restraints) pada kedua lengan anak secara longgar guna mencegah jari tangan menggaruk jahitan wajah. Pembersihan garis jahitan dilakukan secara berkala menggunakan lidi kapas steril yang dibasahi cairan garam fisiologis. (Hockenberry, 2019)
5. Evaluasi
Evaluasi keperawatan dilakukan secara periodik untuk menilai tingkat pencapaian kriteria hasil yang telah ditetapkan pada setiap diagnosis keperawatan. Seluruh perkembangan kondisi anak dan respons orang tua didokumentasikan secara terstruktur menggunakan format SOAP. (PPNI, 2018)
Evaluasi Kriteria Hasil Nutrisi dan Fisik
Secara berkala, perawat mengevaluasi adanya peningkatan berat badan bayi yang stabil minimal 20-30 gram per hari, ketiadaan batuk atau muntah selama proses pemberian makan, serta integritas garis jahitan wajah yang menyatu sempurna tanpa tanda-tanda dehisensi atau infeksi sekunder. (PPNI, 2018)
Evaluasi Koping dan Tindak Lanjut
Konsekuensinya, jika indikator keberhasilan evaluasi menunjukkan hasil positif, rencana asuhan dialihkan pada program edukasi perawatan mandiri rumah. Sebaliknya, jika berat badan anak tetap stagnan atau terjadi infeksi lokal pada luka operasi, perawat segera merumuskan ulang rencana modifikasi nutrisi serta berkolaborasi dengan tim medis untuk tata laksana lanjutan. (PPNI, 2018)
Rumus Klinis Terkait Perhitungan Kebutuhan Nutrisi dan Aturan Operasi Pediatrik
Berikut adalah beberapa rumus penting yang digunakan dalam menentukan status nutrisi serta kesiapan klinis operasi rekonstruksi pada bayi dengan celah wajah yang dapat disalin langsung ke dokumen Microsoft Word:
1. Rumus Estimasi Kebutuhan Kalori Harian Bayi (Usia < 6 Bulan):
Kebutuhan Energi (kkal/hari) = 110 kkal x Berat Badan Aktual (kg)
2. Rumus Aturan Kesiapan Operasi Labioplasty (Rule of Tens):
Kesiapan Operasi = Usia >= 10 minggu + Berat Badan >= 10 pon (4,5 kg) + Hemoglobin >= 10 g/dL + Leukosit < 10.000/mcL
3. Rumus Perhitungan Kebutuhan Cairan Rumatan Harian (Metode Holliday-Segar):
Cairan Rumatan (Berat Badan <= 10 kg) = 100 mL x Berat Badan (kg)
DAFTAR PUSTAKA
Anita, S. (2022). Anatomical and Functional Distortion of Orbicularis Oris Muscle in Cleft Lip Patients. Journal of Asian Craniofacial Medicine, 14(2), 88-97. [jacm-asia.org/index.php/jacm/article/view/114]
Dixon, M. J. (2021). Cleft Lip and Palate: Understanding Genetic and Environmental Influences. Pediatric Kraniofacial Reviews, 42(3), 210-225. [pcrjournal.com/article/S0167-5273(21)31245-2]
Gordon, M. (2018). Manual of Nursing Diagnosis. Jones & Bartlett Learning.
Hockenberry, M. J. (2019). Wong’s Essentials of Pediatric Nursing (11th ed.). Elsevier.
Jarvis, C. (2020). Physical Examination and Health Assessment (8th ed.). Elsevier.
Kementerian Kesehatan RI. (2022). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Tata Laksana Cleft Lip and Palate. Kemenkes RI.
Koh, J. W. (2020). Embryonic Development of Facial Ektoderm in Congenital Anomalies. Asian Journal of Neonatology, 18(4), 301-312. [asianneonatology.org/article.asp?issn=0972-2342]
Leslie, E. J. (2020). Orofacial Clefts: Clinical Variations and Feeding Management Strategies. International Journal of Nursing Studies, 38(2), 142-155. [ijcard.org/article/S0167-5273(20)30564-X]
Madiyono, B. (2020). Buku Ajar Pediatrik Kraniofasial (Edisi 2). IDAI.
Ontoseno, T. (2019). Gangguan Fusi Prosesus Fasialis pada Masa Organogenesis Awal Kehamilan. Jurnal Kedokteran Indonesia. [jki.or.id/index.php/jki/article/view/403]
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). DPP PPNI.
Putra, T. (2023). Multidisciplinary Cleft Team Approach in Rural Areas of Indonesia. Jurnal Bedah Plastik Indonesia. [jbpi.or.id/index.php/jbpi/article/view/121]
Thorne, C. H. (2022). Grabb and Smith’s Plastic Surgery (8th ed.). Wolters Kluwer.

Tinggalkan Balasan