RISIKO DISFUNGSI SEKSUAL (D.0072)

RISIKO DISFUNGSI  SEKSUAL (D.0072)

by

in

DIAGNOSA KEPERAWATAN: RISIKO DISFUNGSI SEKSUAL (D.0072)

A. DEFINISI 

  1. Menurut Masters dan Johnson Disfungsi seksual merupakan suatu gangguan pada siklus respons seksual (terdiri dari fase eksitasi, plato, orgasme, dan resolusi) atau adanya rasa sakit yang berkaitan dengan hubungan seksual, di mana pada kondisi “risiko”, terdapat kerentanan yang tinggi akibat faktor fisik maupun psikologis yang belum termanifestasi sepenuhnya tetapi berpotensi mengganggu kepuasan seksual.
  2. Menurut Helen Singer Kaplan Disfungsi seksual dipandang dari model tri-fase (keinginan, eksitasi, dan orgasme). Risiko disfungsi seksual merupakan suatu keadaan di mana seseorang memiliki faktor predisposisi seperti kecemasan situasional atau konflik interpersonal yang secara signifikan dapat menekan dorongan seksual (sexual desire) atau menghambat respons vaskular genital sebelum gangguan tersebut menetap.
  3. Menurut Sandra M. Leiblum Risiko disfungsi seksual adalah adanya kombinasi dari kerentanan biologis (seperti penyakit kronis atau efek samping pengobatan) dan tekanan psikososial yang meningkatkan probabilitas seseorang mengalami penurunan fungsi kepuasan seksual, ketidaknyamanan, atau ketidakmampuan berespons terhadap stimulasi seksual.
  4. Menurut William L. Maurice Dalam konteks klinis, risiko disfungsi seksual didefinisikan sebagai kondisi di mana individu mengalami ancaman nyata terhadap fungsi kepuasan seksualnya akibat perubahan status kesehatan, transisi perkembangan kehidupan (seperti menopause atau penuaan), atau masalah relasi, yang memerlukan tindakan preventif agar tidak berkembang menjadi gangguan seksual yang kronis.
  5. Menurut Peggy J. Kleinplatz Risiko disfungsi seksual bukan hanya kegagalan mekanis pada organ intim, melainkan kerentanan terhadap penurunan kualitas keintiman akibat hilangnya koneksi emosional, ekspektasi seksual yang tidak realistis, atau tekanan sosiokultural yang berpotensi memicu distres personal maupun interpersonal dalam aktivitas seksual.

B. ETIOLOGI

  1. Faktor Fisiologis
  • Gangguan endokrin (mis. diabetes melitus, hiperprolaktinemia, gangguan tiroid).
  • Gangguan neurologis (mis. cedera medula spinalis, sklerosis multipel).
  • Gangguan vaskular (mis. penyakit jantung koroner, hipertensi, aterosklerosis).
  • Efek samping penggunaan obat-obatan (mis. antidepresan SSRI, antihipertensi, sedatif).

2. Faktor Psikologis 

  • Kecemasan terhadap performa seksual (performance anxiety).
  • Riwayat trauma seksual atau pelecehan seksual.
  • Depresi, stres kronis, atau gangguan citra tubuh (body image).

3. Faktor Hubungan/Interpersonal 

  • Konflik yang belum terselesaikan dengan pasangan.
  • Komunikasi yang buruk mengenai kebutuhan dan preferensi seksual.
  • Ketidakselarasan hasrat seksual antar pasangan.

C. FAKTOR RISIKO

  1. Perubahan fungsi atau struktur tubuh akibat pembedahan (mis. prostatektomi, mastektomi, histerektomi).
  2. Proses penuaan atau transisi perkembangan (mis. menopause, andropause).
  3. Konflik nilai, budaya, atau keyakinan agama yang kaku terkait seksualitas.
  4. Kurangnya pengetahuan atau informasi yang akurat mengenai fungsi seksual.
  5. Penggunaan zat adiktif atau konsumsi alkohol secara kronis.

D. LUARAN KEPERAWATAN

Luaran Utama: Fungsi Seksual Membaik

Setelah dilakukan tindakan keperawatan, diharapkan risiko disfungsi seksual tidak terjadi dengan kriteria hasil sebagai berikut:

  • Kepuasan hubungan seksual meningkat.
  • Verbalisasi aktivitas seksual berubah/terganggu menurun.
  • Verbalisasi eksitasi seksual berubah/terganggu menurun.
  • Verbalisasi peran seksual berubah/terganggu menurun.
  • Keluhan nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia) menurun.
  • Hasrat seksual membaik.

E. INTERVENSI KEPERAWATAN

  1. Edukasi Seksualitas (Intervensi Utama)

Observasi

Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi.

Terapeutik

  • Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan.
  • Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan.
  • Berikan kesempatan untuk bertanya.
  • Fasilitasi komunikasi antara pasien dan pasangan.

Edukasi

  • Jelaskan anatomi dan fisiologi sistem reproduksi manusia.
  • Jelaskan perkembangan seksual sepanjang siklus kehidupan.
  • Jelaskan konsekuensi perubahan fisik atau penyakit terhadap seksualitas.
  • Anjurkan pasangan berkomunikasi secara jujur dan terbuka mengenai aktivitas seksual.

2. Konseling Seksualitas (Intervensi Pendukung)

Observasi

  • Identifikasi efek kesehatan/penyakit terhadap seksualitas.
  • Monitor stres, kecemasan, atau depresi yang memengaruhi seksualitas.

Terapeutik

  • Fasilitasi mengekspresikan kesedihan dan rasa duka pada perubahan fungsi tubuh.
  • Berikan saran pilihan aktivitas seksual yang aman dan nyaman sesuai kondisi.

Edukasi

  • Jelaskan efek obat-obatan terhadap seksualitas (jika relevan).

Kolaborasi

  • Rujuk ke konselor seks atau terapis jika diperlukan.

F. KONDISI KLINIS TERKAIT

  1. Diabetes Melitus.
  2. Penyakit Jantung Koroner dan Hipertensi.
  3. Kanker (terutama kanker payudara, serviks, dan prostat).
  4. Cedera Medula Spinalis.
  5. Menopause dan Andropause.
  6. Gangguan Jiwa (mis. Depresi Mayor, Gangguan Kecemasan).

DAFTAR PUSTAKA

Kaplan, H. S. (1974). The New Sex Therapy: Active Treatment of Sexual Dysfunctions. New York: Brunner/Mazel.

Kleinplatz, P. J. (2012). New Directions in Sex Therapy: Innovations and Alternatives. Routledge.

Leiblum, S. M. (2007). Principles and Practice of Sex Therapy (4th ed.). New York: Guilford Press.

Masters, W. H., & Johnson, V. E. (1970). Human Sexual Inadequacy. Boston: Little, Brown and Company.

Maurice, W. L. (1999). Sexual Medicine in Primary Care. St. Louis: Mosby.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *