Curah Jantung (L.02008)

Curah Jantung (L.02008)

by

in

Definisi Penurunan Curah Jantung:

Penurunan Curah Jantung merupakan suatu kondisi di mana pompa darah oleh jantung tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Secara patofisiologis, kondisi ini melibatkan gangguan pada kontraktilitas miokard, preload (beban awal), maupun afterload (beban akhir), yang bermanifestasi pada penurunan perfusi sistemik.

Berikut adalah penulisan ulang tabel pemetaan naskah diagnosis berdasarkan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), diikuti dengan intervensi terkait berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang disusun secara komprehensif menggunakan pendekatan analisis ilmiah OTEK (Observasi, Terapeutik, Edukasi, dan Kolaborasi).

Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

Analisis Pemetaan Diagnosis dan Luaran Keperawatan

Diagnosis Keperawatan
Luaran Utama
Luaran Tambahan
Penurunan Curah Jantung
(Kode NANDA/ICNP terkait)
Curah Jantung (L.02008)

• Ekspektasi: Meningkat
Kriteria Utama: Efek pompa jantung, Indeks jantung, Stroke volume index, dan Fraksi ejeksi meningkat.
• Perfusi Miokard (L.02011)
• Perfusi Renal (L.02013)
• Perfusi Perifer (L.02011)
• Perfusi Serebral (L.02014)
• Status Cairan (L.03028)
• Status Neurologis (L.06053)
• Status Sirkulasi (L.02016)
• Tingkat Keletihan (L.05046)

Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)

Untuk mengoptimalkan Luaran Utama Curah Jantung (L.02008) dan mengatasi sindrom klinis tersebut, berikut adalah 3 intervensi SIKI yang berkaitan erat dengan pendekatan OTEK:

1. Perawatan Jantung (I.02075)

  • Definisi: Mengidentifikasi dan mengelola gangguan fungsi pompa jantung secara akut maupun kronis guna mencegah komplikasi sistemik.
  • Observasi:
    • Identifikasi tanda/gejala primer penurunan curah jantung (meliputi: dispnea, ortopnea, paroxysmal nocturnal dyspnea, peningkatan CVP).
    • Identifikasi tanda/gejala sekunder penurunan curah jantung (meliputi: peningkatan berat badan, hepatomegali, distensi vena jugularis, rales/ronki, oliguria, sianosis).
    • Monitor tekanan darah, nadi perifer, dan pengisian kapiler (capillary refill time).
    • Monitor intake dan output cairan serta balans cairan 24 jam.
    • Monitor EKG 12 sadapan untuk mendeteksi adanya aritmia atau perubahan segmen ST.
  • Terapeutik:
    • Posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler (30–45 derajat) dengan kaki ke bawah atau posisi nyaman untuk menurunkan preload.
    • Berikan diet rendah garam/natrium dan batasi asupan cairan sesuai instruksi klinis.
    • Fasilitasi istirahat total (bedrest) dan batasi aktivitas fisik untuk mengurangi konsumsi oksigen miokard.
    • Berikan lingkungan yang tenang untuk menurunkan stimulasi simpatis.
  • Edukasi:
    • Anjurkan beraktivitas fisik secara bertahap sesuai toleransi tubuh.
    • Anjurkan pasien dan keluarga untuk segera melaporkan jika muncul nyeri dada terlokalisir atau menjalar.
    • Ajarkan teknik teknik manajemen stres (misal: relaksasi napas dalam).
  • Kolaborasi:
    • Kolaborasi pemberian antiaritmia, inotropik, digitalis, atau diuretik loop sesuai indikasi medis.
    • Kolaborasi pemberian oksigen tambahan untuk mempertahankan saturasi oksigen jaringan (>94%).

2. Pemantauan Cairan (I.03121)

  • Definisi: Mengumpulkan dan menganalisis data sirkulasi dan volume cairan tubuh untuk mencegah kelebihan beban cairan (fluid overload) yang memperberat kerja ventrikel.
  • Observasi:
    • Monitor berat badan harian pada waktu yang sama (sebelum sarapan) sebagai indikator retensi cairan akut.
    • Monitor hasil pemeriksaan laboratorium terkait (misal: hematokrit, BUN, kreativitas, elektrolit, dan kadar Brain Natriuretic Peptide / BNP).
    • Periksa turgor kulit, kelembapan mukosa, dan adanya edema pitting perifer atau anasarka.
    • Monitor tekanan darah dan frekuensi jantung untuk menilai kecukupan volume intravaskular.
  • Terapeutik:
    • Catat secara akurat volume cairan masuk (intake) dan cairan keluar (output).
    • Atur interval pemantauan cairan sesuai dengan stabilitas hemodinamik pasien.
  • Edukasi:
    • Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan cairan kepada pasien dan keluarga.
    • Informasikan batasan kuota cairan harian yang boleh dikonsumsi.
  • Kolaborasi:
    • Kolaborasi dengan dokter dan ahli gizi dalam pembatasan sediaan cairan pada nutrisi parenteral atau enteral.

3. Perawatan Jantung Akut (I.02076)

  • Definisi: Mengidentifikasi dan mengelola pasien yang baru saja mengalami episode infark miokard akut atau kegagalan sirkulasi struktural yang mengancam jiwa.
  • Observasi:
    • Monitor nyeri dada secara komprehensif (meliputi: intensitas, lokasi, radiasi, durasi, dan faktor pemicu/peredam).
    • Monitor status lokalis sirkulasi perifer (suhu, warna, dan denyut nadi arteri dorsalis pedis/radialis).
    • Monitor enzim jantung (CK-MB, Troponin T atau Troponin I).
  • Terapeutik:
    • Pertahankan akses intravena (IV line) tetap paten dan fungsional.
    • Pasang monitor jantung kontinu untuk memantau irama dan frekuensi jantung secara langsung.
    • Hindari tindakan yang dapat memicu manuver Valsalva (misal: mengejan saat BAB, berikan laksatif jika perlu).
  • Edukasi:
    • Anjurkan menghindari mengejan secara mendadak saat melakukan eliminasi Alvi.
    • Jelaskan pentingnya kepatuhan minum obat jangka panjang (seperti ACE-inhibitor, Beta-blocker).
  • Kolaborasi:
    • Kolaborasi pemberian terapi trombolitik atau persiapan intervensi koroner perkutan (PCI) jika terdapat indikasi infark akut.
    • Kolaborasi pemberian analgesik narkotik (misal: Morfin) untuk menurunkan nyeri dan kecemasan sekaligus menurunkan preload.

Literatur

  1. PPNI (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
  2. PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
  3. Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2018). Brunner & Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing, 14th Edition. Philadelphia: Wolters Kluwer.
  4. Woods, S. L., Froelicher, E. S., & Bridges, E. J. (2010). Cardiac Nursing, 6th Edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *