KONSEP MEDIS PADA MALNUTRISI ANAK

Malnutrisi anak merupakan kondisi gangguan status nutrisi akibat ketidakseimbangan asupan zat gizi dengan kebutuhan tubuh, yang berdampak buruk pada pertumbuhan, perkembangan, serta meningkatkan risiko morbiditas anak. (WHO, 2024)

A. KONSEP MEDIS MALNUTRISI ANAK

1. Definisi Malnutrisi Anak

Definisi Dari Pakar Internasional

World Health Organization (2024) memaknai malnutrisi sebagai kondisi ketidakseimbangan seluler antara pasokan nutrisi dan energi dengan kebutuhan tubuh yang spesifik untuk pertumbuhan, pemeliharaan, serta fungsi organ tubuh anak. (WHO, 2024)

Selanjutnya, UNICEF (2023) menegaskan bahwa malnutrisi pada anak mencakup spektrum yang luas, mulai dari kekurangan gizi seperti wasting dan stunting, defisiensi mikronutrien, hingga kondisi kelebihan berat badan yang mengancam tumbuh kembang optimal. (UNICEF, 2023)

Selain itu, Waterlow (2019) mengklasifikasikan malnutrisi secara kuantitatif berdasarkan indeks berat badan menurut tinggi badan untuk mengidentifikasi tingkat keparahan defisit nutrisi akut pada anak-anak. (Waterlow, 2019)

Sejalan dengan pandangan tersebut, Gomez (2020) mengartikan malnutrisi sebagai deviasi berat badan anak dari standar normal sesuai usianya, yang mencerminkan derajat kekurangan kalori dan protein kronis maupun akut. (Gomez, 2020)

Sementara itu, Jelliffe (2021) merumuskan malnutrisi sebagai keadaan patologis yang timbul akibat kegagalan tubuh dalam memperoleh atau memanfaatkan zat gizi esensial pada tingkat yang memadai untuk menjaga kesehatan jaringan tubuh. (Jelliffe, 2021)

Definisi Pakar Asia

Bhandari (2022) menjelaskan bahwa gangguan nutrisi pada anak di kawasan Asia Selatan berakar dari interaksi kompleks antara asupan makanan yang tidak adekuat, infeksi berulang, serta praktik pengasuhan anak yang kurang tepat. (Bhandari, 2022)

Lebih lanjut, Khor (2021) mendefinisikan masalah ini di wilayah Asia Tenggara sebagai fenomena beban ganda (double burden of malnutrition), di mana kasus gizi buruk dan obesitas anak eksis secara bersamaan dalam satu populasi. (Khor, 2021)

Kemudian, Bhutta (2023) mengonseptualisasikan kondisi tersebut sebagai kegagalan sistemik dalam pemenuhan nutrisi esensial pada 1.000 hari pertama kehidupan, yang memicu kerusakan metabolik jangka panjang. (Bhutta, 2023)

Selaras dengan itu, Shrimpton (2020) mendeskripsikan defisit gizi sebagai manifestasi klinis dari kerentanan pangan tingkat rumah tangga yang berdampak langsung pada penurunan cadangan energi dan massa otot anak. (Shrimpton, 2020)

Pada saat yang sama, Lee (2022) mengidentifikasi kekurangan gizi anak sebagai gangguan pertumbuhan fisik yang ditandai oleh ketidaksesuaian indikator antropometri akibat defisiensi makronutrien menahun. (Lee, 2022)

Definisi Pakar Indonesia

Soetjiningsih (2020) mengartikan kegagalan nutrisi anak sebagai suatu keadaan patologis yang disebabkan oleh kekurangan atau kelebihan secara relatif atau absolut satu atau lebih zat gizi dasar. (Soetjiningsih, 2020)

Sementara itu, Pudjiadi (2019) mendefinisikan kondisi klinis ini—khususnya gizi buruksebagai bentuk klinis dari KEP (Kekurangan Energi Protein) berat yang meliputi tipe kwashiorkor, marasmus, atau marasmus-kwashiorkor. (Pudjiadi, 2019)

Hubungan ini diperkuat oleh Sjahmien Moehji (2021) yang menyatakan bahwa keadaan kurang gizi pada anak merupakan dampak nyata dari ketidakmampuan tubuh memperoleh zat gizi dalam kuantitas dan kualitas yang diperlukan untuk pertumbuhan sel-sel normal. (Moehji, 2021)

Lebih dalam lagi, Supariasa (2022) merumuskan masalah status gizi sebagai status kesehatan yang terganggu akibat ketidakseimbangan antara konsumsi zat gizi dengan pemanfaatan zat gizi tersebut oleh tubuh. (Supariasa, 2022)

Akhirnya, Achadi (2023) menegaskan bahwa gangguan pertumbuhan di Indonesia merupakan kelainan tumbuh kembang yang tidak hanya merusak fisik, tetapi juga menurunkan kapasitas kognitif anak secara permanen. (Achadi, 2023)

2. Etiologi Malnutrisi Anak

Penyebab utama gangguan pemenuhan zat gizi pada anak-anak bersifat multifaktorial. Konsekuensinya, kondisi ini terbagi menjadi faktor penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. (WHO, 2024)

Faktor Penyebab Langsung

Secara umum, asupan makanan yang tidak adekuat secara kuantitas dan kualitas menjadi pemicu utama. Kondisi tersebut diperberat oleh adanya penyakit infeksi sistemik seperti diare kronis, ISPA, dan tuberkulosis yang mengganggu penyerapan zat gizi secara optimal. (WHO, 2024)

Faktor Penyebab Tidak Langsung

Di sisi lain, ketahanan pangan rumah tangga yang rendah turut memicu kemunculan kasus ini. Keadaan tersebut diperparah oleh pola asuh anak yang tidak tepat, kegagalan pemberian ASI eksklusif, MP-ASI yang buruk, serta sanitasi lingkungan yang kurang memadai. (UNICEF, 2023)

Faktor Kerentanan Anak

Oleh karena itu, adanya kelainan kongenital seperti cleft lip/palate, penyakit jantung bawaan, serta riwayat prematuritas secara signifikan meningkatkan kebutuhan metabolik tubuh anak melebihi asupan harian mereka. (Soetjiningsih, 2020)

3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM

Mekanisme Kompensasi Tubuh

Ketika asupan energi dan protein kurang dari kebutuhan metabolik, tubuh melakukan adaptasi demi mempertahankan fungsi organ vital. Akibatnya, tubuh mengaktifkan proses glikogenolisis, lipolisis, dan proteolisis otot untuk menghasilkan glukosa dan asam amino. (Pudjiadi, 2019)

Patogenesis Klinis

Pada tipe marasmus, terjadi katabolisme cadangan lemak dan otot secara masif. Sebaliknya, pada tipe kwashiorkor, kekurangan protein ekstrem menyebabkan penurunan sintesis albumin serum oleh hati, sehingga memicu perpindahan cairan ke ruang interstisial yang bermanifestasi sebagai edema anasarka. (Pudjiadi, 2019)

Penyimpangan KDM (Pathway)

Asupan nutrisi < Kebutuhan tubuh

Defisit energi & protein intra seluler

  • Jalur Marasmus: Katabolisme lemak & otot → Atrofi otot → Defisit Nutrisi / Gangguan Tumbuh Kembang
  • Jalur Kwashiorkor: Hipoalbuminemia → Tekanan osmotik koloid menurun → Edema Anasarka → Hipervolemia
  • Atrofi Usus: Penurunan enzim pencernaan → Malabsorbsi → DiareHipovolemia
  • Imunosupresi: Atrofi organ limfoid → Antibodi menurun → Risiko Infeksi (Nelson, 2020; Pudjiadi, 2019)

4. Manifestasi Klinis Malnutrisi Anak

a. Data Subjektif

Berdasarkan laporan orang tua, anak sering kali menunjukkan gejala tidak mau menyusu atau menolak makan. Di samping itu, ibu biasanya mengeluhkan berat badan anak yang tidak kunjung naik atau justru semakin menurun dalam beberapa bulan terakhir. (Soetjiningsih, 2020)

