Definisi Ilmiah
Kesiapan Peningkatan Nutrisi secara ilmiah didefinisikan sebagai suatu pola asupan nutrisi yang memadai untuk memenuhi kebutuhan metabolik dan dapat ditingkatkan guna mencapai status kesehatan yang lebih optimal. Proses ini melibatkan pemahaman biofisik mengenai keseimbangan makronutrien (karbohidrat, protein, lemak) dan mikronutrien (vitamin, mineral) serta kesiapan psikomotorik individu dalam memodifikasi perilaku diet untuk mendukung homeostasis tubuh dan pencegahan penyakit degeneratif.
Tabel Struktur Luaran Keperawatan (SLKI)
| Diagnosis Keperawatan | Luaran Utama | Luaran Tambahan |
| Kesiapan Peningkatan Nutrisi (D.0026) | Status Nutrisi (L.03030) | 1. Perilaku Mempertahankan Berat Badan (L.03024) 2. Perilaku Meningkatkan Berat Badan (L.03025) 3. Perilaku Menurunkan Berat Badan (L.03026) 4. Status Nutrisi Bayi (L.03031) 5. Tingkat Pengetahuan (L.12111) |
Ekspektasi Luaran Utama: Membaik
- Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, verbalisasi keinginan untuk meningkatkan nutrisi meningkat, pengetahuan tentang pilihan makanan/minuman yang sehat meningkat, dan indeks massa tubuh (IMT) membaik.
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)
Berikut adalah tiga intervensi utama dengan pendekatan tindakan OTEK (Observasi, Terapeutik, Edukasi, Kolaborasi):
1. Edukasi Nutrisi (I.12395)
- Observasi:
- Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi.
- Identifikasi kemampuan menentukan pilihan makanan yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi.
- Terapeutik:
- Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan terkait gizi seimbang.
- Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan.
- Berikan kesempatan kepada pasien/keluarga untuk bertanya.
- Edukasi:
- Jelaskan komponen nutrisi yang dibutuhkan (mis. karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral).
- Ajarkan cara membaca label makanan pada kemasan.
- Ajarkan strategi untuk meningkatkan asupan nutrisi secara sehat.
- Kolaborasi:
- Rujuk ke ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan jenis nutrien, jika perlu.
2. Manajemen Nutrisi (I.03119)
- Observasi:
- Identifikasi status nutrisi dan profil biokimia (mis. albumin, hemoglobin).
- Monitor asupan makanan dan berat badan secara berkala.
- Terapeutik:
- Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu.
- Sajikan makanan secara menarik dan pada suhu yang sesuai.
- Fasilitasi menentukan pedoman diet (mis. piramida makanan).
- Edukasi:
- Anjurkan posisi duduk saat makan untuk mencegah aspirasi.
- Anjurkan penggunaan suplemen makanan jika diperlukan sesuai anjuran medis.
- Kolaborasi:
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan secara spesifik.
3. Konseling Nutrisi (I.03094)
- Observasi:
- Identifikasi kebiasaan makan dan persepsi terhadap makanan.
- Identifikasi adanya hambatan dalam mengubah perilaku makan.
- Terapeutik:
- Bina hubungan terapeutik yang mendukung keterbukaan.
- Tetapkan tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang realistis untuk perubahan diet.
- Edukasi:
- Informasikan perlunya variasi makanan untuk mencapai status nutrisi optimal.
- Diskusikan strategi untuk menghindari pemicu makan yang tidak sehat (mis. stres, kebosanan).
- Kolaborasi:
- (Dapat dilakukan kolaborasi dengan psikolog untuk perubahan perilaku makan yang kompleks).
Literatur Referensi
- PPNI (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
- PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
- PPNI (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
- Mahan, L. K., & Raymond, J. L. (2016). Krause’s Food & the Nutrition Care Process. Elsevier (Untuk pendalaman ilmiah metabolisme nutrisi).


Tinggalkan Balasan