DIAGNOSA RISIKO CEDERA PADA JANIN (D.0138)
A. DEFINISI
- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Berisiko mengalami bahaya atau kerusakan fisik pada janin selama proses kehamilan dan persalinan. Definisi ini berfokus pada kerentanan janin yang disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal yang dapat mengganggu integritas fisik atau fungsional fetus.
- NANDA International (North American Nursing Diagnosis Association) Rentan terhadap bahaya fisik atau gangguan kesehatan pada janin akibat kondisi ibu atau lingkungan selama periode prenatal hingga proses kelahiran. NANDA menekankan pada aspek “kerentanan” yang memerlukan penilaian terhadap variabel multidimensi.
- Lowdermilk, Perry, Cashion, & Alden Suatu kondisi klinis di mana kesejahteraan janin terancam oleh gangguan pada lingkungan intrauterin atau komplikasi selama persalinan yang dapat mengakibatkan morbiditas permanen. Pakar ini menyoroti bahwa cedera janin sering kali berkaitan erat dengan kualitas perfusi uteroplasenta.
- American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) Potensi terjadinya trauma mekanis, hipoksia, atau anomali perkembangan yang diinduksi oleh faktor risiko obstetri yang tidak terkendali. Definisi ini lebih mengarah pada risiko klinis yang timbul dari malpresentasi janin dan intervensi medis yang tidak tepat.
- World Health Organization (WHO) Kondisi di mana janin terpapar pada risiko yang dapat dicegah, baik melalui paparan zat berbahaya (teratogen) maupun manajemen persalinan yang suboptimal, yang berisiko menghasilkan luaran persalinan yang buruk bagi neonatus.
B. FAKTOR RISIKO
Penegakan diagnosis risiko ini didasarkan pada adanya kondisi atau situasi yang meningkatkan probabilitas terjadinya cedera, yang meliputi:
- Faktor Janin Besarnya ukuran janin (makrosomia), malposisi atau malpresentasi (misal: posisi posterior, sungsang), dan gawat janin (fetal distress).
- Faktor Ibu Usia ekstrem (< 15 tahun atau > 35 tahun), paritas tinggi (multigravida), kelelahan kronis, kecemasan berlebihan, serta riwayat obstetri buruk.
- Faktor Persalinan Persalinan lama (prolonged labor) pada kala I, II, atau III, induksi persalinan, disfungsi uterus, penggunaan alat bantu (forceps/vakum), dan efek metode bedah (Seksio Sesarea).
- Faktor Gaya Hidup & Lingkungan Paparan zat teratogen, merokok, konsumsi alkohol, pola makan tidak sehat, serta pengaruh agen farmakologis tertentu.
- Faktor Klinis Nyeri abdomen hebat, nyeri pada jalan lahir, dan faktor ekonomi yang menghambat akses layanan kesehatan antenatal.
C. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)
Intervensi diarahkan untuk mencapai kondisi Tingkat Cedera Menurun (L.14136) dengan indikator keberhasilan klinis sebagai berikut:
- Kejadian cedera pada janin tidak terjadi.
- Luka atau lecet pada janin (akibat tindakan persalinan) menurun/tidak ada.
- Skor Apgar saat lahir dalam kategori normal.
D. INTERVENSI KEPERAWATAN UTAMA (SIKI)
- Pemantauan Denyut Jantung Janin (I.02056)
Observasi
- Mengidentifikasi status dan riwayat obstetrik.
- Memeriksa denyut jantung janin (DJJ) secara periodik (120-160 kali/menit).
- Memonitor tanda-tanda vital ibu.
Terapeutik
- Mengatur posisi ibu (miring kiri) untuk optimalisasi perfusi uteroplasenta.
- Melakukan manuver Leopold untuk menentukan posisi janin.
Edukasi
- Menjelaskan tujuan pemantauan kepada keluarga.
- Menginformasikan hasil pemantauan secara berkala.
- Pengukuran Gerakan Janin (I.14554)
Observasi
- Memantau aktivitas motorik janin sejak usia kehamilan 28 minggu.
Terapeutik
- Menghitung gerakan janin (minimal 10 gerakan dalam 12 jam).
- Melakukan kolaborasi pemeriksaan Cardiotocography (CTG) jika gerakan berkurang.
Edukasi
- Mengajarkan ibu cara menghitung gerakan secara mandiri.
- Menganjurkan posisi miring kiri untuk meningkatkan sirkulasi fetomaternal.
3. Pencegahan Cedera (I.14537)
- Strategi preventif dilakukan melalui modifikasi lingkungan.
- Pengawasan ketat terhadap penggunaan obat-obatan teratogenik.
- Penguatan dukungan psikososial bagi ibu untuk mengurangi kecemasan.
E. TINJAUAN PAKAR TAMBAHAN
Pakar keperawatan maternitas menekankan pentingnya surveillance antenatal yang komprehensif. Menurut kriteria Lowdermilk, pencegahan cedera pada janin tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga pada manajemen stres ibu, karena kadar kortisol yang tinggi dapat mempengaruhi suplai oksigen ke janin melalui vasokonstriksi pembuluh darah plasenta.
DAFTAR PUSTAKA
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). (2020). Fetal Surveillance and Antepartum Care Standards. Washington, DC: ACOG.
Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (Eds.). (2021). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification, 2021–2023. Oxford: Wiley-Blackwell.
Lowdermilk, D. L., Perry, S. E., Cashion, K., & Alden, K. R. (2019). Maternity & Women’s Health Care (12th ed.). St. Louis, Missouri: Elsevier.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
World Health Organization (WHO). (2018). WHO Recommendations on Antenatal Care for a Positive Pregnancy Experience. Geneva: WHO Press.


Tinggalkan Balasan