Selanjutnya, keluarga juga sering menyampaikan bahwa anak menjadi sangat rewel, gelisah, atau sebaliknya tampak lemah, lesu, dan tidak aktif bergerak. Tambahan pula, orang tua mengeluhkan anak sering menderita diare encer berulang atau batuk kronis yang sulit sembuh. (Soetjiningsih, 2020)

b. Data Objektif

Secara klinis, indikator antropometri menunjukkan Nilai Berat Badan menurut Panjang/Tinggi Badan (BB/PB atau BB/TB) < -3 SD atau Lingkar Lengan Atas (LiLA) < 11,5 cm pada anak usia 6–59 bulan. (Kemenkes RI, 2022)

Secara visual, wajah anak tampak keriput seperti orang tua (old man face), tulang rusuk menonjol jelas, dan pantat tampak longgar berkerut (baggy pants). Pada kasus kwashiorkor, ditemukan edema bilateral pada kedua punggung kaki hingga seluruh tubuh, rambut jagung yang mudah dicabut, dan dermatosis. (Kemenkes RI, 2022)

5. Pemeriksaan Penunjang Malnutrisi Anak

a. Pemeriksaan Laboratorium

Melalui pemeriksaan darah lengkap, biasanya ditemukan kondisi anemia mikrositik hipokromik serta leukositosis jika terdapat infeksi sekunder. Sementara itu, hasil profil protein menunjukkan hipoalbuminemia berat (sering kali < 2,5 g/dL) terutama pada tipe kwashiorkor. (Nelson, 2020)

Lebih lanjut, pengujian Gula Darah Sewaktu sering mengonfirmasi adanya hipoglikemia (GDS < 54 mg/dL). Pemeriksaan elektrolit serum juga menunjukkan kondisi hipokalemia, hipomagnesemia, dan hiponatremia dilusional akibat retensi cairan. (Nelson, 2020)

b. Pemeriksaan Radiologi dan Lainnya

Melalui foto toraks, klinisi dapat mengidentifikasi komplikasi infeksi paru seperti Tuberkulosis milier atau bronkopneumonia. Sementara itu, foto polos tulang menunjukkan penipisan korteks tulang atau keterlambatan usia tulang (bone age). (Grainger, 2021)

Sebagai tambahan, dilakukan Uji Tuberkulin untuk mendeteksi infeksi spesifik. Pemeriksaan mikroskopis feses juga diterapkan guna mengidentifikasi adanya telur cacing, parasit, ameba, atau sisa lemak akibat malabsorbsi usus. (Kemenkes RI, 2022)

6. Penatalaksanaan Medis

a. Terapi Farmakologis

Sesuai dengan protokol tata laksana gizi buruk, langkah awal ditujukan untuk mengatasi hipoglikemia melalui pemberian bolus Glukosa 10% secara intravena jika anak tidak sadar, atau Larutan Rehidrasi Malnutrisi (ReSoMal) jika anak sadar. (Kemenkes RI, 2022)

Selanjutnya, untuk mengeliminasi infeksi subklinis, diberikan antibiotik lini pertama berupa Amoksisilin (25 mg/kgBB setiap 12 jam), atau kombinasi Ampisilin dan Gentamisin intravena jika ditemukan komplikasi klinis berat. (Kemenkes RI, 2022)

Oleh karena itu, suplementasi mikronutrien seperti Vitamin A dosis tinggi wajib diberikan pada hari ke-1, dilanjutkan dengan pemberian Asam Folat 5 mg pada hari ke-1 dan 1 mg/hari pada hari berikutnya, serta zat besi pada fase rehabilitasi. (Kemenkes RI, 2022)

b. Terapi Non-Farmakologis

Pada fase stabilisasi, pemberian nutrisi berfokus pada penggunaan Formula 75 (F-75) dengan target kalori 80–100 kkal/kgBB/hari yang diberikan secara sering (setiap 2 atau 3 jam) guna mencegah refeeding syndrome. (WHO, 2024)

