Daftar Isi
I. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)
Status Pascapartum (L.07062)
Definisi: Kondisi sejak bayi dilahirkan sampai enam minggu berikutnya disertai dengan pulihnya kembali organ-organ yang berkaitan dengan kandungan yang mengalami perubahan.
- Ekspektasi: Membaik
Tabel Kriteria Hasil Luaran Keperawatan
Kriteria Hasil | Menurun (1) | Cukup Menurun (2) | Sedang (3) | Cukup Meningkat (4) | Meningkat (5) |
Sirkulasi perifer | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Payudara penuh | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Pemulihan perineum | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Pemulihan Insisi | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Intake makanan dan cairan | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Aktivitas fisik | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Ketahanan | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Kriteria Hasil | Meningkat (1) | Cukup Meningkat (2) | Sedang (3) | Cukup Menurun (4) | Menurun (5) |
Kenyamanan | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Infeksi | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Nyeri Insisi | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Perdarahan vagina | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Keletihan | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Depresi | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
II. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)
Berikut adalah 3 intervensi utama yang dipilih secara spesifik untuk mengintervensi Status Pascapartum (L.07062):
1. Perawatan Pascapartum (I.07225)
Definisi: Mengidentifikasi dan merawat ibu segera setelah melahirkan untuk mempromosikan pemulihan fisik dan psikologis.
- Observasi (O):
- Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan) untuk mengevaluasi sirkulasi perifer dan risiko syok.
- Monitor keadaan lokia/perdarahan vagina (warna, jumlah, bau, dan konsistensi).
- Monitor tinggi fundus uteri dan kontraksi uterus secara berkala.
- Monitor kondisi perineum atau luka insisi (tanda REEDA: Redness, Edema, Ecchymosis, Discharge, Approximation).
- Terapeutik (T):
- Kosongkan kandung kemih sebelum pemeriksaan fundus uteri jika distensi menghambat involusi.
- Berikan kenyamanan fisik (mis. pembersihan perineum/vulva hygiene yang steril, mengganti pembalut secara rutin).
- Fasilitasi pemulihan aktivitas fisik awal secara bertahap melalui mobilisasi dini sesuai toleransi untuk meningkatkan ketahanan tubuh.
- Edukasi (E):
- Jelaskan tanda-tanda bahaya pascapartum (mis. perdarahan hebat, demam tinggi, nyeri perut hebat) kepada pasien dan keluarga.
- Ajarkan ibu cara merawat luka perineum atau luka insisi dengan benar untuk mencegah infeksi.
- Anjurkan meningkatkan intake makanan bergizi (tinggi kalori dan tinggi protein) serta cairan yang cukup guna menyokong penyembuhan jaringan dan laktasi.
- Kolaborasi (K):
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat uterotonika (mis. oksitosin), analgesik, atau antibiotik jika terdapat indikasi medis terarah.
2. Edukasi Menyusui (I.12393)
Definisi: Memberikan informasi dan bimbingan untuk memfasilitasi proses menyusui yang efektif dan mencegah masalah pada payudara.
- Observasi (O):
- Identifikasi kesiapan dan kemampuan ibu menerima informasi mengenai laktasi.
- Monitor kondisi payudara ibu (apakah payudara penuh, terdapat pembengkakan, lecet pada puting, atau sumbatan ASI).
- Monitor teknik pelekatan dan kemampuan bayi menyusu.
- Terapeutik (T):
- Sediakan materi edukasi yang menarik dan lingkungan yang tenang serta nyaman saat bimbingan.
- Dukung ibu secara psikologis guna meningkatkan kepercayaan diri dalam menyusui serta menurunkan risiko depresi pascapartum.
- Dampingi ibu melakukan pijat oksitosin atau kompres hangat jika payudara penuh/bengkak agar aliran ASI lancar.
- Edukasi (E):
- Jelaskan manfaat menyusui bagi ibu dan bayi (termasuk efek kontraksi alami uterus).
- Ajarkan posisi menyusui yang benar dan pelekatan yang tepat untuk mengurangi nyeri atau lecet pada puting.
- Ajarkan cara merawat payudara secara mandiri di rumah pascamelahirkan.
- Kolaborasi (K):
- Kolaborasi dengan konselor laktasi atau ahli gizi jika ibu mengalami kendala pasokan ASI atau masalah nutrisi berat selama masa menyusui.
3. Perawatan Luka (I.14564)
Definisi: Mengidentifikasi dan meningkatkan penyembuhan luka insisi bedah sesarea atau luka episiotomi/perineum.
- Observasi (O):
- Monitor karakteristik luka (mis. drainase, warna, ukuran, dan kedalaman insisi).
- Monitor tanda-tanda infeksi lokal (mis. peningkatan nyeri insisi, bengkak, kemerahan, kehangatan lokal, atau keluarnya pus).
- Terapeutik (T):
- Lepaskan balutan lama dengan teknik aseptik untuk meminimalkan trauma mekanis pada jaringan.
- Bersihkan luka dengan cairan NaCl atau pembersih nontoksik yang sesuai.
- Pasang balutan steril yang sesuai dengan jenis luka (mis. balutan tahan air untuk luka seksio sesarea agar mobilitas mandi lebih nyaman).
- Pertahankan teknik steril selama melakukan perawatan luka guna menekan angka kuman.
- Edukasi (E):
- Jelaskan tanda dan gejala infeksi sekunder pada luka insisi yang harus diwaspadai.
- Anjurkan membatasi gerakan ekstrem yang dapat meregangkan area insisi secara berlebihan pada awal masa pemulihan.
- Ajarkan cara merawat luka secara mandiri bagi keluarga yang mendampingi perawatan di rumah.
- Kolaborasi (K):
- Kolaborasi dengan tim medis untuk prosedur debridemen atau pemberian antibiotik profilaksis/terapeutik jika ditemukan tanda infeksi sistemik.
III. Literatur / Referensi
- Persatuan Perawat Nasional Indonesia / PPNI (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
- Persatuan Perawat Nasional Indonesia / PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
- Lowdermilk, D. L., Perry, S. E., Cashion, M. C., & Alden, K. R. (2016). Maternity & Women’s Health Care, 11th Edition. St. Louis: Elsevier Mosby. (Referensi penunjang keperawatan maternitas klinis untuk validasi pemulihan fisiologis organ kandungan).


Tinggalkan Balasan