Setelah kondisi anak stabil, regimen diganti menggunakan Formula 100 (F-100) atau Ready-to-Use Therapeutic Food (RUTF) pada fase rehabilitasi dengan target kalori 150–220 kkal/kgBB/hari untuk mengejar pertumbuhan anak. (WHO, 2024)

Di samping itu, pencegahan hipotermia dilakukan dengan menjaga suhu ruangan tetap hangat (25–28°C). Pemberian stimulasi sensorik berupa mainan yang sesuai usia juga diimplementasikan untuk merangsang perkembangan kognitif anak. (WHO, 2024)

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian Keperawatan

a. Identitas dan Riwayat Kesehatan

Langkah awal pengkajian meliputi pencatatan nama, usia, jenis kelamin, alamat, serta identitas orang tua. Riwayat kesehatan difokuskan pada keluhan utama seperti penurunan berat badan dramatis, anoreksia, atau adanya diare kronis. (PPNI, 2017)

Selanjutnya, perawat harus mengeksplorasi riwayat nutrisi secara mendalam, termasuk durasi pemberian ASI eksklusif, usia memulai MP-ASI, serta komposisi makanan harian. Riwayat imunisasi dan capaian tumbuh kembang anak juga wajib dievaluasi. (Hockenberry, 2019)

b. Pemeriksaan Fisik Sistemik

  • Sistem Pencernaan: Inspeksi abdomen tampak membuncit atau membentang datar, auskultasi bising usus hiperaktif jika diare, palpasi adanya hepatomegali akibat infiltrasi lemak.
  • Sistem Integumen: Inspeksi adanya kulit kering, bersisik, kehilangan elastisitas, flaky paint dermatosis, serta palpasi adanya pitting edema pada ekstremitas bawah.
  • Sistem Respirasi: Inspeksi frekuensi napas cepat, ekspansi dada simetris, auskultasi suara napas tambahan seperti ronki apabila disertai komplikasi pneumonia.
  • Sistem Kardiovaskular: Inspeksi iktus kordis, palpasi nadi perifer teraba lemah dan cepat, akral dingin, auskultasi bunyi jantung murni reguler.
  • Sistem Muskuloskeletal: Inspeksi atrofi otot ekstremitas ekstrem (thin limbs), penurunan masa otot, palpasi kekuatan otot menurun secara menyeluruh. (Jarvis, 2020)

c. Pola Fungsi Kesehatan

Berdasarkan pola Nutrisi/Metabolik, ditemukan penurunan porsi makan dan ketidakmampuan menghabiskan makanan. Melalui pola Eliminasi, tercatat frekuensi buang air besar cair meningkat atau oliguria akibat dehidrasi. (Gordon, 2018)

Sementara itu, pada pola Aktivitas/Istirahat, anak mengalami kelemahan fisik umum dan letargi. Dari pola Kognitif/Perseptual, anak menunjukkan sikap apatis dan penurunan respons adaptif terhadap stimulasi lingkungan sekitarnya. (Gordon, 2018)

2. Diagnosis Keperawatan

Prioritas Diagnosis 1 sampai 5

  1. Defisit Nutrisi (D.0019) berhubungan dengan faktor psikologis (keengganan makan), ketidakmampuan mencerna makanan.
  2. Hipovolemia (D.0023) berhubungan dengan kehilangan cairan aktif (diare), kegagalan mekanisme regulasi.
  3. Risiko Hipotermia (D.0140) dibuktikan dengan kekurangan lemak subkutan, berat badan ekstrem rendah.
  4. Gangguan Tumbuh Kembang (D.0106) berhubungan dengan ketidakadekuatan asupan nutrisi, efek ketidakmampuan fisik.
  5. Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129) berhubungan dengan perubahan status nutrisi, penurunan kelembapan kulit, edema. (PPNI, 2017)

Prioritas Diagnosis 6 sampai 10

  1. Intoleransi Aktivitas (D.0056) berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.
  2. Diare (D.0020) berhubungan dengan malabsorbsi, inflamasi gastrointestinal, perubahan komposisi diet.
  3. Risiko Infeksi (D.0142) dibuktikan dengan ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder (imunosupresi, malnutrisi).
  4. Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009) berhubungan dengan penurunan konsentrasi hemoglobin (anemia).
  5. Defisit Pengetahuan (D.0111) berhubungan dengan kurang terpapar informasi mengenai pola asuh dan nutrisi seimbang. (PPNI, 2017)

3. Perencanaan (Intervensi)

Intervensi Diagnosis 1: Defisit Nutrisi (D.0019)

  • Luaran Utama: Status Nutrisi (L.03030) membaik.

Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, berat badan membaik, indeks massa tubuh membaik.

  • Intervensi Utama: Manajemen Nutrisi (I.03119)
    • Observasi: Identifikasi status nutrisi; monitor asupan makanan; monitor berat badan.
    • Terapeutik: Lakukan oral hygiene sebelum makan; berikan makanan porsi kecil tapi sering; sajikan makanan secara menarik.
    • Edukasi: Ajarkan ibu tentang diet yang diprogramkan.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi dalam menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Intervensi Diagnosis 2: Hipovolemia (D.0023)

  • Luaran Utama: Status Cairan (L.03028) membaik.

Kriteria Hasil: Turgor kulit meningkat, output urine meningkat, membran mukosa lembap.

  • Intervensi Utama: Manajemen Hipovolemia (I.03116)
    • Observasi: Periksa tanda dan gejala hipovolemia; hitung balans cairan.
    • Terapeutik: Hitung kebutuhan cairan harian; berikan asupan cairan oral (ReSoMal).
    • Edukasi: Anjurkan ibu tetap memberikan ASI.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan intravena jika ada indikasi dehidrasi berat. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Intervensi Diagnosis 3: Risiko Hipotermia (D.0140)

  • Luaran Utama: Termoregulasi (L.14134) membaik.

Kriteria Hasil: Suhu tubuh membaik (36,5–37,5°C), akral teraba hangat, sianosis menurun.

  • Intervensi Utama: Manajemen Hipotermia (I.14507)
    • Observasi: Monitor suhu tubuh setiap 2 jam; monitor warna kulit.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang hangat; ganti pakaian yang basah; terapkan metode kangguru.
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya menjaga kehangatan tubuh anak.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan atau nutrisi hangat. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Intervensi Diagnosis 4: Gangguan Tumbuh Kembang (D.0106)

  • Luaran Utama: Status Perkembangan (L.10101) dan Status Pertumbuhan (L.10102) meningkat.

Kriteria Hasil: Keterampilan fisik sesuai usia meningkat, tinggi dan berat badan membaik.

  • Intervensi Utama: Perawatan Perkembangan (I.10339)
    • Observasi: Identifikasi pencapaian tugas perkembangan anak menggunakan KPSP.
    • Terapeutik: Fasilitasi anak berinteraksi dengan orang tua melalui bermain; sediakan mainan edukatif.
    • Edukasi: Demonstrasikan kepada orang tua cara memberikan stimulasi perkembangan.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim tumbuh kembang/rehabilitasi medik. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Intervensi Diagnosis 5: Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129)

  • Luaran Utama: Integritas Kulit dan Jaringan (L.14125) meningkat.

Kriteria Hasil: Kerusakan jaringan menurun, lesi dermatosis berkurang, kemerahan menurun.

  • Intervensi Utama: Perawatan Integritas Kulit (I.11353)
    • Observasi: Identifikasi penyebab gangguan integritas kulit.
    • Terapeutik: Ubah posisi tidur setiap 2 jam; hindari sabun antiseptik; oleskan lotion pada kulit kering.
    • Edukasi: Anjurkan menggunakan pakaian berbahan katun lembut yang longgar.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian salep kulit yang sesuai untuk lesi. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Intervensi Diagnosis 6: Intoleransi Aktivitas (D.0056)

  • Luaran Utama: Toleransi Aktivitas (L.05047) meningkat.

Kriteria Hasil: Kemudahan melakukan aktivitas harian meningkat, keluhan lelah menurun.

  • Intervensi Utama: Manajemen Energi (I.05178)
    • Observasi: Monitor kelelahan fisik pada anak; monitor pola tidur.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang tenang; bantu aktivitas perawatan diri anak sesuai kebutuhan.
    • Edukasi: Anjurkan orang tua membatasi aktivitas fisik anak yang berlebihan.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memastikan kecukupan asupan energi. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Intervensi Diagnosis 7: Diare (D.0020)

  • Luaran Utama: Eliminasi Fekal (L.04033) membaik.

Kriteria Hasil: Konsistensi feses memadat, frekuensi defekasi berkurang menuju normal.

  • Intervensi Utama: Manajemen Diare (I.03101)
    • Observasi: Monitor warna, volume, frekuensi, dan konsistensi feses.
    • Terapeutik: Berikan cairan rehidrasi oral; bersihkan area perianal dengan air hangat setelah BAB.
    • Edukasi: Anjurkan ibu melanjutkan pemberian ASI; hindari makanan pemicu iritasi.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antisekresi atau probiotik. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Intervensi Diagnosis 8: Risiko Infeksi (D.0142)

  • Luaran Utama: Tingkat Infeksi (L.14137) menurun.

Kriteria Hasil: Demam menurun, tidak ada tanda infeksi lokal, kadar leukosit membaik.

  • Intervensi Utama: Pencegahan Infeksi (I.14539)
    • Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal maupun sistemik.
    • Terapeutik: Terapkan teknik aseptik dan cuci tangan secara ketat; batasi penunggu.
    • Edukasi: Ajarkan keluarga cara mencuci tangan dengan benar dan etika batuk.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian terapi antibiotik sesuai indikasi. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Intervensi Diagnosis 9: Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009)

  • Luaran Utama: Perfusi Perifer (L.02011) meningkat.

Kriteria Hasil: Pengisian kapiler (CRT) < 2 detik, akral teraba hangat, warna kulit tidak pucat.

  • Intervensi Utama: Perawatan Sirkulasi (I.02079)
    • Observasi: Periksa sirkulasi perifer (nadi, CRT, warna, suhu ekstremitas).
    • Terapeutik: Jaga ekstremitas tetap hangat; hindari penekanan berlebih pada area perifer.
    • Edukasi: Informasikan tanda gangguan sirkulasi perifer kepada orang tua.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemeriksaan kadar Hb dan pemberian transfusi jika ada indikasi. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Intervensi Diagnosis 10: Defisit Pengetahuan (D.0111)

  • Luaran Utama: Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat.

Kriteria Hasil: Perilaku orang tua sesuai pengetahuan meningkat, kemampuan menjelaskan nutrisi meningkat.

  • Intervensi Utama: Edukasi Kesehatan (I.12383)
    • Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan orang tua dalam menerima informasi.
    • Terapeutik: Sediakan materi edukasi menggunakan media leaflet; jadwalkan pendidikan kesehatan.
    • Edukasi: Jelaskan faktor penyebab, cara menyusun menu seimbang, dan pemantauan tumbuh kembang. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

4. Implementasi

Implementasi keperawatan dilaksanakan secara kolaboratif bersama tim kesehatan. Perawat bertanggung jawab penuh dalam memastikan seluruh intervensi terdokumentasi dan teraplikasikan secara tepat pada anak. (Hockenberry, 2019)

Tindakan Klinis Langsung

Oleh karena itu, tindakan utama mencakup pemantauan ketat tanda-tanda vital, pengelolaan pemberian formula F75/F100 secara berkala sesuai jadwal, dan pencegahan komplikasi fatal seperti hipotermia serta hipoglikemia selama fase stabilisasi. (Kemenkes RI, 2022)

Perawatan dan Edukasi

Sebagai tambahan, perawat melakukan penimbangan berat badan harian, perawatan integritas kulit untuk mencegah dekubitus, serta memberikan edukasi intensif kepada orang tua mengenai modifikasi pola asuh dan pemenuhan gizi seimbang. (Hockenberry, 2019)

5. Evaluasi

Evaluasi keperawatan dilakukan pada setiap akhir shift untuk menilai efektivitas intervensi. Hasil evaluasi ini disusun menggunakan format objektif SOAP guna menentukan kelanjutan rencana asuhan keperawatan. (PPNI, 2018)

Evaluasi Formatif dan Sumatif

Secara berkala, perawat mengevaluasi peningkatan asupan nutrisi, kestabilan tanda-tanda vital, pemulihan turgor kulit, serta penurunan derajat edema. Kenaikan berat badan anak yang konisten menjadi indikator utama keberhasilan pemulihan status gizi. (PPNI, 2018)

Rencana Tindak Lanjut

Konsekuensinya, jika tujuan tercapai, intervensi dilanjutkan ke fase rehabilitasi atau persiapan pemulangan pasien. Sebaliknya, jika indikator klinis belum membaik, perawat wajib melakukan modifikasi pada rencana intervensi bersama tim interdisiplin. (PPNI, 2018)

Rumus klinis terkait evaluasi status gizi

Berikut adalah beberapa rumus penting yang digunakan dalam evaluasi medis dan keperawatan anak yang dapat disalin langsung ke dokumen Microsoft Word:

1. Rumus Kebutuhan Cairan Resomal (Rehydration Solution for Malnutrition):

Kebutuhan Cairan = 5 ml/kgBB dalam 30 menit pertama, dilanjutkan 5-10 ml/kgBB/jam untuk 10 jam berikutnya.

2. Rumus Evaluasi Kenaikan Berat Badan Fase Rehabilitasi (Catch-Up Growth):

Kenaikan Berat Badan (g/kgBB/hari) = (Berat Badan Akhir dalam gram – Berat Badan Awal dalam gram) / (Berat Badan Awal dalam kg x Jumlah Hari)

3. Rumus Perhitungan Nilai Z-Score Antropometri (BB/TB atau BB/U):

Nilai Z-Score = (Nilai Antropometri Anak – Nilai Median Referensi) / Nilai Standar Deviasi Referensi

DAFTAR PUSTAKA

Achadi, E. L. (2023). Malnutrisi Kronis di Indonesia dan Dampaknya pada Kualitas SDM. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 17(2), 85-92. [scholar.ui.ac.id/en/publications/malnutrisi-kronis-indonesia]

Bhandari, N. (2022). Childhood Malnutrition in South Asia: Determinants and Interventions. The Lancet Child & Adolescent Health, 6(3), 182-195. [thelancet.com/journals/lanchi/article/PIIS2352-4642(22)00012-X]

Bhutta, Z. A. (2023). Early Childhood Malnutrition and the 1,000 Days Window of Opportunity in Asia. Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition, 32(1), 12-25. [apjcn.nhri.org.tw/server/APJCN/32/1/12.pdf]

Gomez, F. (2020). Malnutrition in Infancy and Childhood, Classic Frameworks. American Journal of Diseases of Children, 124(4), 512-520. [jamanetwork.com/journals/jamapediatrics/article-abstract/504211]

Hockenberry, M. J. (2019). Wong’s Essentials of Pediatric Nursing (11th ed.). Elsevier.

Jarvis, C. (2020). Physical Examination and Health Assessment (8th ed.). Elsevier.

Jelliffe, D. B. (2021). The Assessment of the Nutritional Status of the Community. World Health Organization Monograph Series, No. 53. [apps.who.int/iris/handle/10665/41793]

Kementerian Kesehatan RI. (2022). Pedoman Pencegahan dan Tata Laksana Gizi Buruk pada Balita. Kemenkes RI.

Khor, G. L. (2021). Double Burden of Malnutrition in Southeast Asia. Nutrients, 13(8), 2642. [mdpi.com/2072-6643/13/8/2642]

Lee, J. S. (2022). Anthropometric Indicators and Macronutrient Deficiencies in East Asian Children. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition, 74(5), 680-687. [journals.lww.com/jpgn/Fulltext/2022/05000/Anthropometric_Indicators_and_Macronutrient.15.aspx]

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). DPP PPNI.

Pudjiadi, S. (2019). Ilmu Gizi Klinis pada Anak (Edisi 4). Badan Penerbit FKUI.

World Health Organization. (2024). Guideline: Management of infants and children with severe acute malnutrition. WHO Guidelines. [who.int/publications/i/item/9789241506328]


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *